Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Sejenak perhatianku teralih—terperangah, lebih tepatnya— oleh kabar itu. Tak mungkin serigalaserigala itu sela menghadapi Laurent…

“Dad yakin itu yang terjadi pada mereka?” tanya

“Itulah yang kutakutkan. Sayang. Ada—” Charlie ragu-ragu sejenak. “Di sana ada jejak-jejak lagi. dan… bercak darah juga kali ini”

“Oh! Kalau begini pasti tidak terjadi konfrontasi. Laurent pasti berhasil lari dari kejaran serigalaserigala itu, tapi mengapa? Apa yang kulihat di padang rumput waktu itu semakin lama semakin aneh—semakin mustahil untuk dipahami.

“Dengar, aku benar-benar harus pergi. Jangan khawatirkan Jake, Bella. Aku yakin semuanya beres.”

“Baiklah,” sergahku pendek, frustrasi karena kata-katanya mengingatkanku pada krisis lebih mendesak yang kuhadapi. “Bye.” Kututup telepon.

Kupandangi pesawat telepon lama sekali. Masa bodohlah, aku memutuskan.

Billy menjawab setelah dua deringan.

“Halo?”

“Hai, Billy,” sapaku, nyaris menggeram. Aku berusaha terdengar lebih ramah saat meneruskan kata-kataku. “Bisa bicara dengan Jacob?”

“Jake pergi.”

Sangat mengejutkan. “Anda tahu dia ke mana?”

“Pergi dengan teman-temannya.” Suara Billy hati-hati.

“Oh ya? Ada yang kukenal? Quil?” Kentara sekali kata-kata itu tidak terlontar dengan sikap biasabiasa saja seperti yang sebenarnya kumaksudkan.

“Bukan,” jawab Billy lambat-lambat. “Kurasa dia tidak pergi bersama Quil hari ini.”

Aku tahu lebih baik aku tidak menyebut nama Sam. “Embry?” tanyaku.

Billy terkesan lebih gembira karena bisa menjawab pertanyaan yang satu ini. “Yeah, dengan Embry.”

Itu sudah cukup bagiku. Embry termasuk geng mereka. “Well, bisa tolong suruh dia meneleponku kalau sudah pulang nanti, ya?”

“Tentu, tentu. Tidak masalah.” Klik.

“Sampai ketemu lagi, Billy,” gerutuku di telepon yang sudah mati.

Aku mengendarai trukku ke La Push, bertekad hendak menunggu. Aku akan duduk di depan rumahnya semalaman kalau perlu. Aku akan bolos sekolah. Cepat atau lambat anak itu pasti pulang, dan kalau itu terjadi, ia harus bicara denganku.

Otakku begitu sibuk memikirkan perjalanan yang selama ini begitu takut kulakukan hingga rasanya hanya butuh beberapa detik saja untuk sampai ke sana. Tahu-tahu saja hutan sudah mulai menipis, dan aku tahu sebentar lagi aku akan bisa melihat rumah-rumah kecil pertama di reservasi.

Berjalan menjauh, di sisi kiri jalan, tampak cowok jangkung bertopi bisbol.

Napasku sempat tercekat sesaat di tenggorokkan, berharap keberuntungan memihakku sekali itu, dan aku tanpa sengaja bertemu Jacob tanpa perlu bersusah-payah. Tapi pemuda itu badannya terlalu lebar, dan rambut di bawah topinya pendek. Bahkan dari belakang pun aku yakin itu Quil, meski ia tampak lebih besar daripada waktu aku terakhir kali melihatnya. Ada apa dengan pemuda-pemuda Quileute ini? Apakah mereka dicekoki hormon pertumbuhan hasil eksperimen?

Aku meminggirkan trukku ke sisi jalan yang berlawanan arah dan berhenti di sebelahnya. Quil mendongak saat mendengar raungan mesin trukku mendekat.

Ekspresi Quil lebih membuatku takut daripada terkejut. Wajahnya muram, suntuk, dan dahinya berlipat-lipat khawatir.

“Oh, hai, Bella,” ia menyapaku muram.

“Hai, Quil… kau baik-baik saja?”

Quil menatapku sedih. “Baik.

“Mungkin aku bisa mengantarmu ke suatu tempat?” aku menawarkan.

“Tentu kurasa,” gumamnya. Ia berjalan tersaruksaruk mengitari bagian depan truk dan membuka pintu penumpang lalu naik.

“Ke mana.”

“Rumahku di sisi utara, di belakang toko,” katanya.

“Kau sudah bertemu Jacob hari ini?” Pertanyaan itu terlontar dari mulutku bahkan sebelum Quil selesai bicara.

