Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Begini, saat kami menjadi serigala, kami bisa… saling mendengar.”

Alisku bertaut bingung.

“Bukan mendengar suara-suara,” sambung Jacob, “tapi kami bisa mendengar… pikiran— setidaknya pikiran masing-masing—tak peduli betapa pun jauhnya kami. Itu sangat membantu bila kami berburu, namun di luar itu, justru terasa mengganggu. Memalukan – membuat kita jadi tidak punya rahasia. Aneh, ya?”

“Jadi itu yang kaumaksud semalam, waktu kauhilang kau akan memberitaku mereka bahwa kau datang menemuiku, walaupun sebenarnya tak ingin?”

“Cerdas juga kau.”

“Kau juga pandai sekali menghadapi hal-hal aneh. Kusangka itu akan membuatmu merasa terganggu.”

“Itu tidak… kau bukan orang pertama yang kukenal yang bisa melakukan hal seperti itu. Jadi rasanya tidak aneh bagiku.”

“Benarkah?… Tunggu—maksudmu para pengisap darah itu?”

“Kuharap kau tidak menyebut mereka begitu.” Jacob tertawa.

“Terserah. Keluarga Cullen, kalau begitu?”

“Hanya… hanya Edward.” Diam-diam kulingkarkan sebelah tanganku ke tubuh.

Jacob tampak terkejut—terkejut yang tidak senang. “Kusangka itu hanya dongeng. Aku memang pernah mendengar legenda tentang vampir yang bisa melakukan… hal-hal istimewa, tapi kusangka itu hanya mitos.”

“Apakah masih ada yang hanya mitos?” tanyaku kecut.

Jacob merengut. “Kurasa tidak. Oke, kita akan bertemu Sam dan yang lain-lain di tempat kita naik motor dulu.”

Aku menyalakan mesin dan menjalankan trukku kembali di jalan.

“Jadi kau berubah jadi serigala tadi, agar bisa berbicara pada Sam?” tanyaku, penasaran.

Jacob mengangguk, tampak malu-malu. “Hanya sebentar – aku mencoba untuk tidak memikirkanmu agar mereka tidak tahu apa yang terjadi. Aku takut Sam akan menyuruhku untuk tidak mengajakmu.”

“Itu tidak akan menghentikanku.” Aku tidak dapat mengenyahkan persepsiku bahwa Sam jahat. Aku selalu mengatupkan gigiku rapat-rapat setiap kali mendengar namanya.

“Well, tapi itu akan menghentikan aku” kata Jacob, berubah muram. “Ingat bagaimana aku tak bisa menyelesaikan kalimatku semalam? Bagaimana aku tak bisa menyampaikan ceritaku secara utuh?”

“Yeah. Kau kelihatan seperti tercekik sesuatu.”

Jacob berdecak garang. “Nyaris. Sam bilang, aku tidak boleh memberi tahumu. Dia itu… ketua kawanan, begitulah. Dia itu Alpha-nya. Bila dia menyuruh kami melakukan sesuatu, atau tidak melakukan sesuatu—bila dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya, Well, kita tidak bisa mengabaikannya begitu saja.”

“Aneh,” gerutuku.

“Sangat,” Jacob sependapat. “Itu semacam kekhasan werewolf.”

“Hah” adalah respons terbaik yang terpikirkan olehku.

“Yeah, hal semacam itu banyak sekali—hal-hal yang khas werewolf. Aku tak bisa membayangkan keadaan Sam, berusaha menghadapinya sendirian. Bersama-sama sebagai kawanan saja sudah cukup buruk, apalagi sendirian.

“Sam pernah sendirian?”

“Yeah,” Jacob merendahkan suaranya. “Waktu aku… berubah, itu peristiwa paling… buruk peristiwa paling mengerikan yang pernah kualami—lebih buruk daripada yang bisa ku bayangkan. Tapi aku tidak sendirian – ada suarasuara di sana. dalam kepalaku, menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang harus kulakukan. Dengan begitu aku bisa tetap mempertahankan kewarasanku. kurasa. Tapi Sam…” Jacob menggeleng-gelengkan kepala. “Sam tidak dapat bantuan dan siapa pun.”

Buruh waktu cukup lama untuk bisa menerima semua ini. Saat Jacob menjelaskan seperti itu. sulit untuk tidak merasa kasihan pada Sam. Aku berulang kali harus mengingatkan diri sendiri bahwa tak ada alasan untuk membencinya lagi.

“Apakah mereka akan marah melihatku datang bersamamu?” tanyaku.

Jacob mengernyitkan muka. “Mungkin. Mungkin sebaiknya aku—“

Tidak, tidak apa-apa.” Jacob menenangkanku. “Kau tahu banyak hal yang bisa membantu kami. Kau kan bukannya tidak tahu apa-apa. Kau seperti… entahlah, mata-mata atau apa. Kau pernah berada di belakang garis lawan.”

