Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Ini tempat yang sama, itu aku yakin benar. Belum pernah aku melihat tempat terbuka lain yang begitu simetris. Bentuknya bulat sempurna, seolah-olah ada orang yang dengan sengaja membuat lingkaran sempurna, mencabuti pohonpohon tanpa meninggalkan jejak sedikit pun di rerumputan yang melambai-lambai. Ke arah timur sayup-sayup aku mendengar suara mata air menggelegak.

Tempat ini tidak terlalu memesona tanpa cahaya matahari, namun tetap sangat indah dan tenang. Sekarang bukan musimnya bunga-bunga liar; permukaannya tertutup rumput tebal yang mengayun tertiup angin sepoi-sepoi, bagaikan riak air di permukaan danau.

Ini tempat yang sama… tapi aku tidak menemukan yang kucari-cari di sini.

Kekecewaan datang nyaris seketika seperti saat kesadaran itu datang. Aku terhenyak ke tanah, berlutut di pinggir padang terbuka, mulai terengahengah.

Apa gunanya pergi lebih jauh lagi? Tak ada yang tertinggal di sini. Tidak lebih dari kenangan yang bisa kupanggil kembali setiap kali aku menginginkannya, asal aku rela menanggung kepedihan yang menyertainya—kepedihan yang kurasakan sekarang, yang membuatku menggigil. Tidak ada yang istimewa dengan tempat ini bila dia tak ada. Aku tak yakin benar apa yang kuharap akan kurasakan di sini, tapi padang rumput ini hampa oleh atmosfer, hampa oleh segalanya, sama seperti tempat-tempat lain. Sama seperti mimpi burukku. Kepalaku berputar-putar, pusing sekal.

Setidaknya aku datang sendirian. Aku merasakan serbuan perasaan syukur saat menyadari hal itu. Kalau aku menemukan padang rumput ini bersama Jacob… Well, aku tak mungkin bisa menyamarkan lubang tak berdasar tempatku jatuh sekarang. Bagaimana aku bisa menjelaskan keadaanku yang hancur berkepingkeping, kondisiku yang meringkuk seperti bola untuk menjaga agar lubang kosong itu tidak mencabik-cabik tubuhku? jauh lebih baik bila tidak ada yang melihatku.

Dan aku juga tak perlu menjelaskan pada siapa pun mengapa aku begitu tergesa-gesa meninggalkan tempat ini. Jacob pasti akan berasumsi, setelah begitu bersusah-payah melacak keberadaan tempat ini, bahwa aku ingin menghabiskan waktu lebih dari hanya beberapa detik di sini. Tapi sekarang pun aku sudah berusaha mendapatkan kekuatan untuk bisa berdiri lagi. memaksa diriku bangkit supaya bisa pergi dari sini. Terlalu banyak kepedihan yang harus ditanggung di tempat kosong ini—kalau perlu aku bahkan tidak keberatan merangkak.

Untung saja aku sendirian!

Sendirian. Aku mengulangi kata itu dengan kepuasan muram sambil memaksa diriku bangkit meski hatiku sakit sekali. Tepat saat itu sesosok tubuh melangkah keluar dari sela-sela pepohonan di sebelah utara, kira-kira tiga puluh langkah jauhnya.

Berbagai macam emosi berkecamuk dalam diriku detik juga. Pertama adalah terkejut; aku berada jauh dari jalan setapak mana pun, dan tidak mengira akan ada orang lain di sini. Kemudian saat mataku terfokus pada sosok tak bergerak itu, melihat tubuhnya yang bergeming dan kulitnya yang pucat, serbuan harapan yang menyakitkan mengguncangku. Aku menekannya habis-habisan, berjuang melawan sayatan pedih penderitaan saat mataku menjalar ke wajah di bawah rambut yang hitam, bukan wajah yang ingin kulihat. Berikutnya muncul rasa takut; ini bukan wajah yang kutangisi, namun jaraknya cukup dekat hingga aku tahu cowok yang menghadap ke arahku itu bukan hiker yang tersesat.

Kemudian, akhirnya, aku mengenalinya.

“Laurent!” pekikku, kaget bercampur senang.

Respons yang tak masuk akal. Mungkin seharusnya aku berhenti pada perasaan takut.

