Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Mereka akan menembaki serigala-serigala itu?” Suaraku naik tiga oktaf.

“Apa lagi yang bisa kita lakukan? Ada apa?” tanya Charlie, matanya yang tegang menelisik wajahku. Rasanya aku seperti mau pingsan; wajahku pasti lebih pucat daripada biasanya, toh bukan aktivis lingkungan hidup, kan?” ku tak mampu menjawab.

Seandainya Charlie tidak sedang memandangiku, aku pasti sudah menyurukkan kepalaku antara lutut. Aku lupa pada para hiker yang hilang itu, juga jejak-jejak berdarah… aku tidak menghubungkan fakta-fakta itu dengan kesadaran pertamaku.

“Dengar, Sayang, ini tidak perlu membuatmu ketakutan. Asalkan kau tetap di kota atau dijalan raya—tidak berhenti-berhenti—oke?”

“Oke,” sahutku lemah.

“Pergi dulu ya.”

Kutatap Charlie lekat-lekat untuk pertama kali, dan kulihat ia melilitkan sarung pistolnya ke pinggang dan memakai sepatu hiking.

“Kau tidak akan ikut terjun mencari serigalaserigala itu kan, Dad?”

“Aku harus membantu, Bells. Banyak orang menghilang.”

Suaraku naik lagi, nyaris histeris sekarang. “Jangan! Jangan, jangan pergi. Terlalu berbahaya!”

“Aku harus melakukan tugasku, Nak. Jangan pesimis begitu—aku akan baik-baik saja” Charlie berbalik ke pintu, membukanya dan memeganginya. “Kau mau pergi?”

Aku ragu-ragu, perutku masih seperti diadukaduk. Apa yang bisa kukatakan untuk menghentikannya? Kepalaku pusing sekali, tak mampu berpikir apa-apa.

“Bells?”

“Mungkin sekarang memang masih terlalu pagi untuk pergi ke La Push,” bisikku.

“Aku setuju,” kata Charlie, lalu melangkah keluar ke tengah hujan, menutup pintu di belakangnya.

Begitu Charlie lenyap dari pandangan, aku merosot lemas ke lantai dan menyurukkan kepalaku di antara lutut.

Haruskah aku menyusul Charlie? Apa yang bisa kukatakan?

Dan bagaimana dengan Jacob? Jacob sahabatku; aku harus memperingatkan dia. Kalau dia benar-benar – aku meringis dan memaksa diriku memikirkan istilah itu – werewolf (dan aku tahu itu benar, aku bisa merasakannya), itu berarti orang-orang akan menembaki dia! Aku harus memberitahu Jacob dan teman-temannya bahwa orang-orang akan berusaha membunuh mereka bila mereka berkeliaran sebagai serigala raksasa. Aku harus membentahu mereka supaya berhenti.

Mereka harus berhenti! Charlie ada di hutan. Pedulikah mereka pada hal itu? Aku penasaran… Hingga saat ini, hanya orang-orang asing yang hilang. Apakah itu berarti sesuatu, atau hanya kebetulan?

Aku harus percaya bahwa Jacob, paling tidak, peduli pada hal itu.

Bagaimanapun, aku harus mengingatkan dia.

Atau… perlukah aku?

Jacob sahabatku, tapi benarkah ia juga monster? Monster sungguhan? Monster jahat? Haruskah aku mengingatkan dia, padahal dia dan teman-temannya… pembunuh? Padahal mereka begitu tega membantai para hiker yang tidak berdosa? Seandainya mereka benar-benar makhluk jahat seperti yang ada di film-film horor, salahkah bila aku melindungi mereka?

Mau tak mau aku jadi membandingkan Jacob dan teman-temannya dengan keluarga Cullen. Kudekap tubuhku erat-erat. melawan lubang itu, saat aku memikirkan mereka.

Aku tidak tahu apa-apa tentang werewolf, itu sudah jelas. Paling-paling aku membayangkan mereka mendekati sosok seperti yang sering digambarkan di film-film – makhluk setengah manusia berbadan besar dan berbulu lebat atau semacam itu – itu pun kalau aku membayangkan mereka. Jadi aku tak tahu apa yang membuat mereka berburu, apakah karena kelaparan atau kehausan atau hanya dorongan untuk membunuh. Sulit menilainya, karena aku tidak tahu apa-apa.

