Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Kau akan berhati-hati, kan?” tanyaku, menelan ludah dengan suara keras.

Cowok-cowok terpekik karena geli. Semua menertawakanku—kecuali Emily. Ia menatap mataku, dan tiba-tiba aku bisa melihat kesimetrisan di balik wajahnya yang cacat. Wajahnya masih cantik, dan terlihat hidup dengan keprihatinan yang bahkan lebih besar daripada yang kurasakan. Aku terpaksa membuang muka, sebelum cinta di balik keprihatinan itu bisa membuat hatiku nyeri lagi.

“Makanan sudah siap,” serunya kemudian, dan pembicaraan strategis itu langsung berhenti. Cowok-cowok itu bergegas mengitari meja—yang tampak kecil dan terancam hancur berantakan oleh ulah mereka—dan langsung menyikat habis wajan ukuran prasmanan berisi telur yang diletakkan Emily di tengah mereka dengan kecepatan yang mampu memecahkan rekor. Emily makan sambil bersandar di konter seperti aku— menghindari hiruk-pikuk di meja makan—dan mengawasi mereka dengan sorot sayang. Ekspresinya jelas menyata kan bahwa inilah keluarganya.

Intinya, bukan ini yang kuharapkan dari sekawanan werewolf.

Aku menghabiskan hari itu di La Piish, kebanyakan di rumah Billy. Ia meninggalkan pesan di telepon Charlie dan di kantor polisi, dan saat makan malam, Charta datang membawa dua pizza. Untung juga ia membawa dua pizza ukuran besar; satu dihabiskan sendiri oleh Jacob.

Kulihat Charlie mengawasi kami dengan sikap curiga sepanjang malam, terutama Jacob yang banyak berubah. Ia menanyakan rambutnya; Jacob hanya mengangkat bahu dan menjawab bahwa begini lebih nyaman.

Aku tahu begitu Charlie dan aku pulang nanti, Jacob akan langsung berangkat—berlari-lari sebagai serigala, seperti yang dilakukannya tanpa henti sepanjang hari tadi. Ia dan saudarasaudaranya melakukan semacam pengawasan terus-menerus, mencari tanda-tanda kembalinya Victoria. Tapi karena mereka mengejarnya dari sumber air panas semalam—mengejarnya hingga setengah perjalanan menuju Canada, menurut Jacob— ia belum lagi menampakkan batang hidungnya.

Aku sama sekali tak berharap ia bakal menyerah. Aku tidak seberuntung itu.

Jacob mengantarku ke truk sehabis makan malam dan berdiri terus dekat jendela, menunggu Charlie menjalankan mobilnya lebih dulu.

“Jangan takut malam ini,” pesan Jacob, sementara Charlie pura-pura mengalami kesulitan dengan sabuk pengamannya. “Kami ada di luar sana, berjaga-jaga.”

“Aku tidak akan mengkhawatirkan diriku sendiri,” janjiku.

“Konyol. Memburu vampir kan menyenangkan. Ini justru bagian terbaik dari semua kekacauan ini.”

Aku menggeleng. “Kalau aku konyol, berarti kau sinting.”

Jacob terkekeh. “Istirahatlah, Bella, Sayang. Kau kelihatan capek sekali.”

“Akan kucoba.”

Charlie menekan klakson dengan sikap tidak sabar.

“Sampai besok,” seru Jacob. “Datanglah pagipagi sekali.”

“Pasti.”

Charlie mengikutiku pulang ke rumah. Aku tak begitu memerhatikan lampu-lampu di kaca spionku. Aku malah sibuk memikirkan di mana Sam, Jared, Embry, dan Paul berada sekarang, berlari-lari di kegelapan malam. Aku bertanyatanya dalam hati apakah Jacob sudah bergabung dengan mereka.

Sesampai di rumah, aku bergegas menuju tangga, tapi Charlie membuntuti tepat di belakangku.

“Sebenarnya ada apa, Bella?” tuntutnya sebelum aku sempat meloloskan diri. “Kusangka Jacob bergabung dengan geng dan kalian berselisih paham.”

“Kami sudah baikan.”

“Dan gengnya?”

“Entahlah—siapa sih yang bisa mengerti cowokcowok remaja? Mereka itu misterius. Tapi aku sudah berkenalan dengan Sam Uley dan tunangannya, Emily. Kelihatannya mereka ramah kok.” Aku mengangkat bahu. “Mungkin semua hanya salah paham.”

Wajah Charlie berubah. “Aku malah belum dengar dia dan Emily sudah resmi bertunangan. Baguslah kalau begitu. Gadis malang.”

