Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Tentu,” sahutku setuju. “Bukan masalah.” Aku terdengar seperti perokok berat. Aku berusaha membersihkan tenggorokkan—kemudian meringis; saat membersihkan tenggorokkan, rasanya seperti ditusuk pisau di sana. “Apa yang terjadi hari ini? Kau berhasil… menemukannya?” Sekarang ganti aku yang bergidik, walaupun aku tidak begitu kedinginan, menempel di tubuh Jacob yang panasnya tidak normal itu.

Jacob menggeleng. Ia masih terus berlari-lari kecil menyusuri jalan menuju ke rumahnya. “Tidak. Dia kabur ke arah laut—lebih menguntungkan bagi para pengisap darah itu di sana. Itulah sebabnya aku langsung bergegas pulang—aku takut dia akan menduluiku berenang ke sini. Kau begitu sering berada di pantai…” Suara Jacob menghilang, terkesiap.

“Sam kembali bersamamu… jadi semua juga sudah pulang?” Aku berharap mereka sudah tidak lagi berada di luar dan mencarinya.

“Yeah. Semacam itulah.”

Aku mencoba membaca ekspresinya, menyapitkan mata melawan hujan yang menderas. Sorot matanya tegang oleh kecemasan atau kesedihan.

Kata-kata yang tadi tak bisa kucerna mendadak langsung kupahami. “Kau tadi mengatakan… rumah sakit. Sebelum ini, pada Sam. Apakah ada yang terluka? Apakah dia melawan kalian?” Suaraku melompat satu oktaf, terdengar aneh karena parau.

“Tidak, tidak. Waktu kami kembali, Em sudah menunggu hendak menyampaikan kabar. Tentang Harry Clearwater. Tadi pagi Harry terkena serangan jantung.”

“Harry?” Aku menggeleng, berusaha mencerna perkataannya. “Oh, tidak! Charlie sudah tahu?”

“Yeah. Dia juga di sana, bersama ayahku.”

“Apakah Harry akan bertahan?”

Mata Jacob kembali mengejang. “Sekarang ini kondisinya tidak begitu bagus.”

Seketika itu juga aku merasa sangat bersalah— merasa benar-benar tidak enak telah dengan sembrono terjun dari tebing. Tak seharusnya semua orang mengkhawatirkanku sekarang. Sungguh waktu yang sangat tidak tepat untuk melakukan hal ceroboh.

“Apa yang bisa kulakukan?” tanyaku.

Saat itulah hujan berhenti. Aku tidak sadar kami sudah sampai di rumah Jacob sampai ia berjalan melewati pintu. Badai menghantam atap.

“Kau bisa menunggu di sini” jawab Jacob sambil menurunkanku ke sofa pendek. “Aku bersungguhsungguh, Bella—tepat di sini. Akan kuambilkan pakaian kering.”

Kubiarkan mataku menyesuaikan diri dengan ruangan yang gelap sementara Jacob sibuk mencari-cari di kamarnya. Ruang depan yang sempit terasa sangat kosong tanpa Billy, nyaris menyedihkan. Anehnya, suasana terasa mengerikan—mungkin itu hanya karena aku tahu ia sedang di mana.

Sebentar Jacob sudah kembali. Ia melemparkan setumpuk baju katun berwarna abu-abu. “Pasti kebesaran untukmu, tapi itu yang terbaik yang kupunya. Aku akan, eh, keluar sebentar supaya kau bisa berganti baju.”

“Jangan ke mana-mana. Aku masih terlalu lelah untuk bergerak. Temani saja aku.”

Jacob duduk di lantai di sebelahku, punggungnya bersandar di sofa. Aku penasaran kapan terakhir kali ia tidur. Ia tampak letih yang kurasakan.

Jacob membaringkan kepalanya di bantal di sebelahku dan menguap. “Kurasa aku bisa istirahat sebentar…”

Matanya terpejam. Kubiarkan mataku terpejam juga.

Kasihan Harry. Kasihan Sue. Aku tahu Charlie pasti sangat kalut. Harry sahabatnya. Meskipun Jake tadi merasa sangsi, aku justru sangat berharap Harry bisa sembuh kembali. Demi Charlie. Demi Sue, Leah, dan Seth…

Sofa Billy letaknya persis di sebelah radiator, jadi aku merasa hangat sekarang, meskipun pakaianku basah kuyup. Paru-paruku yang sakit mendorongku ke keadaan tidak sadar, bukan malah membuatku terus terjaga. Samar-samar aku sempat berpikir apakah aku boleh tidur… atau aku mencampuradukkan tenggelam dengan gegar otak…? Jacob mulai mendengkur pelan, dan dengkurannya menenangkanku seperti ninabobo. Dengan cepat aku tertidur.

