Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Charlie bersedekap. “Kan sudah kubilang untuk menjauhi hutan.”

“Yeah, aku tahu. Jangan khawatir, aku tidak akan melakukannya lagi,” Aku bergidik.

Sepertinya baru saat itulah Charlie benar-benar memerhatikan keadaanku. Aku ingat tadi aku sempat meringkuk di tanah hutan; jadi pastilah keadaanku benar-benar berantakan.

“Apa yang terjadi?” desak Charlie.

Lagi, aku memutuskan mengatakan hal yang sebenarnya, setidaknya sebagian, adalah pilihan terbaik. Aku terlalu terguncang untuk berpurapura aku tadi menikmati hari yang tenang dengan flora dan fauna hutan.

“Aku melihat beruang itu.” Aku berusaha mengatakannya dengan tenang, tapi suaraku tinggi dan gemetar. “Ternyata bukan beruang— tapi sejenis serigala. Dan jumlahnya ada lima. Ada yang berbulu hitam besar, abu-abu, cokelat kemerahan…”

Mata Charlie membelalak ngeri. Ia bergegas menghampiriku dan menyambar bagian atas lenganku.

“Kau tidak apa-apa?”

Kepalaku mengangguk-angguk lemah.

“Ceritakan padaku apa yang terjadi.”

“Mereka tidak menggubrisku. Tapi setelah mereka pergi, aku lari dan terjatuh-jatuh.”

Charlie melepaskan bahuku dan memelukku erat-erat. Selama beberapa saat ia tidak mengatakan apa-apa.

“Serigala,” gumamnya.

“Apa?”

“Menurut polisi hutan, jejak-jejaknya bukan jejak beruang— tapi serigala tidak sebesar itu…” “Mereka ini raksasa” “Berapa banyak katamu tadi?” “Lima.” Charlie menggeleng, keningnya berkerut cemas.

Akhirnya ia bicara dengan nada yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. “Tidak boleh hiking lagi.” “Pasti,” aku berjanji dengan patuh.

Charlie menelepon ke kantor untuk melaporkan apa yang kulihat. Aku berbohong sedikit saat mengatakan di mana persisnya aku melihat serigala-serigala itu—kubilang saja aku sedang menyusuri jalan setapak yang mengarah ke utara. Aku tak ingin ayahku tahu seberapa jauh aku telah masuk ke dalam hutan, melanggar larangannya, dan, yang lebih penting lagi, aku tidak mau orang lain berkeliaran di dekat tempat Laurent mungkin mencariku. Pikiran itu membuatku mual.

“Kau lapar?” tanya Charlie setelah menutup telepon.

Aku menggeleng, meskipun seharusnya perutku keroncongan. Aku belum makan seharian.

“Capek saja,” jawabku. Aku berbalik menuju tangga.

“Hei,” seru Charlie, suaranya mendadak berubah curiga lagi. “Bukankah kau tadi bilang Jacob pergi seharian?”

“Kata Billy begitu,” jawabku, bingung mendengar pertanyaannya.

Charlie mengamati ekspresiku sebentar, dan tampaknya puas dengan apa yang dilihatnya di sana.

“Hah.”

“Kenapa?” tuntutku. Kedengarannya Charlie seolah menuduhku telah berbohong padanya tadi pagi. Mengenai hal lain selain belajar dengan Jessica.

“Well, hanya saja waktu aku menjemput Harry tadi, aku melihat Jacob di depan toko yang ada di sana bersama teman-temannya. Aku melambai menyapanya, tapi dia… Well aku tak yakin dia melihatku. Sepertinya dia sedang berdebat dengan teman-temannya. Dia tampak aneh, seperti kesal mengenai sesuatu. Dan… berbeda. Seolah-olah kau bisa melihat anak itu bertumbuh! Setiap kali melihatnya, sepertinya dia semakin bertambah besar.”

“Kata Billy, Jake dan teman-temannya pergi ke Port Angeles untuk nonton film. Mungkin mereka sedang menunggu teman di sana.”

“Oh.” Charlie mengangguk dan berjalan ke dapur.

Aku berdiri di ruang depan, berpikir tentang Jacob yang berdebat dengan teman-temannya. Aku penasaran apakah ia mengonfrontir Embry rentang kedekatannya dengan Sam. Mungkin itulah sebabnya ia meninggalkanku hari ini—kalau itu berarti ia bisa menuntaskan masalahnya dengan Embry aku ikut senang.

