Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Aku minta maaf tak bisa… sebelum… kuharap aku bisa mengubah perasaanku terhadapmu, Jacob.” Aku putus asa, berusaha menggapai, mengulur kebenaran begitu jauhnya hingga katakataku nyaris melengkung menjadi kebohongan. “Mungkin… mungkin aku bisa berubah,” aku berbisik. “Mungkin, kalau kau memberiku sedikit waktu… Tapi jangan menyerah terhadapku sekarang, Jake. Aku takkan bisa bertahan.”

Wajahnya berubah dari marah menjadi sedih dalam sedetik. Satu tangannya yang masih gemetaran terulur menggapaiku.

“Tidak. Jangan berpikir begitu, Bella, please. Jangan salahkan dirimu, jangan pikir ini salahmu. Ini semua salahku. Sumpah, ini sama sekali bukan salahmu.”

“Bukan salahmu, tapi salahku,” aku berbisik. “Pasti sudah ada yang baru untukmu.”

“Aku sungguh-sungguh, Bella. Aku tidak…” Jacob berjuang menyelesaikan kalimatnya, suaranya semakin serak saat ia berusaha mengendalikan emosi. Sorot matanya tersiksa. “Aku tidak cukup baik untuk menjadi temanmu lagi, atau apa pun. Aku tidak seperti dulu lagi. Aku tidak baik.”

“Apa?” Kupandangi dia, bingung dan heran. “Kau ini bicara apa? Kau jauh lebih baik daripada aku, Jake. Kau baik! Siapa yang mengatakan kau tidak baik? Sam? Itu kebohongan yang keji, Jacob!

Jangan biarkan dia berkata begitu padamu!” aku tiba-tiba berteriak lagi.

Wajah Jacob keras dan datar. “Tidak ada yang memberi tahuku. Aku tahu siapa diriku.”

“Kau temanku, itulah kau! Jake—jangan!”

Jacob mundur menjauhi ku.

“Maafkan aku, Bella,” katanya lagi; kali ini hanya berupa gumaman lirih. Ia berbalik dan hampirhampir berlari memasuki rumah.

Aku tak sanggup bergerak dari tempatku berdiri. Kupandangi rumah kecil itu; tampaknya rumah itu terlalu kecil untuk menampung empat cowok berbadan besar dan dua pria yang bahkan lebih besar lagi. Tidak ada reaksi apa pun di dalam. Tidak ada kibasan pada tirai jendela, tidak ada suara-suara ataupun gerakan. Rumah itu menatapku kosong.

Hujan mulai turun rintik-rintik, menusuk kulitku di sana-sini. Aku tak mampu mengalihkan pandangan dari rumah itu. Jacob akan keluar lagi. Pasti.

Hujan turun semakin deras, angin juga bertiup semakin kencang. Tetesan air tak lagi jatuh dari atas; air hujan kini menyamping dari barat. Tercium olehku bau garam dan lautan. Rambutku menampari wajah, menempel di bagian-bagian yang basah dan menjerat bulu mataku. Aku menunggu.

Akhirnya pintu terbuka, dan dengan lega aku maju selangkah.

Billy menggelindingkan kursi rodanya ke ambang pintu. Aku tidak melihat siapa-siapa di belakangnya.

“Charlie baru saja menelepon, Bella. Kukatakan padanya kau sudah dalam perjalanan pulang.” Matanya menyorotkan rasa iba.

Sorot iba itulah yang menggerakkanku. Aku tidak berkomentar. Aku hanya berbalik seperti robot dan naik ke truk. Aku tadi membiarkan kacakaca jendela terbuka, jadi jok mobilku kan dan basah. Tidak apa-apa. Aku toh sudah kepalang basah kuyup.

Ini bukan apa-apa! Ini bukan apa-apa! pikiranku berusaha menghiburku. Itu benar. Im memang bukan apa-apa. Ini bukan akhir dunia, tidak lagi. Ini hanyalah akhir dari secuil kedamaian yang tertinggal. Hanya itu.

Ini bukan apa-apa, aku sependapat, lalu menambahkan, tapi ini cukup menyakitkan.

Kusangka selama ini Jake memulihkan lubang dalam diriku—atau setidaknya menambalnya, menjaganya agar tidak terlalu menyakitiku. Ternyata aku salah. Ternyata selama ini ia memahat lubangnya sendiri, sehingga sekarang hatiku bolong-bolong seperti keju Swiss. Dalam hati aku bertanya-tanya mengapa aku tidak hancur berkeping-keping.

Charlie sudah menunggu di teras. Begitu trukku berhenti, ia menghampiriku.

“Billy menelepon. Katanya kau bertengkar dengan Jake-katanya kau sangat kalut,” ia menjelaskan sambil membukakan pintu untukku.

