Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Terpisah dari mimpi itu sekarang, aku menunggu mimpi itu berlanjut. Cahaya menghampiriku dari pantai. Beberapa saat lagi Edward akan keluar dari pepohonan, kulitnya berkilau redup, matanya hitam dan berbahaya. Ia akan melambai ke arahku, dan tersenyum. Wajahnya setampan malaikat, giginya runcingruncing dan tajam…

Tapi aku terlampau cepat. Ada hal lain yang harusnya terjadi lebih dulu.

Jacob menjatuhkan tanganku dan menjerit. Gemetar dan mengentak-entak, ia terjatuh ke tanah dekat kakiku.

“Jacob!” jeritku, rapi ia sudah lenyap.

Sebagai gantinya kini tampak serigala berbulu merah-cokelat dengan mata gelap dan cerdas.

Mimpiku melenceng jauh, seperti kereta api yang keluar dari rel.

Ini bukan serigala yang sama seperti yang pernah kuimpikan di kehidupan lain. Ini serigala besar berbulu cokelat kemerahan yang berdiri dekat sekali denganku di padang rumput, seminggu yang lalu. Serigala raksasa yang sangat besar, lebih besar daripada beruang.

Serigala itu menatapku saksama, berusaha menyampaikan sesuatu yang penting dengan matanya yang cerdas. Mata hitam-cokelat yang familier, seperti mata Jacob Black. Aku terbangun sambil menjerit sekeras-kerasnya. Aku nyaris berharap Charlie akan datang untuk mengecek keadaanku kali ini. Ini bukan jeritanku yang biasa. Kubenamkan kepalaku di bantal dan berusaha meredam jeritan histeris yang hendak keluar dari kerongkonganku. Kutekan bantal kuat-kuat ke wajahku, bertanya-tanya dalam hati apakah aku juga bisa membungkam fakta yang baru saja berhasil kuhubungkan.

Tapi Charlie tidak datang, dan akhirnya aku bisa juga meredam jeritan aneh yang keluar dari tenggorokanku.

Aku ingat semuanya sekarang—setiap kata yang keluar dari mulut Jacob pada hari itu di pantai, bahkan bagian sebelum ia sampai ke cerita tentang para vampir, atau “yang berdarah dingin” menurut istilahnya. Terutama bagian pertama.

“Apakah kau tahu tentang legenda kamu tentang asal-muasal kami-maksudku suku Quikute?” tanyanya.

“Tidak juga,” aku mengakui.

“Well ada banyak legenda, sebagian bahkan dipercaya sudah ada sejak Zaman Air Bah—konon, suku Quileute kuno mengikat kano mereka di pucukpucuk pohon tertinggi di pegunungan untuk bisa selamat, seperti Nabi Nuh dan bahteranya!” Ia tersenyum, untuk menunjukkan ia sendiri tidak begitu memercayai cerita-cerita sejarah. “Legenda lain mengatakan kami keturunan serigala—dan bahwa sampai sekarang serigala masih berkerabat dengan kami. Hukum adat melarang kami membunuh mereka.

“Lalu ada cerita-cerita tentang yang berdarah dingin.” Suara Jacob terdengar sedikit lebih rendah.

“Yang berdarah dingin?”

“Ya. Ada cerita-cerita tentang yang berdarah dingin, cerita-cerita itu sama tuanya dengan legenda serigala, dan ada juga yang masih cukup baru. Menurut legenda, kakek buyutku sendiri mengenal sebagian dari mereka. Dialah yang membuat kesepakatan untuk menghalau mereka dari tanah kami.” Jacob memutar bola matanya.

“Kakek buyutmu?”

“Beliau itu tetua suku, seperti ayahku. Begini, yang berdarah dingin itu musuh alami serigala— Well, bukan serigala sungguhan, tapi serigala yang menjelma menjadi manusia, seperti leluhur kami. Kau bisa menyebutnya werewolf.”

“Werewolf punya musuh?”

“Hanya satu.”

Sesuatu menyumbat kerongkonganku, mencekikku. Aku berusaha menelannya, tapi benda itu tersangkut di sana. tak bergerak. Aku berusaha meludahkannya.

“Werewolf,” aku terkesiap.

Ya, kata itulah yang tadi menyumbat tenggorokanku.

Dunia seolah jungkir balik, miring pada porosnya.

Tempat macam apakah ini? Benarkah ada dunia di mana legenda-legenda kuno berkeliaran di sepanjang perbatasan kota-kota kecil, berhadapan dengan monster-monster mistis? Apakah itu berarti setiap kisah dongeng didasarkan pada sesuatu yang benar-benar nyata? Adakah hal yang waras atau normal sama sekak, atau semuanya hanya magis dan kisah-kisah hantu?

