Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Quil bakal kalang-kabut. Cewek-cewek senior.” Jacob terkekeh dan memutar bola matanya. Aku tidak menyebut nama Embry, begitu juga dia.

Aku ikut tertawa. “Akan kucoba memberinya pilihan yang cantik-cantik.”

Aku mengutarakan maksudku pada Mike di kelas Bahasa Inggris.

“Hei, Mike,” sapaku setelah kelas berakhir. “Kau tidak ada acara Jumat malam nanti?”

Mike mengangkat wajah, mata birunya langsung penuh harap. “Tidak ada. Mau pergi bareng?”

Aku menyusun kalimatku dengan hati-hati. “Aku sedang berpikir-pikir untuk pergi beramai-ramai”— aku menekankan kata itu—”nonton Crosshairs” Sebelumnya aku sudah melakukan penelitian lebih dulu—bahkan sampai membaca resensi film segala untuk memastikan aku tidak bakal kecele nanti. Konon katanya film itu bergelimang darah dari awal sampai akhir. Aku belum begitu pulih untuk tahan menyaksikan film cinta-cintaan. “Kedengarannya asyik, kan?”

“Tentu,” sahut Mike, kentara sekali kurang bersemangat.

“Asyik.”

Sedetik kemudian, wajahnya kembali ceria hingga hampir mendekati level kegembiraannya tadi. “Bagaimana kalau kita ajak Angela dan Ben? Atau Eric dan Katie?”

Ia bertekad membuat acara jalan-jalan ini menjadi semacam kencan ganda rupanya.

“Bagaimana kalau dua-duanya?” saranku. “Dan Jessica juga. tentu saja. Juga Tyler dan Conner, dan mungkin Lauren,” aku menambahkan dengan enggan. Aku kan sudah berjanji akan membawa banyak pilihan untuk Quil.

“Oke,” gumam Mike, usahanya gagal.

“Dan,” lanjutku, “aku juga akan mengajak beberapa teman dari La Push. Jadi sepertinya kita membutuhkan Suburban-mu kalau semua ikut.”

Mata Mike menyipit curiga.

“Ini teman-temanmu yang selama ini sering belajar bareng kau?”

“Yep, tepat sekali,” jawabku riang. “Walaupun kau bisa menganggapnya tutoring—mereka baru kelas dua SMA”

“Oh,” kata Mike terkejut. Setelah berpikir sedetik, ia tersenyum.

Namun akhirnya Suburban itu tidak diperlukan.

Jessica dan Lauren langsung bilang sibuk begitu Mike mengatakan akulah yang merencanakan acara pergi bareng ini. Eric dan Katie sudah punya rencana sendiri—mau merayakan tiga minggu mereka pacaran atau apa. Lauren sudah lebih dulu menyatroni Tyler dan Conner sebelum Mike, jadi mereka juga bilang sibuk. Bahkan Quil pun batal ikut—dihukum tidak boleh keluar rumah gara-gara berkelahi di sekolah. Akhirnya, hanya Angela dan Ben yang bersedia, juga Jacob tentu saja.

Meski begitu, jumlah pengikut yang berkurang banyak itu tidak mengurangi kegembiraan Mike. Yang ia ocehkan melulu tentang hari Jumat.

“Kau yakin tidak mau menonton Tomorrow and Forever saja?” tanyanya saat makan siang, menyebut judul film komedi romantis yang sedang menduduki peringkat teratas dalam deretan film-film box office. “Menurut resensi Rotten Tomatoes, filmnya bagus banget lho.”

“Aku ingin nonton Crosshairs? aku bersikeras. “Aku sedang mood nonton film-film action. Yang banyak darah dan isi perutnya!”

“Oke.” Mike berpaling, tapi aku masih sempat melihat ekspresinya yang menganggapku sinting.

Sesampainya di rumah sepulang sekolah, sebuah mobil yang sangat familier terparkir di depan rumahku. Jacob berdiri bersandar di kap mesin, seringai lebar menghiasi wajahnya.

“Tidak mungkin!” teriakku sambil melompat turun dari truk. “Kau sudah selesai! Aku tidak percaya! Kau sudah selesai memermak si Rabbit!”

Jacob berseri-seri. “Baru semalam. Ini perjalanan pertamanya.”

“Luar biasa.” Kuangkat tanganku untuk ber-high five.

Jacob memukulkan telapak tangannya ke telapak tanganku, tapi membiarkannya tetap menempel di sana, memilin jari-jarinya dengan jarijariku. “Jadi, boleh tidak aku mengendarainya malam ini?”

“Jelas boleh,” jawabku, lalu mendesah.

“Ada apa?”

