Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Jacob berubah drastis selama beberapa minggu aku tidak melihatnya. Hal pertama yang menarik perhatianku adalah rambutnya—rambutnya yang indah sudah lenyap, dipangkas pendek, menutupi kepalanya bagaikan satin hitam mengilap. Garisgaris wajahnya tampak mengeras, lebih kaku… menua. Leher dan bahunya juga berbeda, tampak lebih padat. Tangannya, yang mencengkeram bingkai jendela, tampak besar sekali, dengan otototot tendon dan pembuluh darah menonjol di balik kulitnya yang cokelat kemerahan. Tapi perubahan fisik itu tidak penting.

Ekspresinyalah yang membuatnya nyaris tak bisa dikenali lagi. Senyum terbuka dan ramah itu kini lenyap, sama seperti rambutnya, sorot hangat di matanya yang gelap berganti dengan sorot tidak suka yang langsung terasa mengganggu. Ada kegelapan dalam diri Jacob sekarang. Seolah-olah matahariku telah meledak.

“Jacob?” bisikku.

Jacob hanya menatapku, matanya tegang dan marah.

Sadarlah aku kami tidak sendirian. Di belakangnya berdiri empat cowok lain; semuanya jangkung dan berkulit cokelat kemerahan, rambut hitam dipangkas pendek seperti rambut Jacob. Mereka bisa disangka kakak-beradik—aku bahkan tak bisa menentukan yang mana Embry di antara kelompok itu. Kemiripan mereka semakin dipertegas dengan sorot tidak suka yang samasama terpancar dari setiap pasang mata.

Setiap pasang kecuali satu. Paling tua dengan jarak beberapa tahun, Sam berdiri paling belakang, wajahnya tenang dan yakin. Aku harus menelan kembali kebencian yang merayap naik di kerongkonganku. Ingin benar kuhajar dia. Tidak, aku ingin melakukan lebih daripada itu. Lebih dari segalanya, aku ingin tampak garang dan mematikan, menjadi seseorang yang membuat orang lain tak berani macam-macam. Seseorang yang bakal membuat Sam Uley ketakutan setengah mati.

Aku ingin menjadi vampir.

Keinginan bengis itu membuatku terpana dan terkejut. Itu keinginan yang paling terlarang dari semuanya—bahkan saat aku menginginkannya hanya untuk alasan kejam seperti ini untuk mengalahkan musuh—karena itulah yang paling menyakitkan. Masa depan itu sudah hilang untuk selama-lamanya, tidak pernah benar-benar berada dalam jangkauanku. Aku berusaha mengendalikan diriku lagi sementara lubang di dadaku berdenyutdenyut hampa.

“Kau mau apa?” tuntut Jacob, ekspresinya makin terlihat tidak suka sementara ia menyaksikan berbagai emosi campur aduk di wajahku.

“Aku ingin bicara denganmu,” kataku dengan suara lemah. Aku berusaha fokus tapi aku masih kesal karena membiarkan impian tabuku tadi lepas kendali.

“Silakan,” desisnya dari sela-sela gigi yang terkatup rapat. Sorot matanya garang. Belum pernah aku melihatnya menatap siapa pun seperti itu, apalagi aku. Hatiku sakit sekali—sakitnya nyata, seperti tusukan di kepalaku.

“Sendirian!” desisku, dan suaraku lebih kuat. Jacob menoleh ke belakang, dan aku tahu ke mana matanya mengarah. Setiap pasang mata tertuju pada Sam untuk mengetahui reaksinya.

Sam mengangguk satu kali, wajahnya sama sekali tak tampak gelisah. Ia melontarkan komentar pendek dalam bahasa yang mengalun dan tidak kukenal—aku hanya tahu itu bukan bahasa Prancis ataupun Spanyol, tapi dugaanku, itu bahasa Quileute. Ia berbalik dan berjalan masuk ke rumah Jacob. Yang lain-lain, Paul, Jared, dan Embry, seperti kuduga, mengikutinya masuk.

“Oke.” Jacob tampaknya tidak terlalu marah lagi setelah yang lain-lain pergi. Wajahnya kini sedikit lebih tenang, tapi juga lebih tidak berdaya. Sudutsudut mulutnya seperti tertarik ke bawah secara permanen.

Aku menarik napas dalam-dalam. “Kau tahu apa yang ingin kuketahui.”

Jacob tidak menjawab. Ia hanya menatapku getir.

Aku balas menatapnya dan kesunyian berlanjut. Kepedihan di wajahnya membuat nyaliku lenyap. Aku merasa kerongkonganku tercekat.

