Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Jacob sudah sembuh, tapi tidak merasa perlu meneleponku. Ia pergi dengan teman-temannya. Sementara aku duduk di rumah, merindukannya setiap jam. Aku kesepian, cemas, bosan… tercabikcabik – dan sekarang kecewa karena menyadari perpisahan kami selama seminggu ini ternyata tidak memiliki dampak yang sama terhadapnya.

“Kau menginginkan sesuatu?” Billy bertanya sopan.

“Tidak, tidak juga.”

“Well, akan kusampaikan padanya kau menelepon,” Billy berjanji. “Bye, Bella.”

“Bye,” sahutku, tapi Billy sudah lebih dulu menelepon telepon.

Sesaat aku hanya bisa mematung dengan telepon masih di tangan.

Jacob pasti berubah pikiran, seperti yang kutakutkan selama ini. Ia mengikuti saranku dan tidak menyia-nyiakan waktunya untuk seseorang yang tidak bisa membalas perasaannya. Aku merasa darah menyusut dari wajahku.

“Ada yang tidak beres?” tanya Charlie sambil menuruni tangga.

“Tidak,” dustaku, meletakkan gagang telepon. “Kata Billy, Jacob sudah sehat. Dia tidak kena mono. Syukurlah.”

“Jadi dia mau datang ke sini, atau kau yang ke sana?” tanya Charlie sambil lalu, mulai mengadukaduk isi lemari es.

“Tidak dua-duanya,” aku mengakui. “Dia pergi dengan teman-temannya yang lain.”

Nada suaraku akhirnya menarik perhatian Charlie. Ia mendongak menatapku dengan sikap mendadak kaget, tangannya membeku memegangi sebungkus keju lembaran.

“Bukankah sekarang masih terlalu pagi untuk makan siang?” tanyaku seringan mungkin, berusaha mengalihkan pikiran.

“Tidak, aku hanya mau membuat sesuatu untuk bekal ke sungai…”

“Oh, mau mancing hari ini?”

“Well, Harry menelepon… dan hari tidak hujan.” Charlie sibuk menyiapkan setumpuk makanan di atas konter sembari bicara. Tiba-tiba ia mengangkat wajahnya lagi seolah-olah menyadari sesuatu. “Katakan, kau mau aku di rumah saja menemanimu, berhubung Jake pergi?”

“Tidak apa-apa, Dad,” kataku, berusaha memperdengarkan nada tak peduli. “Ikan makan lebih lahap bila cuaca cerah.”

Charlie menatapku, wajahnya jelas bimbang. Aku tahu ia khawatir, takut meninggalkan aku sendirian, kalau-kalau aku “bermuram durja” lagi.

“Sungguh, Dad. Mungkin aku akan menelepon Jessica,” dalihku buru-buru. Aku lebih suka sendirian daripada diawasi terus seharian oleh Charlie. “Kami harus belajar Kalkulus. Aku bisa meminta bantuannya.” Bagian itu benar. Tapi aku harus bisa sendiri tanpa meminta bantuan Jessica.

“Ide bagus. Kau terlalu banyak bermain dengan Jacob, teman-temanmu yang lain bakal mengira kau sudah melupakan mereka.”

Aku tersenyum dan mengangguk, seolah-olah peduli pendapat teman-temanku.

Charlie berbalik, tapi lalu berputar lagi dengan ekspresi khawatir. “Hei, kau mau belajar di sini atau di rumah Jess, kan?”

“Tentu, mau di mana lagi?”

“Well, aku hanya ingin kau berhati-hati untuk tidak masuk ke hutan, seperti yang sudah kukatakan padamu sebelumnya.”

Butuh semenit bagiku untuk memahaminya, karena saat itu pikiranku sedang tertuju pada hal lain. “Masalah dengan beruang lagi?”

Charlie mengangguk, keningnya berkerut. “Ada hiker yang hilang—polisi hutan menemukan kemahnya tadi pagi, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Di sana ada jejak-jejak binatang besar… tentu saja binatang itu bisa saja datang kemudian, karena mencium bau makanan… Pokoknya, mereka sekarang sedang memasang jebakan untuk menangkapnya.”

“Oh,” ucapku sambil lalu. Aku tidak benar-benar mendengarkan peringatannya; aku jauh lebih kalut memikirkan situasiku dengan Jacob daripada kemungkinan menjadi mangsa beruang.