Untuk pertama kali dalam kurun waktu sangat lama, mimpiku sama seperti mimpi-mimpi normal lainnya. Hanya berkeliaran dalam ingatan samar ke kenangan-kenangan lama— melihat matahari kota Phoenix yang teriknya membutakan, wajah ibuku, rumah pohon bobrok, selimut quilt kusam, dinding kaca, api di air yang gelap… aku langsung lupa pada gambaran yang satu begitu gambaran yang lain muncul.

Gambaran terakhir adalah satu-satunya yang bertahan dalam ingatanku. Tidak berarti apa-apa— hanya dekorasi di sebuah panggung. Sebuah balkon di waktu malam, dengan lukisan bulan purnama menggantung di langit. Kulihat seorang gadis bergaun tidur mencondongkan tubuh di birai balkon dan berbicara sendiri.

Tidak berarti apa-apa… tapi ketika lambat laun kesadaranku pulih, nama Juliet muncul dalam benakku.

Jacob masih tidur; ia merosot ke lantai, tarikan napasnya dalam dan teratur. Suasana rumah lebih gelap daripada sebelumnya, di luar jendela gelap gulita. Tubuhku kaku, tapi hangat dan hampir kering. Bagian dalam tenggorokanku bagai dibakar setiap kali aku menarik napas.

Aku harus bangkit—setidaknya untuk minum. Tapi tubuhku ingin terus berbaring di sini, tidak pernah bergerak lagi.

Alih-alih bergerak, aku malah memikirkan Juliet lagi.

Aku bertanya-tanya dalam hari, apa yang akan ia lakukan seandainya Romeo meninggalkannya, bukan karena dilarang menemuinya, tapi karena kehilangan minat? Bagaimana seandainya Rosalind memberinya kesempatan, dan Romeo berubah pikiran? Bagaimana seandainya, alih-alih menikahi Juliet, Romeo justru menghilang?

Kurasa aku tahu bagaimana perasaan Juliet.

Juliet pasti takkan kembali ke kehidupan lamanya, tidak terlalu. Ia tidak mungkin melanjutkan hidup, aku yakin itu. Bahkan seandainya ia hidup sampai tua dan keriput, setiap kali memejamkan mata, wajah Romeo-lah yang akan selalu terbayang. Ia akan menerima kenyataan itu, pada akhirnya.

Aku bertanya-tanya apakah akhirnya Juliet akan menikah dengan Paris, hanya untuk membahagiakan orangtuanya, demi menjaga ketenangan. Tidak, mungkin tidak, aku memutuskan. Tapi kisah itu memang tak banyak bercerita tentang Paris. Ia hanya peran pembantutempelan, ancaman, tenggat waktu untuk memaksa Juliet.

Bagaimana seandainya peran Paris lebih dari itu?

Bagaimana seandainya Paris teman Juliet? Sahabatnya? Bagaimana seandainya Paris satusatunya orang kepada siapa Juliet bisa mencurahkan keluh kesahnya tentang hubungan cintanya yang gagal dengan Romeo? Satu-satunya orang yang benar-benar memahami Juliet dan membuatnya merasa seperti manusia normal lagi? Bagaimana seandainya Paris itu sabar dan baik? Menjaganya baik-baik? Bagaimana seandainya Juliet tahu ia tak mungkin bisa bertahan tanpa Paris? Bagaimana kalau Paris benar-benar mencintai Juliet dan ingin agar ia bahagia?

Dan… bagaimana bila Juliet mencintai Paris? Tidak sebesar cintanya pada Romeo. Sama sekali tidak seperti itu. tentu saja. Tapi cukup sampai Juliet ingin agar Paris bahagia juga?

Desah napas Jacob yang lambat dan dalam adalah satu-satunya suara di ruangan itu—seperti ninabobo yang digumamkan pada seorang anak, seperti desir suara kursi goyang, seperti detak jarum jam tua di saat kau tidak perlu pergi ke mana-mana… Pendek kata, suara yang membawa kedamaian.

Seandainya Romeo benar-benar pergi, tak pernah kembali lagi, adakah bedanya seandainya Juliet menerima tawaran Paris atau tidak? Mungkin seharusnya Juliet mencoba mengais kembali kepingan-kepingan hidupnya yang masih tersisa. Mungkin itulah hal yang paling mendekati kebahagiaan yang bisa diraihnya.

Aku mendesah, lalu mengerang saat desahan itu menggesek tenggorokanku. Aku terlalu jauh menghayati kisah itu. Romeo takkan mungkin berubah pikiran. Itulah sebabnya orang-orang masih mengenang namanya, selalu dikaitkan dengan nama kekasihnya: Romeo dan Juliet. Itulah sebabnya kisah itu indah. “Juliet dicampakkan dan akhirnya bersanding dengan Paris” tidak akan pernah menjadi hit.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.