Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Hmmm,” kata Laurent lagi. “Bau rumahnya seperti sudah lama tidak ditinggali…”

“Kau harus berbohong lebih baik lagi, Bella,” desak suara itu.

Aku mencoba. “Aku harus memberi tahu Carlisle kalau kau mampir. Dia pasti menyesal tidak sempat menemuimu.” Aku berpura-pura berfikir sebentar. “Tapi mungkin aku tidak perlu menceritakannya pada… Edward, kurasa–“ aku nyaris tak mampu menyebut namanya, dan itu membuat ekspresiku aneh, mementahkan gertakanku sendiri “– karena dia sangat pemarah.. Well, aku yakin kau masih ingat. Dia masih sensitif kalau mengingat kejadian dengan James waktu itu Aku memutar bola mata dan melambaikan tangan dengan lagak cuek, seolah-olah itu semua sejarah lama, tapi ada secercah nada histeris dalam suaraku. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah Laurent bakal mengenalinya.

“Benarkah begitu?” Laurent menanggapi dengan senang… sekaligus skeptis.

Aku menjawab singkat, agar suaraku tidak menunjukkan kepanikanku. “Mm-hmm.”

Laurent melangkah ke samping dengan sikap biasa-biasa saja, memandang berkeliling padang rumput kecil itu. Kusadari langkah itu membawanya semakin dekat denganku. Di kepalaku suara itu merespons dengan geraman rendah.

“Bagaimana keadaan di Denali? Kata Carlisle, kau tinggal bersama Tanya?” suaraku melengking kelewat tinggi.

Pertanyaan itu membuatnya diam sebentar. “Aku sangat menyukai Tanya,” ia merenung. “Apalagi saudara perempuannya Irina… aku tidak pernah menetap terlalu lama di satu tempat sebelumnya, dan aku menikmati keuntungan dan hal-hal baru yang bisa kurasakan. Tapi larangannya sulit… Heran juga aku, mereka bisa bertahan begitu lama.” Ia tersenyum padaku seperti mengajak berkomplot. “Kadang-kadang aku melanggarnya.”

Aku tak sanggup menelan ludah. Kakiku mulai bergerak mundur, tap, langsung membeku saat matanya yang merah berkelebat turun dan menangkap gerakan itu.

“Oh,” kataku dengan suara lemah. “Jasper juga punya masalah dengan itu.”

“Jangan bergerak,” suara itu berbisik. Aku berusaha melakukan apa yang ia perintahkan. Sulit, tapi; insting untuk lari nyaris tak bisa dikendalikan.

“Benarkah?” Laurent tampak tertarik. “Itukah sebabnya mereka pergi?”

“Bukan,” jawabku jujur. “Jasper lebih berhatihati di rumah.”

“Benar,” Laurent sependapat. “Begitu juga aku.”

Satu langkah maju yang diambilnya jelas disengaja.

“Apakah Victoria pernah menemukanmu?” tanyaku, napasku tersengal, sangat ingin mengalihkan perhatiannya. Itu pertanyaan pertama yang muncul di benakku, dan aku langsung menyesalinya begitu kata-kata itu terlontar dari mulutku. Victoria—yang memburuku bersama James, kemudian menghilang—bukanlah seseorang yang ingin kuingat pada saat-saat genting seperti ini.

Tapi pertanyaan itu menghentikannya.

“Ya,” jawab Laurent, ragu-ragu melangkah. “Sebenarnya kedatanganku ke sini adalah untuk membantunya.” Ia mengernyit. “Dia tidak akan senang kalau tahu hal ini.”

“Tahu apa?” tanyaku bersemangat, mengundangnya untuk terus bicara. Laurent memandang garang ke arah pepohonan, jauh dariku. Aku memanfaatkan kelengahannya itu dengan mundur satu langkah.

Laurent kembali memandangku dan tersenyum—ekspresinya membuatnya terlihat seperti malaikat berambut hitam.

“Kalau dia tahu aku membunuhmu,” jawabnya sambil mendengkur merayu.

Aku terhuyung-huyung mundur. Geraman panik di kepalaku membuatnya semakin sulit didengar.

“Dia ingin melakukannya sendiri,” Laurent melanjutkan senang. “Dia agak… kesal denganmu. Bella.”

“Aku?” pekikku.

Laurent menggeleng dan terkekeh. “Aku tahu, menurutku sepertinya itu juga agak sedikit bodoh. Tapi James pasangannya, dan Edward-mu membunuhnya.”

Bahkan di sini, di ambang maut, namanya masih merobek lukaku yang masih basah bagaikan pisau bergerigi tajam.

