Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Pasti ada cara untuk memuaskan dahaga itu. Kepedihan di dadaku semakin lama semakin tak bisa ditolerir lagi. Kupandangi tebing-tebing serta gelombang yang menghempas bebatuan.

Well mengapa tidak? Mengapa tidak memuaskannya saja sekarang?

Jacob sudah berjanji akan mengajakku melompat dan tebing, bukan? Hanya karena ia tidak bisa menemaniku, bukan berarti aku harus melupakan kegiatan untuk mengalihkan pikiran yang sangat kubutuhkan ini—semakin membutuhkannya karena saat ini Jacob sedang mempertaruhkan nyawanya sendiri? Mempertaruhkannya. pada intinya, demi aku. Kalau bukan karena aku, Victoria tidak akan membunuhi orang-orang di sini… melainkan di tempat lain, jauh dari sini. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Jacob, akulah yang bersalah.

Kesadaran itu menikam hatiku dalam-dalam dan membuatku berlari-lari kecil kembali ke jalan menuju rumah Billy, tempat trukku berada.

Aku tahu jalan terdekat ke tebing-tebing, tapi aku harus mencari jalan kecil yang akan membawaku sampai ke bibir tebing. Saat menyusuri jalan itu, aku mencari belokan atau percabangan, karena aku tahu Jake berniat mengajakku melompat dari pinggir tebing yang lebih rendah, bukan dari puncaknya. Tapi jalan kecil itu hanya berupa satu garis yang berkelokkelok menuju bibir tebing tanpa memberikan pilihan lain. Aku tak sempat lagi mencari jalan lain yang mengarah ke bawah—badai bergerak semakin cepat sekarang. Angin akhirnya mulai menyentuhku, awan-awan menekan semakin dekat ke tanah. Begitu sampai di tempat jalan tanah itu melebar menuju ngarai batu, tetesan hujan pertama jatuh dan membasahi wajahku.

Tidak sulit meyakinkan diriku bahwa aku tidak sempat lagi mencari jalan lain—aku memang ingin melompat dari puncak tebing. Bayangan inilah yang bertahan di kepalaku. Aku ingin terjun bebas yang akan terasa seperti terbang.

Aku tahu ini hal paling tolol dan paling sembrono yang pernah kulakukan. Pikiran itu membuatku tersenyum. Kepedihan itu mulai mereda, seakan-akan tubuhku tahu suara Edward beberapa detik lagi akan terdengar…

Laut terdengar sangat jauh, bahkan lebih jauh daripada sebelumnya, waktu aku berada di jalan setapak di tengah pepohonan. Aku meringis membayangkan suhu air yang pasti sangat dingin. Tapi aku takkan membiarkannya menghentikanku.

Angin bertiup semakin kencang sekarang, membuat hujan berpusar-pusar di sekelilingku.

Aku melangkah ke pinggir tebing, mengarahkan mata ke ruang kosong di hadapanku. Jari-jari kakiku meraba-raba ke depan tanpa melihat, mengusap-usap pinggir batu begitu menemukannya. Aku menghela napas dalamdalam dan menahannya… menunggu.

“Bella.”

Aku tersenyum dan mengembuskan napas.

Ya? Aku tidak menjawab dengan suara keras, takut suaraku akan menghancurkan ilusi indah itu. Edward terdengar sangat nyata, sangat dekat. Hanya bila ia merasa tidak suka seperti ini aku bisa mendengar kenangan nyata suaranya— teksturnya yang selembut beledu dan intonasi musikalnya yang menjadikannya suara paling sempurna di antara segala suara.

“Jangan lakukan ini,” pintanya.

Kau yang menginginkan aku menjadi manusia, aku mengingatkan dia. Well lihat aku sekarang.

“Please. Demi aku.”

Tapi kau tidak mau tinggal bersamaku selain dengan cara ini.

“Please.” Itu hanyalah bisikan di tengah hujan yang tersapu angin, yang menerbangkan rambutku dan membasah, bajuku membuat rubuhku basah kuyup seolah-olah ini lompatan keduaku.

Aku membungkuk dan bertumpu pada jantung kakiku.

“Jangan, Bella!” Ia marah sekarang, dan amarah itu terasa sangat indah.

