Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku memakai piama lalu merangkak naik ke tempat tidur. Hidup saat ini sudah terasa cukup gelap hingga kubiarkan diriku melanggar janjiku sendiri. Lubang itu—sekarang ada lebih dari satu lubang—toh sudah terasa menyakitkan, jadi mengapa tidak? Kutarik keluar kenanganku— bukan kenangan sesungguhnya yang pasti akan terlalu menyakiti, tapi kenangan palsu tentang suara Edward dalam benakku sore tadi—dan memutarnya berulang kali di kepalaku sampai aku tertidur dengan air mata masih menuruni wajahku yang kosong.

Mimpiku baru malam ini. Hujan turun dan Jacob berjalan tanpa suara di sampingku, meski di bawah kakiku tanah yang kuinjak bergemeretak seperti kerikil kering. Tapi ia bukan Jacob-ku; ia Jacob yang baru, masam, dan anggun. Gaya berjalannya yang anggun dan mantap mengingatkanku pada seseorang yang lain, dan, saat kuperhatikan, garis-garis wajahnya berubah. Kulitnya yang cokelat kemerahan memudar, meninggalkan seraut wajah putih pucat bagai tulang. Matanya berubah warna menjadi emas. kemudian merah, lalu emas lagi. Rambutnya yang dipangkas pendek acak-acakan tertiup angin, berubah warna menjadi tembaga begitu angin menyentuhnya. Dan wajahnya berubah sangat tampan hingga membuat hatiku hancur berkepingkeping. Aku mengulurkan tangan ke arahnya, tapi ia mundur selangkah, mengangkat kedua tangan seperti tameng. Kemudian Edward menghilang.

Aku tak yakin, waktu aku terbangun di kegelapan, apakah aku baru mulai menangis, ataukah air mataku mengalir saat aku tidur dan terus mengalir sampai sekarang. Kutatap langitlah kamar yang gelap. Aku bisa merasakan sekarang sudah tengah malam – aku masih separo tertidur, mungkin malah masih tidur. Kupejamkan mataku dengan letih, berdoa semoga tidurku tidak diganggu mimpi lagi.

Saat itulah aku mendengar suara yang membuatku terbangun tadi. Suara sesuatu yang tajam menggesek permukaan jendela dan menimbulkan bunyi berderit yang melengking tinggi, seperti suara kuku menggores kaca.

 

12. PENYUSUP

KEDUA mataku membelalak ngeri, padahal aku sangat kelelahan dan bingung sampai-sampai tak yakin apakah aku sudah bangun atau masih tidur.

Sesuatu menggaruk-garuk kaca jendelaku lagi dengan suara melengking tinggi yang sama.

Bingung dan kikuk karena mengantuk, aku tersaruk-saruk turun dari tempat tidur dan melangkah ke jendela, mengerjap-ngerjapkan air mata yang masih menggenang di mataku.

Sosok hitam besar bergelantungan goyah di sisi luar kaca jendela, menerjang ke arahku seperti hendak menabrak kaca. Aku terhuyung-huyung mundur, ngeri, kerongkonganku tercekat hendak menjerit.

Victoria.

Ia datang mencariku.

Mati aku.

Jangan Charlie juga!

Kutelan lagi jeritan yang sudah menggumpal di tenggorokanku Aku tak boleh bersuara. Entah bagaimana caranya. Pokoknya jangan sampai Charlie datang memeriksa…

Kemudian suara parau yang sudah sangat kukenal keluar dari sosok gelap itu.

“Bella!” sosok itu mendesis. “Aduh! Brengsek, buka jendelanya! ADUH!”

Butuh dua detik untuk mengenyahkan rasa takut sebelum aku bisa bergerak, tapi kemudian aku bergegas ke jendela dan mendorong kacanya. Awan-awan diterangi cahaya remang di baliknya cukup untuk membuatku bisa mengenal, sosok itu.

“Sedang apa kau?” aku terkesiap.

Jacob bergelayut goyah di pucuk tanaman yang tumbuh di tengah-tengah halaman kecil Charlie. Bobot tubuhnya membuat pohon itu merunduk ke arah rumah dan sekarang ia berayun—kalanya bergelantungan enam meter di atas tanah—tak sampai semeter dariku. Ranting-ranting kurus di pucuk pohon menggaruk-garuk dinding rumah lagi dengan suaranya yang berderit-derit.

“Aku mencoba menepati”—Jacob terengahengah, memindahkan berat badannya saat puncak pohon memantulkannya— janjiku!”

Aku mengerjapkan pandanganku yang kabur, mendadak yakin aku tengah bermimpi.

