Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Tidak,” desahku. Sejujurnya, rasanya menyenangkan. Tangannya jauh lebih hangat daripada tanganku; aku selalu merasa kedinginan belakangan ini.

“Dan kau tidak peduli pada apa yang dia pikirkan.” Jacob menyentakkan ibu jarinya ke arah toilet.

“Kurasa tidak.”

“Kalau begitu apa masalahnya?”

“Masalahnya,” ujarku, “karena ini artinya berbeda bagiku dan bagimu.”

“Well,” Jacob mempererat genggamannya. “Itu masalahku, kan?”

“Terserahlah,” gerutuku. “Jangan lupa, tapi.”

“Aku tidak akan lupa. Pin-nya sudah dilepaskan dari granatnya, sekarang, he?” Ia menohokkan jarinya ke rusukku.

Aku memutar bola mata. Kurasa kalau ia ingin menjadikan masalah ini sebagai lelucon, itu haknya.

Jacob berdecak pelan sebentar waktu jari manisnya menelusuri bekas luka di sisi tanganku.

“Lucu juga bekas lukamu di sini ini,” katanya tiba-tiba, memuntir tanganku untuk mengamatinya. “Bagaimana kejadiannya?”

Telunjuk tangannya yang satu lagi menyusuri tepian bekas luka panjang berbentuk bulan sabit keperakan yang nyaris tak terlihat di kulitku yang pucat.

Aku merengut. “Masa aku harus mengingat dari mana saja semua bekas lukaku berasal?”

Aku menunggu kenangan itu menghantamku— membuka lubang yang menganga. Tapi seperti yang sudah sering kali terjadi, kehadiran Jacob menjagaku tetap utuh.

“Bekas luka ini dingin,” gumamnya, menekan pelan tempat James dulu melukaiku dengan giginya.

Kemudian Mike tersaruk saruk keluar dari toilet, wajahnya kelabu dan berkeringat. Ia tampak kepayahan.

“Oh, Mike,” aku kaget.

“Keberatan tidak kalau kita pulang lebih cepat?” bisiknya.

“Tidak, tentu saja tidak.” Kutarik tanganku dan berdiri untuk membantu Mike berjalan. Ia tampak limbung.

“Filmnya terlalu sadis untukmu?” tanya Jacob tanpa perasaan.

Pelototan Mike garang sekali. “Aku bahkan tidak sempat melihatnya,” gumamnya. “Aku sudah mual sejak sebelum lampu-lampu dimatikan.”

“Kenapa kau diam saja?” kumarahi dia sementara kami berjalan sempoyongan menuju pintu keluar.

“Aku berharap nanti akan hilang sendiri,” jawab Mike.

“Tunggu sebentar,” kata Jacob sesampainya kami di pintu. Ia cepat-cepat berjalan kembali ke kios makanan.

“Boleh minta wadah popcorn kosong?” tanyanya pada cewek penjaga kios. Cewek itu memandang Mike satu kali, lalu langsung menyodorkan wadah kosong pada Jacob.

“Bawa dia keluar, please,” pinta si penjaga kios. Jelas, cewek itulah yang kebagian tugas mengepel.

Kuseret Mike ke udara luar yang dingin dan basah. Ia menghela napas dalam-dalam. Jacob berjalan tepat di belakang kami. Ia membantuku menaikkan Mike ke kursi belakang, lalu menyodorkan wadah itu padanya dengan mimik serius.

“Please,” hanya itu yang Jacob katakan.

Kami membuka semua jendela, supaya udara malam yang dingin berembus masuk, berharap itu bisa membantu Mike merasa lebih sehat. Aku memeluk kedua kakiku dengan kedua tangan agar tetap hangat.

“Kedinginan lagi?” tanya Jacob, merangkul pundakku sebelum aku sempat menjawab.

“Kau tidak?”

Jacob menggeleng.

“Kau pasti demam atau sebangsanya,” gerutuku. Aku sendiri membeku kedinginan. Kusentuh keningnya dengan jari-jariku, dan kepalanya memang panas.

“Astaga, Jake—badanmu panas sekali!”

“Aku merasa baik-baik saja.” Ia mengangkat bahu. “Sehat walafiat.”

Aku mengerutkan kening dan menyentuh kepalanya lagi. Kulitnya membara di bawah jarijariku.

“Tanganmu sedingin es,” protes Jacob.

“Mungkin memang aku yang kedinginan,” aku mengalah.

Mike mengerang di kursi belakang, lalu muntah ke dalam wadah. Aku meringis, berharap perutku tahan mendengar dan mencium baunya. Jacob menoleh cemas untuk memastikan mobilnya tidak terkena muntahan.