Lalu ia memandang wajahku. Ekspresi mengenali yang penuh kengerian tergambar di wajahnya. Aku berusaha merasakan wajahku dari dalam, untuk mencari tahu apa yang dilihatnya. Wajahku kosong dan dingin, dan sadarlah aku wajahku ini mengingatkan Charlie pada apa.

“Kejadiannya tidak seperti itu,” gumamku.

Charlie merangkulku dan membantuku turun dari truk. Ia tidak mengomentari bajuku yang basah kuyup.

“Kalau begitu apa yang terjadi?” tanyanya sesampainya di dalam. Ditariknya selimut yang tersampir di punggung sofa dan dililitkannya di bahuku. Sadarlah aku sekujur tubuhku masih gemetaran.

Suaraku hampa tak bernyawa. “Kata Sam Uley, Jacob tidak boleh berteman lagi denganku.”

Charlie melayangkan pandangan aneh ke arahku. “Siapa yang bilang begitu?”

“Jacob,” jawabku, meski tidak persis begitu yang ia katakan. Tapi itu tetap benar.

Alis Charlie bertaut. “Kau benar-benar merasa ada yang tidak beres dengan pemuda Uley ini?”

“Aku yakin. Tapi Jacob tidak mau memberi tahu apa itu.” Aku bisa mendengar air menetes-netes dari bajuku ke lantai dan menciprat di linoleum. “Aku mau ganti baju dulu.”

Charlie tenggelam dalam pikirannya. “Oke,” sahutnya sambil lalu.

Aku memutuskan untuk mandi karena merasa sangat kedinginan, tapi air panas ternyata tidak bisa memengaruhi suhu kulitku. Aku masih kedinginan ketika akhirnya aku menyerah dan mematikan air. Dalam suasana yang mendadak hening, aku bisa mendengar Charlie berbicara dengan seseorang di bawah. Aku membungkus rubuhku dengan handuk, lalu membuka pintu kamar mandi secelah.

Suara Charlie terdengar marah. “Aku tidak percaya. Itu tidak masuk akal.”

Kemudian suasana sepi, dan barulah aku sadar Charlie sedang berbicara di telepon. Saru menit berlalu.

“Jangan menyalahkan Bella!” Charlie tiba-tiba berteriak. Aku terlonjak. Ketika ia bicara lagi, suaranya hati-hati dan lebih rendah. “Selama ini Bella dengan jelas menyatakan dia dan Jacob hanya berteman… Well, kalau memang begitu, mengapa kau tidak mengatakannya sejak awal? Tidak, Billy menurutku dia benar dalam hal ini… Karena aku tahu bagaimana anak perempuanku, dan kalau menurutnya Jacob ketakutan sebelum ini—” Charlie berhenti bicara, dan waktu menjawab, ia nyaris berteriak lagi.

“Apa maksudmu aku tidak kenal anak perempuanku sebaik yang kukira!” Ia mendengarkan sebentar, dan responsnya sangat pelan hingga nyaris tak bisa kutangkap. “Kalau kaupikir aku akan mengingatkannya tentang hal itu, sebaiknya kau berpikir lagi. Dia baru mulai bisa melupakannya, dan sebagian besar karena Jacob, kurasa. Kalau apa pun yang dilakukan Jacob dengan si Sam ini membuat Bella kembali terpuruk dalam depresi, maka Jacob harus berurusan denganku. Kau memang temanku, Billy, tapi ini menyakiti keluargaku.” Charlie kembali terdiam saat Billy menjawab.

“Kau benar—sekali saja anak-anak itu melanggar aturan, aku pasti akan tahu mengenainya. Kami akan mengawasi situasi ini, kau boleh yakin akan hal itu.” Ia bukan lagi Charlie; sekarang ia Kepala Polisi Swan.

“Baik. Yeah. Bye.” Telepon dibanting keraskeras.

Aku berjingkat-jingkat cepat melintasi lorong dan masuk ke kamarku. Charlie menggerutu marah di dapur.

Jadi Billy hendak menyalahkan aku. Aku memberi harapan pada Jacob dan akhirnya ia muak.

Sungguh aneh, karena itu juga yang kutakutkan, tapi setelah mendengar perkataan Jacob sore tadi, aku tidak percaya lagi bahwa itulah yang menjadi penyebabnya. Ada hai lain selain cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan sungguh mengagetkan bila Billy sampai harus menggunakan itu sebagai alasan. Itu membuatku berpikir bahwa rahasia apa pun yang mereka simpan pastilah lebih besar daripada yang selama ini kubayangkan. Setidaknya Charlie memihakku sekarang.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.