“Aku menyerah—aku tidak bisa mengungguli ini. Jadi kau menang. Kau yang paling tua.”

Jacob mengangkat bahu, tidak terkejut melihatku menyerah. “Itu sudah jelas.”

Suburban Mike muncul di tikungan, berdegukdeguk. Kutarik tanganku dari tangan Jacob, dan kulihat ia mengernyit.

“Aku ingat cowok ini,” katanya pelan ketika Mike memarkir mobilnya di seberang jalan. “Dia cowok yang mengira kau pacarnya. Dia masih salah sangka?”

Aku mengangkat sebelah alisku. “Sebagian orang sulit menerima penolakan.”

“Bagaimanapun,” kata Jacob sambil merenung, “terkadang kegigihan bisa membuahkan hasil.”

“Lebih sering menjengkelkan, tapi.”

Mike turun dari mobil dan menyeberang jalan.

“Hai, Bella,” ia menyapaku, kemudian matanya berubah waswas pada waktu menengadah memandangi Jacob. Kulirik Jacob sebias berusaha objektif. Ia sama sekali tidak mirip anak kelas 2 SMA. Badannya besar sekali—kepala Mike nyaris tidak sampai sebahu Jacob; aku bahkan tak ingin membayangkan tinggi, ku kalau aku berdiri di sebelahnya—dan wajahnya juga tampak lebih tua daripada biasa, bahkan sebulan yang lalu sekalipun.

“Hai. Mike! Kau masih ingat Jacob Black?”

“Tidak juga.” Mike mengulurkan tangan.

“Teman lama keluarga,” Jacob memperkenalkan diri, menjabat tangan Mike. Mereka bersalaman dengan keras. Setelah melepaskan genggamannya. Mike meregangkan jari-jarinya.

Kudengar telepon berdering dari dapur.

“Kuangkat dulu ya— siapa tahu dari Charlie,” kataku pada mereka, lalu berlari masuk.

Ternyata Ben. Angela terserang flu perut, dan ia enggan pergi sendiri tanpa Angela. Ia meminta maaf karena batal pergi dengan kami.

Aku berjalan lambat-lambat menghampiri kedua cowok yang sedang menunggu itu, menggelengkan kepala. Aku benar-benar berharap Angela cepat sembuh, tapi harus kuakui aku agak kesal oleh perkembangan tak terduga ini. Jadi sekarang hanya tinggal kami bertiga, Mike, Jacob, dan aku— benar-benar menyenangkan, pikirku, sinis bercampur muram.

Keliarannya Jake dan Mike tidak berusaha mengakrabkan diri selama kepergianku. Mereka berdiri terpisah beberapa meter, saling memunggungi sambil menungguku; ekspresi Mike masam, meski Jacob tetap seceria biasa.

“Ang sakit,” aku memberi tahu dengan muram. “Dia dan Ben tidak bisa ikut.”

“Kurasa flu itu mulai menulari anak-anak lain. Austin dan Conner hari ini juga tidak masuk. Mungkin lain kali saja kita pergi,” Mike menyarankan.

Sebelum aku sempat mengiyakan, Jacob sudah angkat bicara.

“Aku sih masih tetap ingin pergi. Tapi kalau kau lebih suka tidak pergi, Mike—”

“Tidak, aku ikut,” potong Mike. “Aku hanya memikirkan Angela dan Ben. Ayo kita pergi,” Ia mulai berjalan menghampiri Suburban-nya.

“Hei, kau keberatan tidak kalau Jacob yang menyetir?” tanyaku. “Aku sudah bilang dia boleh menyetir tadi—dia baru saja selesai memperbaiki mobilnya. Dia memermaknya dari nol lho,” pamerku, bangga seperti ibu yang anaknya juara kelas.

“Terserah,” bentak Mike.

“Baiklah kalau begitu,” sahut Jacob, seakanakan semua beres. Di antara kami bertiga, dialah yang kelihatannya paling santai.

Mike naik ke kursi belakang Rabbit dengan ekspresi jijik.

Jacob, seperti biasa, bersikap riang, mengobrol ramai sampai aku sama sekali lupa pada Mike yang merajuk tanpa suara di kursi belakang.

Kemudian Mike mengubah strategi. Ia mencondongkan tubuh, meletakkan dagunya di bahu kursi; pipinya nyaris menyentuh pipiku. Aku bergeser sedikit, memunggungi jendela.

“Radionya rusak, ya?” tanya Mike, nadanya sedikit marah, memotong omongan Jacob.

“Tidak,” jawab Jacob “Tapi Bella tidak suka musik.”

Kupandangi Jacob, terkejut. Aku tidak pernah bilang begitu padanya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.