Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Kau berkencan dengan cowok dari La Push itu, ya? Yang kelas dua itu?” tanya Mike, tak mampu menyembunyikan perasaan tak suka dalam nada suaranya.

Aku mengangkat bahu. “Tidak dalam arti teknis. Tapi aku memang menghabiskan sebagian besar waktuku dengan Jacob. Dia sahabatku.”

Mata Mike menyipit licik. “Jangan tipu dirimu sendiri, Bella. Cowok itu tergila-gila padamu.”

“Memang,” aku mendesah. “Hidup memang rumit.”

“Dan cewek-cewek itu kejam,” geram Mike pelan.

Kurasa mudah saja berasumsi demikian.

Malam itu Sam dan Emily bergabung dengan Charlie dan aku, menikmati hidangan pencuci mulut di rumah Billy. Emily membawa kue yang sanggup meluluhkan hati lelaki mana pun yang bahkan lebih keras daripada Charlie. Bisa kulihat, melalui obrolan yang mengalir lancar mengenai berbagai topik, bahwa kekhawatiran Charlie tentang geng di La Push mulai mencair.

Jake dan aku menyingkir ke luar, agar lebih leluasa mengobrol. Kami pergi ke garasinya dan duduk di dalam Rabbit. Jacob menyandarkan kepala, wajahnya lesu karena lelah.

“Kau butuh tidur, Jake.”

“Nanti juga bisa.”

Jacob mengulurkan tangan dan meraih tanganku. Kulitnya terasa sangat panas di kulitku.

“Apakah itu juga salah satu kekhasanmu sebagai werewolf?” tanyaku. “Tubuh yang panas, maksudku.”

“Yeah. Suhu tubuh kami memang sedikit lebih panas daripada manusia normal. Sekitar 42-43 derajat. Aku tidak pernah kedinginan lagi. Aku bisa tahan dalam kondisi begini”—ia mengibaskan tangan, menunjukkan kondisinya yang bertelanjang dada—”di tengah badai salju dan tidak merasa apa-apa. Kepingan es langsung mencair begitu mengenai tubuhku.”

“Dan kalian semua pulih dengan cepat—itu juga kekhasan kalian sebagai werewolf?”

“Yeah, mau lihat? Keren sekali lho.” Mata Jacob terbuka dan ia nyengir. Tangannya merogoh-rogoh ke dalam laci mobil. Sejurus kemudian tangannya keluar lagi, menggenggam pisau lipat.

“Tidak, aku tidak mau melihat!” teriakku begitu menyadari apa yang ada di benak Jacob. “Singkirkan benda itu!”

Jacob terkekeh, tapi mengembalikan pisau itu ke tempat semula. “Baiklah. Untung juga kami cepat pulih. Kau kan tidak bisa menemui dokter bila suhu tubuhmu setinggi kami, karena manusia normal pasti sudah mati.”

“Ya, benar juga.” Aku memikirkan hal itu sebentar. “Dan bertubuh sangat besar—itu juga salah satu kekhasan kalian? Apakah karena itu kalian semua mengkhawatirkan Quil?”

“Itu dan fakta bahwa kakek Quil mengatakan anak itu bisa mengoreng telur di dahinya.” Wajah Jacob memperlihatkan ekspresi tak berdaya. Takkan lama lagi. Tidak ada batasan umur yang tepat… pokoknya seseorang akan semakin besar dan semakin besar lalu tiba-tiba—” Jacob menghentikan kata-katanya dan sejurus kemudian baru bisa bicara lagi. “Terkadang, kalau kau merasa sangat marah atau sebangsanya, itu bisa memicu perubahan lebih cepat. Padahal aku tidak sedang marah mengenai sesuatu—aku malah sedang bahagia!” Jacob tertawa getir. “Karena kau, sebagian besar. Itulah sebabnya ini tidak terjadi lebih cepat padaku. Malah semakin membesar dalam diriku—membuatku jadi seperti bom waktu. Tahukah kau apa yang memicuku jadi berubah? Aku pulang dari nonton film dan kata Billy aku terlihat aneh. Hanya itu, tapi aku langsung emosi. Kemudian aku—aku meledak. Aku sampai nyaris mengoyak-ngoyak wajahnya—ayahku sendiri!” Jacob bergidik, wajahnya memucat.

“Separah itukah, Jake?” tanyaku waswas, berharap aku bisa membantunya. “Apakah kau merana?”

“Tidak, aku tidak merana,” jawabnya. “Tidak lagi. Tidak karena sekarang kau sudah tahu. Rasanya berat sekali, sebelum ini,” Ia mencondongkan tubuhnya sehingga pipinya menempel di puncak kepalaku.

Sejenak ia terdiam, dan aku bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang ia pikirkan. Mungkin aku tak ingin mengetahuinya.

