Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Tapi sudah berhari-hari aku tak lagi mendengar suara Edward. Mungkin itu juga bagian dari masalah. Aku kecanduan suara dari delusiku. Keadaan jadi memburuk bila aku terlalu lama tidak mendengar suara itu. Terjun dari tebing pasti bisa memulihkan keadaan.

“Jelas tentu aku mau. Asyik.”

“Kalau begitu kita kencan,” kata Jacob, menyampirkan lengannya di pundakku.

“Oke—sekarang kau harus tidur.” Aku tidak suka melihat lingkaran hitam di bawah matanya mulai tampak terukir permanen di kulitnya.

Aku bangun pagi-pagi sekali keesokan harinya dan menyelundupkan baju ganti ke mobil. Firasatku mengatakan Charlie tidak bakal menyetujui rencana hari ini, sama seperti ia tidak akan menyetujui rencana sepeda motor itu.

Gagasan melupakan sejenak semua kekhawatiranku membuatku nyaris merasa bersemangat. Mungkin memang akan menyenangkan. Kencan dengan Jacob, kencan dengan Edward… Aku tertawa pahit. Boleh saja Jake berkata kami pasangan yang kacau—tapi akulah sesungguhnya yang benar-benar kacau. Aku membuat werewolf terkesan sangat normal.

Aku mengira Jacob bakal menungguku di depan rumah, seperti yang biasa ia lakukan setiap kali suara mesin trukku yang berisik mengabarkan kedatanganku. Ketika dia tidak muncul aku mengira dia masih tidur. Aku akan menunggu – memberinya kesempatan beristirahat sebanyak mungkin. Dia butuh istirahat, sekaligus menunggu cuaca sedikit lebih menghangat. Perkiraan Jake ternyata benar; cuaca berubah semalam. Gumpalan awan tebal kini menggelantung di atmosfer, membuat udara nyaris lembab; di bawah “selimut” kelabu itu, hawa panas dan pengap. Kutinggalkan sweterku di truk.

Kuketuk pintu pelan-pelan.

“Masuklah, Bella,” seru Billy.

Billy duduk di meja dapur, makan sereal dingin.

“Jake tidur?”

“Eh, tidak.” Billy meletakkan sendoknya, dan alisnya bertaut.

“Ada apa?” desakku. Kentara sekali dari ekspresi Billy bahwa sesuatu telah terjadi.

“Embry, Jared, dan Paul menemukan jejak baru pagi-pagi sekali tadi. Sam dan Jake berangkat untuk membantu. Sam optimis—vampir perempuan itu terpojok di sisi pegunungan. Menurut Sam, mereka punya peluang besar untuk mengakhirinya.”

“Oh, tidak, Billy,” bisikku. “Oh, tidak.”

Billy tertawa, dalam dan rendah. “Sebegitu sukanya kau pada La Push hingga ingin memperpanjang masa tahananmu di sini?”

“Jangan bercanda, Billy. Ini terlalu mengerikan untuk dijadikan lelucon.”

“Kau benar,” Billy sependapat, masih tersenyum. Mata tuanya mustahil dibaca. “Yang satu ini sulit ditaklukkan.”

Aku menggigit bibir.

“Bagi mereka, ini tidak seberbahaya yang kaukira. Sam tahu apa yang harus dilakukan. Kau hanya perlu mengkhawatirkan dirimu sendiri. Vampir itu tidak berniat melawan mereka. Dia hanya berusaha menghindari mereka… dan menemukanmu.”

“Bagaimana Sam tahu apa yang harus dia lakukan?” aku, menepiskan kekhawatiran Billv terhadap keselamatanku. “Mereka baru membunuh satu vampir bisa jadi itu hanya keberuntungan.”

“Kami melaksanakan tugas kami dengan sangat serius, Bella. Tak ada yang terlupa. Semua yang perlu mereka ketahui sudah diwariskan secara turun-temurun selama beberapa generasi.”

Keterangan itu tidak lantas membuatku merasa lega seperti yang mungkin dimaksudkan Billy. Ingatan tentang Victoria yang liar, garang, dan mematikan, terlalu kuat bercokol dalam kepalaku. Kalau ia tidak bisa menghindari para werewolf, akhirnya ia akan berusaha menerobos pertahanan mereka.

Billy kembali menekuni sarapannya; aku duduk di sofa dan memindah-mindahkan saluran televisi tanpa berniat menonton. Tapi itu tidak lama. Aku mulai merasa terperangkap di ruangan kecil itu, sesak, gelisah karena tak bisa melihat ke luar jendela-jendela yang tertutup tirai.

