Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Di dunia kami, mereka bisa dianggap keluarga bangsawan, kurasa. Carlisle pernah tinggal sebentar dengan mereka dulu, di Italia, sebelum kemudian menetap di Amerika—kau ingat ceritanya?”

“Tentu saja aku ingat.”

Aku tidak akan pernah lupa saat pertama kali aku ke rumah Edward, mansion putih besar jauh di pelosok hutan, di tepi sungai, atau kamar tempat Carlisle—yang bisa dianggap ayah Edward—menyimpan koleksi lukisan yang menggambarkan sejarah pribadinya. Lukisan yang paling meriah, paling berwarna-warni, sekaligus yang paling besar yang ada di sana, menggambarkan kehidupan Carlisle di Italia. Tentu saja aku ingat potret diri kwartet lelaki kalem, masing-masing berwajah memesona seperti malaikat serafin, berdiri di balkon paling tinggi, di tengah pusaran berbagai warna yang bercampur aduk. Walaupun lukisan itu sudah berabad-abad usianya, Carlisle—si malaikat pirang—tetap tak berubah. Dan aku ingat ketiga malaikat lain, kenalan Carlisle dari masa awal hidupnya. Edward tak pernah menyebut nama Volturi untuk trio rupawan itu, dua berambut hitam, satu berambut seputih salju. Ia menyebut mereka Aro, Caius, dan Marcus, malaikat malam penjaga seni…

“Intinya, kau tidak boleh membuat kesal keluarga Volturi,” sambung Edward, memutus lamunanku. “Kecuali kau memang ingin mati— atau apa sajalah istilahnya untuk kami.” Suaranya sangat tenang, sehingga terkesan ia nyaris bosan oleh kemungkinan itu.

Kemarahanku berubah menjadi kengerian. Kurengkuh wajahnya yang seperti marmer dan kuremas kuat-kuat.

“Kau jangan sekali-kali, jangan sekali-kali, berpikir seperti itu lagi!” sergahku. “Tak peduli apa pun yang terjadi padaku, kau tidak boleh mencelakakan dirimu sendiri!”

“Aku tidak akan pernah membahayakan dirimu lagi, jadi itu tidak perlu diperdebatkan lagi.”

“Membahayakan aku! Kusangka kita sudah sepakat semua ketidakberuntungan itu adalah salahku?” Amarahku menjadi-jadi. “Beraniberaninya kau berpikir begitu?” Pikiran bahwa Edward tak mau hidup lagi, bahkan walaupun aku sudah mati, terasa sangat menyakitkan.

“Apa yang akan kaulakukan, bila situasinya dibalik?”

“Itu lain.”

Tampaknya Edward tidak mengerti di mana letak perbedaannya. Ia berdecak.

“Bagaimana kalau sesuatu terjadi padamu?” Aku pucat memikirkan kemungkinan itu. “Kau mau aku menghabisi nyawaku sendiri?”

Secercah kepedihan menyaput garis-garis wajahnya yang sempurna.

“Kurasa aku bisa mengerti maksudmu… sedikit,” Edward mengakui. “Tapi apa yang bisa kulakukan tanpa kau?”

“Apa pun yang sudah kaulakukan selama ini sebelum aku datang dan memperumit keberadaanmu.”

Edward mendesah. “Kau membuatnya terdengar sangat mudah.”

Seharusnya memang begitu. Aku toh tidak semenarik itu.”

Edward sudah hendak membantah, tapi lalu mengurungkan niatnya. “Tidak perlu diperdebatkan,” ia mengingatkan aku. Mendadak, ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih formal, menggeserku ke samping sehingga kami tak lagi berdempetan.

“Charlie?” tebakku.

Edward tersenyum. Sejurus kemudian aku mendengar suara mobil polisi menderu memasuki halaman. Aku mengulurkan tangan, meraih tangan Edward dan menggenggamnya erat-erat. Hanya itu yang bisa ditolerir ayahku.

Charlie masuk sambil menenteng kardus pizza.

“Hai, Anak-anak.” Ia nyengir padaku. “Kupikir, sekali-sekali boleh juga kau dibebaskan dari tugas memasak dan mencuri piring di hari ulang tahunmu. Lapar?”

“Tentu. Trims, Dad.”

Charlie tak pernah mengomentari kondisi Edward yang kelihatannya tak punya selera makan. Ia sudah terbiasa melihat Edward melewatkan makan malam.

“Anda tidak keberatan saya mengajak Bella keluar malam ini, kan?” tanya Edward setelah Charlie dan aku selesai makan.

