Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Kalau saja Jacob Black terlahir sebagai saudara lelakiku, saudara laki-laki kandung, sehingga aku memiliki hak hukum atas dirinya yang membuatku bebas dari perasaan bersalah. Tuhan tahu aku tidak pernah berniat memanfaatkan Jacob, tapi perasaan bersalah yang kurasakan saat ini mau tak mau membuatku berpikir bahwa jangan-jangan memang itulah yang kulakukan.

Terlebih lagi, aku tidak pernah berniat mencintai dia. Satu hal yang kuketahui benar—dan aku meyakininya dari lubuk hatiku yang terdalam, dari pusat tulang-tulangku, dari puncak kepala hingga ujung kaki, dari dalam dadaku yang hampa— cinta memberi orang kekuatan untuk menghancurkanmu. Aku hancur luluh dan tidak bisa diperbaiki lagi. Tapi aku membutuhkan Jacob sekarang, membutuhkannya seperti obat. Aku sudah terlalu lama memanfaatkannya sebagai kruk, dan aku terjerumus lebih dalam daripada yang awalnya kurencanakan dengan orang lain. Sekarang aku tak tega menyakiti hatinya, tapi aku juga tak bisa menahan diri untuk terus-menerus menyakitinya. Ia mengira waktu dan kesabaran akan mengubahku, dan, walaupun aku tahu ia salah besar, tapi aku juga tahu aku akan membiarkannya mencoba.

Ia sahabatku. Aku akan selalu sayang padanya, tapi itu takkan pernah cukup.

Aku masuk untuk menunggu telepon dan menggigiti kuku.

“Filmnya sudah selesai?” tanya Charlie kaget waktu aku berjalan masuk. Ia duduk di lantai, tak sampai setengah meter dari TV. Pasti pertandingannya seru sekali.

“Mike tiba-tiba sakit,” aku menjelaskan. “Semacam flu perut.”

“Kau tidak apa-apa?”

“Sekarang sih aku baik-baik saja,” jawabku ragu. Jelas, aku juga sudah tertular.

Aku bersandar di konter dapur, tanganku hanya beberapa sentimeter dari telepon, berusaha menunggu dengan sabar. Aku teringat mimik aneh di wajah Jacob sebelum pulang tadi, dan jari-jariku mengetuk-ngetuk konter. Seharusnya aku tadi memaksanya supaya mau diantar pulang.

Kupandangi jam dinding sementara menit-menit berlalu. Sepuluh. Lima belas. Bahkan kalau aku yang menyetir, hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke sana, dan Jacob menyetir mobilnya lebih cepat daripada aku. Delapan belas menit. Kuangkat telepon dan kuhubungi nomornya.

Teleponku berdering dan berdering. Mungkin Billy sudah tidur. Mungkin aku salah menekan nomor. Kucoba lagi.

Pada deringan kedelapan, saat aku sudah hampir menyerah, Billy menjawab.

“Halo?” tanyanya. Suaranya waswas, seperti mengharapkan kabar buruk.

“Billy, ini aku, Bella—Jake sudah sampai di rumah belum? Dia berangkat dari sini dua puluh menit yang lalu.”

“Dia sudah sampai,” jawab Billy datar.

“Seharusnya dia meneleponku.” Aku agak kesal. “Dia merasa tidak enak badan waktu berangkat tadi, jadi aku khawatir.”

“Dia… terlalu sakit sehingga tidak bisa menelepon. Dia sedang kurang sehat sekarang.”

Nada suara Billy seperti berjarak. Aku sadar ia pasti ingin menemani Jacob.

“Beritahu aku bila butuh bantuan,” aku menawarkan. “Aku bisa datang ke sana.” Aku teringat pada Billy, terikat pada kursi rodanya, sementara Jake mengurus dirinya sendiri…

“Tidak, tidak,” tolak Billy cepat-cepat. “Kami baik-baik saja. Kau di rumah saja.”

Caranya mengatakan itu nyaris kasar.

“Oke “jawabku.

“Bye, Bella.”

Well, paling tidak ia sudah sampai di rumah. Anehnya, kekhawatiranku tak kunjung mereda. Aku menaiki tangga dengan langkah-langkah berat, cemas. Mungkin aku bisa ke rumahnya besok sebelum bekerja, untuk mengecek keadaannya. Aku bisa membawakan sup—kalau tidak salah masih ada sekaleng sup Campbells tersimpan di suatu tempat.