“Aku akan ke pantai,” kataku tiba-tiba kepada Billy, lalu bergegas ke pintu.

Berada di luar ternyata tak banyak membantu. Awan-awan didorong ke bawah oleh beban yang tak kasatmata hingga tidak membuat perasaan terperangkapku mereda. Anehnya, hutan terkesan kosong saat aku berjalan menuju pantai. Tak terlihat olehku satu hewan pun—tidak ada burung, tidak ada tupai. Telingaku juga tidak mendengar kicauan burung. Keheningan itu terasa mengerikan; bahkan desiran angin menerpa pepohonan pun tidak ada.

Aku tahu semua itu hanya karena cuaca, namun tetap saja aku gelisah Tekanan atmosfer yang berat dan panas bisa dirasakan bahkan oleh pancaindra manusiaku yang lemah, dan hal itu menandakan bakal terjadinya badai besar. Kondisi langit semakin menguatkan dugaanku; awan bergulunggulung hebat padahal di daratan tak ada angin. Awan terdekat berwarna abu-abu gelap, tapi di sela-selanya aku bisa melihat lapisan awan lain yang berwarna ungu gelap. Langit memiliki rencana yang sangat dahsyat hari ini. Semua hewan di hutan pasti sudah berlindung.

Begitu sampai di pantai, aku menyesal telah datang ke sini—aku muak pada tempat ini. Hampir setiap hari aku datang ke sini, berkeliaran sendirian. Apa bedanya dengan mimpi-mimpi burukku? Tapi mau ke mana lagi? Aku terseokseok menghampiri driftwood, lalu duduk di ujungnya supaya bisa bersandar di akarnya yang saling membelit. Dengan muram aku menengadah ke langit yang murka, menunggu tetesan hujan pertama memecah keheningan.

Aku berusaha tidak memikirkan bahaya yang dihadapi Jacob dan teman-temannya. Karena tidak ada apa-apa yang bisa menimpa Jacob. Aku tak tahan memikirkannya. Aku sudah terlalu banyak kehilangan—apakah takdir akan merenggut sedikit kedamaian yang masih tersisa? Sepertinya itu tidak adil, tidak seimbang. Tapi mungkin aku telah melanggar suatu aturan tak dikenal, melanggar batas yang membuatku jadi terkutuk. Mungkin salah melibatkan diri dengan mitos dan legenda, memunggungi dunia manusia. Mungkin…

Tidak. Tidak ada apa-apa yang akan menimpa Jacob. Aku harus meyakini hal itu atau aku takkan bisa berfungsi.

“Argh!” Aku mengerang, lalu melompat turun dari batang kayu. Aku tak sanggup duduk diam; itu lebih parah daripada berjalan mondar-mandir.

Sebenarnya aku sudah berharap akan mendengar suara Edward pagi ini. Sepertinya itu satu-satunya hal yang membuatku bisa bertahan melewati hari ini. Lubang di dadaku belakangan ini mulai bernanah, seolah-olah membalas dendam untuk waktu-waktu ketika kehadiran Jacob menjinakkannya. Bagian pinggirnya panas membara.

Ombak semakin menggelora saat aku berjalan, mulai mengempas bebatuan, tapi tetap belum ada angin. Aku merasa ditekan oleh tekanan badai. Segalanya berpusar-pusar di sekelilingku, tapi di tempatku berdiri, udara diam tak bergerak. Udara menghantar gelombang listrik ringan—aku bisa merasakan rambutku bergemerisik.

Di tengah laut, ombak lebih ganas daripada di sepanjang tepi pantai. Kulihat gelombang menghantam garis tebing, menyemburkan awan putih buih laut tinggi ke angkasa. Tak ada gerakan di udara, meski awan bergolak semakin cepat sekarang. Kelihatannya mengerikan—seolah-olah awan-awan itu bergerak sendiri. Aku menggigil, walaupun tahu itu hanya karena tekanan udara yang sangat besar.

Tebing-tebing itu menjulang bagaikan pisau hitam di langit yang murka. Saat memandanginya, ingatanku melayang ke hari ketika Jacob bercerita tentang Sam dan “geng’-nya. Aku ingat bagaimana cowok-cowok itu—para werewolf—melontarkan diri ke angkasa. Bagaimana tubuh-tubuh itu jatuh dan berputar-putar ke bawah masih tergambar jelas dalam ingatanku. Aku membayangkan perasaan bebas merdeka saat jatuh… Aku membayangkan bagaimana suara Edward dalam pikiranku – marah, sehalus beledu, sempurna… Panas di dadaku semakin menjadi-jadi.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.