Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Jacob menyunggingkan senyum separo; hal yang muram dan aneh.

“Kau tidak ingin mendengar jawabannya.”

“Siapa bilang tidak ingin!” sergahku. “Aku ingin tahu, dan aku ingin tahu sekarang.”

“Kau keliru,” Jacob balas membentak.

“Jangan berani-berani mengatakan aku keliru— bukan aku yang dicuci otak! Katakan padaku sekarang siapa yang bersalah dalam hal ini, kalau bukan Sam-mu yang berharga itu!”

“Kau sendiri yang minta,” Jacob menggeram padaku, matanya berkilat-kilat. “Kalau kau ingin menyalahkan seseorang, mengapa tidak kauarahkan saja jarimu pada makhluk-makhluk pengisap darah kotor dan berbau busuk yang sangat kaucintai itu?”

Mulutku ternganga dan napasku mengeluarkan suara terkesiap kaget. Aku membeku di tempat, tertusuk oleh kata-katanya yang setajam pisau. Kepedihan mengoyak tubuhku dalam pola familier, lubang basah itu terkoyak dari bagian dalam ke luar, tapi itu belum apa-apa dibandingkan berbagai pikiran kalut yang berkecamuk dalam benakku. Aku tak yakin pendengaranku benar. Tidak sedikit pun tampak tanda-tanda keraguan di wajahnya. Hanya amarah.

Mulutku masih terus menganga lebar.

“Sudah kubilang kau pasti tidak ingin mendengarnya,” tukas Jacob.

“Aku tidak mengerti siapa yang kaumaksud,” bisikku.

Jacob mengangkat sebelah alis dengan sikap tak percaya. “Menurutku kau justru sangat mengerti siapa yang kumaksud. Kau tidak menyuruhku mengucapkan namanya, kan? Aku tidak mau menyakitimu.”

“Aku tidak mengerti siapa yang kaumaksud,” ulangku seperti robot.

“Keluarga Cullen,” jawabnya lambat-lambat, mengulur-ulur kata itu, mengamati wajahku saat mengucapkannya. “Aku tahu itu—aku bisa melihat di matamu apa akibatnya bila aku menyebut nama mereka.”

Aku menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menyangkal sekaligus menjernihkan pikiran pada saat bersamaan. Bagaimana ia bisa mengetahui hal ini? Dan apa hubungan semua itu dengan sekte Sam? Apakah mereka sekelompok pembenci vampir? Apa gunanya membentuk kelompok semacam itu bila tidak ada lagi vampir yang tinggal di Forks? Mengapa Jacob justru mulai memercayai cerita-cerita tentang keluarga Cullen sekarang, setelah bukti kehadiran mereka sudah lama lenyap, tidak akan pernah kembali lagi?

Lama sekali baru aku menemukan jawaban yang tepat. “Jangan katakan sekarang kau percaya pada cerita-cerita takhayul Billy,” kataku dengan sikap mengejek yang tidak terlalu meyakinkan.

“Ternyata dia lebih banyak tahu daripada yang kukira.”

“Bersikaplah serius, Jacob.”

Jacob menatapku garang, sorot matanya mengkritik.

“Terlepas dari soal takhayul,” sergahku buruburu. “Aku tetap tidak mengerti mengapa kau menuduh keluarga…”—meringis—”Cullen. Mereka pindah lebih dari setengah tahun lalu. Bagaimana mungkin kau menyalahkan mereka atas apa yang dilakukan Sam sekarang?”

“Sam tidak melakukan apa-apa, Bella. Dan aku tahu mereka sudah pindah. Tapi terkadang… halhal tertentu terjadi, dan semuanya sudah terlambat.”

“Hal-hal tertentu apa? Apa yang terlambat? Kau menyalahkan mereka karena apa?”

Jacob tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajahku, amarah berkobar-kobar di matanya. “Karena mereka ada,” desisnya.

Aku terkejut dan perhatianku tiba-tiba teralih karena mendadak muncul kata-kata peringatan di benakku dalam suara Edward, padahal saat itu aku bahkan tidak sedang merasa takut.

“Diamlah sekarang, Bella. Jangan desak dia,” Edward memperingatkan di telingaku.

Sejak nama Edward menerobos keluar dari dinding pertahanan tempatnya terkubur selama ini, aku tak bisa lagi menguncinya rapat-rapat. Nama itu tak lagi menyakitkan hatiku – tidak selama detik-detik berharga saat aku bisa mendengar suaranya.

Jacob marah sekali di hadapanku, sekujur tubuhnya gemetar oleh amarah.