Kucengkeram kepalaku kuat-kuat, menjaganya agar tidak meledak.

Sebuah suara kecil garing dalam benakku bertanya mengapa aku begitu kalut. Bukankah aku sudah menerima keberadaan vampir sejak dulu— dan tanpa histeris sama sekali?

Benar sekali, aku ingin balas meneriaki suara itu. Tidakkah saru mitos sudah cukup untuk siapa pun, cukup untuk seumur hidup?

Lagi pula, sebelumnya tidak ada satu momen pun di mana aku tak sepenuhnya menyadari bahwa Edward Cullen bukan manusia biasa. Jadi bukan hal mengagetkan waktu aku tahu siapa ia sebenarnya—karena jelas sekali ia itu berbeda.

Tapi Jacob? Jacob, yang hanyalah Jacob, dan tidak lebih daripada itu? Jacob, temanku? Jacob, satu-satunya manusia yang bisa memahamiku…

Dan ia bahkan bukan manusia.

Kulawan dorongan untuk menjerit lagi.

Jadi, apa arti semua itu bagiku?

Aku tahu jawaban pertanyaan itu. Berarti ada yang benar-benar tidak beres denganku. Bagaimana bisa hidupku dipenuhi karakterkarakter dari film horor? Bagaimana mungkin aku bisa begitu peduli pada mereka sehingga hatiku terasa seperti direnggutkan dan dadaku setiap kali mereka pergi mengikuti jalan hidup mistis mereka?

Di kepalaku segalanya berputar dan bergerak, berubah posisi sehingga hal-hal yang tadinya berarti sesuatu, sekarang memiliki arti berbeda.

Berarti tidak ada sekte. Tidak pernah ada sekte, tidak pernah ada geng. Tidak, ternyata bahkan lebih buruk daripada itu. Yang ada ternyata adalah kawanan.

Kawanan yang terdiri atas lima werewolf raksasa aneka warna yang waktu itu berjalan melewatiku di padang rumput Edward…

Mendadak, aku merasa harus bergegas. Mataku melirik jam—masih terlalu pagi, tapi aku tak peduli. Aku harus pergi ke La Push sekarang. Aku harus menemui Jacob supaya ia bisa memberi tahuku bahwa aku tidak hilang ingatan.

Kusambar baju bersih pertama yang bisa kutemukan, tak peduli apakah serasi atau tidak, lalu berlari menuruni tangga, melompati dua anak tangga sekaligus. Nyaris saja aku bertabrakan dengan Charlie saat menghambur di lorong, menuju ke pintu.

“Mau ke mana kau?” tanyanya, terkejut melihatku, sama seperti aku terkejut melihatnya. “Kau tahu sekarang jam berapa?”

“Yeah. Aku harus menemui Jacob.”

“Kusangka urusan dengan Sam—”

“Itu tidak penting, aku harus bicara dengannya sekarang juga.”

“Sekarang masih terlalu pagi.” Kening Charlie berkerut ketika ekspresiku tidak berubah. “Tidak mau sarapan dulu?”

“Tidak lapar.” Kata-kata meluncur cepat dari bibirku. Charlie menghalangi jalanku. Aku menimbang-nimbang untuk merunduk mengitarinya dan kabur secepat-cepatnya, tapi aku tahu aku harus memberi penjelasan nanti. “Sebentar lagi aku kembali, oke?”

Charlie mengerutkan kening. “Langsung ke rumah Jacob, kan? Tidak mampir-mampir dulu?”

Tentu saja tidak. mau mampir ke mana? Katakataku berkejaran, karena aku begitu terburuburu.

“Entahlah,” Charlie mengakui. “Hanya saja… Well, terjadi penyerangan lagi – serigala-serigala itu lagi. Dekat sekali dengan pemukiman penduduk di sumber air panas sana—kali ini ada saksi mata yang menyaksikan. Korban hanya beberapa meter dari jalan saat menghilang. Istrinya melihat serigala abu-abu besar beberapa menit kemudian, waktu dia sedang mencari suaminya, lalu lari mencari bantuan.”

Perutku langsung mulas mendengarnya. “Orang itu diterkam serigala?”

“Tidak ada tanda-tanda keberadaan orang itu— yang ada hanya bercak darah” Wajah Charlie tampak galau. “Para polisi hutan menyisir hutan dengan bersenjata lengkap, membawa sukarelawan yang juga bersenjata. Banyak pemburu yang ingin terlibat—tersedia hadiah bagi yang bisa menembak mati serigala. Itu berarti akan banyak tembakmenembak di hutan, dan itu membuatku khawatir.” Charlie menggeleng. “Kalau orang-orang terlalu bersemangat, bisa terjadi banyak kecelakaan…”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.