Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Bella?” tanya Mike, jengkel.

Dia benar gumamku, sambil masih terus memandangi profil Jacob yang tenang.

“Kok bisa kau tidak suka musik?” tuntut Mike Aku mengangkat bahu. “Entahlah. Jengkel saja mendengarnya.”

“Hmph,” Mike duduk bersandar.

Waktu kami sampai di bioskop, Jacob mengulurkan selembar sepuluh dolar.

“Apa ini?” tolakku.

“Aku belum cukup umur untuk nonton film ini,” ia mengingatkanku.

“Aku tertawa keras-keras. “Jadi usia relatif tak ada gunanya, ya. Apakah Billy akan membunuhku kalau aku menyelundupkanmu masuk?”

“Tidak. Aku sudah bilang padanya kau berencana mengorupsi keluguanku ”

Aku terkikik, dan Mike mempercepat langkah untuk mengimbangi kami.

Aku nyaris berharap Mike memutuskan untuk tidak ikut saja. Ia masih terus merajuk—merusak suasana saja. Tapi aku juga tak ingin berkencan sendirian dengan Jacob. Itu tidak akan membantu apa-apa.

Filmnya tepat seperti yang diramalkan. Di bagian awalnya saja sudah empat orang yang ditembak dan satu dipenggal kepalanya. Cewek di depanku menutup mata dan memalingkan wajah ke dada teman kencannya. Si cowok menepuk-nepuk bahu si cewek, sambil sesekali nyengir. Mike sepertinya tidak menonton. Wajahnya kaku sementara matanya memelototi tirai di aras layar.

Aku menyiapkan diri untuk bertahan selama dua jam, menonton warna-warna dan gerakangerakan di layar, bukannya melihat bentuk-bentuk orang, mobil, dan rumah. Tapi kemudian Jacob mulai tertawa.

“Apa?” bisikku.

“Oh, ayolah!” Jacob balas mendesis. “Masa darah menyembur sejauh itu. Ketahuan banget bohongnya!”

Lagi-lagi ia tertawa, saat tiang bendera menombak seorang pria ke tembok beton.

Sesudah itu aku benar-benar menonton filmnya, tertawa bersamanya saat adegannya makin lama makin konyol. Bagaimana aku bisa melawan garis batas dalam hubungan kami yang makin lama makin kabur ini kalau aku sangat menikmati kebersamaanku dengannya?

Baik Jacob maupun Mike sama-sama menumpangkan lengannya di lengan kursiku, satu di kiri, satu di kanan. Tangan mereka sama-sama ditumpangkan dengan sikap santai, telapak tangan menghadap ke atas, dalam posisi yang kelihatannya tidak natural. Seperti jebakan beruang dari baja, terbuka dan siap menjerat mangsa. Jacob punya kebiasaan meraih tanganku setiap kali ada kesempatan, tapi di sini, di dalam bioskop yang gelap, dengan Mike melihat, hal itu bisa diartikan berbeda—dan aku yakin ia tahu itu. Aku tidak percaya Mike memikirkan hal yang sama, tapi tangannya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Jacob.

Kulipat kedua tanganku erat-erat di dada dan berharap tangan mereka akan berhenti beraksi.

Mike-lah yang pertama menyerah. Ketika film sudah berjalan kira-kira setengahnya, ia menarik lengannya dan nun condongkan tubuh ke depan, memegang kepalanya dengan tangan. Mulanya kukira ia bereaksi pada sesuatu yang ada di layat, tapi kemudian ia mengerang.

“Mike, kau tidak apa apa?” bisikku.

Pasangan di depan kami menoleh dan memandangi Mike waktu ia mengerang lagi.

“Tidak,” jawabnya terengah. “Sepertinya aku sakit.”

Aku bisa melihat kilauan keringat di wajahnya dengan bantuan cahaya dari layar.

Mike mengerang lagi, lalu bangkit dan menghambur ke pintu. Aku berdiri untuk mengikutinya, dan Jacob langsung meniruku.

“Kau tidak perlu ikut. Jangan biarkan delapan dolarmu terbuang sia-sia,” desakku saat berjalan menyusuri gang di tengah deretan kursi bioskop.

“Tidak apa-apa. Kau benar-benar jago memilih film, Bella. Filmnya konvol banget,” Suara Jacob berubah dari berbisik menjadi normal, begitu kami keluar dari teater.

Tidak tampak tanda-tanda Mike di ruang tunggu, dan aku senang Jacob tadi memutuskan keluar bersamaku—ia bisa menyelinap ke toilet cowok untuk mengecek keberadaan Mike di sana.