“Kapan kau pernah berjanji untuk bunuh diri dengan jatuh dari pohon Charlie?”

Jacob mendengus, menganggap gurauanku tidak lucu, mengayunkan kaki agar bisa lebih seimbang. “Minggir,” perintahnya.

“Apa?”

Jacob mengayunkan kalanya lagi, ke belakang dan ke depan, meningkatkan momentum. Sadarlah aku apa yang hendak dilakukannya.

“Jangan. Jake!”

Tapi aku merunduk juga ke samping, karena sudah terlambat. Sambil menggeram Jacob menerjang ke jendela kamarku yang terbuka.

Jeritan lain siap terlontar dari kerongkonganku saat menunggu Jacob terjatuh dan mati—atau paling tidak cedera membentur papan kayu. Tapi aku benar-benar shock waktu ia dengan tangkas mengayun masuk ke dalam kamar, mendarat dengan tumit mencium lantai dan suara berdebum pelan.

Tatapan kami otomatis mengarah ke pintu, menahan napas, menunggu apakah suara tadi membangunkan Charlie. Kesunyian berlalu beberapa detik, kemudian kami mendengar suara dengkur tertahan Charlie.

Cengiran lebar lambat-lambat merekah di wajah Jacob; tampaknya ia sangat puas pada diri sendiri. Itu bukan cengiran seperti yang selama ini kukenal dan kusukai—tapi cengiran baru, yang seolah mengejek keluguannya dulu, di wajah baru yang kini menjadi milik Sam.

Itu agak keterlaluan bagiku.

Aku menangisi cowok ini sampai ketiduran. Penolakan kasarnya tadi meninggalkan lubang baru yang menyakitkan di dadaku. Ia meninggalkan mimpi buruk yang baru, seperti infeksi pada luka—penghinaan setelah perlakuan buruk. Dan sekarang ia datang ke kamarku, tersenyum mengejek seolah-olah semua itu tak pernah terjadi. Dan lebih parahnya lagi, walaupun kedatangannya berisik dan canggung, ulahnya mengingatkanku pada Edward ketika dulu ia sering menyusup masuk lewat jendela malammalam, dan kenangan itu semakin memedihkan luka hatiku yang belum sembuh.

Semua ini, ditambah fakta bahwa aku sangat kelelahan, membuat suasana hatiku jadi buruk.

“Keluar!” desisku, sebisa mungkin membuat bisikanku terdengar ketus.

Jacob mengerjapkan mata, wajahnya berubah kosong karena terkejut.

“Tidak,” protesnya. “Aku datang untuk meminta maaf.”

“Aku tidak terima!”

Aku berusaha mendorongnya kembali ke luar jendela—bagaimanapun juga, kalau ini mimpi, ia tidak akan cedera apa-apa. Tapi ternyata tak ada gunanya. Aku tak sanggup menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Cepat-cepat kujatuhkan tanganku, lalu mundur menjauhinya.

Ia tidak mengenakan pakaian, walaupun angin yang bertiup masuk dari jendela cukup dingin untuk membuatku gemetar, dan aku merasa tak nyaman memegang dadanya yang telanjang. Kulitnya panas membara, seperti kepalanya waktu aku terakhir kali menyentuhnya dulu. Seolah-olah ia masih demam tinggi.

Ia tidak kelihatan sakit. Ia terlihat besar. Jacob mencondongkan tubuh ke arahku, besar sekali hingga menutupi jendela, bingung melihat reaksiku yang sengit.

Sekonyong-konyong aku tak sanggup menanggungnya lagi—rasanya seolah-olah semua akibat dari kurang tidur yang kualami sekian lama menerjangku sekaligus. Aku capek sekali hingga rasanya ingin ambruk ke lantai saat itu juga. Tubuhku limbung, dan aku berjuang keras menjaga mataku tetap terbuka.

“Bella?” bisik Jacob waswas. Diraihnya sikuku waktu aku limbung lagi, lalu digiringnya aku ke tempat tidur. Kakiku lunglai begitu aku sampai di pinggir tempat tidur, dan kujatuhkan kepalaku yang lemas ke kasur.

“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Jacob, perasaan waswas membuat keningnya berkerut.

Aku menengadah memandanginya, air mata di pipiku belum sepenuhnya kering. “Bagaimana aku bisa baik-baik saja, Jacob?”

Kesedihan menggantikan sebagian kepahitan di wajahnya. “Benar,” Jacob sependapat, lalu menghela napas dalam-dalam. “Brengsek. Well, aku—aku minta maaf, Bella” Permintaan maaf itu tulus, tak diragukan lagi, meski masih ada kerutkerut marah di wajahnya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.