Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Wajahnya damai dalam tidur yang nyenyak, semua garis-garis amarah lenyap. Ada lingkaran di bawah mata yang tidak kusadari sebelumnya. Meski ukuran tubuhnya sangat besar, ia kini tampak sangat muda, dan sangat letih. Perasaan iba mengguncang hatiku.

Aku keluar lagi dan menutup pintu dengan suara pelan.

Billy memandangiku dengan sorot ingin tahu dan waspada saat aku berjalan lambat-lambat kembali ke ruang depan.

“Sebaiknya kubiarkan saja dia tidur sebentar.”

Billy mengangguk, kemudian kami berpandangan beberapa saat. Aku ingin sekali menanyakan apa pendapat Billy tentang hal ini.

Apa pendapatnya tentang perubahan yang dialami putranya? Tapi aku tahu ia mendukung Sam sejak awal, jadi Kupikir pembunuhan-pembunuhan itu pasti tidak berarti apa-apa baginya. Bagaimana ia membenarkan hal ku pada dirinya sendiri, aku tak bisa membayangkan.

Aku juga melihat banyak pertanyaan berkecamuk di matanya yang gelap, tapi ia juga tidak menyuarakannya.

“Begini saja,” kataku, memecah keheningan yang sangat terasa. “Aku akan pergi ke pantai sebentar. Kalau dia bangun, tolong katakan padanya aku menunggunya, oke?”

“Tentu, tentu,” Billy menyanggupi.

Aku ragu apakah Billy benar-benar akan menyampaikan pesanku. Well, kalaupun tidak, aku sudah berusaha, kan?

Aku mengendarai trukku ke First Beach dan memarkirnya di lapangan tanah yang kosong. Hari masih gelap—subuh muram menjelang pagi yang berawan—dan waktu mematikan lampu truk aku nyaris tak bisa melihat apa-apa. Aku harus membiasakan mataku dulu sebelum bisa menemukan jalan setapak yang membelah ilalang tinggi. Udara di sini lebih dingin, angin bertiup menerpa air yang hitam, dan kujejalkan kedua tanganku dalam-dalam ke saku jaket musim dinginku. Setidaknya hujan sudah berhenti.

Aku berjalan menyusuri tepi pantai ke arah tembok laut sebelah utara. Tidak tampak Pulau St. James maupun pulau-pulau lain, hanya bentukbentuk samar nun jauh di sana. Aku berjalan hatihati meniti karang, mewaspadai driftwood yang mungkin bisa membuatku tersandung.

Aku menemukan apa yang kucari sebelum menyadari aku mencarinya. Benda itu muncul dari kegelapan setelah jaraknya hanya tinggal beberapa meter: sebatang driftwood panjang seputih tulang yang terdampar jauh ke karang. Akar-akarnya terpilin ke atas dan mengarah ke lautan, bagaikan ratusan tentakel rapuh. Aku tak yakin apakah itu pohon yang sama tempat Jacob dan aku mengobrol untuk pertama kalinya—obrolan yang mengawali begitu banyak benang kusut dalam hidupku—tapi sepertinya lokasinya sama. Aku duduk di tempatku duduk dulu, dan memandang lautan yang tak kelihatan.

Melihat Jacob seperti itu—lugu dan rapuh dalam tidurnya—telah mengenyahkan semua perasaan jijikku, melenyapkan semua amarahku. Aku masih tetap tak bisa menutup mata pada apa yang terjadi, seperti yang tampaknya dilakukan Billy tapi aku juga tak bisa menghakimi Jacob atas perbuatannya itu. Itulah yang namanya sayang. Saat kau menyayangi seseorang mustahil bersikap logis mengenai mereka. Jacob tetap temanku, terlepas dari apakah ia membunuh orang atau tidak. Dan aku tak tahu harus bagaimana menghadapi hal itu.

Saat membayangkan Jacob tidur begitu damai, aku merasakan dorongan yang sangat kuat untuk melindunginya. Sungguh tidak logis.

Logis atau tidak aku terus saja membayangkan wajahnya yang damai, berusaha menemukan jawaban, mencari cara untuk melindunginya, sementara langit perlahan-lahan berubah warna menjadi kelabu.

“Hai, Bella.”

Suara Jacob datang dari kegelapan dan membuatku kaget. Suaranya lirih, nyaris malumalu, tapi karena aku mengira bakal mendengar kedatangannya dari suara batu-batu yang terinjak, tetap saja suara itu membuatku kaget. Tampak olehku siluetnya membelakangi matahari terbit— kelihatannya besar sekali.

“Jake?”

Jacob berdiri beberapa langkah jauhnya, bergerak-gerak gelisah.