Aku tersenyum dan mengangkat kedua lenganku lurus-lurus ke muka, seakan-akan hendak terjun, menengadahkan wajahku ke hujan. Tapi karena terbiasa berenang di kolam umum selama bertahun-tahun—kaki lebih dulu, pertama kali. Aku mencondongkan tubuh ke depan, membungkuk agar bisa meloncat lebih jauh…

Dan aku melemparkan tubuhku dari tepi tebing.

Aku menjerit saat tubuhku melayang di udara terbuka seperti meteor, tapi jeritanku adalah jeritan kegembiraan, bukan takut. Angin melawan, sia-sia berusaha melawan gravitasi yang tak bisa dikalahkan, mendorongku dan memutar-mutar tubuhku dalam gaya spiral bagai roket menghunjam bumi.

Yes! Kata itu bergema di benakku begitu tubuhku membelah permukaan air. Air terasa seperti es, lebih dingin daripada yang kutakutkan, namun kedinginan itu justru menambah kenikmatan yang kurasakan.

Aku bangga pada diriku sendiri saat menghunjam semakin dalam ke air hitam yang membekukan. Tak sedikit pun aku merasa takut— hanya murni adrenalin. Sungguh, terjun bebas sama sekali tidak menakutkan. Mana tantangannya?

Saat itulah arus air menangkapku.

Pikiranku begitu terpusat pada ukuran tebing, pada bahaya nyata ketinggiannya yang curam, hingga sama sekali tak memikirkan air gelap yang menanti. Tak pernah terbayangkan olehku bahwa bahaya sesungguhnya mengintai jauh di bawahku, di bawah ombak yang bergulung-gulung.

Rasanya ombak seperti melawanku, melemparlemparkan aku bolak-balik di antara mereka seolah-olah mereka bertekad membagiku dengan mencabik-cabik tubuhku. Aku tahu cara yang benar menghindari air pasang-surut yang saling bertabrakan: berenang paralel dengan garis pantai, bukan berjuang sekuat tenaga menuju pantai. Tapi pengetahuan itu tak banyak berguna karena aku tidak tahu di mana letak pantai.

Aku bahkan tak tahu arah menuju permukaan.

Air yang bergolak itu hitam pekat di segala arah; tak ada cahaya setitik pun yang bisa membimbingku ke atas. Gravitasi sangat kuat bila dibandingkan udara, tapi itu belum ada apaapanya dibandingkan dengan arus ombak—aku tak bisa merasakan tarikan ke bawah, tarikan ke arah mana pun. Yang kurasakan hanya arus yang begitu kuat membuatku berputar-putar terus seperti boneka kain.

Aku berusaha keras menahan napas, mengunci bibir rapat-rapat untuk mempertahankan persediaan oksigen terakhir yang masih tersisa.

Tak mengherankan bila delusiku menghadirkan Edward di sana. Sudah sepantasnya, mengingat sebentar lagi aku bakal mati. Aku justru heran menyadari betapa pastinya pengetahuan itu. Aku akan tenggelam. Aku sedang tenggelam.

“Berenanglah terus!” Edward memohon dengan panik dalam pikiranku.

Ke mana? Tidak ada apa-apa kecuali kegelapan. Tidak ada tempat ke mana aku bisa berenang.

“Hentikan itu!” perintahnya. “Jangan beraniberani menyerah!”

Air yang dingin membuat lengan dan kakiku mati rasa. Aku tak lagi merasakan pukulan bertubi-tubi seperti tadi. Yang kurasakan sekarang hanya pusing, berpusar-pusar tak berdaya di dalam air.

Tapi aku mendengarkan kata-katanya. Kupaksa kedua lenganku untuk terus menggapai-gapai, kakiku untuk menendang lebih kuat, meski setiap detik aku dihadapkan pada arah yang baru. Gawat. Apa gunanya?

“Berjuang!” teriaknya. “Sialan, Bella, berjuanglah terus.”

Kenapa?

Aku tidak ingin berjuang lagi. Dan bukan karena kepalaku terasa ringan, atau karena kedinginan, atau karena otot-otot lenganku gagal berfungsi karena kelelahan, yang membuatku merasa cukup senang berada di tempatku sekarang. Aku nyaris bahagia karena semua akan berakhir. Ini kematian yang lebih mudah daripada kematian-kematian lain yang pernah kuhadapi. Kedamaian yang ganjil.

Aku sempat berpikir tentang hal-hal klise, tentang bagaimana kau seharusnya melihat kembali sekilas perjalanan hidupmu. Ternyata aku jauh lebih beruntung. Siapa pula yang ingin melihat pemutaran ulang?

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.