Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku diam saja. Tidak semudah itu untuk tidak merasa khawatir. Tak seperti Alice, kakak “angkat” Edward yang lain, Rosalie yang berambut pirang dan sangat cantik itu, tidak begitu menyukaiku. Sebenarnya, lebih dari sekadar tidak suka. Bagi Rosalie, aku penyusup tak diundang yang mengetahui kehidupan rahasia keluarganya.

Aku merasa sangat bersalah memikirkan situasi saat ini, karena dugaanku, kepergian Rosalie dan Emmett untuk waktu lama adalah salahku, walaupun diam-diam aku senang ia tidak ada. Emmett, kakak Edward yang bertubuh besar dan suka bercanda, nah kalau dia, aku benar-benar merasa kehilangan. Dalam banyak hal, ia sudah seperti kakak lelaki yang ingin kumiliki sejak dulu… hanya saja jauh, jauh lebih mengerikan.

Edward memutuskan mengganti topik. “Jadi, kalau kau tidak memperbolehkan aku membelikanmu Audi, adakah hal lain yang kauinginkan untuk ulang tahunmu?”

Kata-kata itu meluncur dari bibirku dalam bentuk bisikan. “Kau tahu apa yang kuinginkan.”

Kerutan dalam muncul di dahi Edward yang semulus marmer. Jelas ia berharap tadi tidak mengalihkan topik pembicaraan dari masalah Rosalie.

Rasanya kami sudah sering sekali berdebat hari ini.

“Jangan malam ini, Bella. Please?”

“Well, mungkin Alice bisa mengabulkan keinginanku.”

Edward menggeram—suaranya dalam dan mengancam. “Ini tidak akan menjadi ulang tahunmu yang terakhir, Bella,” ia bersumpah.

“Itu tidak adil!”

Kalau tidak salah aku mendengar gigi-giginya gemertak.

Kami sudah berhenti di depan rumah sekarang. Lampu-lampu bersinar terang dari setiap jendela di dua lantai pertama. Deretan lentera Jepang yang terang bergelantungan di atap teras, membiaskan pendaran cahaya lembut di pohon-pohon cedar besar yang mengelilingi rumah. Mangkuk-mangkuk besar berisi bunga—mawar merah jambu—berjajar sepanjang tangga lebar yang mengarah ke pintupintu depan.

Aku mengerang.

Edward menarik napas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan diri. “Namanya juga pesta,” ia mengingatkanku. “Berusahalah bersikap baik.”

“Tentu,” gerutuku.

Edward turun untuk membukakan pintu bagiku, lalu mengulurkan tangan.

“Aku punya pertanyaan.”

Ia menunggu dengan waswas.

“Kalau film ini dicuci cetak,” kataku, memainkan kamera di tanganku, “apakah kau akan muncul di foto?”

Tawa Edward pecah berderai. Ia membantuku turun dari mobil, menarikku menaiki tangga, dan masih terus tertawa saat membukakan pintu untukku.

Mereka semua menunggu di ruang duduk yang besar dan berwarna putih. Begitu aku melangkah masuk, mereka menyambutku dengan teriakan nyaring, “Selamat ulang tahun, Bella!” sementara aku menunduk dengan wajah merah padam. Alicelah isumsiku, yang telah menutup semua bagian yang permukaannya datar dengan lilin pink dan lusinan mangkuk kristal berisi ratusan mawar. Ada meja bertaplak putih diletakkan di sebelah grand piano Edward, dengan kue tart pink di atasnya, bunga-bunga mawar, tumpukan piring kaca, dan gundukan kecil kado terbungkus kertas warna perak.

Ini ratusan kali lebih parah daripada yang bisa kubayangkan.

Edward. merasakan kegalauanku. merangkul pinggangku dengan sikap menyemangati, lalu mengecup puncak kepalaku.

Orangtua Edward. Carlisle dan Esme—tetap semuda dan serupawan biasanya—berdiri paling dekat ke pintu. Esme memelukku hati-hati, rambutnya yang halus dan sewarna karamel membelai pipiku saat ia mengecup dahiku, kemudian Carlisle merangkul pundakku.

“Maaf tentang ini. Bella,” bisiknya. “Kami tidak sanggup mengekang Alice.”

Rosalie dan Emmett berdiri di belakang mereka. Rosalie tidak tersenyum, tapi setidaknya ia tidak melotot. Emmett nyengir lebar. Sudah berbulanbulan aku tidak bertemu mereka; aku sudah lupa betapa luar biasa cantiknya Rosalie—nyaris menyakitkan melihatnya. Dan benarkah Emmett sejak dulu sudah begitu… besar?

