Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku meneleponnya Selasa, tapi tidak ada yang menjawab. Apakah saluran teleponnya rusak lagi? Atau Billy sekarang memasang caller ID?

Hari Rabu aku menelepon setiap setengah jam sekali sampai jam sebelas malam, putus asa ingin mendengar kehangatan suara Jacob.

Hari Kamis aku duduk di dalam truk di depan rumah—dengan kedua pintu terkunci rapat—kunci truk di tangan, selama satu jam penuh. Aku berdebat dengan diriku sendiri, berusaha membenarkan keinginan untuk pergi sebentar ke La Push, tapi tak sanggup melakukannya.

Aku tahu Laurent pasti sudah kembali ke Victoria sekarang. Kalau aku pergi ke La Push, bisa-bisa aku menuntun salah seorang dari mereka ke sana. Bagaimana kalau mereka menangkapku ketika Jake di dekatku? Meski sangat menyakitkan bagiku, aku tahu lebih baik bagi Jacob bila ia menghindariku. Lebih aman untuknya.

Sudah cukup buruk aku tidak bisa menemukan jalan untuk mengamankan Charlie. Kemungkinan besar mereka akan datang mencariku pada malam hari, dan alasan apa yang bisa kuutarakan untuk membuat Charlie keluar dari rumah? Bisa saja aku menceritakan hal sebenarmu, capi ini akan membuatnya mengurungku di ruangan tertutup rapat. Aku rela-rela saja menjalani semua itu— menerima dengan tangan terbuka, malah—bila itu bisa membuat Charlie aman. Tapi Victoria tetap akan datang ke rumah Charlie lebih dulu, mencariku. Mungkin, bila ia menemukan aku di sini, itu sudah cukup baginya. Mungkin ia akan langsung pergi setelah selesai berurusan denganku.

Jadi aku tidak bisa lari. Kalaupun bisa, mau pergi ke mana? Ke Renee? Aku bergidik membayangkan diriku membawa bayangan mematikan itu ke dunia ibuku yang aman dan bermandikan matahari. Aku tidak akan pernah membahayakan nyawanya seperti itu.

Kekhawatiran itu meninggalkan lubang besar di perutku. Tak lama lagi aku akan punya dua lubang yang sama persis.

Malam itu Charlie kembali berbuat baik dan meneleponkan Harry untukku, mencari tahu apakah keluarga Black sedang ke luar kota. Harry melaporkan bahwa Billy menghadiri rapat dewan Rabu malam kemarin, dan tidak menyebut-nyebut bakal pergi ke mana pun. Charlie mewanti-wantiku untuk tidak mengganggu mereka—Jacob pasti akan menelepon kalau sudah punya waktu.

Jumat siang, saat mengendarai truk sepulang sekolah, pikiran itu sekonyong-konyong menghantamku.

Aku tidak sedang memerhatikan jalan yang sudah sangat kukenal, membiarkan suara mesin menumpulkan otak dan membungkam kekhawatiranku, saat alam bawah sadarku menyampaikan keputusan yang selama ini pasti disimpulkan dalam pikiranku tanpa aku sendiri mengetahuinya.

Begitu hal tersebut terpikirkan olehku, aku merasa diriku benar-benar tolol karena tidak sejak dulu teringat hal itu. M’ mang sih, aku sedang banyak pikiran—vampir yang terobsesi ingin membalas dendam, serigala mutan raksasa, lubang yang masih basah di pusat dada—tapi setelah aku menjajarkan semua bukti yang ada, sungguh memalukan bahwa kesimpulan ini begitu jelas.

Jacob sengaja menghindariku. Kata Charlie, ia tampak aneh, kesal… jawaban-jawaban Billy yang samar dan tidak membantu.

Astaga, aku tahu persis apa yang terjadi pada Jacob.

Pasti gara-gara Sam Uley. Bahkan mimpi burukku pun berusaha memberi tahuku. Sam berhasil mendapatkan Jacob. Apa pun yang terjadi pada cowok-cowok lain di reservasi telah terjadi juga pada temanku dan mereka mencurinya dariku. Ia diisap masuk ke sekte Sam.

Bukan karena Jacob tak mau lagi berteman denganku, aku menyadari dengan perasaan terharu yang tiba-tiba menyerbu.

Kubiarkan trukku berhenti dengan mesin menyala di depan rumahku. Apa yang sebaiknya kulakukan? Aku menimbang-nimbang bahaya dari setiap pilihan yang akan kuambil.

