Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Jacob tertegak kaget, seolah-olah kata-kataku tadi menyetrum sekujur tubuhnya. Alisnya terangkat dan matanya membelalak lebar.

“Membunuh orang?” tuntutnya.

“Memangnya kaupikir kita sedang membicarakan apa?”

Tubuh Jacob sudah tidak gemetar lagi. Kini ia menatapku dengan sikap tak percaya bercampur harap-harap cemas. “Kusangka kita sedang berbicara tentang perasaan jijikmu terhadap werewolf!”

“Tidak, Jake, bukan. Masalahnya bukan karena kau… werewolf. Itu bukan masalah,” aku berjanji padanya, dan aku tahu saat mengucapkan katakata itu bahwa aku bersungguh-sungguh. Aku benar-benar tak peduli bila ia berubah menjadi werewolf—dia tetap Jacob. “Kalau kau bisa mencari jalan untuk tidak melukai orang-orang… hanya itu yang aku tidak suka Mereka tidak berdosa Jake, orang-orang seperti Charlie, dan aku tak mungkin menutup mata sementara kau—”

“Hanya itu? Sungguh?” Jacob menyela katakataku, senyumnya merekah. “Kau takut karena aku ini pembunuh? Hanya itu alasanmu?”

“Apakah itu belum cukup?”

Tawa Jacob meledak.

“Jacob Black, ini sangat tidak lucu!”

“Memang, memang,” Jacob sependapat, masih terus terbahak bahak.

Ia melangkah lebar-lebar dan meraup tubuhku, memelukku erat-erat.

“Kau benar-benar sungguh-sungguh, tidak keberatan kalau aku bermetamorfosis menjadi anjing raksasa?” tanyanya, suaranya terdengar bahagia di telingaku.

“Tidak,” aku terkesiap. “Tidak—bisa—napas— Jake!”

Jacob melepaskan pelukannya, tapi meraih kedua tanganku. “Aku bukan pembunuh, Bella.”

Kutatap wajahnya dengan saksama, dan tampak jelas itu benar. Perasaan lega meliputiku.

“Sungguh?” tanyaku.

“Sungguh,” janji Jacob dengan sikap khidmat.

Kuangkat kedua lenganku dan kupeluk dia. Mengingatkanku pada hari pertama kami menjajal motor—tapi tubuhnya lebih besar sekarang, dan aku merasa lebih seperti kanak-kanak.

Seperti waktu itu juga, ia membelai rambutku.

“Maaf aku mengataimu munafik,” Jacob meminta maaf.

“Maaf aku mengataimu pembunuh.”

Jacob tertawa.

Sesuatu melintas dalam pikiranku saat itu, dan aku melepas pelukanku supaya bisa menatap wajahnya. Alisku bertaut cemas. “Bagaimana dengan Sam? Dan yang lain-lain?”

Jacob menggeleng, tersenyum seakan-akan beban berat terangkat dari bahunya. “Tentu saja tidak. Tidak ingatkah kau bagaimana kami menyebut diri kami?”

Ingatan itu sangat jelas—itu baru terpikir olehku hari ini, “Pelindung?”

“Tepat.”

“Tapi aku tidak mengerti. Apa yang terjadi di hutan? Para hiker yang hilang, bercak darah?”

Wajah Jacob langsung berubah serius dan khawatir. “Kami berusaha melakukan tugas kami, Bella. Kami berusaha melindungi mereka, tapi kami selalu sedikit terlambat.”

“Melindungi mereka dari apa? Jadi benar-benar ada beruang di luar sana?”

“Bella, Sayang, kami hanya melindungi orang-orang dari satu hal—dari satu-satunya musuh kami. Itu sebabnya kami ada—karena mereka juga ada.”

Kutatap Jacob dengan pandangan kosong selama satu detik sebelum akhirnya mengerti. Darah langsung surut dari wajahku dan pekikan pelan tanpa kata terlontar dari bibirku.

Jacob mengangguk. “Sudah kuduga kau pasti bisa menyadari apa yang sebenarnya terjadi.”

“Laurent,” bisikku. “Dia masih di sana.”

Jacob mengerjapkan mata dua kali, dan menelengkan kepala ke satu sisi. “Siapa Laurent?”

Aku berusaha menyortir berbagai pikiran yang berkecamuk di kepalaku agar bisa menjawab. “Kau tahu—kau melihatnya di padang rumput. Kau kan ada di sana…” Kata-kata itu terlontar dengan nada takjub saat semuanya jadi jelas. “Kau ada di sana, karena itu dia tidak jadi membunuhku…”

“Oh si lintah berambut hitam itu?” Jacob menyeringai, Seringaiannya kaku dan garang. “Jadi itukah namanya?”

