Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Emily mengocok telur dalam porsi sangat besar, beberapa lusin sekaligus, di mangkuk kuning besar. Ia menyingsingkan lengan bajunya yang berwarna lembayung muda, dan aku bisa melihat bekas-bekas luka membentang sepanjang lengan hingga ke punggung tangan kanan. Bergaul dengan werewolf memang benar-benar berisiko, tepat seperti yang dikatakan Embry tadi.

Pintu depan terbuka, dan Sam melangkah masuk.

“Emily,” sapanya, nadanya penuh cinta hingga aku merasa malu, sepera pengganggu, saat kulihat Sam berjalan melintasi ruangan hanya dalam satu langkah lebar dan merengkuh wajah Emily dengan telapak tangannya yang lebar. Ia membungkuk dan mengecup bekas luka gelap di pipi kanan Emily sebelum mengecup bibirnya.

“Hei, jangan begitu dong,” Jared protes. “Aku sedang makan.”

“Kalau begitu tutup mulut dan makan sajalah,” usul Sam, mencium bibir Emily yang hancur itu sekali lagi.

“Ugh,” erang Embry.

Ini lebih parah daripada film romantis mana pun; adegan itu begitu nyata mendendangkan kebahagiaan, kehidupan, dan cinta sejati. Kuletakkan muffin-ku dan kulipat kedua lenganku di dadaku yang kosong. Kupandangi bunga-bunga itu, berusaha mengabaikan momen intim mereka, serta luka hatiku sendiri yang berdenyut-denyut nyeri.

Aku bersyukur karena perhatianku kemudian beralih pada Jacob dan Paul yang menerobos masuk melalui pintu, shock berat karena mereka tertawa-tawa. Kulihat Paul meninju bahu Jacob dan Jacob membalas dengan menyikut pinggangnya. Mereka tertawa lagi. Kelihatannya mereka tidak kurang sesuatu apa pun.

Jacob memandang sekeliling ruangan, berhenti begitu melihatku bersandar, canggung dan rikuh, di konter di pojok dapur.

“Hei, Bells,” ia menyapaku riang. Disambarnya dua muffin ketika berjalan melewati meja lalu berdiri di sampingku. “Maaf soal tadi,” gumamnya pelan. “Bagaimana keadaanmu?”

“Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Muffinnya enak” Kuambil lagi muffinya dan mulai menggigitinya lagi. Dadaku langsung terasa lebih enak begitu Jacob ada di sampingku.

“Oh, ya ampun!” raung Jared, menyela kami.

Aku menengadah, dan melihat Jared serta Embry mengamati garis merah muda samar di lengan atas Paul. Embry nyengir, girang.

“Lima belas dolar,” soraknya.

“Itu gara-gara kau?” bisikku pada Jacob, teringat taruhan mereka.

“Aku nyaris tidak menyentuhnya kok. Saat matahari terbenam nanti lukanya pasti sudah sembuh.”

“Saat matahari terbenam?” Kupandangi garis di lengan Paul. Aneh, tapi kelihatannya luka itu seperti sudah berumur beberapa minggu.

“Khas werewolf,” bisik Jacob.

Aku mengangguk, berusaha untuk tidak terlihat bingung.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku pada Jacob dengan suara pelan.

“Tergores pun tidak,” Ekspresinya puas.

“Hei, guys,” seru Sam dengan suara nyaring, menyela obroli dalam ruangan kecil itu. Emily sedang menghadap kompor mengaduk-aduk adonan telur dalam wajan besar, tapi sebelah tangan Sam masih memegang bagian atas punggung Emily gerakan yang tidak disadarinya. “Jacob punya informasi untuk kita.”

Paul tidak tampak terkejut. Jacob pasti sudah menjelaskan tentang ini padanya dan Sam. Atau… mereka mendengar pikiran Jacob.

“Aku tahu apa yang diinginkan si rambut merah itu.” Jacob menujukan perkataannya pada Jared dan Embry. “Itulah yang ingin kusampaikan pada kalian sebelumnya.” Ditendangnya kaki kursi yang diduduki Paul.

“Lalu?” tanya Jared.

Wajah Jacob berubah serius. “Dia memang berusaha membalas dendam atas kematian pasangannya—tapi ternyata pasangannya bukanlah si pengisap darah berambut hitam yang kita bunuh. Keluarga Cullen membunuh pasangannya tahun lalu, jadi sekarang dia mengincar Bella.”

Itu bukan berita baru bagiku, tapi tetap saja aku bergidik ngeri mendengarnya.