Aku tidak mengerti mengapa delusi Edward muncul tak terduga-duga dalam benakku. Jacob memang marah, tapi ia tetap Jacob. Tidak ada adrenalin, tidak ada bahaya.

“Beri dia kesempatan untuk menenangkan diri,” suara Edward berkeras.

Aku menggelengkan kepala bingung. “Sikapmu konyol,” kataku pada mereka berdua.

“Terserah,” sergah Jacob, kembali menarik napas dalam-dalam. “Aku tidak mau berdebat denganmu. Itu toh tidak penting lagi, karena sudah telanjur.”

“Apanya yang sudah telanjur?”

Jacob tidak kaget sedikit pun saat aku meneriakkan kata-kata itu di wajahnya.

“Ayo kita kembali. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”

Aku ternganga. “Tentu saja masih ada! Kau belum menjelaskan apa-apa!’

Jacob berjalan melewatiku, melangkah kembali ke rumah.

“Aku bertemu Quil hari ini,” teriakku. Jacob menghentikan langkah, tapi tidak berbalik. “Kau masih ingat temanmu, Quil? Yeah, dia ketakutan.”

Jacob berbalik menghadapiku. Wajahnya sedih. “Quil,” hanya itu yang ia ucapkan

“Dia juga mengkhawatirkanmu. Dia sangat ketakutan.” Tatapan Jacob menerawang melewatiku dengan sorot putus asa.

Aku semakin bersemangat mengomporinya. “Dia takut ikan menjadi yang berikutnya.”

Jacob berpegangan pada sebatang pohon, wajahnya berubah kehijauan di bawah kulitnya yang merah kecokelatan. “Dia takkan menjadi yang berikutnya,” gumam Jacob pada diri sendiri. “Tak mungkin. Sekarang semua sudah selesai. Seharusnya ini semua tidak terjadi lagi. Kenapa? Kenapa?” Ia meninju pohon. Pohon itu tidak besar, namun ramping dan kira-kira hanya semeter lebih tinggi daripada Jacob. Tapi aku tetap terkejut saat pohon itu roboh dengan bunyi keras.

Jacob menatap pohon itu dengan terkejut, lalu pandangannya berubah ngeri.

“Aku harus kembali.” Ia berbalik dan berjalan pergi sangat cepat hingga aku harus berlari-lari kecil untuk menyamai langkahnya.

“Kembali kepada Sam!”

“Bisa dibilang begitu,” kedengarannya persis seperti maksud Jacob. Ia bergumam dan tak mau memandangku.

Aku mengejarnya sampai ke truk. “Tunggu!” aku berteriak memanggil saat Jacob mengarah ke rumahnya.

Ia berbalik menghadapku, dan kulihat tangannya gemetaran lagi.

“Pulanglah, Bella. Aku tak bisa berteman denganmu lagi” Kepedihan yang kurasakan, meskipun sepertinya konyol dan tak penting, benar-benar kuat. Air mata menggenangi mataku lagi. “Apakah kau… mencampakkan aku?” Katakata yang keluar salah, tapi itulah cara terbaik yang bisa kupikirkan untuk bertanya padanya. Bagaimanapun juga, apa yang Jake dan aku miliki lebih dari sekadar cinta monyet. Ini lebih kuat daripada itu.

Ia tertawa pahit. “Tidak. Jika aku mencampakkanmu, aku akan bilang ‘Kita lebih baik berteman.’ Tapi sekarang, aku bahkan tak bisa mengatakan itu.”

“Jacob… kenapa Sam tidak membolehkanmu punya teman lain? Please, Jake. Kau sudah janji. Aku membutuhkanmu!” Kehampaan hidupku sebelum ini—sebelum Jacob membawa sedikit alasan untuk hidup lagi ke dalam hidupku— seakan bersiap menghadangku. Kesepian mencekik tenggorokanku.

“Maafkan aku, Bella.” Jacob mengucapkan setiap kata perlahan-lahan dengan suara dingin yang sepertinya bukan miliknya.

Aku tak percaya itu yang sebenarnya ingin diucapkan Jacob. Sepertinya ada hal lain yang berusaha ia katakan lewat sorot matanya yang marah, tapi aku tak bisa memahami pesan itu.

Mungkin ini sama sekali bukan tentang Sam. Mungkin ini juga tak ada hubungannya dengan keluarga Cullen. Mungkin Jacob hanya berusaha keluar dari situasi yang tak mungkin berubah, tak ada harapan. Mungkin seharusnya aku membiarkan ia melakukan itu, jika itu yang terbaik untuknya. Aku harus melakukan itu. Itu hal yang benar.

Tapi aku mendengar suaraku berbisik.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.