“Apa bagian yang paling sulit?” bisikku, masih berharap bisa membantu.

“Bagian tersulit adalah merasa… tidak memiliki kendali,” jawabnya lambat-lambat. “Merasa seolaholah aku tak yakin pada diri sendiri – seperti misalnya kau tidak seharusnya berdekatan denganku, bahwa tak seorang pun seharusnya berdekatan denganku. Seolah-olah aku ini monster yang akan mencederai orang lain. Lihat saja Emily.

Sam tak bisa menguasai amarahnya satu detik saja… dan saat itu Emily terlalu dekat dengannya. Dan sekarang, tak ada yang bisa ia lakukan untuk memperbaikinya. Aku bisa mendengar pikiranpikiran Sam – aku tahu bagaimana rasanya…

“Siapa sih yang ingin menjadi mimpi buruk, menjadi monster?

“Kemudian, melihat betapa mudahnya aku melakukan semua itu, bahwa aku lebih hebat daripada mereka semua—apakah itu berarti aku kurang manusia dibandingkan Embry atau Sam? Kadang-kadang aku takut kehilangan diri sendiri.”

“Apakah itu sulit? Menemukan dirimu lagi?”

“Awalnya,” jawab Jacob. “Butuh latihan untuk bisa berubah-ubah. Tapi lebih mudah bagiku.”

“Mengapa?” tanyaku heran.

“Karena Ephraim Black kakek ayahku, dan Quil Ateara kakek ibuku.”

“Quil?” tanyaku bingung.

“Kakek buyut Billy,” Jacob menjelaskan. “Quil yang kaukenal itu sepupu jauhku.”

Tapi mengapa penting sekali siapa kakek buyutmu?”

“Karena Ephraim dan Quil tergabung dalam kawanan terakhir. Levi Uley anggota ketiga. Jadi aku mewarisinya dari kedua pihak. Aku tidak mungkin bisa berkelit. Begitu juga Quil.”

Ekspresi Jacob muram.

“Bagian apa yang terbaik?” tanyaku, berharap bisa membuatnya gembira.

“Bagian terbaik.” ujarnya, tiba tiba tersenyum lagi, “adalah kecepatannya.”

“Lebih cepat daripada naik motor?”

Jacob mengangguk, antusias. “Tak ada tandingannya.”

“Seberapa cepat kau bisa…?”

“Berlari?” Jacob menyelesaikan pertanyaanku. “Lumayan cepat. Aku bisa mengukurnya dengan apa, ya? Kami berhasil menangkap… siapa namanya? Laurent? Aku yakin kau pasti bisa lebih memahami hal itu dibandingkan orang lain.”

Itu benar. Aku tidak bisa membayangkan hal itu—serigala berlari lebih cepat daripada vampir. Kalau keluarga Cullen berlari, mereka semua jadi tak terlihat saking cepatnya.

“Nah, sekarang giliranmu menjelaskan sesuatu yang tidak aku ketahui,” kata Jacob. “Sesuatu tentang vampir. Bagaimana kau bisa tahan, berdekatan dengan mereka? Apakah kau tidak takut?”

“Tidak,” jawabku tajam.

Nadaku membuatnya berpikir sebentar.

“Katakan, mengapa pengisap darahmu membunuh si James itu?” tanyanya tiba-tiba.

“James mencoba membunuhku—dia menganggapnya permainan. Dia kalah. Ingatkah kau musim semi lalu waktu aku masuk rumah sakit di Phoenix?”

Jacob terkesiap kaget. “Dia sudah sedekat itu?”

“Amat, sangat dekat.” Kuelus bekas lukaku. Jacob melihatnya, karena ia memegangi tangan yang kugerakkan.

“Apa itu?” Ia mengganti tangan, mengamati tangan kananku. “Ini bekas lukamu yang aneh itu, yang dingin.” Diamatinya bekas itu lebih dekat, dengan pemahaman baru, dan terkesiap.

“Ya, dugaanmu tepat,” kataku.

“James menggigitku.” Mata Jacob membelalak, dan wajahnya berubah jadi kekuningan di balik permukaannya yang cokelat kemerahan. Tampaknya ia nyaris muntah.

“Tapi kalau dia menggigitmu…? Bukankah seharusnya kau menjadi…?” Ia tersedak.

“Edward menyelamatkanku dua kali,” bisikku. “Dia mengisap racun itu dari dalam tubuhku—kau tahu kan, seperti mengisap bisa ular.” Aku mengejang saat kepedihan itu melesat menjalari pinggir lubang.

Tapi bukan aku satu-satunya yang mengejang. Aku bisa merasakan tubuh Jacob bergetar di sampingku. Bahkan mobil pun sampai berguncang-guncang.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.