Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Awalnya mereka datang dengan sikap ingin tahu dan hati-hati. Tapi begitu melihatku di sana, separo tersembunyi di samping Jacob, amarah mereka langsung meledak pada detik yang sama.

Sam masih yang paling besar, walaupun Jacob sebentar lagi bakal menyainginya. Sam sudah tidak bisa lagi disebut remaja. Wajahnya sudah lebih tua

– bukan berarti sudah keriput atau ada tandatanda penuaan, tapi dalam hal kematangan, serta ekspresi sabarnya.

“Apa yang kaulakukan, Jacob?” tuntutnya.

Salah seorang di antara mereka, yang tidak kukenal—Jared atau Paul—merangsek melewati Sam dan langsung menyemprot Jacob sebelum ia bisa membela diri.

“Mengapa kau tidak bisa mengikuti aturan, Jacob?” teriaknya, mengangkat kedua tangannya ke udara. “Apa sih yang kaupikirkan? Apakah dia lebih penting daripada segalanya—daripada seluruh suku? Daripada orang-orang yang bakal terbunuh?”

“Dia bisa membantu,” jawab Jacob pelan.

“Membantu!” teriak cowok yang marah itu. Kedua lengannya mulai gemetar. “Oh, mana mungkin! Aku yakin si pencinta lintah itu setengah mati ingin membantu kita!”

“Jangan bicara tentang dia seperti itu!” Jacob balas berteriak, tersinggung mendengar sindiran itu.

Sekujur tubuh cowok itu bergetar hebat, mulai dari bahu hingga ke punggung.

“Paul! Tenang!” Sam memerintahkan.

Paul menggerakkan kepala ke belakang dan ke depan, bukan membantah, tapi seolah-olah seperti berusaha berkonsentrasi.

“Ya ampun, Paul,” gerutu salah seorang di antara mereka— mungkin Jared. “Kendalikan dirimu.”

Paul memuntir kepalanya ke arah Jared, bibirnya menekuk ke belakang dengan sikap kesal. Lalu ia beralih menatapku garang. Jacob maju selangkah untuk menamengiku.

Tindakannya itu justru membuat amarah Paul semakin menjadi-jadi.

“Betul sekali, lindungi dia!” raung Paul marah. Tubuhnya kembali bergetar, berguncang hebat, dan kepala sampai kaki Ia mengedikkan kepalanya, geraman terlontar dari sela-sela giginya.

“Paul!” Sam dan Jacob berteriak berbarengan.

Paul seperti terjungkal ke depan, tubuhnya bergetar dahsyat. Sebelum tubuhnya mencium tanah, terdengar suara robekan keras, dan tubuh cowok itu meledak.

Bulu-bulu perak gelap menyembur keluar dari tubuhnya, mengubahnya menjadi makhluk yang lima kali lebih besar daripada ukuran sebenarnya—makhluk itu sangat besar dan berdiri dengan sikap membungkuk, siap menerkam.

Moncong serigala itu tertarik ke belakang, menampakkan gigi-giginya, dan sebuah geraman lagi menggemuruh dari dadanya yang besar. Bola matanya yang gelap dan berapi-api terpaku padaku.

Detik itu juga Jacob berlari menyeberang jalan, langsung menghampiri monster itu. “Jacob!” jeritku.

Setengah jalan, sekujur tubuh Jacob bergetar hebat. Ia melompat maju, menerjang dalam posisi kepala lebih dulu ke udara yang kosong.

Diiringi suara robekan nyaring, Jacob juga meledak. Ia meledak keluar dari kulitnya—cabikancabikan kain hitam dan Putih terpental ke udara. Kejadiannya begitu cepat hingga seandainya aku berkedip, seluruh proses transformasi itu pasti akan luput dari penglihatanku. Sedetik sebelumnya Jacob melompat tinggi ke udara, derik berikutnya ia sudah berubah menjadi serigala cokelat kemerahan—sangat besar hingga rasanya tak masuk akal bagiku bagaimana makhluk sebesar itu bisa berada di dalam diri Jacob— menerkam monster berbulu perak yang merunduk.

Jacob membungkam serangan si werewolf dengan langsung menerkam kepalanya. Geramangeraman marah bergema seperti halilintar memantul di pepohonan.

Cabikan-cabikan kain hitam dan putih—sisasisa pakaian Jacob jatuh ke tanah tempat ia menghilang tadi.

“Jacob!” jeritku lagi, terhuyung-huyung maju.

