Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Pikiranku berkelana sementara aku berjalan, dan rasa ingin tahuku muncul. Aku masih belum melupakan pembicaraan kami waktu itu di tebingtebing laut—selama ini aku menunggu Jacob mengungkitnya lagi, tapi kelihatannya itu tidak bakal terjadi.

“Hei… Jake?” tanyaku ragu-ragu.

“Yeah?”

“Bagaimana kabar… Embry? Dia sudah kembali normal?”

Jacob terdiam sejenak, masih terus berjalan dengan langkah-langkah panjang. Ketika berada kira-kira tiga meter di depan, ia berhenti untuk menungguku.

“Tidak. Dia belum kembali normal,” kata Jacob begitu aku sampai di dekatnya, sudut-sudut mulutnya tertarik ke bawah. Ia belum mulai berjalan lagi. Seketika itu juga aku langsung menyesal sudah mengungkitnya.

“Masih bersama Sam?”

“Yep.”

Jacob merangkul bahuku, dan ekspresinya tampak sangat galau sehingga aku tak berani menghalaunya dengan guyonan, seperti yang sebenarnya ingin kulakukan.

“Mereka masih memandangimu dengan sikap aneh?” aku separo berbisik.

Pandangan Jacob menerawang menembus pepohonan. “Kadang-kadang.”

“Dan Billy?”

“Sangat membantu, seperti yang sudah-sudah,” tukas Jacob dengan nada masam bercampur marah yang membuatku merasa tidak enak.

“Sofa kami selalu siap menampungmu,” aku menawarkan.

Jacob tertawa, sikap masamnya yang tidak biasa mendadak lenyap. “Tapi coba bayangkan betapa membingungkannya posisi Charlie—waktu Billy menelepon polisi bahwa aku diculik.”

Aku tertawa, senang melihat Jacob normal lagi.

Kami berhenti waktu Jacob berkata kami sudah berjalan hampir sepuluh kilometer, memotong ke barat sebentar, lalu kembali menyusuri jalur lurus sesuai gambar dalam petanya. Semua tampak sama persis seperti jalan masuk tadi, dan aku punya firasat pencarian tololku bisa dibilang gagal total. Aku terpaksa mengakuinya waktu akhirnya hari mulai gelap, hari yang tak bermatahari meredup berganti malam tak berbintang, tapi Jacob justru lebih percaya diri.

“Asal kau yakin kita memulainya dari tempat yang tepat…” Ia menunduk menatapku.

“Ya, aku yakin.”

“Maka kita pasti akan menemukannya,” ia berjanji, menyambar tanganku dan menarikku menerobos semak pakis. Begitu keluar dari dalam semak, kulihat trukku bertengger di pinggir jalan. Jacob melambaikan tangannya dengan bangga. “Percayalah padaku.”

“Kau hebat,” aku mengakui. “Tapi lain kali, jangan lupa bawa senter.”

“Mulai sekarang, hiking menjadi kegiatan tetap kita setiap hari Minggu. Aku baru tahu ternyata jalanmu selamban itu.”

Aku menyentakkan tanganku dari gandengannya dan berjalan sambil mengentak-entakkan kaki ke mobil, sementara Jacob terkekeh melihat reaksiku.

“Bagaimana, mau mencoba lagi besok?” tanyanya, menyusup masuk ke jok penumpang.

“Tentu. Kecuali kau mau pergi tanpa aku supaya aku tidak menahanmu dengan langkah-langkahku yang selamban siput.”

“Aku tahan kok,” Jacob meyakinkan aku. “Tapi kalau kita hiking lagi nanti, lebih baik kau memakai moleskin–semacam sepatu (mokasin yang terbuat dari kulit hewan berbulu. Berani bertaruh, kakimu pasti lecet-lecet dengan sepatu bot barumu itu.”

“Sedikit,” aku mengakui. Rasanya kakiku memang lecet semua.

“Mudah-mudahan besok kita bisa melihat beruang. Aku agak kecewa juga soal itu.”

“Ya, aku juga,” sergahku sinis. “Mungkin besok kita beruntung dan akan menjadi mangsa binatang!”

“Beruang tidak suka makan manusia. Kita toh tidak enak-enak amat.” Jacob nyengir padaku di dalam truk yang gelap. “Tentu saja, bisa jadi kau merupakan pengecualian. Berani bertaruh, kau pasti enak sekali.”

“Terima kasih banyak,” sahutku, membuang muka. Ia bukan orang pertama yang mengatakan hal itu.