Laurent tidak menyadari reaksiku. “Menurutnya lebih tepat membunuhmu daripada membunuh Edward—itu baru adil, pasangan untuk pasangan. Dia memintaku memetakan arah untuknya, katakanlah begitu. Tak kukira kau begitu mudah ditemukan. Jadi mungkin rencana Victoria tidak sempurna—ternyata kau bukanlah sasaran balas dendam seperti yang dia bayangkan, karena kau pasti tidak berarti banyak bagi Edward bila dia meninggalkanmu sendiri di sini tanpa perlindungan.”

Pukulan lain, sayatan lain ke dadaku. Laurent bergerak sedikit, dan aku terseok mundur selangkah.

Kening Laurent berkerut. “Kurasa dia bakal marah, bagaimanapun juga.”

“Kalau begitu mengapa tidak kautunggu saja dia?” bujukku dengan suara tercekik.

Seringaian licik membelah wajahnya. “Well, kau bertemu denganku di saat yang tidak tepat, Bella. Kedatanganku ke sini bukan untuk menjalankan misi Victoria—aku sedang berburu. Aku sangat haus, dan baumu… sungguh menerbitkan air liur.”

Laurent menatapku dengan sikap setuju, seolaholah perkataan itu dimaksudkan sebagai pujian.

“Ancam dia,” delusi indah itu memerintahkan, suaranya terdistorsi oleh kengerian.

“Dia pasti tahu kau yang melakukannya,” bisikku, mematuhi perintah suara itu. “Kau tidak akan bisa lolos.”

“Mengapa tidak?” Senyum Laurent melebar. Ia memandang ke sekeliling padang terbuka kecil yang dikitari pepohonan itu. “Baumu akan tersapu hujan berikutnya. Tak ada yang akan menemukan mayatmu—kau hanya akan dinyatakan hilang, seperti banyak, banyak sekali manusia lain. Tidak ada alasan bagi Edward untuk mengira itu perbuatanku, kalau dia cukup peduli untuk menyelidiki. Yakinlah, tidak ada masalah pribadi dalam hal ini, Bella. Hanya karena aku haus.”

“Memohonlah,” halusinasiku memohon.

“Please?” pintaku.

Laurent menggeleng, wajahnya ramah, “Anggap saja begini, Bella. Kau sangat beruntung karena akulah yang menemukanmu.”

“Benarkah begitu?” tanyaku, mencuri kesempatan untuk mundur satu langkah lagi.

Laurent mengikuti, gesit dan anggun.

“Ya,” ia meyakinkanku. “Aku akan sangat cepat. Kau tidak akan merasakan apa-apa, aku janji. Oh, aku akan berbohong pada Victoria mengenainya nanti, tentu saja, hanya untuk menenangkan hatinya. Tapi kalau kau tahu apa yang dia rencanakan untukmu, Bella…” Laurent menggeleng dengan gerak lamban, seakan-akan nyaris jijik. “Berani sumpah, kau pasti akan berterima kasih padaku untuk ini.”

Kutatap ia dengan ngeri.

Laurent mengendusi angin yang menerbangkan helai-helai rambutku ke arahnya. “Menerbitkan air liur,” ia mengulangi kata-katanya, menghirup dalam-dalam.

Tubuhku mengejang, bersiap lari, mataku menyipit saat aku mengkeret ngeri,dan raungan marah Edward bergema di kejauhan, di bagian belakang kepalaku. Namanya menembus semua dinding yang kubangun untuk menahannya. Edward, Edward, Edward. Aku akan mati. Tidak apa-apa bila aku memikirkan dia sekarang. Edward, aku cinta padamu.

Melalui mataku yang menyapit, kulihat Laurent berhenti mengendus udara dan memalingkan kepala secepat kilat ke kiri. Aku tak berani mengalihkan pandanganku darinya, mengikuti matanya meski ia tak perlu mengalihkan perhatian ataupun trik lain untuk mengalahkanku. Aku terlalu takjub untuk merasa lega ketika ia pelanpelan mulai mundur menjauhiku.

“Aku tak percaya,” ucapnya, suaranya begitu pelan hingga aku nyaris tidak mendengarnya.

Barulah saat itu aku menoleh. Mataku menyapu padang rumput, mencari interupsi yang memperpanjang hidupku.

Awalnya aku tidak melihat apa-apa, dan mataku secepat kilat kembali ke Laurent. Ia mundur lebih cepat lagi sekarang, matanya menatap tajam ke dalam hutan.

Lalu aku melihatnya; sesosok makhluk hitam besar muncul dari sela-sela pepohonan, tenang seperti bayangan, dan berjalan mantap menghampiri si vampir. Tubuhnya besar sekali— setinggi kuda, tapi lebih gemuk, jauh lebih berotot. Moncongnya yang panjang meringis, memamerkan sederet taring setajam belati. Geraman liar meluncur dari sela-sela giginya, menggelegar melintasi ruang terbuka seperti suara petir menyambar.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.