Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku melihat dia, dan aku tidak ingin lagi berjuang. Begitu jelas, jauh lebih nyata daripada kenangan mana pun. Alam bawah sadarku menyimpan kenangan akan Edward dalam detail sempurna, menyimpannya untuk momen terakhir ini. Aku bisa melihat wajahnya yang sempurna seolah-olah ia benar-benar di sana; kulitnya yang sedingin es dalam nuansa warna yang tepat, bentuk bibirnya, garis dagunya, kilatan emas di matanya yang berapi-api. Wajar saja ia marah, karena aku menyerah. Rahangnya terkatup rapat dan cuping hidungnya kembang-kempis oleh amarah.

“Tidak! Bella, tidak!”

Telingaku dibanjiri air yang membekukan, tapi suaranya terdengar lebih jelas daripada biasa. Aku mengabaikan kata-katanya dan berkonsentrasi mendengarkan suaranya. Untuk apa berjuang jika aku sudah merasa sangat bahagia dalam keadaanku sekarang ini? Bahkan saat paruparuku seperti dibakar karena membutuhkan asupan udara dan kakiku kejang karena air yang sedingin es, aku justru merasa bahagia. Aku sudah lupa bagaimana rasanya kebahagiaan yang sesungguhnya.

Kebahagiaan. Itu membuat kematian jadi bisa dihadapi dengan lapang dada.

Arus menang saat itu, mendorongku dengan kasar membentur sesuatu yang keras, batu yang tak kelihatan dalam gelap. Benda itu menghantamku dengan keras di bagian dada, membenturku seperti batang besi, dan udara melesat keluar dari paru-paruku, meledak dalam bentuk gumpalan gelembung perak tebal. Batang besi itu seperti menyeretku, menarikku menjauhi Edward, semakin dalam ke dasar samudra yang gelap.

Selamat tinggal, aku cinta padamu, adalah hal terakhir yang kupikirkan.

 

16. PARIS

SAAT itulah kepalaku menyembul ke permukaan.

Sungguh membingungkan. Padahal aku yakin aku tenggelam.

Arus tak mau menyerah begitu saja. Gelombang menghantamku lagi ke bebatuan; batu-batu itu memukul bagian tengah punggungku dengan keras, berirama, mendorong air keluar dari paruparuku. Air menggerojok keluar dalam volume mengagumkan, mengucur deras dari mulut dan hidungku. Garam terasa panas membakar dan paru-paruku terbakar, dan kerongkonganku dipenuhi air hingga aku tak bisa menarik napas dan batu-batu itu menyakiti punggungku. Entah bagaimana aku bisa bertahan di satu tempat, padahal ombak masih menggelora di sekelilingku. Aku tak bisa melihat apa-apa kecuali air di manamana, menggapai wajahku.

“Bernapaslah!” sebuah suara, penuh kepanikan, memerintahkan, dan aku merasa hariku bagai tertusuk pedih waktu mengenali suara itu—karena itu bukan suara Edward.

Aku tak bisa mematuhinya. Air terjun yang menggerojok deras dari mulutku tidak memberiku kesempatan untuk menarik napas. Air hitam sedingin es memenuhi dadaku, membuatnya seperti terbakar.

Batu itu kembali menghantam punggungku,

tepat di antara

tulang bahu, dan air kembali terdorong keluar dari paru, paruku.

“Bernapaslah, Bella! Ayolah!” Jacob memohonmohon. Bintik-bintik hitam bermunculan dalam pandanganku, semakin lebar dan semakin lebar, menghalangi cahaya. Batu itu menghantamku lagi.

Batu itu tidak dingin seperti air; rasanya justru panas di kulitku. Sadarlah aku bahwa itu tangan Jacob, berusaha mengeluarkan air dari paruparuku. Batang besi yang menyeretku dari laut juga… hangat… Kepalaku berputar, bintik-bintik hitam tadi menutupi segalanya…

Apakah itu berarti aku sekarat lagi? Aku tidak suka—rasanya tidak seindah tadi. Sekarang hanya ada kegelapan, tidak ada yang bisa dilihat di sini. Deburan ombak mereda dalam kegelapan dan hilang sama sekali, bahkan suara wuss yang mirip ombak justru datang dari bagian dalam telingaku…

“Bella?” panggil Jacob, suaranya masih tegang, tapi tak sepanik sebelumnya. “Bells, Sayang, kau bisa mendengarku?”

Isi kepalaku berputar dan berguling memualkan, seolah-olah bergabung dengan air yang bergolak…

“Sudah berapa lama dia tidak sadar?” tanya seseorang.