“Dad tahu apa yang terjadi padanya?”

“Diserang beruang, di kawasan utara sana, saat musim salmon bertelur—kecelakaan tragis. Sudah lebih dari setahun berlalu sejak saat itu. Dengardengar, Sam sangat terpukul oleh kejadian itu.”

“Sungguh tragis,” aku menirukan. Lebih dari setahun lalu. Aku berani bertaruh peristiwa itu terjadi ketika baru ada satu werewolf di La Push. Aku bergidik membayangkan perasaan Sam setiap kali memandang wajah Emily.

Malam itu. lama sekali aku berbaring dengan mata nyalang, mencoba memilah-milah kembali berbagai peristiwa yang kualami seharian tadi. Kuulangi lagi saat makan malam bersama Billy, Jacob dan Charlie. hingga ke siang yang panjang di rumah keluarga Black, harap-harap cemas menunggu kabar dari Jacob, ke dapur Emily, hingga ke kengerian yang kurasakan saat para werewolf itu bertarung, juga saat berbicara dengan Jacob di tepi pantai.

Aku memikirkan perkataan Jacob tadi pagi, tentang kemunafikan. Lama sekali aku memikirkan hal itu. Aku tidak suka menganggap diriku munafik, tapi apa gunanya membohongi diri sendiri?

Aku meringkuk rapat-rapat. Tidak, Edward bukan pembunuh. Bahkan di masa lalunya yang kelam, ia tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah, paling tidak.

Tapi bagaimana kalau ia dulu pembunuh? Bagaimana kalau, selama aku mengenalnya, ia tidak berbeda dengan vampir-vampir lain? Bagaimana bila saat itu banyak orang menghilang dari hutan, seperti yang terjadi sekarang? Apakah itu akan membuatku menjauhinya?

Aku menggeleng sedih. Cinta itu tak masuk akal, aku mengingatkan diri sendiri. Semakin kau mencintai seseorang, semakin pikiranmu menjadi tidak rasional.

Aku berguling dan berusaha memikirkan hal lain—lantas memikirkan Jacob serta saudarasaudaranya, berlari-lari di luar sana dalam gelap. Aku tertidur dengan benak dipenuhi bayangan serigala, tak terlihat di malam hari, menjagaku dari bahaya. Waktu bermimpi, aku berdiri lagi di hutan, tapi aku tidak berkeliaran. Aku memegangi tangan Emily yang cacat sementara kami menghadap ke arah bayang-bayang dan dengan cemas menunggu para werewolf kami kembali ke rumah.

 

15. TEKANAN

LIBURAN musim semi lagi di Forks. Saat terbangun Senin pagi, aku berbaring di tempat tidur beberapa detik, mencerna hal itu. Pada liburan musim semi tahun lalu, aku juga diburu vampir. Mudah-mudahan ini tak lantas menjadi semacam tradisi.

Sebentar saja aku sudah terbiasa dengan pola kehidupan di La Push. Kebanyakan aku melewatkan hari Minggu di pantai, sementara Charlie nongkrong dengan Billy di rumah keluarga Black. Aku dikira sedang bersama Jacob, tapi berhubung banyak yang harus dilakukan Jacob, jadilah aku berkeliaran sendirian, merahasiakannya dari Charlie.

Saat mampir untuk mengecek keadaanku, Jacob meminta maaf karena sering meninggalkanku. Menurutnya, jadwalnya tidak selalu segila ini. tapi sampai Victoria bisa dihentikan, serigala-serigala itu harus tetap waspada penuh.

Saat kami berjalan jalan menyusur tepi pantai sekarang, Jacob selalu menggandeng tanganku.

Ini membuatku berpikir tentang komentar Jared tempo hari, tentang Jacob yang melibatkan “ceweknya”. Kurasa memang begitulah yang tampak dari luar. Selama Jake dan aku tahu bagaimana status sebenarnya hubungan kami, tak seharusnya aku membiarkan asumsi-asumsi semacam itu mengganggu pikiranku. Dan mungkin memang tidak akan mengganggu, kalau saja aku tidak tahu Jacob akan sangat senang bila hubungan kami menjadi seperti yang disangka orang. Tapi berhubung gandengan tangannya terasa menyenangkan karena membuat tanganku hangat, aku pun tidak memprotes.

Aku bekerja pada hari Selasa sore—Jacob mengikutiku dengan motornya untuk memastikan aku sampai di sana dengan selamat—dan itu tak luput dari perhatian Mike.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.