Kupandangi Charlie penuh harap. Siapa tahu ayahku memiliki konsep bahwa ulang tahun adalah acara keluarga, jadi aku harus tinggal di rumah—ini ulang tahun pertamaku bersamanya, ulang tahun pertama sejak ibuku, Renee, menikah lagi dan pindah ke Florida, jadi aku tidak tahu bagaimana ayahku menyikapinya.

“Boleh saja—malam ini Mariners main lawan Sox,” Charlie menjelaskan, dan harapanku langsung musnah. “Jadi aku tidak bisa menemani… Ini” Charlie meraup kamera yang ia belikan atas saran Renee (karena aku membutuhkan foto-foto untuk mengisi albumku) dan melemparnya ke arahku.

Seharusnya Dad tidak melemparkan kamera itu padaku— sejak dulu aku memiliki kelemahan dalam hal koordinasi. Kamera itu menyapu ujungujung jariku, dan terpental k lantai. Edward Edward menyambarnya sebelum benda itu jatuh membentur lantai linoleum.

“Gesit juga kau,” komentar Charlie. “Kalau malam ini ada acara seru di rumah keluarga Cullen, Bella, jangan lupa memotret. Kau tahu sendiri bagaimana ibumu—dia pasti sudah tak sabar ingin segera melihat foto-foto itu.”

“Ide bagus, Charlie,” kata Edward, menyerahkan kamera itu padaku.

Aku mengarahkan kamera itu pada Edward, dan menjepretnya. “Berfungsi dengan baik.”

“Bagus. Hei, kirim salam pada Alice, ya. Dia sudah lama tidak main ke sini.” Sudut-sudut mulut Charlie tertarik ke bawah.

“Baru juga tiga hari, Dad,” aku mengingatkan ayahku. Charlie tergila-gila pada Alice. Ia jadi dekat dengannya musim semi lalu ketika Alice membantuku melewati masa-masa pemulihan yang sulit; Charlie merasa sangat berterima kasih pada Alice karena menyelamatkannya dari keharusan memandikan anak perempuan yang sudah hampir dewasa. “Akan kusampaikan padanya.”

“Oke. Bersenang-senanglah kalian malam ini” Jelas, itu pengusiran secara halus, Charlie sudah beringsut ke ruang duduk dan pesawat televisi.

Edward tersenyum menang dan meraih tanganku, menarikku keluar dari dapur.

Sesampainya di trukku, Edward membukakan pintu penumpang untukku lagi, dan kali ini aku tidak membantah. Aku masih sulit menemukan belokan tersamar yang menuju rumahnya di kegelapan malam seperti ini.

Edward mengemudikan mobil ke arah utara melintasi Forks, kentara sekali jengkel dengan batas kecepatan yang bisa ditempuh Chevy-ku yang berasal dari zaman prasejarah ini. Mesinnya mengerang lebih keras daripada biasanya saat Edward menggenjotnya di atas kecepatan delapan puluh kilometer per jam.

“Pelan-pelan,” aku mengingatkan dia.

“Tahu apa yang bakal sangat kausukai? Audi coupe mungil yang bagus sekali. Suara mesinnya halus, tenaganya kuat…”

“Nggak ada yang salah dengan trukku. Dan omong-omong tentang hal tidak penting yang berharga mahal, kalau kau tahu apa yang bagus untukmu, kau tidak mengeluarkan uang untuk membeli hadiah ulang tahun.”

“Satu sen pun tidak”

“Bagus.”

“Bisakah kau membantuku?”

“Tergantung apa yang kauminta.”

Edward mendesah, wajahnya yang tampan tampak serius. “Bella, ulang tahun terakhir yang kami rayakan adalah saat Emmett berulang tahun di tahun 1935. Tolonglah santai sedikit, dan jangan terlalu menyulitkan malam ini. Mereka semua sangat bersemangat.”

Selalu agak mengagetkanku setiap kali Edward menyinggung hal-hal semacam itu. “Baiklah, aku akan bersikap manis.”

“Mungkin seharusnya aku mengingatkanmu…”

“Ya, please”

“Waktu kubilang mereka semua sangat bersemangat… maksudku mereka semua.”

“Semua?” Aku tersedak. “Lho, kukira Emmett dan Rosalie sedang di Afrika.” Semua orang di Forks mengira anak-anak keluarga Cullen yang sudah dewasa pindah ke luar kota untuk kuliah tahun ini ke Darmouth, tapi aku tahu yang sebenarnya.

“Emmett ingin datang.”

“Tapi… Rosalie?”

“Aku tahu. Bella. Jangan khawatir, dia akan bersikap sangat baik.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.