Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Jacob—”

“Aku harus pergi,” katanya, mendadak buruburu.

“Telepon aku kalau kau sudah merasa lebih sehat.”

“Baiklah,” sahutnya, tapi suaranya terdengar pahit dan aneh.

Ia terdiam beberapa saat. Aku menunggunya mengucapkan selamat berpisah, tapi ia juga

menunggu.

“Sampai ketemu lagi,” kataku akhirnya.

“Tunggu sampai aku menelepon,” katanya lagi.

“Oke… Bye, Jacob.”

“Bella,” ia membisikkan namaku, kemudian

menutup telepon.

 

10. PADANG RUMPUT

JACOB tidak menelepon.

Pertama kalinya aku menelepon, Billy yang mengangkat dan mengatakan Jacob masih tidur. Aku berusaha mengorek keterangan, memastikan Billy sudah membawanya ke dokter. Menurut Billy sudah, tapi entah mengapa, untuk alasan yang aku sendiri tak tahu, aku kok tidak begitu percaya padanya. Aku menelepon lagi, beberapa kali sehari, selama dua hari berikutnya, tapi tak ada yang mengangkat.

Sabtunya kuputuskan untuk menemui Jacob, masa bodoh dengan undangan. Tapi rumah merah kecil itu kosong. Aku jadi takut—sesakit itukah Jacob sampai harus dirawat di rumah sakit? Aku mampir ke rumah sakit dalam perjalanan pulang, tapi menurut perawat jaga di meja depan, baik Jacob maupun Billy tidak datang ke rumah sakit.

Kuminta Charlie menelepon Harry Clearwater begitu ia sampai di rumah dan kantor. Aku menunggu, waswas, sementara Charlie mengobrol dengan teman lamanya; obrolan mereka sepertinya sangat lama tanpa sekali pun menyebut-nyebut nama Jacob. Kedengarannya Harry-lah yang baru saja pulang. dari rumah sakit… menjalani tes jantung. Kening Charlie berkerut, tapi Harry bercanda dengannya, menceritakan yang luculucu, sampai Charlie tertawa lagi. Barulah kemudian Charlie bertanya tentang Jacob, dan sekarang ia tak lagi banyak bicara sehingga aku tak bisa mengikuti percakapan, karena ia hanya mengucapkan hmmm dan yeah berulang-ulang. Aku mengetuk-ngetukkan jari ke konter di samping Charlie, sampai ia memegang tanganku untuk menghentikannya.

Akhirnya Charlie menutup telepon dan berpaling padaku.

“Kata Harry, saluran teleponnya bermasalah, jadi itulah sebabnya teleponmu tidak nyambung. Billy membawa Jake ke dokter di reservasi, dan kelihatannya dia sakit mono. Dia ke capekan, dan kata Billy, dia tidak boleh ditengok,” lapor Charlie.

“Tidak boleh ditengok?” tanyaku tak percaya.

Charlie mengangkat sebelah alis. “Sekarang kau jangan ikut campur, Bells. Billy tahu apa yang terbaik untuk Jake. Sebentar lagi juga dia sembuh dan bisa ke sini lagi. Bersabarlah.”

Aku tidak memaksa. Charlie terlalu khawatir memikirkan Harry. Jelas itu lebih penting—tidak tepat mengganggu pikirannya dengan hal-hal sepele. Jadi aku naik ke lantai atas dan menyalakan komputer. Aku menemukan situs kedokteran dan mengetikkan kata “mononukleosis” ke kolom pencarian.

Yang kutahu tentang mono hanyalah bahwa seseorang bisa tertular penyakit itu dari berciuman, sesuatu yang jelas tak mungkin terjadi pada Jake. Aku membaca gejala-gejalanya dengan cepat—kalau demam memang ia mengalaminya, tapi bagaimana dengan gejala yang lain? Tidak ada radang tenggorokkan parah, tidak ada kelelahan, tidak ada pusing kepala, setidaknya tidak sebelum ia pulang dari bioskop: ia bahkan sempat berkata dirinya “sehat walafiat”. Benarkah penyakitnya muncul secepat itu? Berdasarkan artikel itu, sepertinya yang harus muncul lebih dulu adalah radang tenggorokannya.

Kupandang layar komputer dan bertanya-tanya dalam hati mengapa, tepatnya, aku melakukan hal ini. Mengapa aku merasa sangat… sangat curiga, seperti tidak percaya pada cerita Billy? Untuk apa Billy berbohong pada Harry?