Aku senang Charlie terburu-buru. Ia tidak menungguku menelepon Jessica, jadi aku tidak perlu bersandiwara. Aku menyibukkan diri dengan mengumpulkan semua buku sekolahku di meja dapur untuk kumasukkan ke tas; mungkin itu terlalu berlebihan, dan bila Charlie tidak begitu bersemangat pergi memancing, itu pasti akan membuatnya curiga.

Aku begitu sibuk terlihat sibuk hingga tidak menyadari betapa mengerikannya hari kosong yang membentang di hadapanku sampai aku melihat Charlie meluncur pergi. Hanya butuh kira-kira dua menit memandangi telepon dapur yang diam seribu bahasa untuk memutuskan aku tidak mau tinggal di rumah hari ini. Aku menimbang-nimbang beberapa pilihan.

Aku tidak akan menelepon Jessica. Sepanjang pengamatanku, Jessica sudah menyeberang ke sisi gelap.

Aku bisa naik truk ke La Push dan mengambil motorku— pikiran menarik, tapi masalahnya satu: siapa yang akan mengantarku ke UGD kalau aku membutuhkannya nanti?

Atau… aku toh sudah punya peta dan kompas di trukku. Aku yakin sudah cukup memahami prosesnya sehingga tidak akan tersesat. Mungkin aku bisa mengeliminasi dua garis lagi hari ini, dengan begitu kami akan lebih maju daripada jadwal bila nanti Jacob mau menemuiku lagi. Aku menolak memikirkan kapan kira-kira itu akan terjadi. Atau apakah itu takkan pernah terjadi lagi.

Aku sempat merasakan secercah perasaan bersalah saat menyadari bagaimana perasaan Charlie kalau tahu aku mau ke hutan; tapi aku mengabaikannya. Pokoknya aku tidak bisa tinggal di rumah lagi hari ini.

Beberapa menit kemudian aku sudah berada di jalan tanah yang tidak mengarah ke tempat tertentu. Aku membuka semua jendela dan menyetir secepat yang bisa dilakukan trukku, mencoba menikmati embusan angin yang menerpa wajahku. Hari berawan, tapi nyaris kering – hari yang cerah untuk ukuran Forks.

Untuk memulai dibutuhkan waktu yang lebih lama daripada bila per* bersama Jacob. Setelah memarkir truk di tempat biasa, aku harus menghabiskan waktu tak kurang dari lima belas menit untuk mempelajari jarum kecil di permukaan kompas serta tanda-tanda di peta yang sekarang sudah lecek itu. Setelah yakin mengikuti jalur yang benar, aku mulai berjalan memasuki hutan.

Hutan penuh kehidupan hari ini, semua makhluk kecil menikmati kekeringan yang hanya sementara. Namun entah bagaimana, bahkan dengan kicauan burung-burung dan dengung serangga yang mengitari kepalaku dengan berisik, juga bunyi langkah kaki tikus yang berkelebat menerobos semak belukar, hutan terkesan lebih menyeramkan hari ini; membuatku teringat pada mimpi burukku yang terbaru. Aku tahu itu hanya karena aku sendirian, kehilangan siulan riang Jacob serta suara sepasang kaki lain menginjak tanah yang lembab.

Perasaan gelisah itu semakin kuat saat aku semakin dalam memasuki pepohonan. Aku mulai susah bernapas—bukan karena berkeringat, tapi karena aku mengalami kesulitan dengan lubang tolol di dadaku lagi. Kudekap tubuhku dengan kedua tangan dan berusaha mengenyahkan kepedihan itu dari pikiranku. Nyaris saja aku berbalik, tapi aku tak ingin menyia-nyiakan upaya yang telah kulakukan.

Ritme langkah-langkahku mulai menumpulkan pikiran dan kepedihanku, sementara aku terus merangsek maju. Napasku akhirnya mulai teratur, dan aku senang tak jadi pulang. Aku semakin piawai menjelajah alam; aku tahu aku sekarang bisa berjalan lebih cepat.

Aku tidak tahu apakah aku jauh lebih efisien sekarang. Kalau tidak salah, mungkin aku sudah berjalan enam kilometer lebih, dan bahkan belum mulai mencari. Kemudian, dengan ketiba-tibaan yang membuatku kehilangan orientasi, aku melangkah melewati lengkingan pendek yang terbentuk dari dua pohon maple merambat— menerobos semak pakis setinggi dada—dan memasuki padang rumput.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.