Suara yang bukan suara Jacob membuatku terguncang, menyentakkanku ke kesadaran yang lebih terfokus.

Sadarlah aku bahwa aku diam tak bergerak. Tak ada arus yang menarik-narik tubuhku – pergolakan itu hanya ada dalam kepalaku. Permukaan di bawahku datar dan tak bergerak. Rasanya kasar di bawah lenganku yang telanjang.

“Entahlah,” jawab Jacob, masih terdengar kalut. Suaranya sangat dekat. Tangan-tangan itu—begitu hangat hingga itu pasti tangannya—menyingkirkan rambut-rambut basah dari pipiku. “Beberapa menit? Tidak butuh waktu lama menariknya ke pantai.”

Suara wuss pelan di dalam telingaku bukanlah suara ombak—melainkan udara yang keluarmasuk paru-paruku lagi. Setiap tarikan napas terasa panas—saluran napasku lecet, seperti habis disikat dengan wol baja. Tapi aku bernapas.

Dan aku membeku kedinginan. Ribuan butiran tajam sedingin es menghunjam wajah dan lenganku, membuat perasaan kedinginan itu semakin menjadi-jadi.

“Dia masih bernapas. Sebentar lagi dia pasti siuman. Tapi usahakan agar dia tidak kedinginan. Aku tidak suka melihat warna wajahnya…” Kali ini aku mengenali suara Sam.

“Menurutmu tidak apa-apa bila kita memindahkannya?”

“Punggungnya tidak cedera kan, waktu dia jatuh?”

“Entahlah.”

Mereka ragu-ragu.

Aku berusaha membuka mata. Butuh waktu cukup lama, tapi kemudian aku bisa melihat awanawan ungu gelap yang menghujamku dengan hujan yang dingin membekukan. “Jake?” panggilku dengan suara serak.

Wajah Jacob menghalangi langit. “Oh!” serunya, ekspresi lega menyaput wajahnya. Matanya basah oleh hujan. “Oh, Bella! Kau baik-baik saja? Kau bisa mendengarku, tidak? Ada yang sakit?”

“H-hanya t-tenggorokanku,” jawabku terbatabata, bibirku gemetar kedinginan.

“Ayo, kami akan membawamu pergi dari sini,” kata Jacob. Ia menyelipkan kedua lengannya di bawah tubuhku dan mengangkatku dengan mudah sekali—seperti mengangkat kardus kosong saja. Dadanya telanjang dan hangat; ia merundukkan bahu untuk melindungiku dari hujan. Kepalaku terkulai di atas lengannya. Aku memandang kosong ke laut yang menggelora, memukuli pasir di belakangnya.

“Bisa?” kudengar Sam bertanya.

“Ya, akan kuurus sendiri mulai sekarang. Kembalilah ke rumah sakit. Aku akan menyusulmu nanti. Trims, Sam.”

Kepalaku masih berputar-putar. Tak satu pun perkataan Jacob yang bisa kucerna pada awalnya. Sam tidak menyahut. Tidak ada suara, dan aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia sudah pergi.

Air menjilat dan menjulur jauh memasuki pantai, mengejar kami sementara Jacob membopongku pergi, seolah-olah marah karena aku lolos. Saat aku memandang dengan letih, mataku yang tidak fokus menangkap secercah warna—seberkas api kecil menari di air yang gelap, nun jauh di teluk. Gambaran itu tak masuk akal, dan aku bertanya-tanya seberapa sadar diriku sesungguhnya. Kepalaku berputar-putar mengenang air hitam yang bergolak—kehilangan orientasi hingga tak tahu mana arah naik dan mana turun. Begitu tersesat… tapi entah bagaimana Jacob…

“Bagaimana kau bisa menemukanku?” tanyaku parau.

“Aku memang mencarimu,” jawabnya. Ia separo berlari menembus hujan, menjauhi pantai menuju ke jalan. “Aku mengikuti jejak ban mobilmu, kemudian aku mendengarmu menjerit…” Jacob bergidik. “Mengapa kau nekat terjun, Bella? Apakah tidak kaulihat sebentar lagi bakal badai? Apakah kau tidak bisa menungguku?” Nadanya dipenuhi amarah setelah kelegaan kini memudar.

“Maaf,” gumamku. “Itu tadi memang tolol.”

“Yeah, itu tadi benar-benar tolol,” Jacob sependapat, tetesan air hujan berjatuhan dari rambutnya saat ia mengangguk. “Dengar, bisa tidak kausimpan dulu hal-hal tolol itu sampai ada aku? Aku takkan bisa berkonsentrasi kalau kukira kau bakal terjun dari tebing tanpa sepengetahuanku.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.