Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Kami akan membereskan masalah ini.

Jadi ini belum berakhir.

“Laurent sudah tewas,” aku terkesiap, sekujur tubuhku dingin seperti es.

“Bella?” tanya Jacob waswas, menyentuh pipiku yang kelabu

“Kalau Laurent sudah tewas… seminggu yang lalu… berarti ada orang lain yang membunuh orang-orang itu sekarang.”

Jacob mengangguk; rahangnya terkatup rapat, dan ia berbicara dari sela-selanya. “Mereka berdua. Kami menyangka pasangannya pasti ingin melawan kami—dalam kisah-kisah kami, mereka biasanya sangat marah kalau kau membunuh pasangan mereka—tapi dia terus-menerus lari menjauh, tapi lalu kembali lagi. Kalau saja kami tahu apa yang diincarnya, akan lebih mudah melumpuhkannya. Tapi sikapnya tak masuk akal. Dia terus saja menari-nari di pinggir, seperti menguji pertahanan kami, mencari jalan masuk— tapi masuk ke mana? Dia ingin pergi ke mana? Menurut Sam, dia berusaha memisahkan kami, supaya kesempatannya lebih besar…”

Suara Jacob berangsur-angsur menghilang sampai kedengarannya seperti berasal dari ujung terowongan yang panjang; aku tak lagi bisa menangkap kata demi kata. Dahiku berkeringat dan perutku seperti diaduk-aduk, seperti waktu aku flu perut dulu. Persis seperti waktu aku flu perut.

Aku cepat-cepat berpaling darinya, dan membungkuk di atas driftwood. Tubuhku terguncang, perutku yang kosong sangat mual, walaupun tak ada apa-apa di dalamnya yang bisa dimuntahkan.

Victoria ada di sini. Mencariku. Membunuhi orang-orang asing di hutan. Hutan tempat Charlie melakukan pencarian…

Kepalaku berputar cepat.

Jacob menyambar bahuku—mencegahku ambruk dan mencium bebatuan. Aku bisa merasakan embusan napasnya yang panas di pipiku. “Bella! Ada apa?”

“Victoria,” aku terkesiap segera setelah bisa menarik napas di sela-sela serangan mual yang melandaku.

Di kepalaku, Edward menggeram marah mendengar nama itu.

Kubiarkan Jacob menarikku dari posisi dudukku yang terkulai, ia meletakkanku dengan canggung di pangkuannya, membaringkan kepalaku yang lunglai ke bahunya. Ia berusaha keras menyeimbangkanku, menjagaku agar tidak terkulai lemas dan jatuh dari pangkuannya. Disingkirkannya rambutku yang berkeringat dan wajahku.

“Siapa?” tanya Jacob. “Kau bisa mendengarku, Bella? Bella?”

“Dia bukan pasangan Laurent,” erangku di bahu Jacob. “Mereka hanya teman lama…”

“Kau mau minum? Perlu dokter? Katakan padaku aku harus bagaimana,” tuntut Jacob, bertubi-tubi.

“Aku bukan sakit—aku takut,” aku menjelaskan sambil berbisik. Istilah takut kedengarannya tidak mencakup semua yang kurasakan.

Jacob menepuk-nepuk punggungku. “Takut pada si Victoria ini?”

Aku mengangguk, bergidik.

“Victoria itu vampir wanita berambut merah?”

Aku gemetar lagi, dan merintih, “Ya.”

“Bagaimana kau bisa tahu dia bukan pasangannya?”

“Laurent memberi tahuku bahwa James-lah pasangannya,” aku menjelaskan, otomatis melemaskan tanganku yang dihiasi bekas luka.

Jacob memalingkan wajahku, merengkuhnya kuat-kuat dengan tangannya yang besar. Ditatapnya mataku lekat-lekat. “Ada hal lain yang dia ceritakan, Bella? Ini penting. Kau tahu vampir wanita itu menginginkan apa?”

“Tentu saja,” bisikku. “Victoria menginginkan aku.”

Mata Jacob membelalak lebar, lalu menyipit. “Mengapa?” tuntutnya.

“Edward membunuh James,” bisikku. Jacob memegangiku sangat erat hingga aku tak perlu mencengkeram lubang itu—pelukannya membuatku tetap utuh. “Victoria memang… marah. Tapi kata Laurent, Victoria menganggap lebih adil membunuhku daripada Edward. Pasangan sebagai ganti pasangan. Dia tidak tahu— masih belum tahu, kurasa—bahwa… bahwa…” Aku menelan ludah dengan susah payah. “Bahwa hubungan kami sudah tidak seperti itu lagi. Tidak bagi Edward, setidaknya.”

Perhatian Jacob sempat beralih sebentar mendengar perkataanku itu, ekspresinya campur aduk. “Jadi itu yang terjadi? Mengapa keluarga Cullen pindah?”

