Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Wajah Sam memenuhi pikiranku.

Bagiku, ini semua intinya adalah sesuatu yang secara sukarela dilakukan. Aku menjaga rahasia keluarga Cullen karena cinta: tidak berbalas, tapi sejati. Bagi Jacob, tidak harus menjadi seperti itu.

“Apakah kau tak bisa membebaskan diri?” bisikku, menyentuh pinggiran kasar di bagian belakang rambutnya yang pendek

Tangan Jacob mulai gemetar, tapi ia tidak membuka mata. “Tidak. Aku terikat di dalamnya seumur hidup. Seperti hukuman penjara seumur hidup.” Tawa sinis. “Lebih lama daripada itu, mungkin.”

“Tidak, Jake,” erangku. “Bagaimana kalau kita kabur? Hanya kau dan aku. Bagaimana kalau kita lari dari rumah, dan meninggalkan Sam?”

“Ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan kabur dari rumah, Bella,” bisik Jacob. “Aku mau saja kabur bersamamu, tapi… seandainya bisa.” Bahunya kini ikut gemetar. Ia menghela napas dalam-dalam. “Sudahlah, aku harus pergi.”

“Kenapa?”

“Pertama, sepertinya kau nyaris ambruk setiap saat. Kau butuh tidur—aku ingin kau sehat dan bugar sehingga bisa berpikir jernih. Kau harus bisa menyimpulkannya, kau harus bisa”

“Lalu kenapa lagi?”

Kening Jacob berkerut. “Aku harus menyelinap pergi diam-diam—seharusnya aku tak boleh menemuimu. Mereka pasti bertanya-tanya di mana aku sekarang.” Mulutnya berkerut. “Kurasa aku harus tetap menceritakannya pada mereka.”

“Kau tidak perlu mengatakan apa-apa pada mereka” desisku.

“Bagaimanapun, aku akan tetap mengatakannya.”

Amarah berkobar dalam dadaku. “Aku benci mereka!”

Jacob menatapku dengan mata membelalak lebar, terkejut. “Tidak, Bella. Jangan benci mereka. Ini bukan salah Sam ataupun salah satu dari mereka. Seperti sudah kukatakan padamu sebelumnya—ini salahku. Sesungguhnya Sam itu… Well, luar biasa baik. Jared dan Paul juga baik, walaupun Paul agak sedikit… Dan Embry temanku sejak dulu. Tidak ada yang berubah dalam hal itu—satu-satunya yang belum berubah. Aku benarbenar merasa tak enak hati kalau ingar bagaimana dulu aku punya pandangan jelek terhadap Sam…”

Sam luar biasa baik? Kupandangi Jacob dengan sikap tidak percaya, tapi tak kutanggapi.

“Kalau begitu, mengapa kau tidak boleh menemuiku?” tuntutku.

“Karena tidak aman,” gumam Jacob, menunduk. Kata-katanya membuatku bergidik ngeri. Jadi ia juga tahu itu? Tak ada orang lain yang tahu kecuali aku. Tapi ia benar—sekarang ini tengah malam, waktu yang tepat untuk berburu. Jacob tak seharusnya berada di kamarku. Kalau ada yang datang mencariku, aku harus sendirian.

“Kalau aku menganggapnya terlalu… terlalu berisiko,” bisiknya, “aku tidak mungkin datang. Tapi, Bella,” ia menatapku lagi, “aku pernah berjanji padamu. Aku tidak menyangka janji itu akan begitu sulit ditepati, tapi bukan berarti aku tidak akan berusaha.”

Jacob melihat ekspresi tak mengerti di wajahku. “Setelah nonton film konyol waktu itu,” ia mengingatkan aku. “Aku berjanji padamu, aku tidak akan pernah menyakitimu… Aku benar-benar melanggar janjiku sendiri sore tadi, ya?”

“Aku tahu kau tidak bermaksud melakukannya, Jake. Tidak apa-apa.”

“Trims, Bella.” Jacob meraih tanganku. “Aku akan melakukan apa pun yang bisa kulakukan agar bisa berada di sisimu, sesuai janjiku.” Tibatiba ia nyengir. Bukan cengiranku, bukan cengiran Sam, tapi kombinasi aneh keduanya. “Akan sangat membantu bila kau bisa menyimpulkannya sendiri, Bella. Cobalah untuk benar-benar berusaha.”

Aku meringis lemah. “Akan kucoba.”

“Dan aku akan berusaha menemuimu lagi nanti,” Jacob mendesah. “Dan mereka pasti akan berusaha mencegahku melakukannya.”

“Jangan dengarkan mereka.”

“Akan kucoba,” Jacob menggeleng, seolah meragukan dirinya sendiri. “Begitu kau bisa menebaknya, segeralah datang dan beritahu aku.” Mendadak ia teringat sesuatu, sesuatu yang membuat kedua tangannya gemetar. “Kalau kau… kalau kau masih mau menemuiku.”