“Kata Billy kau datang mencariku—tidak butuh waktu lama, kan? Sudah kukira kau pasti bisa menebaknya.”

“Yeah, aku ingat ceritanya sekarang,” bisikku.

Lama tidak terdengar apa-apa dan, walaupun masih terlalu gelap untuk bisa melihat jelas, kulitku bagai tergelitik seolah-olah mata Jacob mengamati wajahku lekat-lekat. Pastilah sudah cukup terang bagi Jacob untuk melihat ekspresiku, karena waktu ia bicara lagi, suaranya mendadak berubah sinis.

“Kau toh bisa menelepon saja,” sergahnya kasar.

Aku mengangguk. “Memang.”

Jacob mulai mondar-mandir di atas bebatuan. Kalau kubuka telingaku lebar-lebar, aku bisa mendengar suara langkah kakinya menginjak bebatuan di balik debur ombak. Batu-batu berderak seperti kastanyet di telingaku.

“Mengapa kau datang?” tuntutnya, tak menghentikan langkah-langkahnya yang marah.

“Kupikir lebih baik kita bertemu langsung.”

Jacob mendengus. “Oh, jauh lebih baik.”

“Jacob, aku harus memperingatkanmu—”

“Tentang para polisi hutan dan pemburu? Jangan khawatir. Kami sudah tahu.”

“Jangan khawatir?” tuntutku tak percaya. “Jake, mereka membawa senapan! Mereka juga memasang perangkap dan menawarkan hadiah uang dan—”

“Kami bisa menjaga diri,” geramnya, masih terus mondar-mandir. “Mereka takkan bisa menangkap apa-apa. Mereka hanya membuat keadaan lebih sulit—sebentar lagi mereka juga akan menghilang.”

“Jake!” desisku.

“Apa? Memang kenyataannya begitu kok.”

Wajahku pucat saking jijiknya. “Bisa-bisanya kau… merasa seperti itu? Kau kenal orang-orang ini. Charlie juga ikut!” Pikiran itu membuat perutku mulas.

Langkah Jacob langsung berhenti. “Apa lagi yang bisa kami lakukan?” semburnya.

Matahari mengubah awan-awan menjadi merah muda keperakan di atas kami. Aku bisa melihat ekspresinya sekarang; wajahnya marah, frustrasi, merasa dikhianati.

“Bisakah kau…, Well berusaha untuk tidak menjadi… werewolf?” aku menyarankan sambil berbisik.

Jacob melontarkan kedua tangannya ke udara. “Kayak aku punya pilihan saja!” teriaknya. “Dan apa gunanya itu, kalau kau justru khawatir orang-orang akan menghilang?”

“Aku tidak mengerti.”

Jacob menatapku garang, matanya menyipit dan mulutnya terpilin membentuk seringai. “Tahukah kau apa yang membuatku sangat marah?”

Aku terkejut melihat ekspresinya yang garang. Jacob sepertinya menunggu jawaban, maka aku pun menggeleng.

“Kau ini benar-benar munafik, Bella—lihat saja, kau duduk di sana, takut padaku! Apakah itu adil?” Kedua tangannya gemetar oleh amarah.

“Munafik? Mengapa takut pada monster berarti aku munafik?”

“Ugh!” erang Jacob, menekankan tinjunya yang gemetar ke pelipis dan memejamkan mata rapatrapat. “Coba dengar omonganmu sendiri!”

“Apa?”

Jacob berjalan dua langkah mendekatiku, mencondongkan tubuh di atasku dan menatapku berapi-api. “Well, aku menyesal aku tidak bisa menjadi monster yang tepat untukmu, Bella. Kurasa aku tidak sehebat si pengisap darah itu, bukan?”

Aku melompat berdiri dan balas memandangnya dengan sorot berapi-api juga. “Tidak, memang tidak!” teriakku. “Masalahnya bukan siapa kau, tolol, tapi apa yang kaulakukan!”

“Apa artinya itu?” raung Jacob, sekujur tubuhnya gemetar menahan marah.

Aku kaget bukan kepalang waktu mendadak terdengar suara Edward mewanti-wantiku. “Berhati-hatilah, Bella,” suaranya yang selembut beledu mengingatkan. “Jangan paksa dia. Kau harus menenangkannya.”

Bahkan suara di kepalaku bersikap tidak masuk akal hari ini.

Tapi aku tetap menurutinya. Aku rela melakukan apa saja demi suara itu.

“Jacob,” aku memohon, mengubah nada suaraku jadi lembut dan datar. “Apakah benarbenar perlu membunuh orang, Jacob? Apakah tidak ada cara lain? Maksudku, kalau vampir bisa mencari jalan lain untuk bertahan tanpa membunuh orang, masa kalian tidak bisa mencobanya juga?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.