Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Mereka bersalaman, nyengir.

Aku berusaha menghibur diri melihat sikap mereka yang seolah tak peduli, tapi aku tak sanggup mengenyahkan bayangan brutal serigalaserigala yang bertarung itu dari kepala ku. Perutku mulas, perih dan kosong, kepalaku berdenyutdenyut karena khawatir.

“Ayo kita ke rumah Emily. Dia pasti sudah menyiapkan makanan.” Embry menunduk memandangiku. “Keberatan tidak mengantar kami ke sana?”

“Tidak masalah,” jawabku dengan suara tercekik.

Jared mengangkat sebelah alis. “Mungkin sebaiknya kau saja yang nyetir, Embry. Dia masih kelihatan seperti mau muntah.”

“Ide bagus. Mana kuncinya?” Embry bertanya padaku.

“Masih di lubangnya.”

Embry membuka pintu penumpang. “Naiklah,” katanya dengan nada riang, mengangkatku dengan sebelah tangan dan mendudukkanku di jok mobil. Diamatinya ruang kosong yang tersisa di kabin depan. “Kau terpaksa duduk di bak belakang” katanya pada Jared.

“Tidak apa-apa. Soalnya aku gampang jijik. Aku tidak mau berada di dalam sana kalau dia muntah nanti.”

“Aku berani bertaruh dia lebih kuat daripada itu. Dia kan bergaul dengan vampir.”

“Lima dolar?” tanya Jared.

“Beres. Aku jadi merasa tidak enak, mengambil uangmu seperti ini.”

Embry naik dan menyalakan mesin sementara Jared melompat cekatan ke bak belakang. Begitu pintu ditutup, Embry bergumam padaku, “Jangan muntah, oke? Aku cuma punya sepuluh dolar, dan kalau Paul menggigit Jacob…”

“Oke.” bisikku

Embry menjalankan truk. mengantar kami kembali ke perkampungan.

“Hei. bagaimana cara Jake mengakali aturan itu?”

“‘Mengakali… apa?”

“Eh, perintah itu. Kau tahu, untuk tidak membocorkan rahasia. Bagaimana cara dia memberi tahu hal ini padamu?”

“Oh, itu,” kataku, ingat bagaimana Jacob berusaha keras menahan keinginan untuk membeberkan hal sebenarnya padaku semalam. “Dia tidak mengatakan apa-apa. Aku bisa menebak dengan benar.”

Embry mengerucutkan bibir, tampak terkejut. “Hmm. Kurasa boleh juga kalau begitu.”

“Kita mau ke mana?” tanyaku.

“Ke rumah Emily. Dia pacar Sam… bukan, sekarang sudah tunangannya, kurasa. Mereka akan menemui kami di sana setelah Sam berhasil melerai mereka. Dan setelah Paul dan Jake berhasil mendapat baju lagi, kalau masih ada baju Paul yang tersisa.”

“Apakah Emily tahu tentang…?”

“Yeah. Dan hei, jangan memandangi dia terus, ya? Sam bakal marah.”

Aku mengerutkan kening padanya. “Kenapa aku ingin memandanginya terus?”

Embry tampak tidak enak hati. “Seperti yang kaulihat barusan tadi, ada risikonya bergaul dengan werewolf Ia buru-buru mengubah topik. “Hei, kau tidak marah kan, soal si pengisap darah berambut hitam yang di padang rumput itu? Kelihatannya dia bukan temanmu, tapi…” Embry mengangkat bahu.

“Tidak, dia bukan temanku.”

“Baguslah. Kami tidak mau memulai sesuatu, melanggar kesepakatan, kau tahu.”

“Oh ya, Jake pernah bercerita tentang kesepakatan itu, dulu sekali. Kenapa membunuh Laurent berarti melanggar kesepakatan?”

“Laurent,” Embry mengulangi, mendengus, seolah-olah geli vampir itu memiliki nama. “Well, teknisnya sih, kami membuat kesepakatan itu dengan keluarga Cullen. Kami tidak boleh menyerang salah seorang di antara mereka, keluarga Cullen, setidaknya, di luar tanah kami— kecuali mereka lebih dulu melanggar kesepakatan. Kami tidak tahu si pengisap darah berambut hitam itu kerabat mereka atau bukan. Kelihatannya kau mengenalnya.”

“Mereka melanggar kesepakatan kalau melakukan apa?”

“Kalau mereka menggigit manusia. Jake tidak mau menunggu sampai sejauh itu.”

“Oh. Eh, trims. Aku senang kalian tidak menunggu sampai dia menggigitku.”

“Sama-sama.” Embry terdengar seperti bersungguh-sungguh.