“Mengapa aku tidak mau menemuimu?”

Wajah Jacob berubah keras dan pahit, wajah yang seratus persen milik Sam. “Oh, ada saja alasannya, pasti” tukasnya kasar. “Dengar, aku benar-benar harus pergi. Bisakah kau melakukan sesuatu untukku?”

Aku hanya mengangguk, takut melihat perubahan dalam dirinya.

“Paling tidak telepon aku—kalau kau tidak mau menemuiku lagi. Beritahu aku kalau memang begitu.”

“Itu tidak akan terjadi—”

Jacob mengangkat sebelah tangan, menghentikan kata-kataku. “Pokoknya beritahu aku.”

Ia berdiri dan berjalan ke jendela.

“Jangan tolol, Jake,” tukasku. “Bisa-bisa kakimu patah nanti. Lewat pintu saja. Charlie tidak akan memergokimu.”

“Aku tidak akan kenapa-kenapa,” tukasnya, tapi berbalik menuju pintu juga. Ia ragu-ragu waktu melewatiku, menatapku dengan ekspresi seolaholah sesuatu menusuknya. Ia mengulurkan sebelah tangan, memohon.

Aku menerima uluran tangannya, dan tiba-tiba ia menyentakku—kasar sekali—hingga aku tertarik turun dari tempat tidur dan menabrak dadanya.

“Siapa tahu aku tak bisa bertemu lagi denganmu,” bisiknya di rambutku, memelukku sangat erat hingga tulang-tulangku terasa seperti mau remuk.

“Tidak bisa—bernapas!” aku megap-megap.

Jacob langsung melepas pelukannya, sebelah tangannya memegang pinggangku agar aku tidak terjatuh. Ia mendorongku, kali ini lebih lembut, kembali ke tempat tidur.

“Tidurlah, Bells. Kau harus bisa berpikir jernih. Aku tahu kau pasti bisa melakukannya. Aku ingin kau mengerti. Aku tak ingin kehilangan kau, Bella. Tidak karena masalah ini.”

Jacob mencapai pintu hanya dalam sekali melangkah, membukanya pelan-pelan, kemudian lenyap di baliknya. Aku mencoba mendengar suara langkah-langkah kakinya menuruni tangga, tapi tidak terdengar apa-apa.

Aku berbaring lagi di tempat tidur, benakku berputar. Aku terlalu bingung, terlalu letih. Kupejamkan mata, berusaha mencerna semuanya, tapi detik berikutnya ketidaksadaran menelanku begitu cepat hingga terasa membingungkan.

Bukan tidur damai tanpa mimpi seperti dambaanku yang kudapatkan—tentu saja bukan. Lagi-lagi aku melihat diriku di hutan, dan mulai berkeliaran seperti yang selalu kulakukan.

Dengan cepat aku menyadari ini bukan mimpi yang sama seperti biasa. Pertama, karena aku tidak merasakan dorongan untuk berjalan tak tentu arah atau melakukan pencarian; aku hanya sekadar berkeliaran karena kebiasaan, karena memang itulah yang biasanya kulakukan di sini. Sebenarnya, ini bahkan bukan hutan yang sama. Aromanya berbeda, begitu juga cahayanya. Hutan ini tidak berbau tanah lembab, melainkan berbau asin air laut. Aku tak bisa melihat langit; meski begitu, matahari pasti bersinar—dedaunan di atasku berwarna hijau zambrud.

Ini hutan di sekitar La Push—dekat pantai di sana, aku yakin. Aku tahu bila aku menemukan pantai, aku pasti bisa melihat matahari. Maka aku mempercepat langkah, mengikuti suara debur ombak yang samar-samar terdengar di kejauhan.

Dan mendadak muncul Jacob, Ia menyambar tanganku, menarikku kembali ke bagian hutan paling gelap.

“Jacob, ada apa?” tanyaku. Wajahnya ketakutan seperti anak kecil, dan rambutnya kembali indah, diikat ke belakang membentuk ekor kuda yang tergerai di pangkal leher. Ia menarikku sekuat tenaga, tapi aku menolak; aku tak ingin masuk ke kegelapan.

“Lari, Bella, kau harus lari!” bisiknya, ketakutan.

Serbuan gelombang deja vu yang sekonyongkonyong datang begitu kuat hingga nyaris membangunkanku.

Sekarang aku tahu mengapa aku mengenali tempat ini. Karena aku pernah berada di sana sebelumnya, di mimpi yang lain. Sejuta tahun yang lalu, bagian dari kehidupan yang sama sekali berbeda. Ini mimpi yang pernah kudapat pada malam setelah aku berjalan-jalan dengan Jacob di pantai, malam pertama aku tahu Edward itu vampir. Mengenang kembali hari itu bersama Jacob pastilah yang memicu timbulnya mimpi ini dari kenanganku yang terkubur.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.