“Kau sama sekali tidak berubah,” kata Emmett, berlagak seolah-olah kecewa. “Sebenarnya aku berharap kau sedikit berubah, tapi ternyata wajahmu tetap merah, seperti biasa.”

“Terima kasih banyak, Emmett,” kataku, semakin merah padam.

Emmett tertawa. “Aku harus keluar dulu sebentar” —ia terdiam untuk mengedipkan mata pada Alice dengan gaya mencolok—”Jangan berbuat macam-macam selagi aku tidak ada.”

“Akan kucoba.”

Alice melepas tangan Jasper dan bergegas maju, giginya berkilauan di bawah cahaya lampu. Jasper juga tersenyum, tapi tetap berdiri di tempat. Ia bersandar, jangkung dan pirang, di tiang di kaki tangga. Setelah beberapa hari terkurung bersama di Phoenix, kusangka ia sudah tidak menghindariku lagi. Tapi sikapnya sekarang kembali seperti sebelumnya—sedapat mungkin menghindariku—begitu terbebas dari kewajiban sementaranya untuk melindungiku. Aku tahu itu bukan masalah pribadi, hanya tindakan pencegahan, dan aku mencoba untuk tidak terlalu sensitif mengenainya. Jasper agak sulit menyesuaikan diri dengan diet keluarga Cullen dibandingkan para anggota keluarga yang lain; bau darah manusia lebih sulit ditolaknya dibanding yang lain-lain—ia belum terlalu lama mencoba.

“Waktunya buka kado!” seru Alice. Ia menggamit sikuku dengan tangannya yang dingin dan menarikku ke meja penuh tart dan kado-kado mengilap.

Aku memasang wajah martirku yang terbaik. “Alice, sudah kubilang aku tidak menginginkan apa-apa—“

“Tapi aku tidak mendengarkan,” sela Alice, senyum puas tersungging di bibirnya. “Bukalah.” Ia mengambil kamera dari tanganku dan menggantinya dengan kotak segiempat besar warna perak.

Kotak itu sangat ringan hingga terasa kosong. Label di atasnya menandakan kado itu dari Emmett, Rosalie, dan Jasper. Waswas, kurobek kertas itu dan kupandangi kotak di dalamnya.

Itu kotak peralatan elektronik, dengan angkaangka pada namanya. Kubuka kotak itu, berharap mengetahui isinya. Tapi kotak itu kosong.

“Ehm… trims.”

Senyum Rosalie terkuak sedikit. Jasper terbahak. “Itu stereo untuk mobilmu; ia menjelaskan. “Emmett sedang memasangnya sekarang supaya kau tidak bisa mengembalikannya.”

Alice selalu selangkah di depanku.

“Trims, Jasper. Rosalie.” kataku pada mereka, nyengir saat teringat keluhan Edward siang tadi tentang radioku-hanya jebakan, ternyata. “Trims, Emmett!” seruku dengan suara lebih keras.

Aku mendengar suara tawanya yang berdentum dari dalam trukku, dan mau tak mau aku ikut tertawa.

“Berikutnya, buka kadoku dan kado Edward,” kata Alice, begitu bersemangat hingga suaranya terdengar melengking tinggi. Di tangannya ada kotak kecil pipih.

Aku menoleh dan melayangkan pandangan tajam pada Edward. “Kau sudah janji.”

Sebelum ia sempat menjawab. Emmett berlarilari melewati pintu. “Tepat pada waktunya!” serunya. Ia menyelinap di belakang Jasper, yang juga beringsut lebih dekat dari biasanya agar bisa melihat lebih jelas.

“Aku tidak mengeluarkan uang satu sen pun,” Edward meyakinkan aku. Ia menyingkirkan seberkas rambut dari wajahku, membuat kulitku bagai tergelitik

Aku menghirup napas dalam-dalam dan menoleh pada Alice. “Berikan padaku,” aku mendesah Emmett terkekeh gembira.

Aku mengambil kado kecil itu dari tangannya, memutar bola mataku pada Edward sambil menyelipkan jariku di bawah pinggiran kertas dan menyentakkannya di bawah selotip.

“Sial,” gumamku saat kertas itu mengiris jariku; aku menarik jariku dari bawah kertas untuk mengetahui kondisinya. Setitik darah muncul dari luka kecil itu.

Sesudahnya segalanya terjadi begitu cepat.

“Tidak!” raung Edward.

Ia menerjangku hingga terjengkang menabrak meja. Meja terbalik, menjatuhkan kue tart dan kado-kado, juga bunga-bunga dan piring-piring. Aku mendarat di tengah kepingan kristal yang pecah berantakan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.