Kalau aku pergi mencari Jacob, bisa-bisa aku menuntun Victoria atau Laurent ke rumahnya.

Kalau aku tidak pergi menemuinya, Sam akan menariknya lebih dalam lagi ke gengnya yang mengerikan itu. Mungkin akan terlambat kalau aku tidak segera bertindak.

Seminggu telah berlalu, dan belum ada vampir yang datang mencariku. Seminggu sudah lebih dari cukup bagi mereka untuk kembali, jadi aku pasti bukan prioritas. Besar kemungkinan, seperti yang sudah kuputuskan sebelumnya, mereka akan datang mencariku pada malam hari. Peluang mereka mengikutiku ke La Push jauh lebih kecil daripada peluang kehilangan Jacob karena terpengaruh Sam.

Bahaya menyusuri jalanan hutan yang terpencil sepadan dengan tujuanku. Ini bukan kunjungan iseng untuk mengetahui apa “yang terjadi. Aku sudah tahu apa yang terjadi. Ini misi penyelamatan. Aku akan berbicara dengan Jacob— menculiknya kalau perlu. Aku pernah melihat tayangan di PBS tentang memprogram ulang orang-orang yang sudah dicuci otak. Pasti ada cara untuk memulihkannya.

Kuputuskan untuk menelepon Charlie lebih dulu. Mungkin apa pun yang sedang terjadi di La Push saat ini memerlukan keterlibatan polisi. Aku menghambur masuk, tidak sabar lagi ingin segera berangkat.

Charlie sendiri yang mengangkat telepon.

“Kepala Polisi Swan.”

“Dad, ini Bella.”

“Ada apa?”

Kali ini aku tidak bisa membantah asumsinya bahwa kalau aku menelepon pasti ada yang tidak beres. Suaraku gemetar. “Aku mengkhawatirkan Jacob.”

“Kenapa?” tanya Charlie, terkejut oleh topik yang tidak terduga-duga itu.

“Kupikir… kupikir sesuatu yang aneh sedang terjadi di reservasi. Jacob pernah cerita tentang hal-hal aneh yang terjadi pada cowok-cowok lain sepantarnya. Sekarang, dia bertingkah sama seperti mereka dan aku takut.”

“Hal-hal seperti apa?” Charlie berbicara dengan nada profesional khas polisi. Itu bagus; berarti ia menanggapi keluhanku dengan serius.

“Mula-mula dia ketakutan, lalu dia menghindariku, dan sekarang… aku takut dia sudah bergabung dengan geng aneh di sana, gengnya Sam. Gengnya Sam Uley.”

“Sam Uley?” ulang Charlie, terkejut lagi

“Ya.”

Suara Charlie terdengar lebih rileks waktu ia menjawab. “Kurasa kau keliru, Bells. Sam Uley itu anak baik. Well, sekarang dia sudah dewasa. Pemuda baik. Coba saja kaudengar komentar Billy mengenai dia. Sam melakukan hal-hal positif dengan para pemuda di reservasi. Dia itu yang—” Charlie tak melanjutkan kata-katanya, dan menurutku ia tadi pasti hendak mengatakan sesuatu tentang malam saat aku tersesat di hutan. Aku buru-buru meneruskan kata-kataku.

“Dad, bukan begitu. Jacob takut padanya.”

“Kau sudah bicara pada Billy tentang hal ini?” Charlie berusaha menenangkanku sekarang. Aku langsung kehilangan perhatiannya begitu menyebut nama Sam tadi.

“Billy tidak merasa khawatir.”

“Well, Bella, kalau begitu aku yakin semua beres. Jacob kan, masih anak-anak; dia mungkin cuma berulah. Aku yakin dia baik-baik saja. Bagaimanapun, dia toh tidak bisa bersamamu terus setiap saat.”

“Ini tidak ada kaitannya denganku,” aku bersikeras, tapi percuma saja, aku sudah kalah.

“Menurutku, kau tidak perlu khawatir soal ini. Biarkan Billy yang mengurus Jacob.”

“Charlie…” Suaraku mulai merengek.

“Bells, urusanku banyak sekali sekarang. Dua turis hilang dari jalan setapak di luar danau sabit.” Suaranya terdengar gelisah. “Masalah dengan serigala ini jadi semakin tak terkendali.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.