Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Jasper menabrak Edward, dan suaranya terdengar seperti benturan batu-batu besar saat terjadi longsor.

Ada lagi suara lain, geraman mengerikan yang sepertinya berasal jauh dari dasar dada Jasper. Jasper berusaha menerobos melewati Edward, mengatupkan giginya hanya beberapa sentimeter saja dari wajah Edward.

Detik berikut Emmett menyambar Jasper dari belakang, menguncinya dalam pitingan tangan yang besar, tapi Jasper memberontak, matanya yang liar dan kosong hanya terfokus padaku.

Selain shock, aku juga merasa kesakitan. Aku terbanting ke lantai di dekat piano, kedua tangan refleks terbentang lebar untuk menahan jatuhku, tepat menimpa kepingan-kepingan kaca yang tajam. Baru sekarang aku merasakan kesakitan yang pedih dan menusuk yang menjalar dari pergelangan tangan ke lipatan siku.

Pusing dan linglung, aku mendongak dari darah merah cerah yang merembes keluar dari lenganku—dan melihat enam pasang mata vampir yang tiba-tiba menatapku dengan sorot kelaparan.

 

2. JAHITAN

HANYA Carlisle yang tetap tenang. Pengalaman bekerja di UGD selama berabad-abad tergambar jelas dalam suaranya yang tenang dan berwibawa.

“Emmett, Rose, bawa Jasper keluar.”

Kali ini tanpa senyum, Emmett mengangguk. “Ayolah, Jasper.”

Jasper meronta-ronta dalam cengkeraman Emmett, menggeliat-geliat, menyorongkan giginya ke arah saudaranya, matanya masih liar.

Wajah Edward pucat pasi saat ia menghambur dan membungkuk di atas tubuhku, posisinya jelas melindungi. Geraman rendah bernada memperingatkan terdengar dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. Aku tahu ia tidak bernapas.

Rosalie, wajah malaikatnya tampak puas, maju selangkah di depan Jasper—menjaga jarak dengan giginya—dan membantu Emmett menyeret Jasper keluar lewat pintu kaca yang dibukakan Esme, sebelah tangan menutup mulut dan hidungnya.

Wajah Esme yang berbentuk hati tampak malu. “Akubenar-benar minta maaf, Bella,” jeritnya sambil mengikuti yang lain-lain ke halaman.

“Beri aku jalan, Edward,” gumam Carlisle.

Sedetik berlalu, kemudian Edward mengangguk lambat-lambat dan merilekskan posisinya.

Carlisle berlutut di sebelahku, mencondongkan tubuh untuk memeriksa lenganku. Bisa kurasakan perasaan shock membeku di wajahku, jadi aku berusaha mengubahnya.

“Ini, Carlisle,” kata Alice, mengulurkan handuk.

Carlisle menggeleng. “Terlalu banyak serpihan kaca di lukanya.” Ia mengulurkan tangan dan merobek bagian bawah taplak meja putih menjadi kain panjang tipis. Dililitkannya kain itu di bawah siku untuk membentuk semacam bebat. Bau anyir darah membuat kepalaku pening. Telingaku berdenging.

“Bella,” kata Carlisle lirih. “Kau mau aku mengantarmu ke rumah sakit, atau kau mau aku merawatnya di sini saja?”

“Di sini saja, please,” bisikku. Kalau ia membawaku ke rumah sakit, cepat atau lambat Charlie pasti bakal tahu.

“Biar kuambilkan tasmu,” kata Alice.

“Mari kita bawa dia ke meja dapur,” kata Carlisle pada Edward.

Edward mengangkatku dengan mudah, sementara Carlisle memegangi lenganku agar tetap stabil.

“Bagaimana keadaanmu, Bella?” tanya Carlisle.

“Baik-baik saja,” Suaraku terdengar cukup mantap, dan itu membuatku senang.

Wajah Edward kaku seperti batu.

Alice telah menunggu di sana. Tas Carlisle sudah diletakkan di meja, bersama lampu meja kecil yang menyala terang dicolokkan ke dinding. Edward mendudukkan aku dengan lembur ke kursi, sementara Carlisle menarik kursi lain. Ia langsung bekerja.

Edward berdiri di sampingku, sikapnya masih protektif, masih menahan napas.

“Pergilah, Edward,” desahku.

“Aku bisa mengatasinya,” Edward bersikeras. Tapi dagunya kaku; sorot matanya menyala-nyala oleh dahaga yang coba dilawannya sekuat tenaga, jauh lebih parah baginya ketimbang bagi yang lain-lain.