Jarak terasa semakin panjang dalam perjalanan pulang.

Jacob diam, merenung. Ia membiarkan lengannya tetap melingkari pundakku, dan rasanya begitu hangat hingga angin dingin terasa nyaman.

Aku memandang ke luar kaca depan, hatiku diliputi perasaan bersalah.

Seharusnya aku tidak memberi harapan pada Jacob. Itu kulakukan murni karena egois. Tak peduli aku sudah berusaha memperjelas posisiku. Kalau ia merasa masih ada harapan, meskipun sedikit, untuk mengubah hubungan ini menjadi lebih dari sekadar persahabatan, itu berarti aku masih kurang jelas dalam memberinya penjelasan.

Bagaimana caraku menjelaskan supaya ia mengerti? Aku ini cangkang kosong. Ibarat rumah tak berpenghuni—ditinggalkan— selama berbulanbulan aku tak bisa didiami. Sekarang aku sedikit lebih baik. Ruang depan sudah diperbaiki. Tapi hanya itu—hanya satu ruang kecil. Padahal Jacob pantas mendapatkan lebih baik daripada itu—lebih baik daripada sekadar satu ruangan yang sudah nyaris ambruk dan kemudian dibetulkan. Sebanyak apa pun yang ia lakukan tidak akan bisa membuatku berfungsi kembali.

Namun aku tahu aku takkan mau menjauhinya, bagaimanapun juga. Aku terlalu membutuhkannya, dan aku egois. Mungkin aku bisa lebih memperjelas sisiku, supaya ia mau meninggalkan aku. Pikiran itu membuatku bergidik, dan Jacob mempererat rangkulannya.

Aku mengantar Mike pulang dengan Suburbannya, sementara Jacob mengikuti di belakang untuk mengantarku pulang. Jacob lebih banyak diam sepanjang perjalanan menuju rumahku, dan aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia memikirkan hal-hal yang sama seperti yang kupikirkan. Mungkin saja ia berubah pikiran.

“Sebenarnya aku ingin mampir, karena kita pulang lebih cepat,” kata Jacob sambil menghentikan mobilnya di samping trukku. “Tapi kurasa kau benar bahwa aku demam. Aku mulai merasa sedikit… aneh.”

“Oh tidak, jangan sampai kau sakit juga! Kau mau aku mengantarmu pulang?”

“Tidak” Jacob menggeleng, alisnya bertaut. “Aku belum merasa sakit. Hanya… tidak enak badan. Kalau terpaksa sekali, aku akan berhenti di pinggir jalan.”

“Maukah kau meneleponku begitu sampai di rumah?” tanyaku cemas.

“Tentu, tentu.” Jacob mengerutkan kening, memandang lurus ke kegelapan, dan menggigit bibir.

Kubuka pintu untuk turun, tapi Jacob meraih pergelangan tanganku dengan lembut dan memeganginya. Aku kembali merasakan betapa panas kulitnya bersentuhan dengan kulitku.

“Ada apa, Jake?” tanyaku.

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, Bella… tapi kurasa ini akan terdengar gombal.”

Aku mendesah. Ini pasti kelanjutan pembicaraan di teater tadi. “Silakan.”

“Begini, aku tahu kau sering merasa tidak bahagia. Dan mungkin ini tidak membantu apaapa, tapi aku ingin kau tahu aku akan selalu mendampingimu. Aku tidak akan mengecewakanmu—aku berjanji kau akan selalu bisa mengandalkan aku. Wow, kedengarannya benar-benar gombal. Tapi kau tahu itu, kan? Bahwa aku tidak akan pernah, tidak sekali pun, menyakitimu?”

“Yeah, Jake. Aku tahu itu. Dan aku memang sudah mengandalkanmu, mungkin lebih daripada yang kau tahu.”

Senyum merekah di wajahnya, seperti matahari terbit merekah merah di awan-awan, dan aku ingin memotong lidahku sendiri. Semua yang kukatakan memang benar, tapi seharusnya aku berbohong. Mengatakan hal sebenarnya adalah salah, itu hanya akan menyakiti hatinya. Aku akan mengecewakannya.

Mimik aneh melintas di wajahnya. “Kurasa aku benar-benar harus pulang sekarang,” katanya.

Aku cepat-cepat turun.

“Telepon aku!” teriakku begitu ia beranjak pergi. Kupandangi mobilnya berlalu, dan sepertinya ia masih bisa mengemudikan mobilnya dengan baik, paling tidak. Kupandangi jalanan yang kosong setelah mobilnya lenyap, perasaanku juga sedikit tidak enak, tapi bukan karena alasan fisik.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.