 

9. KAMBING CONGEK

WAKTU mulai berjalan jauh lebih cepat dibanding sebelumnya. Sekolah, bekerja, dan Jacob—meski tidak selalu dalam urutan itu— membentuk pola yang rapi dan mudah diikuti. Dan keinginan Charlie terwujud: aku tidak merana lagi. Tentu saja. aku tidak bisa sepenuhnya menipu diri sendiri. Saat berhenti untuk menginventarisasi hidupku, sesuatu yang kuusahakan untuk tidak terlalu sering kulakukan, aku tak bisa mengabaikan implikasinya terhadap tingkah lakuku.

Aku seperu bulan tersesat—planetku hancur dalam skenario film rentang kepedihan hati yang menimbulkan perubahan besar—yang tetap, walau bagaimanapun, bergerak dalam orbitnya yang kecil dan sempit mengitari ruang angkasa yang kini kosong melompong, mengabaikan hukum gravitasi.

Aku semakin piawai naik motor, dan itu berarti aku tidak membuat Charlie khawatir lagi karena terlalu sering jatuh. Tapi itu juga berarti suara di kepalaku mulai menghilang, sampai aku tidak mendengarnya lagi sama sekali. Diam-diam aku panik. Aku semakin kalap menari padang rumput itu. Aku memeras otak mencari aktivitas lain yang bisa memicu idrenalin.

Aku tak lagi memerhatikan hari-hari yang berlalu – tidak ada alasan untuk itu. karena aku berusaha sebisa mungkin hidup di masa kini, tanpa masa lalu yang menghilang, atau masa depan yang menjelang. Karena itulah aku terkejut waktu Jacob mengungkit tanggal berapa sekarang saat kami bertemu untuk mengerjakan PR. Ia sudah menungguku waktu aku berhenti di depan rumahnya.

“Selamat Hari Valentine,” kata Jacob, tersenyum, tapi menunduk saat menyapaku.

Ia mengulurkan kotak kecil berwarna pink, menaruhnya di telapak tangan.

“Well, aku merasa tolol sekali,” gumamku. “Ini Hari Valentine?”

Jacob menggeleng dengan lagak pura-pura sedih. “Terkadang kau ini seperti tidak ada di sini saja. Ya, sekarang tanggal 14 Februari. Nah, maukah kau menjadi Valentine-ku? Berhubung kau tidak membelikan sekotak cokelat seharga lima puluh sen, paling tidak itulah yang bisa kaulakukan.”

Aku mulai merasa tidak enak. Kata-katanya bernada menyindir, tapi hanya di permukaan.

“Apa tepatnya kewajiban menjadi Valentine?” aku mengelak.

“Biasalah—menjadi budak seumur hidup, semacam itu.”

“Oh, Well, kalau hanya itu…” Kuterima kotak cokelat itu. Tapi aku berusaha memikirkan cara untuk menegaskan batas-batas itu. Lagi. Bersama Jacob, sepertinya batas-batas itu sering kali kabur.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan besok? Hiking, atau UGD?”

“Hiking,” aku memutuskan. “Bukan hanya kau yang bisa obsesif. Aku mulai berpikir janganjangan tempat itu hanya khayalanku saja…” Aku mengerutkan kening dan menerawang.

“Kita pasti bisa menemukannya,” Jacob meyakinkanku. “Sepeda motor hari Jumat?” ia menawarkan.

Aku melihat kesempatan dan langsung menyambarnya tanpa meluangkan waktu untuk memikirkannya masak-masak lebih dulu.

“Jumat nanti aku akan pergi nonton film. Sudah lama sekali aku berjanji pada teman-teman sekafeteriaku untuk pergi bareng.” Mike pasti senang.

Tapi wajah Jacob langsung berubah. Aku sempat menangkap secercah ekspresi di matanya yang gelap sebelum ia menunduk dan memandang tanah.

“Kau ikut, kan?” aku cepat-cepat menambahkan. “Atau kau merasa bergaul dengan serombongan murid senior itu sangat membosankan?” Ternyata aku tetap tak bisa menjaga jarak dengannya. Aku tidak tega melukai hati Jacob; kami seperti memiliki hubungan khusus yang aneh, dan kesedihannya menusuk hatiku juga. Apalagi, aku senang membayangkan diriku ditemani olehnya melewati “cobaan” ini—aku memang sudah berjanji pada Mike, tapi tidak merasa terlalu antusias melakukannya.

“Kau ingin aku ikut, bersama teman-temanmu yang lain?”

“Ya,” dengan jujur aku mengakui, meski dalam hati tahu ini hanya akan membuat masalah. “Aku akan lebih senang kalau ada kau. Ajak Quil sekalian, biar lebih ramai.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.