Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Hati-hati, Jake. Tenang. Tenangkan dirimu.”

“Yeah,” ia terengah-engah. “Tenang.” Ia menggoyangkan kepalanya ke depan dan ke belakang dengan gerak cepat. Sejurus kemudian, hanya tangannya yang bergoyang.

“Kau baik-baik saja?”

“Yeah, hampir. Ceritakan hal lain. Beri sesuatu yang berbeda untuk dipikirkan.”

“Apa yang ingin kauketahui?”

“Entahlah.” Jacob memejamkan mata, berkonsentrasi, “Tentang kelebihan-kelebihan mereka. Apakah ada anggota keluarga Cullen lain yang memiliki… bakat khusus? Misalnya membaca pikiran?”

Sejenak aku ragu. Rasanya ini pertanyaan yang akan ditanyakan Jacob pada mata-mata, bukan temannya. Tapi apa gunanya menyembunyikan apa yang kuketahui? Itu toh tidak berarti apa-apa lagi sekarang, lagi pula itu bisa membantunya mengendalikan diri.

Maka aku pun cepat-cepat berbicara, dengan bayangan wajah rusak Emily menghantui pikiran, dan bulu kudukku meremang di kedua lenganku. Tak terbayangkan olehku bagaimana bila serigala berbulu merah-cokelat itu mendadak muncul di dalam Rabbit ini—bisa-bisa seluruh garasi ini porak-poranda bila Jacob berubah wujud sekarang.

“Jasper bisa… sedikit mengendalikan emosi orang-orang di sekitarnya. Bukan dalam arti negatif, hanya menenangkan orang, semacam itu. Mungkin itu akan sangat membantu Paul,” aku menambahkan, sedikit menyindir. “Sementara Alice bisa melihat hal-hal yang akan terjadi. Masa depan, begitulah, meski tidak persis benar. Hal-hal yang dia lihat bisa berubah bila seseorang mengubah jalan yang sedang mereka lalui…”

Seperti waktu dia melihatku sekarat… dan dia melihatku menjadi seperti mereka. Dua hal yang ternyata tidak terjadi. Dan tidak akan pernah terjadi. Kepalaku mulai pening—rasanya aku tak bisa mengisap cukup banyak oksigen dari udara. Tidak ada paru-paru.

Jacob sudah bisa menguasai diri sepenuhnya, tubuhnya diam tak bergerak di sampingku.

“Mengapa kau selalu melakukan itu?” tanyanya. Ia menarik pelan satu lenganku, yang mendekap dada, kemudian menyerah waktu aku bersikeras tak mau melepaskannya. Aku bahkan tak sadar tanganku telah mendekap dada. “Kau selalu berbuat begitu setiap kali kau merasa sedih. Mengapa?”

“Sakit rasanya memikirkan mereka,” bisikku. “Rasanya aku tak bisa bernapas… seolah-olah aku pecah berkeping-keping…” Sungguh aneh betapa banyaknya yang bisa kuungkapkan pada Jacob sekarang. Tak ada lagi rahasia di antara kami.

Jacob mengelus-elus rambutku. “Sudahlah, Bella, sudahlah. Aku tidak akan mengungkitnya lagi. Maafkan aku.”

“Aku tidak apa-apa.” Aku terkesiap. “Itu sudah biasa. Bukan salahmu.”

“Benar-benar pasangan yang kacau ya, kita ini?” sergah Jacob. “Tak seorang pun di antara kita bisa mempertahankan kondisi normal.”

“Menyedihkan,” aku sependapat, masih belum bisa bernapas.

“Setidaknya kita masih memiliki satu sama lain,” kata Jacob, jelas-jelas merasa terhibur oleh pemikiran itu.

Aku juga merasa terhibur. “Setidaknya masih ada itu,” aku sependapat.

Dan saat kami bersama, semua baik-baik saja. Tapi ada tugas berat dan berbahaya yang wajib dilakukan Jacob, jadi aku lebih sering sendirian, terkungkung di La Push demi keamananku sendiri, tanpa kegiatan yang bisa mengalihkan pikiran dari semua kekhawatiranku.

Aku merasa canggung karena harus selalu berada di rumah Billy. Aku belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian Kalkulus minggu depan, tapi baru sebentar saja aku sudah bosan. Kalau tidak ada hal pasti yang bisa dikerjakan, aku merasa harus berbasa-basi dengan Billy—tekanan melakukan etika yang benar dalam bermasyarakat. Masalahnya, Billy bukan orang yang enak diajak ngobrol, dan jadilah kecanggungan itu terus berlanjut.