Embry mengemudikan truk hingga melewati rumah yang terletak paling timur di sisi jalan raya sebelum berbelok memasuki sepotong jalan tanah yang sempit, “Trukmu lamban,” komentarnya.

“Maaf.”

Di ujung jalan tampak rumah mungil yang dulu berwarna abu-abu. Hanya ada satu jendela sempit di samping pintu biru yang sudah kusam dimakan cuaca, tapi kotak jendela bawahnya penuh bunga marigold jingga dan kuning cerah, memberi kesan ceria pada rumah itu.

Embry membuka pintu mobil dan menghirup udara dalam-dalam. “Mmmm, Emily sedang memasak.”

Jared melompat turun dan bak belakang dan langsung menuju pintu, tapi Embry menghentikannya dengan meletakkan tangan di dadanya. Ia menatapku dengan penuh arti dan berdeham-deham.

“Aku tidak bawa dompet,” dalih Jared.

“Tidak apa-apa. Aku tidak akan lupa.”

Mereka menaiki satu undakan dan masuk ke rumah tanpa mengeruk pintu. Aku mengikuti dengan malu-malu.

Ruang depan, seperti halnya rumah Billy, sebagian besar berupa dapur. Seorang wanita muda, berkulit sehalus satin berwarna tembaga dan rambut lurus panjang berwarna hitam seperti bulu gagak, berdiri di konter dekat bak cuci piring, mengeluarkan kue-kue muffin dari loyang dan menaruhnya di piring kertas. Sesaat aku sempat mengira alasan Embry mengatakan padaku untuk tidak memandanginya adalah karena gadis itu sangat cantik.

Kemudian gadis itu bertanya, “Kalian lapar?” dengan suara merdu mengalun, dan memalingkan wajah sepenuhnya menghadap kami, senyum tersungging di separuh bagian wajahnya.

Sisi kanan wajahnya dipenuhi bekas luka yang memanjang dari batas rambut hingga ke dagu, tiga garis merah panjang dan tebal, berwarna terang meski luka itu sudah lama sembuh. Satu garis menarik sisi bawah sudut matanya yang hitam dan berbentuk kenan, garis yang lain memilin sisi kanan mulutnya menjadi seringaian permanen.

Bersyukur karena sudah diperingatkan Embry, aku buru-buru mengalihkan pandangan ke kuekue muffin di tangannya. Baunya sangat lezat – seperti blueberry segar.

“Oh,” seru Emily, terkejut. “Siapa ini?”

Aku menengadah, berusaha memfokuskan pandangan pada sisi kiri wajahnya.

“Bella Swan,” Jared menjawab pertanyaannya sambil mengangkat bahu. Rupanya, aku pernah menjadi topik pembicaraan sebelum ini. “Siapa lagi?”

“Bukan Jacob namanya kalau tidak bisa mengakali perintah,” gumam Emily. Ia memandangiku, dan tak satu pun dari dua bagian wajah yang dulu cantik itu terlihat ramah. “Jadi, kau ini si cewek vampir.”

Aku mengejang. “Ya. Kalau kau cewek serigala?”

Emily tertawa, begitu pula Embry dan Jared. Sisi kiri wajahnya berubah hangat. “Kurasa begitu.” Ia berpaling kepada Jared. “Mana Sam?”

“Bella, eh, membuat Paul kaget tadi pagi.”

Emily memutar bola matanya yang tidak cacat. “Ah, Paul,” desahnya. “Kira-kira lama atau tidak? Aku baru mau mulai memasak telur.”

“Jangan khawatir,” Embry menenangkan. “Kalau mereka terlambat, kami tidak akan membiarkan makanannya mubazir.”

Emily terkekeh, lalu membuka lemari es. “Tidak diragukan lagi,” ujarnya sependapat. “Bella, kau lapar? Silakan ambil muffin-nya.”

“Trims.” Aku mengambil satu dari piring dan mulai menggigiti pinggirnya. Rasanya lezat, dan terasa nyaman di perutku yang mual. Embry meraih kue ketiga dan menjejalkannya ke mulut.

“Sisakan untuk saudara-saudaramu,” tegur Emily memukul kepalanya dengan sendok kayu. Istilah itu membuatku terajut, tapi yang lain-lain sepertinya tidak menganggapnya aneh.

“Dasar rakus,” komentar Jared.

Aku bersandar di konter dan menonton mereka bertiga salin, mengejek seperti keluarga. Dapur Emily menyenangkan, cemerlang dengan rak-rak dapur berwarna putih dan lantai papan dan kayu berwarna pucat. Di atas meja bulat kecil, sebuah teko porselen biru-putih yang sudah retak penuh berisi bunga-bunga liar. Embry dan Jared terlihat seperti di rumah sendiri di sini.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.