Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku memejamkan mata dan kembali terlena, membiarkan pikiranku berkelana meninggalkan drama tolol yang tak i kupikirkan lagi. Aku malah memikirkan kenyataan—bagaimana aku terjun dari tebing serta bagaimana itu merupakan kesalahan yang sangat tolol. Dan bukan hanya lompat tebing, tapi juga sepeda motor dan ulahku yang tidak bertanggung jawab, yang ingin menjadi seperti Evel Knievel. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk menimpaku? Apa akibatnya bagi Charlie? Serangan jantung yang menimpa Harry mendadak menempatkan segala sesuatu ke dalam perspektif yang benar. Perspektif yang tak ingin kulihat, karena—bila aku mengakui kebenarannya—itu berarti aku harus mengubah cara-caraku. Bisakah aku hidup seperti itu?

Mungkin. Itu takkan mudah; faktanya, justru akan sangat menyedihkan jika aku harus mengenyahkan halusinasiku dan berusaha bersikap dewasa. Tapi mungkin sebaiknya aku melakukannya. Dan mungkin aku bisa. Kalau ada Jacob.

Aku tidak bisa memutuskannya sekarang. Itu terlalu menyakitkan. Lebih baik aku memikirkan hal lain saja.

Bayangan-bayangan dari ulah cerobohku sore tadi berkecamuk dalam pikiranku sementara aku mencoba membayangkan hal yang menyenangkan untuk dipikirkan… desir angin saat aku jatuh, air yang hitam pekat, tarikan arus… wajah Edward… aku memikirkannya lama sekali. Tangan Jacob yang hangat memukul-mukul punggungku, berusaha membuatku kembali bernapas… tetesan hujan yang tajam yang dicurahkan awan-awan ungu… api aneh di antara ombak…

Ada sesuatu yang familier tentang secercah warna di air itu. Tentu saja itu tak mungkin api—

Pikiranku terputus oleh suara ban mobil melindas lumpur dijalan di luar Kudengar mobil itu berhenti di depan rumah, disusul kemudian dengan suara pintu-pintu dibuka dan ditutup. Terpikir olehku untuk bangkit dan duduk, tapi kemudian mengurungkan niatku.

Mudah saja mengenali suara Billy. namun tidak seperti biasa, ia berbicara dengan nada sangat rendah, hingga hanya terdengar seperti gumaman serak.

Pintu terbuka, lampu menyala. Aku mengerjapngerjapkan mata, buta sesaat. Jake tersentak bangun, terkesiap dan melompat berdiri.

“Maaf,” geram Billy. “Kami membangunkan kalian, ya?”

Pelan-pelan mataku terfokus pada wajahnya, kemudian, begitu bisa membaca ekspresinya, air mataku langsung merebak.

“Oh, tidak, Billy!” erangku.

Billy mengangguk pelan, ekspresinya keras oleh dukacita. Jake bergegas menghampiri ayahnya dan meraih satu tangannya. Kesedihan membuat wajahnya tiba-tiba terlihat seperti anak kecil— tampak aneh di tubuhnya yang dewasa.

Sam berdiri tepat di belakang Billy, mendorong kursi rodanya melewati pintu. Pembawaan normalnya yang tenang tak terlihat di wajahnya yang pilu.

“Aku ikut sedih,” bisikku.

Billy mengangguk. “Semua merasa kehilangan.”

“Mana Charlie?”

“Ayahmu masih di rumah sakit bersama Sue. Banyak… yang harus diurus.”

Aku menelan ludah susah payah.

“Sebaiknya aku segera kembali ke sana,” gumam Sam, lalu cepat-cepat merunduk keluar dari pintu.

Billy menarik tangannya dari genggaman Jacob, lalu menggelindingkan kursi rodanya melintasi dapur menuju kamarnya.

Jake mengawasi kepergiannya sebentar, lalu duduk lagi di lantai di sampingku. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kugosok-gosok bahunya, berharap tahu harus bilang apa.

Lama kemudian baru Jacob meraih tanganku dan menempelkannya di wajah.

“Bagaimana perasaanmu? Kau baik-baik saja? Mungkin seharusnya aku membawamu ke dokter atau sebangsanya.” Jacob mendesah.

“Tak perlu mencemaskan aku,” kataku parau. Ia berpaling menatapku. Ada lingkaran merah di matanya. “Kau kelihatan payah.”

“Aku memang agak kepayahan.”

“Aku akan mengambil trukmu kemudian mengantarmu pulang—mungkin sebaiknya kau sudah di rumah kalau Charlie pulang nanti.”

“Benar.”