Kutatap Quil penuh semangat, menunggu jawabannya. Tapi Quil hanya memandang ke luar kaca depan beberapa saat sebelum menjawab. “Dari jauh,” jawab Quil akhirnya.

“Dari jauh?” ulangku.

“Aku berusaha mengikuti mereka—dia bersama Embry.” Suara Quil rendah, sulit didengar di selasela suara mesin. Aku mencondongkan tubuh lebih dekat. “Aku tahu mereka melihatku. Tapi mereka malah berbelok dan menghilang di balik pepohonan. Kurasa mereka tidak sendirian— kurasa Sam dan anggota gengnya ada bersama mereka.

“Aku sudah satu jam berkeliaran di hutan, memanggil-manggil mereka. Aku baru saja keluar ke jalan lagi waktu kau datang.”

“Jadi Sam berhasil mendapatkannya.” Kata-kata itu tidak begitu jelas terdengar—gigiku terkatup rapat.

Quil memandangiku. “Jadi kau tahu soal itu?”

Aku mengangguk. “Jake pernah bercerita padaku… sebelum ini.”

“Sebelum ini,” ulang Quil, dan mendesah.

“Jadi Jacob sekarang sama parahnya dengan yang lain-lain?”

“Tidak pernah meninggalkan Sam sedetik pun.” Quil membuang muka dan meludah dari jendela yang terbuka.

“Dan sebelum itu—apakah dia menghindari semua orang? Tingkahnya aneh?”

Suara Quil rendah dan kasar. “Tidak selama yang lain-lain. Mungkin hanya satu hari. Lalu Sam menemuinya.”

“Menurutmu, apa penyebabnya? Narkoba atau sebangsanya?”

“Aku tak bisa membayangkan Jacob atau Embry terlibat hal-hal kayak begitu… tapi aku tahu apa? Apa lagi kalau bukan itu? Dan mengapa orang-orang tua tidak khawatir?” Quil menggelenggelengkan kepala, dan rasa takut kini terpancar dari matanya. “Jacob tak ingin menjadi bagian… sekte ini. Aku tidak mengerti apa yang bisa mengubahnya.” Quil memandangiku, wajahnya ketakutan. “Aku tidak ingin menjadi yang berikutnya.”

Mataku membayangkan ketakutan yang sama. Ini kedua kalinya aku mendengarnya digambarkan sebagai sekte. Tubuhku bergidik. “Orangtuamu menanggapi ketakutanmu?”

Quil meringis. “Yang benar saja. Kakekku duduk di dewan suku, sama seperti ayah Jacob. Sam Uley itu pemuda terbaik yang pernah ada di sini, begitu menurut kakekku.”

Kami berpandangan beberapa saat. Kami sudah sampai di La Push sekarang, dan trukku nyaris merangkak di jalan yang lengang. Tampak olehku satu-satunya toko di desa itu, tak jauh di depan.

“Aku turun saja sekarang.” kata Quil. “Rumahku di sana.” Ia menuding rumah petak kayu di belakang toko. Kutepikan trukku, dan ia melompat turun.

“Aku akan menunggu Jacob,” kataku kaku. Semoga beruntung.” Quil membanting pintu dan tersaruk-saruk menyusuri jalanan, kepala tertunduk, bahu terkulai.

Wajah Quil menghantuiku saat aku memutar truk, kembali ke rumah keluarga Black. Ia takut menjadi yang berikutnya. Apa sebenarnya yang terjadi di sini?

Aku berhenti di depan rumah Jacob, mematikan mesin, dan menurunkan kaca jendela. Hari panas terik, angin tidak bertiup. Kurumpangkan kedua kakiku di dasbor, siap menunggu.

Sebuah gerakan berkelebat di sudut mataku— aku menoleh dan melihat Billy memandangiku dari balik jendela depan dengan mimik bingung. Aku melambai dan menyunggingkan senyum kaku. tapi tetap di tempatku.

Mata Billy menyipit; ia membiarkan tirai terjatuh menutupi kaca jendela.

Aku siap menunggu selama mungkin, tapi aku berharap ada yang bisa kulakukan. Kukeluarkan bolpoin dari dasar ransel, serta selembar kertas ulangan lama. Aku mulai mencoret-coret bagian belakang kertas itu.

Aku baru sempat menggambar sebaris bentuk belah ketupat waktu mendadak ada yang menggedor pintu trukku.

Aku terlonjak, mendongak, mengira akan melihat Billy.

“Sedang apa kau di sini, Bella?” geram Jacob.

Kupandangi dia, terperangah takjub.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.