“Kau tidak perlu sok jadi pahlawan,” tukasku. “Carlisle bisa mengobatiku tanpa bantuanmu. Pergilah dan hirup udara segar.”

Aku meringis saat Carlisle melakukan sesuatu di lenganku yang rasanya perih.

“Aku akan tetap di sini,” bantah Edward.

“Kenapa kau senang menyiksa diri sendiri?” gumamku.

Carlisle memutuskan menengahi. “Edward, lebih baik kau menemui Jasper sebelum dia jadi tak terkendali. Aku yakin dia marah pada dirinya sendiri, dan aku ragu dia mau mendengarkan nasihat yang lain selain kau sekarang ini.”

“Benar,” dukungku penuh semangat. “Cari Jasper sana.”

“Lebih baik kau melakukan sesuatu yang berguna,” imbuh Alice.

Mata Edward menyipit karena kami mengeroyoknya seperti itu, tapi akhirnya ia mengangguk sekali dan berlari kecil dengan lincah melalui pintu dapur sebelah belakang. Aku yakin ia belum menarik napas sekali pun sejak jariku teriris tadi.

Perasaan kebas dan mati rasa menyebar di sekujur lenganku. Meski perihnya hilang, namun itu membuatku teringat pada lukaku, jadi kupandangi saja wajah Carlisle dengan saksama untuk mengalihkan pikiran dari apa yang dilakukan tangannya. Rambut Carlisle berkilau emas di bawah cahaya lampu sementara ia membungkuk di atas lenganku. Bisa kurasakan secercah rasa mual mengaduk-aduk perutku, tapi aku bertekad takkan membiarkan kegelisahan menguasaiku. Sekarang tak ada lagi rasa sakit, yang ada hanya perasaan seperti ditarik-tarik yang berusaha kuabaikan. Tak ada alasan untuk muntah-muntah seperti bayi.

Seandainya tak berada dalam jangkauan pandanganku, aku pasti takkan menyadari Alice akhirnya menyerah dan menyelinap ke luar ruangan. Dengan senyum kecil meminta maaf, ia lenyap di balik pintu dapur.

“Well, itu berarti semuanya,” desahku. “Aku bisa mengosongkan ruangan, paling tidak.”

“Itu bukan salahmu,” hibur Carlisle sambil terkekeh. “Itu bisa terjadi pada siapa pun.”

“Bisa,” ulangku. “Tapi biasanya hanya terjadi padaku.”

Lagi-lagi Carlisle tertawa.

Ketenangan sikap Carlisle jauh lebih menakjubkan saat dibandingkan reaksi yang lainnya. Tak tampak secercah pun kegugupan di wajahnya. Carlisle bekerja dengan gerakan-gerakan cepat dan mantap. Satu-satunya suara lain selain embusan napas kami yang pelan hanya bunyi kling kling saat pecahan-pecahan kecil kaca dijatuhkan satu demi satu ke meja.

“Bagaimana kau bisa melakukannya?” desakku. “Bahkan Alice dan Esme…” Aku tak menyelesaikan kata-kataku, hanya menggeleng heran. Walaupun mereka semua juga sudah meninggalkan diet tradisional vampir seperti halnya Carlisle, tapi hanya dia yang sanggup mencium aroma darah tanpa merasa tergoda sedikit pun untuk mencicipinya. Jelas, itu jauh lebih sulit daripada yang terlihat.

“Latihan bertahun-tahun,” jawab Carlisle. “Sekarang aku sudah hampir tidak menyadari baunya lagi.”

“Menurutmu, apakah akan lebih sulit bila kau cuti lama dari rumah sakit? Dan tidak selalu berdekatan dengan darah?”

“Mungkin,” Carlisle mengangkat bahu, tapi kedua tangannya tetap mantap. “Aku tak pernah merasa perlu cuti lama-lama.” Ia menyunggingkan senyum ceria ke arahku. “Aku terlalu menikmati pekerjaanku.”

Kling, kling, kling. Kaget juga aku melihat banyaknya serpihan kaca di lenganku. Aku tergoda untuk melirik tumpukan yang semakin bertambah, hanya untuk melihat ukurannya, tapi aku tahu ide itu takkan membantuku menahan keinginan untuk tidak muntah.

“Apa sebenarnya yang kaunikmati?” tanyaku. Sungguh tak masuk akal—bertahun-tahun berjuang dan menyangkal diri untuk bisa mencapai suatu titik di mana ia bisa menahannya begitu mudah. Lagi pula aku ingin terus mengajaknya bicara; obrolan membantu mengalihkan pikiran dari perutku yang mual.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.