“Bagaimanapun, aku hanya manusia biasa. Tidak ada yang istimewa,” aku menjelaskan, mengangkat bahu lemah.

Sesuatu yang kedengarannya seperti geraman— bukan geraman sesungguhnya, hanya suara manusia yang mencoba meniru—bergemuruh di dada Jacob di bawah telingaku. “Kalau si pengisap darah idiot itu benar-benar cukup tolol untuk—”

“Please? erangku. “Please. Jangan.”

Jacob ragu-ragu, lalu mengangguk satu kali.

“Ini penting,” katanya lagi, wajahnya kembali serius sekarang. “Inilah tepatnya yang perlu kami ketahui. Kita harus segera memberi tahu yang lain.”

Jacob berdiri, menarikku hingga ikut berdiri. Kedua tangannya tetap memegangi pinggangku sampai ia yakin aku tidak akan jatuh.

“Aku tidak apa-apa,” dustaku.

Ia melepaskan sebelah tangannya dari pinggangku dan ganti memegang tanganku. “Ayo kita pergi.”

Jacob menarikku kembali ke truk.

“Kita mau ke mana?” tanyaku.

“Aku belum yakin,” Jacob mengakui. “Aku akan minta diada kan pertemuan. Hei, tunggu dulu di sini sebentar, oke?” Jacob menyandarkanku ke sisi truk dan melepaskan tanganku.

“Kau mau ke mana?”

“Sebentar lagi aku kembali.” janjinya. Lalu ia berbalik dan berlari cepat melintasi lapangan parkir, menyeberang jalan, dan masuk ke balik hutan yang memagari tepi jalan. Ia lenyap di balik pepohonan gesit dan cekatan bagai rusa.

“Jacob!’ aku berteriak memanggilnya dengan suara serak, tapi ia sudah lenyap.

Ini bukan saat yang tepat untuk ditinggal sendirian. Beberapa detik setelah Jacob tidak terlihat, aku sudah megap-megap kehabisan napas. Kuseret kakiku ke dalam truk, dan langsung mengunci pintu rapat-rapat. Namun aku belum sepenuhnya merasa tenang.

Victoria sudah memburuku. Hanya keberuntungan yang membuatnya belum menemukanku sekarang—hanya keberuntungan dan lima werewolf remaja. Aku mengembuskan napas tajam. Tak peduli apa yang dikatakan Jacob, membayangkan ia berada di dekat Victoria sungguh mengerikan. Aku tak peduli ia bisa berubah menjadi apa bila marah. Aku bisa melihat Victoria dalam pikiranku, wajahnya liar, rambutnya seperti api, mematikan, tak terkalahkan…

Tapi, menurut cerita Jacob, Laurent sudah mati. Apakah itu mungkin? Edward—otomatis aku mencengkeram dadaku—pernah menjelaskan padaku betapa sulitnya membunuh vampir. Hanya vampir lain yang bisa melakukannya. Tapi kata Jacob tadi karena itulah werewolf diciptakan…

Katanya ia akan mengawasi Charlie secara khusus—bahwa sebaiknya aku memercayakan keselamatan ayahku pada para werewolf Bagaimana aku bisa memercayainya? Tak seorang pun dari kami aman! Apalagi Jacob, bila ia berusaha menempatkan diri di antara Victoria dan Charlie… di antara Victoria dan aku.

Rasanya aku ingin muntah lagi.

Ketukan tajam di jendela membuatku memekik ketakutan—tapi ternyata hanya Jacob, yang sudah kembali. Kubuka kunci pintu dengan jari-jari gemetar sekaligus bersyukur.

“Kau benar-benar ketakutan, ya?” tanyanya sambil memanjat naik.

Aku mengangguk.

“Tidak perlu. Kami akan menjagamu—Charlie juga. Aku janji.”

“Rasanya lebih mengerikan membayangkan kau menemukan Victoria daripada Victoria menemukan aku,” bisikku.

Jacob tertawa. “Kau harus lebih memercayai kami. Kalau tidak, itu sama saja menghina.”

Aku hanya menggeleng. Aku sudah terlalu sering melihat vampir beraksi.

“Kau tadi ke mana?” tanyaku.

Jacob mengerucutkan bibir, dan tidak mengatakan apa-apa.

“Apa? Apa itu rahasia?”

Jacob mengerutkan kening. “Tidak juga. Agak aneh saja, tapi. Aku tidak ingin membuatmu ngeri.”

“Aku sudah agak terbiasa dengan hal-hal yang aneh sekarang ini.” Aku mencoba tersenyum meski tak berhasil.

Jacob balas nyengir dengan enteng. “Kurasa mau tidak mau kau harus terbiasa juga. Oke.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.