Jared, Embry, dan Emily menatapku dengan mulut ternganga kaget.

“Dia kan hanya gadis biasa,” protes Embry.

“Aku tidak berkata itu masuk akal. Tapi itulah sebabnya si pengisap darah berusaha menerobos pertahanan kita. Dia berniat pergi ke Forks.”

Mereka terus menatapku dengan mulut masih terbuka lebar selama beberapa saat. Kutundukkan kepalaku.

“Bagus sekali,” kata Jared akhirnya, senyuman mulai bermain di bibirnya. “Kita punya umpan.”

Dengan kecepatan mengagumkan Jacob menyambar pembuka kaleng dari konter dan melemparkannya ke kepala Jared. Tangan Jared terangkat lebih cepat daripada yang kupikir mungkin terjadi, dan menangkapnya tepat sebelum alat itu menghantam wajahnya.

“Bella bukan umpan.”

“Kau tahu maksudku,” tukas Jared, tidak merasa malu.

“Jadi kita akan mengubah pola kita,” kata Sam, mengabaikan pertengkaran mereka. “Kita akan mencoba meninggalkan beberapa lubang, dan melihat apakah dia akan terperangkap di dalamnya. Kita harus berpencar, dan aku tidak suka itu. Tapi kalau dia memang benar-benar mengincar Bella, dia mungkin tidak akan berusaha memanfaatkan kekuatan kita yang terpecah.”

“Quil harus segera bergabung dengan kita,” gumam Embry. “Dengan begitu kita bisa berpencar dalam jumlah sama besar.”

Semua menunduk. Aku melirik wajah Jacob, dan ekspresinya tampak tak berdaya, seperti kemarin sore, di depan rumahnya. Walaupun sekarang mereka kelihatannya sudah bisa menerima takdir mereka, di sini di dapur yang ceria ini. tak seorang werewolf pun menginginkan nasib yang sama menimpa teman mereka.

“Well, kita tidak boleh mengandalkan hal ini.” kata Sam pelan, kemudian melanjutkan katakatanya dengan suara biasa. “Paul, Jared, dan Embry akan bertugas di perimeter luar sementara Jacob dan aku bertugas di bagian dalam. Kita akan bersatu lagi setelah berhasil menjebaknya.”

Kulihat Emily tidak terlalu suka mendengar Sam akan berada di kelompok yang lebih kecil. Kekhawatirannya membuatku menengadah dan menatap Jacob, ikut khawatir juga.

Sam menatap mataku. “Menurut Jacob, sebaiknya kau lebih banyak menghabiskan waktu di sini. di La Push. Dia takkan bisa menemukanmu semudah itu. untuk berjaga-jaga.”

“Bagaimana dengan Charlie?” tuntutku.

“March Madness masih berlangsung,” kata Jacob. “Kurasa Billy dan Harry bisa mengajak Charlie ke sini bila tidak sedang bekerja.”

“Tunggu.” sergah Sam. mengangkat sebelah tangan. Ia melirik Emily sebentar, lalu melirikku. “Menurut Jacob itulah yang terbaik, tapi kau harus memutuskannya sendiri. Sebaiknya kau pertimbangkan benar-benar risiko kedua pilihan itu dengan sangat serius. Kaulihat sendiri tadi pagi betapa mudahnya keadaan berubah menjadi berbahaya di sini, betapa cepatnya situasi menjadi tak terkendali. Jika kau memutuskan untuk tinggal bersama kami, aku tak bisa menjamin keselamatanmu.”

“Aku tidak akan melukainya,” gumam Jacob, menunduk.

“Sam berlagak seolah-olah tidak mendengar perkataannya. “Kalau ada tempat lain di mana kau merasa aman…”

Aku menggigit bibir. Ke mana aku bisa pergi yang tidak akan membahayakan keselamatan orang lain? Aku bergidik ngeri membayangkan diriku menyeret Renee ke dalam persoalan ini – menariknya ke tengah lingkaran sasaran tembak yang kukenakan… “Aku tidak ingin membawa Victoria ke tempat lain,” bisikku.

Sam mengangguk. “Itu benar. Lebih baik membawanya ke sini, tempat kita bisa menghabisinya.”

Aku tersentak. Aku tidak ingin Jacob ataupun yang lain berusaha menghabisi Victoria. Kulirik wajah Jacob; ekspresinya tenang, nyaris sama seperti yang kuingat sebelum masalah serigala ini mengemuka, dan tampak benar-benar tidak peduli bila harus memburu vampir.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.