Tapi pasti tidak lebih sulit daripada yang dialami keluarga Cullen dalam upaya mereka menjadi makhluk yang baik. Ingatanku melayang kepada Esme—air mataku merebak saat membayangkan wajahnya yang teduh dan baik—serta bagaimana, meski sikapnya begitu keibuan dan penuh kasih sayang, ia terpaksa menahan napas, merasa malu sekali, dan lari menjauhiku waktu aku berdarah. Tak mungkin lebih sulit daripada itu. Aku juga teringat pada Carlisle, yang selama berabad-abad berjuang mengajari dirinya sendiri untuk mengabaikan darah, sehingga ia bisa menyelamatkan nyawa manusia sebagai dokter. Tidak ada yang lebih sulit daripada itu.

Para werewolf memilih jalan berbeda.

Sekarang, apa yang seharusnya aku pilih?

 

13. PEMBUNUH

KALAU saja itu orang lain dan bukan Jacob, pikirku pada diri sendiri, menggeleng-gelengkan kepala saat melaju melintasi jalan raya yang membelah hutan menuju La Push.

Aku masih belum yakin aku melakukan hal yang benar, tapi aku sudah berkompromi dengan diriku sendiri.

Aku tak bisa memaafkan apa yang Jacob dan teman-temannya, kawanannya, lakukan. Sekarang aku mengerti maksud perkataannya semalam— bahwa aku mungkin tidak ingin menemuinya lagi— dan bahwa aku bisa meneleponnya seperti yang ia usulkan, tapi rasanya itu pengecut. Setidaknya, aku harus bicara empat mata dengannya. Akan kukatakan dengan tegas padanya bahwa aku tak mungkin mengabaikan apa yang sedang terjadi. Aku tak mungkin berteman dengan pembunuh tanpa mengatakan apa-apa, membiarkan pembunuhan itu terus berlanjut… Itu berarti aku sama jahatnya dengan mereka.

Tapi aku tak bisa tidak mengingatkan dia juga. Aku harus berbuat sebisaku untuk melindunginya.

Kuhentikan trukku di depan rumah keluarga Black dengan bibir terkatup rapat. Cukup sudah keterkejutanku menghadapi kenyataan sahabatku werewolf. Haruskah ia menjadi monster juga?

Rumah itu gelap gulita, tak tampak cahaya lampu di jendela-jendelanya, tapi aku tak peduli kalaupun aku membangunkan mereka. Tinjuku menggedor-gedor pintu depan dengan marah; gedorannya mengguncang dinding-dinding.

“Silakan masuk,” kudengar Billy berseru sejurus kemudian, dan sebuah lampu menyala.

Kuputar kenop pintu; ternyata tidak terkunci. Billy bersandar di pintu dekat dapur yang kecil, di bahunya tersampir mantel mandi, ia belum duduk di kursi rodanya. Begitu melihat siapa yang datang matanya melebar sedikit, kemudian wajahnya berubah kaku.

“Well, selamat pagi, Bella. Mengapa kau datang pagi-pagi buta begini?”

“Hai, Billy. Aku perlu bicara dengan Jake—di mana dia?”

“Ehm… kurang tahu ya,” dusta Billy, wajahnya tetap datar.

“Tahukah kau apa yang dilakukan Charlie pagi ini?” tuntutku, muak melihatnya mengulur-ulur waktu.

“Haruskah aku tahu?”

“Dia dan setengah isi kota turun ke hutan membawa senapan, memburu serigala-serigala raksasa.”

Ekspresi Billy berubah, tapi kemudian datar lagi.

“Jadi aku ingin bicara dengan Jake mengenai hal itu. kalau kau tidak keberatan,” lanjutku.

Billy mengerucutkan bibirnya yang tebal. “Aku berani bertaruh Jake pasti masih tidur,” kata Billy akhirnya, mengangguk ke lorong kecil di sebelah kamar depan. “Belakangan dia sering pulang larut malam. Anak itu buruh istirahat—mungkin sebaiknya kau tidak membangunkan dia.”

“Sekarang giliranku,” gumamku pelan sambil berjalan menuju lorong. Billy mendesah.

Kamar Jacob yang kecil, yang sebenarnya lebih mirip ruang penyimpanan baju, adalah satusatunya pintu di lorong yang panjangnya tak sampai satu meter. Aku tidak repot-repot mengetuk. Aku langsung membuka pintunya; pintu itu membentur dinding dengan suara keras.

Jacob—masih mengenakan celana olahraga hitam yang dipotong pendek seperti semalam— berbaring diagonal di ranjang dobel yang mengisi seluruh ruangan dan hanya menyisakan beberapa sentimeter saja di sisi-sisinya. Bahkan dalam posisi miring tempat tidur itu masih kurang panjang; kaki Jacob tergantung di satu sisi dan kepalanya di sisi lain. Ia tidur nyenyak, mendengkur pelan dengan mulut terbuka. Bahkan suara pintu membentur dinding tidak membuatnya tersentak.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.