Aku saja yang konyol, mungkin. Aku hanya khawatir, dan jujur saja. aku takut tidak diperbolehkan bertemu Jacob—itu membuatku gelisah.

Aku menyimak keterangan lain dalam artikel itu, menggali lebih banyak informasi. Aku berhenti begitu sampai pada bagian yang menjelaskan penyakit mono bisa bertahan lebih dari sebulan.

Sebulan? Mulutku ternganga.

Tapi Billy tak mungkin menerapkan aturan tidak boleh dijenguk sampai selama itu. Tentu saja tidak. Jake bisa gila kalau disuruh berbaring terus di tempat tidur tanpa seorang pun bisa diajak bicara.

Apa sebenarnya yang ditakutkan Billy? Menurut artikel itu, pengidap mono harus menghindari aktivitas fisik, tapi tidak ada penjelasan tentang aturan tidak boleh dijenguk. Penyakit itu kan tidak terlalu menular.

Kuputuskan untuk memberi Billy waktu satu minggu sebelum mulai mengorek-ngorek lagi. Satu Minggu sudah cukup lama.

Ternyata satu minggu itu lama sekali. Hari Rabu aku yakin tidak bakal mampu bertahan hidup sampai Sabtu.

Ketika memutuskan untuk tidak mengganggu Billy dan Jacob selama seminggu, aku sebenarnya tak yakin Jacob bakal menuruti aturan Billy. Setiap hari sesampainya di rumah dari sekolah, aku berlari ke pesawat telepon untuk mengecek pesan-pesan. Tidak pernah ada pesan untukku.

Aku melanggar janjiku sendiri dengan mencoba meneleponnya tiga kali, tapi saluran teleponnya masih rusak.

Aku terlalu sering tinggal di rumah, dan terlalu sering sendirian. Tanpa Jacob, juga adrenalin dan kegiatan yang bisa mengalihkan pikiran, semua yang selama ini kutekan mulai menghantuiku lagi. Mimpi-mimpi itu mulai menyerangku lagi. Aku tidak lagi bisa melihat bagian akhirnya datang. Yang ada hanya kehampaan yang mengerikan— terkadang di hutan, terkadang di lautan pakis kosong tempat rumah putih itu tak lagi ada. Sesekali ada Sam Uley di sana, di hutan, mengawasiku lagi. Aku tidak memedulikan dia— tidak ada kenyamanan yang kurasakan dengan kehadirannya, aku malah merasa semakin sendirian. Walhasil, aku selalu terbangun setelah menjerit ketakutan, setiap malam.

Lubang di dadaku kini semakin parah. Kusangka aku sudah bisa mengendalikannya, tapi aku mendapati diriku meringkuk, setiap hari, sambil mencengkeram pinggang dan megap-megap kehabisan udara.

Aku tak mampu menghadapi kesendirian dengan baik.

Aku lega tak terkira di pagi hari waktu terbangun—setelah menjerit, tentu saja—dan teringat sekarang hari Sabtu. Berarti hari ini aku bisa menelepon Jacob. Dan kalau saluran telepon masih tetap belum berfungsi, aku akan ke La Push.

Bagaimanapun caranya, pokoknya hari ini harus lebih baik daripada seminggu terakhir yang sepi ini.

Aku menghubungi nomor telepon Jacob, lalu menunggu tanpa berharap apa-apa. Jadi aku kaget waktu Billy mengangkat telepon pada dering kedua.

“Halo?”

“Oh. hai, cerita teleponnya sudah berfungsi lagi! Hai, Billy. Ini Bella. Aku hanya ingin tahu kabar Jacob. Apakah dia sudah bisa ditengok? Aku sedang berpikir-pikir untuk mampir–“

“Maafkan aku, Bella,” sela Billy, dan aku bertanya-tanya apakah ia sedang nonton televisi; kedengarannya perhatian Billy sedang tertuju pada hal lain. “Dia tidak ada di rumah.”

“Oh.” Butuh sedetik untuk mencernanya. “Kalau begitu dia sudah sembuh?”

“Yeah,” jawab Billy, setelah sempat ragu-ragu sejenak. “Ternyata bukan mono. Hanya virus biasa.”

“Oh. Kalau begitu… ke mana dia?”

“Dia pergi jalan-jalan bersama teman-temannya ke Port Angeles—kalau tidak salah mau nonton film atau sebangsa-nya. Dia pergi seharian.”

“Well, aku lega mendengarnya. Aku khawatir sekali. Aku senang dia cukup sehat untuk pergi jalan-jalan.” Suaraku terdengar palsu sementara aku mengoceh tidak keruan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.