Aku mencoba main ke rumah Emily pada hari Rabu siang, untuk berganti suasana. Awalnya cukup menyenangkan. Emily periang dan tidak pernah bisa duduk diam. Aku membuntutinya sementara ia mondar-mandir ke sana kemari di sekeliling rumah dan halamannya yang kecil mengosek lantai yang bersih tanpa noda, mencabuti rumput-rumput liar, membetulkan engsel rusak, menenun benang wol dengan alat tenun kuno, dan selalu saja memasak. Ia mengeluh sedikit tentang selera makan cowok-cowok itu yang kian hari kian besar saja, tapi mudah dilihat bahwa ia sama sekali tidak keberatan mengurus mereka. Bukan hal sulit bergaul dengannya— bagaimanapun, kami sama-sama cewek serigala sekarang.

Tapi Sam datang setelah aku berada di sana beberapa jam. Aku hanya bertahan sampai aku memastikan Jacob baik-baik saja dan bahwa tidak ada kabar apa-apa, dan sesudahnya aku bergegas pergi. Sulit rasanya menelan aura cinta dan kebahagiaan yang melingkupi mereka dalam dosis begitu besar, tanpa kehadiran orang lain yang bisa mengencerkannya.

Jadilah aku berkeliaran di pantai, bolak-balik menyusuri tepi pantai yang berbatu-batu, berulang kali.

Menghabiskan waktu sendirian berdampak buruk bagiku. Setelah bisa bersikap jujur pada Jacob, aku jadi terlalu banyak membicarakan dan memikirkan keluarga Cullen. Tak peduli betapa pun kerasnya aku mencoba mengalihkan pikiran— padahal banyak yang harus kupikirkan: aku benar-benar sangat khawatir memikirkan Jacob dan saudara-saudara serigalanya, aku takut memikirkan keselamatan Charlie dan orang-orang lain yang mengira mereka memburu binatang aku semakin lama semakin dekat dengan Jacob tanpa pernah secara sadar memutuskan untuk maju ke arah itu dan aku tak tahu bagaimana menyikapinya—namun tak satu pun dari semua masalah yang sangat nyata dan sangat layak untuk dipikirkan itu sanggup mengalihkan pikiranku dari kepedihan di dadaku untuk waktu yang lama. Akhirnya, aku bahkan tidak sanggup berjalan lagi, karena tak bisa bernapas. Aku duduk di sepetak bebatuan yang agak kering dan meringkuk seperti bola.

Jacob menemukanku dalam keadaan seperti itu, dan kentara sekali dan ekspresinya bahwa ia mengerti.

“Maaf,” ucapnya langsung. Ia menarikku dari tanah dan melingkarkan kedua lengannya di pundakku. Baru saat itulah aku sadar betapa dingin tubuhku. Kehangatannya membuatku bergetar, tapi setidaknya aku bisa bernapas dengan dia di sana.

“Aku mengacaukan liburan musim semimu,” Jacob menyalahkan diri sendiri sementara kami berjalan lagi menyusuri pantai.

“Tidak, itu tidak benar. Aku toh tidak punya rencana apa-apa. Lagi pula, rasanya aku tidak suka liburan musim semi.”

“Besok pagi aku bisa libur. Yang lain-lain bisa berpatroli tanpa aku. Kita akan melakukan sesuatu yang menyenangkan.”

Kata itu terasa asing dalam kehidupanku sekarang, nyaris tidak bisa dimengerti. Aneh. “Menyenangkan?”

“Kau butuh bersenang-senang. Hmm…” Mata Jacob menerawang ke ombak kelabu yang bergulung-gulung, menimbang-nimbang. Saat matanya menyapu cakrawala, mendadak ia mendapat ilham.

“Aku tahu!” serunya. “Ada lagi satu janji yang harus kutepati.”

“Kau ini ngomong apa?”

Jacob melepaskan tanganku dan menuding ke arah selatan pantai, tempat pantai yang berbentuk bulan sabit itu berakhir di tebing-tebing laut yang tinggi menjulang. Aku mengikuti arah pandangnya, tak mengerti.

“Bukankah aku sudah berjanji akan mengajakmu terjun dari tebing?”

Aku bergidik.

“Yeah, memang akan sangat dingin—tapi tidak sedingin hari ini. Bisa kaurasakan cuaca berubah? Tekanan udaranya? Besok pasti cuaca akan lebih hangat. Bagaimana, kau mau?”

Air yang gelap kelihatannya tidak mengundang, dan dilihat dari sini. Tebing-tebing itu bahkan terlihat lebih tinggi daripada sebelumnya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.