Laurent adalah salah satu anggota kelompok James saat kami pertama kali bertemu. Ia tidak ikut dalam perburuan yang terjadi kemudian— perburuan di mana akulah mangsanya—tapi itu hanya karena ia takut; aku dilindungi kelompok lain yang lebih besar daripada kelompoknya. Akan lain ceritanya kalau tidak begitu—saat itu ia tidak menyesal tidak menjadikanku makanannya. Tentu saja ia pasti sudah berubah, karena ia pergi ke Alaska untuk tinggal bersama kelompok beradab lain, keluarga lain yang juga menolak minum darah manusia demi alasan etis. Keluarga lain seperti… tapi aku tidak membiarkan diriku memikirkan nama itu.

Ya, takut pasti lebih masuk akal, tapi yang kurasakan hanya kepuasan berlebihan. Padang rumput ini kembali menjadi tempat magis. Magis yang lebih gelap daripada yang kuharapkan, jelas, namun tetap magis. Inilah koneksi yang kucari. Bukti, walau bagaimanapun kecilnya, bahwa—di suatu tempat di dunia yang sama dengan tempatku tinggal—dia ada.

Mustahil melihat bahwa Laurent masih persis sama seperti dulu. Kurasa sungguh tolol dan manusiawi sekali mengharapkan ada semacam perubahan dari tahun lalu. Tapi memang ada sesuatu… aku tak tahu persis apa itu.

“Bella?” tanya Laurent, tampak lebih terperangah dari pada yang kurasakan.

“Kau ingat.” Aku tersenyum. Sungguh konyol aku bisa begitu gembira karena ada vampir yang mengingat namaku.

Laurent nyengir. “Aku tidak mengira akan bertemu kau di sini.” Ia melenggang menghampiriku, ekspresinya takjub.

“Apa tidak terbalik? Aku memang tinggal di sini. Kusangka kau sudah pergi ke Alaska.”

Laurent berhenti kira-kira sepuluh langkah dariku, menelengkan kepala ke satu sisi. Wajahnya adalah wajah paling tampan yang kulihat untuk kurun waktu yang rasanya seperti berabad-abad. Kuamati garis-garis wajahnya dengan perasaan lega yang rakus. Ini dia orang kepada siapa aku tidak perlu berpura-pura—seseorang yang sudah tahu setiap hal yang tak pernah bisa kuungkapkan.

“Kau benar,” ia sependapat. “Aku memang pergi ke Alaska. Meski begitu, aku tidak mengira… Waktu aku mendapati rumah keluarga Cullen sudah kosong, kusangka mereka sudah pindah.”

“Oh.” Aku menggigit bibir ketika nama itu membuat lukaku yang masih basah kembali berdarah. Butuh sedetik untuk menenangkan diri. Laurent menunggu dengan sorot ingin tahu.

“Mereka memang sudah pindah,” akhirnya bisa juga aku memberi tahunya.

“Hmm,” gumam Laurent. “Kaget juga aku, mereka meninggalmu. Bukankah kau sejenis peliharaan mereka?”

Matanya sama sekali, tidak memancarkan sorot menghina.

Aku tersenyum kecut. “Semacam itulah.”

“Hmmm,” ujarnya, tampak berpikir lagi.

Saat itulah aku sadar mengapa ia tampak sama— terlalu sama. Setelah Carlisle memberi tahu kami Laurent tinggal dengan keluarga Tanya, aku mulai membayangkan dia, meski aku jarang memikirkannya, dengan mata keemasan yang sama seperti yang dimiliki… keluarga Cullen—aku meringis saat memaksa nama itu keluar. Mata yang dimiliki semua vampir baik.

Tanpa sengaja aku mundur selangkah, dan mata merahnya yang gelap dan penuh keingintahuan itu mengikuti gerakanku.

“Apakah mereka sering mengunjungimu?” tanyanya, nadanya masih biasa-biasa saja, tapi tubuhnya bergerak ke arahku.

“Berbohonglah,” suara beledu indah itu berbisik cemas dari benakku.

Aku terkejut mendengar suaranya, tapi seharusnya itu tidak membuatku kaget. Bukankah saat ini aku berada dalam bahaya yang tak terbayangkan? Sepeda motor tidak ada apa-apanya dibandingkan ini.

Aku melakukan apa yang diperintahkan suara itu.

“Sesekali.” Aku berusaha tetap terdengar ringan, rileks. “Waktu terasa lebih panjang bagiku, rasanya. Sementara mereka, kau tahu, mudah dialihkan perhatiannya…” Aku mulai melantur. Aku harus berusaha keras menutup mulut.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.