Beberapa detik kemudian, Jacob kembali.

“Oh, memang benar dia ada di sana,” katanya, memutar bola matanya. “Dasar lembek. Seharusnya kau mengajak orang yang perutnya lebih kuat. Orang yang tertawa kalau melihat darah membuat cowok lembek muntah.”

“Akan kubuka mataku lebar-lebar, kalau-kalau ada orang seperti itu.”

Kami hanya berdua di ruang tunggu. Kedua teater sedang memutar film, jadi ruang tunggu kosong melompong—cukup sunyi sehingga kami bisa mendengar bunyi berondong jagung meletupletup di kios makanan di lobi.

Jacob duduk di bangku berlapis beledu yang menempel di dinding, menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.

“Kedengarannya dia bakal lama di dalam sana,” katanya, menjulurkan kakinya yang panjang, bersiap-siap menunggu.

Sambil mendesah aku ikut duduk bersamanya. Tampaknya Jacob berpikir untuk mengaburkan garis batas di antara kami lagi. Benar saja, begitu aku duduk, ia membuat gerakan untuk merangkul pundakku.

“Jake,” protesku, berkelit. Jacob menurunkan tangannya, tidak tampak tersinggung oleh penolakanku tadi. Ia mengulurkan tangan dan dengan mantap meraih tanganku, menarik pinggangku waktu aku berusaha berkelit lagi. Dari mana ia memperoleh kepercayaan dirinya itu?

“Tunggu sebentar, Bella,” katanya, suaranya tenang. “Jawab dulu pertanyaanku.”

Aku meringis. Aku tidak ingin melakukan ini. Tidak sekarang, tidak nanti. Tidak ada hal lain yang tersisa dalam hidupku saat ini yang lebih penting daripada Jacob Black. Tapi sepertinya ia bertekad ingin mengacaukan semuanya.

“Apa?” gerutuku masam.

“Kau suka padaku, kan?”

“Kau tahu aku suka padamu.”

“Lebih daripada badut yang sedang muntahmuntah di dalam sana itu, kan?” Jacob menuding pintu toilet.

“Ya,” aku mendesah.

“Lebih daripada cowok-cowok yang kaukcnal?” Sikapnya kalem, tenang—seolah-olah jawabanku tidak penting, atau ia sudah tahu jawabannya.

“Lebih daripada cewek-cewek juga,” jawabku.

“Tapi hanya itu,” katanya, dan itu bukan pertanyaan.

Sulit sekali menjawabnya, sulit mengucapkan kata itu. Apakah ia bakal sakit hati dan menghindariku? Bagaimana aku bisa kuat menghadapinya?

“Ya,” bisikku.

Jacob nyengir. “Itu tidak apa-apa, tahu. Asalkan kau paling suka padaku. Dan kau menganggapku ganteng—kayaknya Aku siap menjadi orang yang gigih dan menjengkelkan.”

“Perasaanku tidak akan berubah,” kataku, dan meski berusaha agar suaraku tetap normal, aku bisa mendengar nada sedih di dalamnya.

Ekspresinya seperti berpikir, tak lagi menggoda. “Pasti masih karena yang satu itu, kan?”

Aku meringis. Lucu juga bagaimana ia seolah tahu untuk tidak mengucapkan namanya—seperti sebelumnya di mobil mengenai musik. Jacob menangkap banyak hal tentang aku tanpa aku perlu menjelaskannya.

“Kau tidak perlu membicarakannya,” kata Jacob.

Aku mengangguk, bersyukur.

“Tapi jangan marah padaku kalau aku mendekatimu terus, oke?” Jacob menepuk-nepuk punggung tanganku. “Karena aku tidak mau menyerah. Aku masih punya banyak waktu.”

Aku mendesah. “Seharusnya kau tidak menyianyiakannya untukku,” kataku, meski aku menginginkannya. Apalagi karena ia mau menerimaku dalam keadaanku yang seperti ini— barang rusak, apa adanya.

“Aku memang ingin melakukannya, selama kau masih suka bersamaku.”

“Aku tidak bisa membayangkan aku tidak suka bersamamu,” ungkapku jujur.

Jacob berseri-seri. “Itu sudah cukup buatku.”

“Hanya saja jangan berharap lebih,” aku mengingatkan, mencoba menarik tanganku. Jacob terus memeganginya dengan gigih.

“Ini tidak membuatmu rikuh, kan?” tanyanya, meremas jari-jariku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.