“Bisakah kita jalan-jalan?” tanyaku, mumpung masih bisa bicara.

Jacob tidak menyahut; wajahnya tidak berubah.

Aku turun dari truk, merasakan mata-mata yang tidak kelihatan menatapku dari balik jendela, lalu mulai berjalan menuju pepohonan di utara. Kakiku menginjak rerumputan lembab dan lumpur di samping jalan, dengan suara berdecit, dan, karena hanya itu satu-satunya suara yang terdengar, awalnya aku mengira Jacob tidak mengikutiku. Tapi waktu aku menoleh, ia sudah berjalan di sisiku, entah bagaimana kakinya menemukan pijakan yang tidak menimbulkan suara.

Aku merasa lebih tenang saat mencapai tepi hutan, karena Sam tak mungkin bisa melihatku. Sementara kami berjalan aku memeras otak, memikirkan hal yang tepat untuk diutarakan, tapi nihil. Sebaliknya aku malah semakin marah karena Jacob tersedot semakin dalam… karena Billy membiarkan ini terjadi… karena Sam bisabisanya berdiri di sana dengan sikap tenang dan penuh percaya diri…

Jacob tiba-tiba mempercepat langkah, berjalan melewatiku dengan mudah dengan kedua kakinya yang panjang, kemudian berbalik menghadapiku, berdiri tepat di tengah jalan setapak sehingga aku terpaksa berhenti juga.

Pikiranku sempat beralih sejenak ke gerakgeriknya yang anggun dan mantap. Padahal selama ini Jacob hampir sama kikuknya denganku berkaitan dengan pertumbuhan badannya yang tak pernah berakhir. Kapan itu berubah?

Tapi Jacob tidak memberiku kesempatan sama sekali untuk memikirkannya.

“Mari kita tuntaskan,” katanya, suaranya keras dan parau.

Aku menunggu. Ia tahu apa yang kuinginkan.

“Itu tidak seperti yang kaukira.” Suaranya sekonyong-konyong terdengar letih. “Ternyata tidak seperti yang kukira—aku salah besar.”

“Jadi apa, kalau begitu?”

Jacob mengamati wajahku lama sekali, menimbang-nimbang. Amarah tak sepenuhnya enyah dari matanya. “Aku tak bisa memberi tahumu,” katanya akhirnya.

Rahangku mengeras, dan aku berbicara dari sela-sela gigiku yang terkatup rapat. “Kusangka kita berteman.”

“Dulu kita memang berteman.” Ada sedikit penekanan pada kata dulu.

“Tapi kau tidak membutuhkan teman lagi,” tukasku masam. “Kau punya Sam. Bagus sekali, bukan—sejak dulu kau memang kagum padanya.”

“Aku tidak memahaminya sebelum ini.”

“Dan sekarang kau sudah melihat kebenaran. Haleluya”

“Ternyata itu tidak seperti yang kukira. Ini bukan salah Sam. Dia membantuku sebisa mungkin.” Suara Jacob berubah rapuh, dan ia memandang melampaui kepalaku, melewatiku, amarah membara di matanya.

“Dia membantumu,” aku mengulangi dengan sikap ragu. “Jelas.”

Tapi Jacob sepertinya tidak mendengarkan. Ia menarik napas panjang dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Ia sangat marah sampai-sampai tangannya gemetar.

“Jacob, please,” bisikku. “Bisakah kauceritakan saja padaku apa yang sebenarnya terjadi? Mungkin aku bisa membantu.”

“Tidak ada yang bisa membantuku sekarang.” Kata-kata itu meluncur dalam bentuk erangan pelan; suaranya pecah.

“Apa yang dia lakukan padamu?” tuntutku, air mataku merebak. Aku mengulurkan tangan padanya, seperti pernah kulakukan sebelumnya, maju selangkah dengan kedua lengan terbuka lebar.

Kali ini Jacob mengelak, mengangkat kedua tangannya dengan sikap defensif. “Jangan sentuh aku,” bisiknya.

“Apakah Sam menular?” gumamku. Air mata konyol itu lolos dari sudut-sudut mataku. Aku menyekanya dengan punggung tangan, dan melipat kedua lenganku di dada.

“Berhentilah menyalahkan Sam.” Kata-kata itu terlontar cepat, seperti refleks. Kedua tangan Jacob terangkat ke atas, hendak memilin rambut yang sudah tidak ada lagi, kemudian terkulai lemas ke sisi tubuhnya.

“Kalau begitu aku harus menyalahkan siapa?” sergahku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.