Aku berhenti sebentar untuk memastikan pintu masih terkunci rapat sebelum masuk ke kamar. Tindakan konyol sebenarnya. Apa gunanya kunci bagi monster-monster yang kulihat siang tadi? Asumsiku, gagang pintu saja sudah cukup untuk menghalangi masuknya serigala, karena mereka tidak memiliki ibu jari untuk memegang. Dan kalau Laurent datang ke sini…

Atau… Victoria.

Aku berbaring di tempat tidurku, tapi tubuhku bergetar begini hebat hingga aku susah tidur. Aku meringkuk rapat-rapat di bawah selimut, dan menghadapi fakta-fakta mengerikan.

Tidak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada pencegahan yang bisa kuambil. Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Tidak ada orang yang bisa menolongku.

Aku sadar, dengan perut melilit mual, bahwa situasinya sekarang lebih buruk daripada itu. Karena semua fakta itu juga mengacu pada Charlie. Ayahku, tidur di kamar yang bersebelahan dengan kamarku, hanya terpisah sedikit saja dari inti sasaran yang terpusat padaku. Bau tubuhku akan menggiring mereka ke sini, tak peduli aku ada di sini atau tidak.

Tremor itu mengguncang-guncang tubuhku sampai gigi-gigiku gemeletukan.

Untuk menenangkan diri aku membayangkan hal yang tidak mungkin: aku membayangkan serigala-serigala besar itu berhasil menangkap Laurent di hutan dan membantai makhluk yang tidak bisa mati dan tidak bisa dihancurkan itu, seperti mereka memangsa habis manusia normal lainnya. Meski absurd, bayangan itu membuatku tenang. Kalau serigala-serigala itu berhasil menangkapnya, ia tidak bisa mengatakan pada Victoria bahwa aku sendirian di sini. Bila ia tidak kembali, mungkin Victoria mengira keluarga Cullen masih melindungiku. Seandainya kawanan serigala itu bisa memenangkan pertarungan…

Vampir-vampir baikku takkan pernah kembali; betapa melegakan membayangkan vampir jenis lain juga bisa menghilang.

Kupejamkan mataku rapat-rapat dan menunggu datangnya ketidaksadaran—hampir tidak sabar lagi menunggu mimpi burukku dimulai. Lebih baik bermimpi buruk daripada melihat seraut wajah tampan yang pucat tersenyum padaku sekarang dari balik kelopak mataku.

Dalam imajinasiku, mata Victoria hitam oleh dahaga, cemerlang oleh antisipasi, dan bibirnya menekuk, menampilkan gigi-giginya yang berkilau dalam kegembiraan. Rambut merahnya terang laksana api; berkibar-kibar kusut mengitari wajahnya yang liar.

Kata-kata Laurent tadi terngiang-ngiang dalam benakku. Kalau kau tahu apa yang dia rencanakan untukmu…

Aku menempelkan tinjuku kuat-kuat ke mulut agar tidak menjerit.

 

11. SEKTE

SETIAP kali aku membuka mata dan melihat cahaya matahari, menyadari aku telah selamat melewati satu malam lagi, merupakan kejutan bagiku. Setelah pulih dari keterkejutan, jantungku mulai berdetak kencang dan telapak tanganku berkeringat; aku baru bisa bernapas lega setelah turun dari tempat tidur dan memastikan Charlie juga selamat.

Kentara sekah ia khawatir—melihatku meloncat kaget setiap kah mendengar suara keras, atau wajahku tiba-tiba memucat tanpa alasan jelas. Dari pertanyaan-pertanyaan yang sesekali diajukannya, Charlie sepertinya menyalahkan ketidakhadiran Jacob sebagai penyebabnya.

Ketakutan yang selalu menghantui pikiranku biasanya mengalihkan perhatianku dari fakta bahwa satu minggu lagi telah berlalu, tapi Jacob masih belum meneleponku. Tapi kalau aku bisa berkonsentasi pada kehidupan normal—kalau hidupku bisa dibilang normal—hal ini membuatku gelisah.

Aku sangat kehilangan dia.

Rasanya sudah cukup parah ditinggal sendiri sebelum aku ketakutan setengah mati begini. Sekarang, lebih dari sebelumnya aku rindu tawa lepasnya yang riang dan cengirannya yang menular itu. Aku membutuhkan perasaan aman dan waras yang bisa kuperoleh dengan nongkrong di garasinya serta tangan hangatnya menggenggam jari-jariku yang dingin.

Aku separo berharap ia bakal meneleponku hari Senin. Misalnya ada kemajuan soal Embry, bukankah ia ingin melaporkannya? Aku ingin memastikan kecemasan terhadap temannyalah yang menyita seluruh waktunya, bukan karena ia tak mau lagi berteman denganku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.