“Tetaplah di tempatmu, Bella,” Sam memerintahkan. Sulit mendengar suaranya di antara raungan dua serigala yang sedang bertarung. Keduanya saling menggigit dan merobek, gigi mereka yang tajam saling mengarah ke tenggorokkan masing-masing. Serigala Jacob tampaknya berada di atas angin—tubuhnya jelas lebih besar daripada serigala yang lain, dan kelihatannya juga lebih kuat. Ia memukulkan bahunya berkali-kali ke tubuh si serigala abu-abu, memukul mundur ke arah hutan.

“Bawa Bella ke rumah Emily,” teriak Sam pada yang lain, yang menonton pertarungan itu dengan asyik. Jacob berhasil mendorong serigala kelabu itu keluar dari jalan, dan mereka lenyap ke balik hutan, walaupun geraman-geraman mereka masih terdengar nyaring. Sam lari mengejar mereka, menendang sepatunya hingga terlepas sambil berlari. Saat melesat memasuki pepohonan, sekujur tubuhnya bergetar dari kepala sampai kaki.

Geraman dan suara moncong dikatupkan dengan keras berangsur-angsur lenyap. Tiba-tiba suara itu hilang sama sekali dan jalanan langsung lengang.

Salah satu cowok itu tertawa.

Aku menoleh dan menatapnya–mataku yang membelalak terasa membeku, seakan-akan aku tak bisa mengerjapkan mata.

Cowok itu sepertinya menertawakan ekspresiku. “Well, jarang-jarang kan, kau melihat yang seperti itu,” tawanya terkekeh-kekeh. Samar-samar aku mengenali wajahnya—lebih kurus daripada yang lain… Embry Call.

“Kalau aku sih sudah sering,” sergah cowok yang lain, Jared, menggerutu. “Setiap hari, malah.”

“Ah, Paul kan tidak setiap hari lepas kendali seperti tadi,” sergah Embry tak setuju, sambil terus nyengir. “Mungkin dua dalam tiga kali kesempatan.”

Jared berhenti untuk memungut sesuatu yang berwarna putih dari tanah. Ia mengacungkannya pada Embry; benda ini menggelantung lemas di tangannya.

“Hancur sama sekali,” kata Jared. “Padahal kata Billy, ini sepatu terakhir yang bisa dibelinya— kurasa mulai sekarang Jacob harus bertelanjang kaki.”

“Yang satu ini selamat,” kata Embry, mengacungkan kets putih. “Jadi Jake bisa melompat-lompat,” imbuhnya sambil tertawa.

Jared mulai mengumpulkan cabikan-cabikan kain dari tanah. “Bisa tolong ambilkan sepatu Sam? Yang lain-lain akan langsung dibuang ke tong sampah.”

Embry menyambar sepatu-sepatu itu, lalu berlari-lari kecil ke tempat Sam menghilang tadi. Sejurus kemudian ia muncul lagi dengan jins dipotong pendek tersampir di lengan. Jared mengumpulkan cabikan-cabikan pakaian Jacob dan Paul. Mendadak ia seperti teringat padaku.

Ia memandangiku dengan saksama, menilai.

“Hei, kau tidak mau pingsan atau muntah atau sebangsanya, kan?” desaknya.

“Rasanya tidak,” jawabku terkesiap.

“Kau kelihatan agak pucat. Mungkin sebaiknya kau duduk.”

“Oke,” gumamku. Untuk kedua kalinya pagi itu, aku menyurukkan kepalaku di antara lutut.

“Jake seharusnya memperingatkan kami,” keluh Embry.

“Seharusnya dia tidak mengajak ceweknya. Memangnya apa yang dia harapkan bakal terjadi?”

“Well, ketahuan deh kalau kita serigala,” desah Embry. “Hebat, Jake.”

Aku menengadahkan wajah dan memelototi kedua cowok yang sepertinya menganggap semua ini masalah kecil. “Kalian sama sekali tidak khawatir memikirkan keselamatan mereka?” tuntutku.

Embry mengerjapkan mata satu kali, terkejut. “Khawatir? Mengapa?”

“Bisa-bisa mereka saling melukai!”

Embry dan Jared tertawa terbahak-bahak. “Aku justru berharap Paul berhasil menggigitnya,” sergah Jared. “Biar tahu rasa dia.”

Aku langsung pucat.

“Hah, yang benar saja!” Embry tidak sependapat. “Kau lihat tidak Jake tadi? Begitu dilihatnya Paul lepas kendali, dia hanya butuh waktu, berapa, setengah detik untuk menyerang? Anak itu benarbenar berbakat.”

“Paul sudah lebih lama bertarung. Taruhan sepuluh dolar, dia pasti berhasil meninggalkan bekas luka di tubuh Jake.”

“Taruhan diterima. Jake sangat alami. Paul tidak bakal punya kesempatan.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.