Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Beruang itu. Hanya saja, ternyata hewan itu bukan beruang. Namun tetap saja, pasti monster hitam raksasa inilah makhluk yang menggegerkan warga itu. Dari jauh orang akan mengira itu beruang. Hewan apa lagi yang badannya bisa sebesar dan sekekar itu?

Aku berharap akan beruntung dan bisa melihatnya dari jauh. Tapi yang terjadi malah hewan itu melangkah tanpa suara melintasi rerumputan, hanya tiga meter dari tempatku berdiri.

“Jangan bergerak sedikit pun,” suara Edward berbisik

Kupandangi makhluk mengerikan itu, pikiranku kacau saat aku berusaha menemukan nama hewan itu. Bentuknya jelas mirip anjing, begitu juga caranya bergerak. Aku hanya bisa memikirkan satu kemungkinan, terpaku dalam kengerian yang amat sangat. Namun tak pernah terbayangkan olehku serigala bisa sebesar itu.

Lagi-lagi hewan itu menggeram, dan aku bergidik ngeri mendengarnya.

Laurent mundur ke pinggir pepohonan, dan, meski membeku ketakutan, pikiranku dilanda kebingungan. Mengapa Laurent mundur? Memang serigala itu sangat besar, tapi makhluk itu tetap hanya binatang. Mengapa vampir takut pada binatang? Dan Laurent sangat ketakutan. Matanya membelalak ngeri, sama seperti aku.

Seperti menjawab pertanyaanku, tiba-tiba saja serigala raksasa itu tidak sendirian. Mengapit di sisi kiri dan kanannya, ada dua hewan raksasa lain melenggang diam memasuki padang rumput. Yang satu berbulu abu-abu gelap, satunya lagi cokelat, namun keduanya tidak setinggi serigala pertama. Serigala abu-abu muncul dari balik pepohonan hanya beberapa meter dariku, matanya terpaku pada Laurent.

Belum lagi aku sempat bereaksi, dua serigala lain menyusul, membentuk huruf V, seperti kawanan burung yang bermigrasi ke selatan. Itu berarti monster cokelat kemerahan yang merangsck menembus semak belukar berada cukup dekat denganku hingga aku bisa menyentuhnya.

Tanpa sengaja aku terkesiap dan melompat mundur – tindakan paling tolol yang bisa kulakukan. Lagi-lagi aku membeku, menunggu serigala-serigala itu berbalik menyerangku, mangsa yang lebih lemah. Sempat terlintas dalam benakku semoga Laurent segera beraksi dan melumat gerombolan serigala itu-itu mudah saja baginya. Kurasa di antara dua pilihan di depanku, di mangsa sekawanan serigala hampir bisa dibilang pilihan yang lebih buruk.

Serigala yang paling dekat denganku, yang berbulu cokelat kemerahan, memalingkan kepala sedikit begitu mendengarku terkesiap.

Mata serigala itu gelap, nyaris hitam. Hewan itu menatapku sepersekian detik, matanya yang gelap terkesan terlalu cerdas untuk hewan liar.

Sementara hewan itu memandangiku, mendadak aku teringat pada Jacob—lagi-lagi dengan perasaan bersyukur. Setidaknya aku datang ke sini sendirian, ke padang rumput negeri dongeng yang penuh monster-monster mengerikan ini. Setidaknya Jacob tidak akan ikut mati. Setidaknya aku tidak bertanggung jawab atas kematiannya.

Geraman rendah yang sekali lagi keluar dari moncong pemimpin gerombolan membuat serigala cokelat-merah itu memalingkan kepala secepat kilat, kembali kepada Laurent.

Laurent menatap gerombolan monster serigala itu dengan perasaan shock dan takut yang tak bisa ditutup-tutupi. Perasaan pertama bisa kupahami. Tapi aku terperangah waktu, tanpa aba-aba lebih dulu, ia berbalik dan menghilang di balik pepohonan.

Dia kabur.

Detik itu juga kawanan serigala itu langsung mengejarnya, berlari cepat melintasi padang rumput terbuka dengan langkah-langkah bertenaga, menggeram dan mengatup-ngatupkan moncong dengan keras dan nyaring. Kedua tanganku serta-merta terangkat ke atas, secara naluriah menutup telinga. Suara itu menghilang dengan sangat cepat begitu gerombolan serigala lenyap di balik hutan.

Kemudian aku sendirian lagi.