Aku berbaring lunglai di sofa sambil menunggu. Billy tinggal di dalam kamar. Aku risi karena keberadaanku mengganggu tuan rumah yang ingin menyendiri dalam dukacitanya.

Tak lama kemudian Jake kembali. Raungan mesin trukku memecah keheningan sebelum aku mengharapkannya. Tanpa berkata apa-apa Jacob membantuku berdiri dari sofa, merangkul pundakku ketika hawa dingin di luar membuat tubuhku menggigil Tanpa bertanya lagi ia langsung duduk di balik kemudi, kemudian mendekapku rapat-rapat di sampingnya. Aku membaringkan kepalaku di dadanya.

“Bagaimana caramu pulang nanti?” tanyaku.

“Aku tidak akan pulang. Kami kan belum berhasil menangkap si pengisap darah itu, ingat?”

Tubuhku bergidik, bukan karena kedinginan.

Sesudah itu kami lebih banyak berdiam diri. Hawa dingin membuatku terjaga. Pikiranku awas, dan otakku bekerja sangat keras dan sangat cepat.

Bagaimana seandainya? Tindakan tepat apa yang harus kulakukan?

Aku tak bisa membayangkan hidupku tanpa Jacob sekarang—berusaha membayangkannya saja sudah membuatku ngeri. Bagaimanapun, ia telah menjadi bagian esensial yang membuatku bertahan hidup. Tapi membiarkan keadaan seperti apa adanya… apakah itu kejam, seperti yang dituduhkan Mike?

Aku ingat pernah berharap Jacob itu saudara lelakiku. Aku sadar sekarang, yang kuinginkan sebenarnya adalah mengklaimnya sebagai milikku. Rasanya seperti bukan saudara bila ia memelukku seperti ini. Pelukannya menyenangkan—hangat, nyaman, dan familier. Aman. Jacob adalah pelabuhan yang aman.

Aku bisa mengklaimnya. Hal itu ada dalam jangkauanku.

Aku harus menceritakan semua padanya, aku tahu itu. Hanya itu satu-satunya cara bersikap adil. Aku harus menjelaskannya dengan benar, supaya ia tahu aku bukannya membuka lembaran baru, bahwa ia terlalu baik bagiku. Ia sudah tahu aku hancur, bagian itu tidak akan membuatnya terkejut, tapi ia harus tahu seberapa parah kerusakannya. Aku bahkan harus mengakui bahwa aku gila—menjelaskan tentang suara-suara yang kudengar. Ia perlu mengetahui segalanya sebelum mengambil keputusan.

Tapi, bahkan saat aku menyadari pentingnya kejujuran itu, aku tahu Jacob akan menerimaku apa adanya. Ia bahkan tidak akan berpikir-pikir lagi.

Aku harus berkomitmen dalam hal ini— berkomitmen sebanyak yang masih tersisa dalam diriku, memberikan setiap kepingan yang tersisa. Itu satu-satunya cara bersikap adil padanya. Maukah aku? Bisakah?

Salahkah berusaha membuat Jacob bahagia? Bahkan seandainya cinta yang kurasakan padanya tak lebih dari gema lemah dari apa yang dulu bisa kulakukan, walaupun hatiku jauh dari sini, berkelana dan menangisi Romeo-ku yang phinplan, apakah itu salah?

Jacob menghentikan trukku di depan rumahku yang gelap gulita, mematikan mesin hingga kesunyian tiba-tiba menyergap. Seperti yang sudah-sudah, tampaknya ia bisa memahami jalan pikiranku sekarang.

Jacob mengulurkan lengannya yang lain untuk memelukku, meremukkanku ke dadanya, mendekapku erat-erat. Lagi-lagi, rasanya menyenangkan. Nyaris seperti manusia utuh lagi.

Kukira Jacob pasti memikirkan Harry, tapi kemudian saat berbicara, nadanya meminta maaf. “Maaf. Aku tahu kau tidak merasa seperti yang kurasakan, Bells. Sumpah aku tidak keberatan. Aku hanya senang kau tidak keberatan aku bisa bernyanyi—padahal itu bukan nyanyian yang ingin didengar orang.” Jacob mengumandangkan tawa sengaunya di telingaku.

Napasku melejit satu tingkat, mengamplas dinding-dinding tenggorokanku.

Tidak mungkinkah Edward, meski terkesan tidak peduli, ingin agar aku bahagia? Tidakkah masih tersisa sedikit perasaan sayang sebagai teman dalam dirinya untuk menginginkan itu bagiku? Kurasa pasti masih. Edward tidak mungkin marah padaku karena hal ini: memberikan secuil cinta yang tidak ia inginkan pada temanku Jacob. Lagi pula, itu bukan cinta yang sama.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.