Aku mengerutkan kening. Itukah yang diinginkan Jacob dariku? Informasi dari “orang dalam” yang bisa membantu mereka menghancurkan musuh? Tapi aku bukan matamata. Selama ini aku tidak mengumpulkan informasi apa-apa. Belum-belum, perkataannya tadi membuatku merasa seperti pengkhianat.

Tapi aku ingin ia menghentikan Victoria, kan?

Tidak.

Aku memang ingin Victoria dihentikan, kalau bisa sebelum ia menyiksaku sampai mati atau bertemu Charlie atau membunuh orang asing lagi. Aku hanya tidak ingin Jacob menjadi orang yang menghentikannya, atau yang mencoba menghentikannya. Aku tidak ingin Jacob dekatdekat dengannya.

“Seperti soal pengisap darah yang bisa membaca pikiran,” sambung Jacob, tak menyadari kebisuanku. “Itu salah satu hal yang perlu kami ketahui. Sungguh menyebalkan bahwa ternyata cerita-cerita itu benar. Semuanya jadi lebih rumit Hei. menurutmu si Victoria ini juga punya kemampuan khusus?”

“Kurasa tidak,” jawabku ragu, kemudian mendesah. “Kalau ada, dia pasti sudah menceritakannya.”

“Dia? Oh, maksudmu Edward—uupps, maaf. Aku lupa. Kau tidak suka menyebut namanya. Atau mendengarnya.”

Kuremas perutku, berusaha mengabaikan perasaan berdenyut-denyut di sekitar dadaku. “Tidak juga, tidak.”

“Maaf.”

“Bagaimana kau bisa begitu mengenalku, Jacob? Terkadang seolah-olah kau bisa membaca pikiranku.”

“Ah, tidak. Aku hanya memerhatikan.”

Kami sampai di jalan tanah kecil tempat Jacob pertama kali mengajarku naik motor.

“Ini tidak apa-apa?” tanyaku.

“Tentu, tentu.”

Aku menepi dan mematikan mesin.

“Kau masih merasa tidak bahagia, ya?” gumamnya.

Aku mengangguk, mataku menerawang ke hutan yang muram.

“Apa menurutmu… mungkin… sekarang ini kau jadi lebih baik tanpanya?”

Aku menghela napas lambat-lambat, kemudian mengembuskannya. “Tidak.”

“Karena dia bukan yang terbaik—”

“Please, Jacob,” selaku, memohon sambil berbisik. “Bisakah kita tidak membicarakan masalah ini? Aku tidak tahan!”

“Oke.” Jacob menarik napas dalam-dalam. “Maaf kalau aku mengungkit soal itu.”

“Jangan merasa tidak enak. Kalau saja situasinya berbeda, justru menyenangkan akhirnya bisa membicarakan hal ini dengan orang lain.

Jacob mengangguk. “Yeah, menyimpan rahasia dirimu selama dua minggu saja rasanya sulit. Pastilah berat sekali, tidak bisa membicarakannya dengan siapa pun.”

“Berat sekali.” aku membenarkan.

Jacob terkesiap. “Mereka datang. Ayo turun.”

“Kau yakin? tanyaku sementara Jacob membuka pintu truk. “Mungkin sebaiknya aku tidak berada di sini.”

“Mereka harus bisa menerimanya,” kata Jacob, kemudian nyengir. “Siapa sih yang takut pada serigala besar yang jahat?”

“Ha ha,” sergahku. Tapi aku turun juga dari truk, bergegas mengitari bagian depan untuk berdiri di samping Jacob. Aku masih ingat jelas monster-monster raksasa yang kulihat di padang rumput waktu itu. Kedua tanganku gemetar, seperti tangan Jacob tadi, tapi lebih karena takut ketimbang marah.

Jacob meraih tanganku dan meremasnya. “Itu mereka.”

 

14. KELUARGA

AKU mengkeret di samping Jacob, mataku menyapu hutan, mencari werewolf lain. Ketika mereka muncul, melangkah keluar dari sela-sela pepohonan, penampilan mereka tak seperti yang kuharapkan. Sejak tadi, yang ada dalam pikiranku hanyalah bayangan para serigala. Tapi yang kulihat ini adalah empat cowok setengah telanjang bertubuh sangat besar.

Sekali lagi, mereka mengingatkanku pada kakak-beradik, kembar empat. Dari cara mereka berjalan yang nyaris sinkron satu sama lain, berdiri di seberang jalan di depan kami, bagaimana mereka semua memiliki otot-otot yang panjang dan liat di bawah kulit yang sama-sama cokelat kemerahan, rambut hitam mereka sama-sama dipangkas pendek, serta bagaimana ekspresi mereka mendadak berubah pada saat yang tepat sama.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.