Aku bergidik. “Nekat benar kau?” bisikku. “Dia bisa membunuhmu! Jake, tidak sadarkah kau betapa berbahaya—”

Lagi-lagi Jacob memotong perkataanku dengan tertawa. “Bella, satu vampir bukan masalah besar bagi sekawanan werewolf sebesar kami. Begitu mudahnya sampai malah tidak terasa asyik lagi!”

“Apanya yang mudah?”

“Membunuh si pengisap darah yang akan membunuhmu. Tapi itu bukan berarti kami bisa digolongkan sebagai pembunuh,” Jacob buru-buru menambahkan. “Vampir kan bukan manusia.”

Aku hanya dapat menggerak-gerakkan mulut tanpa suara. “Kau… membunuh… Laurent?”

Jacob mengangguk. “Well, kami melakukannya bersama-sama,” ia membenarkan.

“Jadi Laurent sudah mati?” bisikku.

Ekspresinya berubah. “Kau tidak marah, kan? Dia kan akan membunuhmu—dia memang berniat membunuh, Bella, kami yakin itu sebelum kami menyerang. Kau juga tahu itu, kan?”

“Aku tahu itu. Tidak, aku tidak marah—aku…” Aku merasa harus duduk. Aku mundur goyah selangkah sampai tungkaiku menyentuh driftwood, lalu mengenyakkan tubuhku di sana. “Laurent sudah mati. Dia tidak akan kembali mencariku.”

“Kau tidak marah, kan? Dia bukan temanmu atau bagaimana, kan?”

“Temanku?” Aku mendongak menatapnya, bingung dan pusing saking leganya. Aku mulai mengoceh, mataku basah. “Tidak, Jake. Aku malah sangat… sangat lega. Kusangka dia akan menemukanku—setiap malam aku ketakutan menunggunya datang, berharap dia cukup puas denganku dan tidak mengganggu Charlie. Aku sangat ketakutan, Jacob… Tapi bagaimana? Dia kan vampir! Bagaimana kalian bisa membunuhnya? Dia kan sangat kuat, sangat keras, seperti marmer…”

Jacob duduk di sebelahku, lengannya yang besar merengkuhku dengan sikap menenangkan. “Karena itulah kami diciptakan, Bells. Kami juga kuat. Kalau saja kau memberi tahuku bahwa kau sangat ketakutan. Kau tak perlu takut.”

“Kau kan tidak ada,” gumamku, pikiranku menerawang.

“Oh, benar.”

“Tunggu, Jake—tapi kusangka kau sudah tahu. Semalam katamu tidak aman jika kau berada di kamarku. Kusangka itu karena kau tahu ada vampir yang akan datang. Itu kan yang maksudmu?”

Jacob tampak bingung sebentar, kemudian menunduk. “Tidak, bukan itu maksudku.”

“Kalau begitu kenapa menurutmu tidak aman bila kau berada di kamarku?”

Jacob menatapku dengan mata penuh penyesalan. “Maksudku bukannya tidak aman bagiku. Aku justru memikirkan keselamatanmu.”

“Apa maksudmu?”

Jacob menunduk dan menendang sebutir batu. “Ada lebih dari satu alasan kenapa aku tak seharusnya berada di dekatmu, Bella. Aku tidak boleh membocorkan rahasia kami padamu, itu salah satunya, tapi alasan lain adalah karena ini tidak aman bagimu. Kalau aku sangat marah… dan emosiku tersulut… bisa-bisa kau terluka.”

Aku memikirkan penjelasannya baik-baik. “Waktu kau marah sebelumnya… waktu aku meneriakimu… dan tubuhmu gemetar…?”

“Yeah.” Jacob tertunduk semakin dalam. “Tolol benar aku. Aku harus lebih bisa menahan diri. Aku sudah bersumpah untuk tidak marah, apa pun yang kaukatakan padaku. Tapi… aku sangat marah karena kupikir aku akan kehilangan kau… bahwa kau tak bisa menerima keadaanku yang sebenarnya…”

“Apa yang akan terjadi… bila kau sangat marah?” bisikku.

“Aku akan berubah menjadi serigala.” Jacob balas berbisik.

“Tidak perlu menunggu bulan purnama?”

Jacob memutar bola matanya. “Versi Hollywood itu tak sepenuhnya benar.” Lalu ia mendesah, dan kembali serius. “Kau tidak perlu merasa terlalu takut. Bells. Kami akan membereskan masalah ini. Dan kami akan menjaga Charlie serta yang lain-lain secara khusus—kami tidak akan membiarkannya celaka. Percayalah padaku.”

Sesuatu yang amat sangat jelas, yang seharusnya langsung bisa kutangkap—tapi karena selama ini pikiranku sibuk membayangkan Jacob dan teman-temannya berkelahi melawan Laurent, hal itu benar-benar tak terpikir olehku—baru muncul dalam pikiranku saat itu, ketika Jacob mulai berbicara dalam konteks sekarang.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.