Lututku terkulai, tak sanggup menopang berat tubuhku, dan aku terjatuh dengan posisi tangan bertumpu di tanah, isak tangis memenuhi kerongkonganku.

Aku tahu aku harus segera pergi, sekarang juga. Berapa lama serigala-serigala itu akan mengejar Laurent sebelum berbalik dan mengejarku? Atau akankah Laurent melawan mereka? Mungkinkah ia yang nanti akan kembali mencariku?

Awalnya aku tak bisa bergerak; lengan dan kakiku gemetaran, dan aku tak tahu bagaimana bisa kembali berdiri.

Pikiranku tak bisa menghalau ketakutan, kengerian, ataupun kebingungan yang kurasakan. Aku tidak memahami apa yang baru saja kusaksikan.

Vampir tak seharusnya kabur dari sekawanan anjing raksasa seperti itu. Apa gunanya gigi yang tajam dan kulit mereka yang sekeras granit?

Dan serigala-serigala seharusnya tidak mengganggu Laurent. Walaupun ukuran mereka yang luar biasa itu mengajar mereka untuk tidak takut pada apa pun, tetap saja tak masuk akal mengapa mereka mengejarnya. Aku ragu kulit Laurent yang sedingin marmer memancarkan bau yang menyerupai makanan. Mengapa mereka malah mengabaikan makhluk berdarah panas dan lemah seperti aku dan justru mengejar Laurent?

Aku tidak mengerti sama sekali.

Angin dingin menyapu padang rumput, mengayunkan rumput-rumput seolah ada sesuatu yang menggerakkannya.

Aku cepat-cepat berdiri, mundur walaupun angin menerpaku tanpa mencederai. Tersandungsandung panik, aku berbalik dan langsung lari menerobos pepohonan.

Beberapa jam berikutnya sungguh mengerikan. Butuh waktu tiga kali lebih lama untuk meloloskan diri dari pepohonan daripada untuk mencapai padang. Awalnya aku tidak memerhatikan ke mana aku melangkah, pikiranku hanya terfokus pada melarikan diri. Setelah cukup tenang untuk ingat bahwa aku punya kompas, aku sudah jauh di pelosok hutan yang asing dan menakutkan. Kedua tanganku gemetar sangat hebat sehingga aku harus meletakkan kompas di tanah berlumpur untuk bisa membacanya. Beberapa menit sekali aku harus berhenti untuk meletakkan kompas dan mengecek bahwa aku masih berjalan ke barat laut, mendengarkan—bila suara-suara itu tidak tersembunyi di balik langkah-langkah kakiku yang panik—bisikan pelan berbagai hal yang tak kelihatan di sela-sela dedaunan.

Pekikan burung jaybird membuatku terlompat ke belakang dan jatuh menimpa pohon cemara muda berdaun lebat. Akibatnya lenganku tergoresgores dan rambutku terbelit daun-daun cemara. Tupai yang mendadak berkelebat lewat membuatku menjerit begitu keras hingga menyakitkan bahkan telingaku sendiri.

Akhirnya pohon-pohon mulai renggang. Aku muncul dijalan kosong kira-kira satu setengah kilometer dari tempatku meninggalkan truk tadi. Meskipun didera kelelahan yang amat sangat, aku berlari-lari kecil menyusuri jalan sampai menemukan trukku. Sesampai di dalamnya tangisku kembali meledak. Kukunci pintu truk rapat-rapat sebelum merogoh kantong untuk mengeluarkan kuncinya. Raungan suara mesin terasa melegakan dan waras. Suara itu membantuku menahan air mata sementara aku memacu trukku secepatnya menuju jalan utama.

Sesampainya di rumah, kondisiku sudah lebih tenang, tapi masih kacau-balau. Mobil polisi Charlie sudah terparkir di halaman—aku bahkan tidak menyadari hari sudah malam. Langit sudah menggelap.

“Bella?” seru Charlie begitu aku membanting pintu depan dan cepat-cepat memutar kunci.

“Yeah, ini aku.” Suaraku lemah.

“Dari mana saja kau?” tanyanya menggelegar, muncul dari ambang pintu dapur dengan wajah garang.

Aku ragu-ragu. Ayahku mungkin sudah menelepon keluarga Stanley. Sebaiknya aku menceritakan hal yang sebenarnya saja.

“Aku pergi hiking,” aku mengaku.

Mata Charlie kaku. “Mengapa tidak jadi pergi ke rumah Jessica?”

“Aku sedang malas belajar Kalkulus hari ini.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.