Aku sadar semua rencana itu buyar ketika mendadak terjaga jauh lebih awal—jamku menunjukkan pukul setengah lima pagi—dan bergegas ke kamar mandi. Charlie menemukanku di sana setengah jam kemudian, terbaring di lantai, pipiku menempel di pinggir bak mandi yang dingin. Ia menatapku lama sekali.

“Flu perut,” akhirnya ia berkata.

“Ya,” erangku.

“Kau butuh sesuatu?” tanyanya.

“Hubungi keluarga Newton, please?” pintaku dengan suara serak. “Katakan aku ketularan Mike, jadi tidak bisa masuk hari ini. Sampaikan juga permintaan maafku.”

“Tentu, bukan masalah,” Charlie meyakinkanku.

Sepanjang sisa hari itu kuhabiskan di lantai kamar mandi, tidur beberapa jam dengan kepala dibaringkan di atas handuk.

Charlie mengatakan dirinya harus bekerja, tapi aku curiga itu hanya alasan karena ia butuh akses ke kamar mandi. Ia meninggalkan segelas air di lantai agar aku tidak dehidrasi.

Aku terbangun waktu ia datang. Kulihat hari sudah gelap di kamarku—hari sudah malam. Charlie menaiki tangga untuk mengecek kondisiku.

“Masih hidup?”

“Begitulah,” jawabku.

“Kau menginginkan sesuatu?”

“Tidak, trims.”

Charlie ragu-ragu sejenak, jelas bingung harus melakukan apa. “Oke, kalau begitu,” katanya, lalu turun lagi ke dapur.

Kudengar telepon berdering beberapa menit kemudian. Charlie berbicara dengan seseorang dengan suara pelan, lalu menutup telepon.

“Mike sudah sembuh,” serunya padaku.

Well, pertanda bagus. Dia jatuh sakit kuranglebih delapan jam sebelum aku. Jadi tinggal delapan jam lagi. Pikiran itu membuat perutku mual, dan kuangkat tubuhku untuk membungkuk di atas toilet.

Aku ketiduran lagi di atas handuk, tapi waktu terbangun aku sudah berbaring di tempat tidur dan di luar jendela tampak terang. Aku tidak ingat pindah; Charlie pasti menggendongku ke kamar— ia juga meninggalkan segelas air di atas nakas. Tenggorokanku kering kerontang. Kureguk habis isi gelasku, meski rasanya aneh.

Perlahan-lahan aku bangkit, berusaha untuk tidak memicu timbulnya rasa mual lagi. Aku lemah, dan mulutku tidak enak, tapi perutku baikbaik saja. Kulirik jam.

Dua puluh empat jamku sudah berlalu.

Aku tidak memaksakan diri, dan hanya makan biskuit asin untuk sarapan. Charlie tampak lega melihatku pulih.

Begitu yakin tidak akan tergeletak lagi seharian di lantai kamar mandi, kutelepon Jacob.

Jacob sendiri yang menjawab, tapi begitu mendengar suaranya, aku tahu ia belum sembuh.

“Halo?” Suaranya serak, parau.

“Oh, Jake,” aku mengerang bersimpati. “Suaramu aneh.”

“Aku memang merasa aneh,” bisiknya.

“Aku sangat menyesal mengajakmu pergi denganku. Ini menyebalkan.”

“Aku senang kok pergi.” Suaranya masih berbisik. “Jangan salahkan dirimu. Ini bukan salahmu.”

“Kau pasti sembuh sebentar lagi,” aku meyakinkannya. “Waktu aku bangun tadi pagi, ternyata aku sudah sembuh.”

“Memangnya kau sakit?” tanyanya datar.

“Ya, aku juga ketularan. Tapi sekarang aku sudah sembuh.”

“Baguslah,” Suaranya hampa.

“Jadi kau pasti juga akan sembuh dalam beberapa jam,” aku menyemangatinya. Aku nyaris tidak mendengar jawabannya.

“Kurasa sakitku tidak sama denganmu.”

“Kau bukannya flu perut?” tanyaku, bingung.

“Bukan. Ini lain.”

“Apa yang terasa tidak enak?”

“Semuanya,” bisik Jacob. “Sekujur tubuhku sakit.”

Kesakitan di suaranya nyaris nyata.

“Apa yang bisa kubantu, Jake? Aku bisa membawakan apa untukmu?”

“Tidak ada. Kau tidak bisa datang ke sini.” Sikapnya kasar. Aku jadi teringat sikap Billy tempo hari.

“Aku kan sudah terekspos dengan penyakit apa pun yang merongrongmu saat ini,” aku mengingatkan.

Jacob mengabaikan perkataanku. “Aku akan meneleponmu kalau bisa. Aku akan memberi tahu kapan kau bisa datang lagi.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.