Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Ssst,” desahku setengah hati. Aku naik melewati pintu yang sudah terbuka, dalam hati berharap Edward menerima tawaranku yang lain.

Edward mengotak-atik radio sementara aku menyetir, menggeleng sebal.

“Sinyal radiomu jelek sekali.”

Keningku berkerut. Aku tidak suka Edward menjelek-jelekkan trukku. Trukku bagus kok— punya kepribadian.

“Kepingin stereo yang bagus? Naik mobilmu saja.” Aku begitu gugup menghadapi rencana Alice, ditambah suasana hatiku yang memang sudah muram, jadi kata-kata yang keluar dari mulutku terdengar lebih tajam daripada yang sebenarnya kumaksudkan. Aku jarang marah kepada Edward, dan nadaku yang ketus membuat Edward mengatupkan bibir rapat-rapat menahan senyum.

Setelah aku memarkir trukku di depan rumah Charlie, Edward merengkuh wajahku dengan kedua tangan. Ia memegangku sangat hati-hati, hanya ujung-ujung jarinya yang menempel lembut di pelipis, tulang pipi, dan daguku. Seolah-olah aku gampang pecah. Dan itu benar—bila dibandingkan dengan dia, paling tidak.

“Seharusnya hari ini suasana hatimu lebih baik dibanding kan hari-hari lain” bisiknya. Aroma napasnya yang manis membelai wajahku.

“Dan kalau suasana hatiku jelek?” tanyaku, napasku tidak teratur.

Bola mata Edward yang keemasan menyalanyala. “Sayang sekali.”

Kepalaku sudah berputar-putar saat Edward mendekatkan kepalanya ke wajahku dan menempelkan bibirnya yang sedingin es ke bibirku. Tepat seperti yang ia inginkan, sudah pasti, aku langsung melupakan semua kekhawatiranku dan berkonsentrasi untuk ingat menghirup napas dan mengeluarkannya.

Bibir Edward terus menempel di bibirku, dingin, licin, dan lembut, sampai aku merangkulkan kedua tanganku ke lehernya dan membiarkan diriku hanyut dalam ciumannya, agak terlalu antusias malah. Aku bisa merasakan bibirnya tertekuk ke atas saat ia melepaskan wajahku dan melepaskan tanganku yang mendekap tengkuknya erat-erat.

Edward sangat berhati-hati dalam utusan hubungan fisik, karena ia ingin aku tetap hidup. Meski tahu aku harus memberi jarak aman antara kulitku dengan gigi Edward yang setajam silet dan berlapis racun itu, aku cenderung melupakan halhal remeh semacam itu saat ia menciumku.

“Jangan nakal,” desahnya di pipiku. Edward menempelkan bibirnya sekali lagi dengan lembut ke bibirku, kemudian melepaskan pelukannya, melipat kedua lenganku di perut.

Denyut nadi menggemuruh di telingaku. Kutempelkan sebelah tanganku ke dada.

Jantungku berdebar sangat keras di bawah telapak tangan.

“Menurutmu, apakah aku bisa jadi semakin baik dalam hal ini?” tanyaku, menujukannya pada diriku sendiri. “Bahwa jantungku suatu saat nanti akan berhenti mencoba melompat keluar dari dadaku setiap kali kau menyentuhku?”

“Aku benar-benar berharap itu tidak akan terjadi,” jawab Edward, sedikit puas pada diri sendiri.

Kuputar bola mataku. “Ayo kita nonton keluarga Capulet dan Montague saling menghabisi, bagaimana?”

“Your wish, my command”

Edward duduk berselonjor di sofa sementara aku menyetel film, mempercepat bagian pembukaan. Waktu aku duduk di pinggir sofa di depannya, Edward merangkul pinggangku dan menarikku ke dadanya. Memang tidak senyaman bersandar di punggung sofa, karena dada Edward keras dan dingin—dan sempurna—seperti pahatan es, tapi aku jelas lebih menyukainya. Edward menarik selimut tua yang tersampir di punggung sofa dan menghamparkannya menutupi tubuhku, supaya aku tidak membeku karena bersentuhan dengan tubuhnya.

“Kau tahu, sebenarnya aku kurang suka pada Romeo,” Edward berkomentar saat filmnya mulai.

“Memangnya Romeo kenapa?” tanyaku, agak tersinggung. Romeo salah satu karakter fiksi favoritku. Sampai aku bertemu Edward, aku sempat agak-agak naksir padanya.

“Well, pertama-tama, dia mencintai Rosaline ini—apa menurutmu itu bukan plin-plan namanya? Kemudian, beberapa menit setelah pernikahan mereka, dia membunuh sepupu Juliet. Itu sangat tidak cerdas. Kesalahan demi kesalahan. Masa menghancurkan kebahagiaannya sendiri?”

Aku mendesah. “Kau mau aku menontonnya sendirian?”

“Tidak, toh aku akan lebih banyak menontonmu.” Jari-jarinya menyusur membentuk pola di kulit lenganku, membuat bulu kudukku meremang. “Kau bakal menangis, tidak?”

“Kemungkinan besar,” aku mengakui, “kalau aku memerhatikan.”

“Aku tidak akan mengganggumu kalau begitu.” Tapi aku merasakan bibirnya di rambutku, dan itu sangat mengganggu.

Akhirnya film itu berhasil menyita perhatianku, sebagian besar berkat “jasa” Edward membisikkan dialog-dialog Romeo di telingaku—suaranya yang merdu bak beledu membuat suara si aktor terdengar lemah dan kasar. Dan aku benar-benar menangis, membuat Edward geli, saat Juliet terbangun dan menemukan suami barunya sudah meninggal.

“Harus kuakui, aku agak iri padanya dalam hal ini,” kata Edward, mengeringkan air mataku dengan seberkas rambutku.

“Dia cantik sekali.”

Edward mengeluarkan suara seperti jijik. “Aku bukan iri karena ceweknya—tapi karena mudahnya dia bunuh diri,” Edward mengklarifikasi dengan nada menyindir. “Kalian manusia gampang sekali mati! Tinggal menelan setabung kecil ekstrak tumbuhan…”

“Apa?” aku kaget.

“Itu pernah terpikir olehku, dan aku tahu dari pengalaman Carlisle, prosesnya tidak sesederhana itu. Aku bahkan tidak tahu berapa kali dia mencoba bunuh diri awalnya… begitu sadar dia sudah berubah menjadi…” Suara Edward, yang sempat berubah serius, kini ceria lagi. “Dan sampai sekarang ternyata dia masih sehat walafiat.”

Aku berbalik supaya bisa membaca ekspresi wajahnya. “Ngomong apa sih kau?” tuntutku. “Apa maksudmu, itu pernah terpikir olehmu?”

“Musim semi lalu, waktu kau… nyaris terbunuh…” Edward terdiam sejenak untuk menarik napas dalam-dalam, berusaha keras kembali memperdengarkan nada menggoda. “Tentu saja aku berusaha fokus untuk menemukanmu hidup-hidup, tapi sebagian otakku menyusun rencana cadangan. Seperti kataku tadi, tak semudah yang bisa dilakukan manusia.”

Sedetik, kenangan akan perjalanan terakhirku ke Phoenix membanjiri otakku dan membuatku merasa pusing. Aku bisa melihat semuanya dengan sangat jelas—terik matahari yang menyilaukan, gelombang panas yang menguap dari beton saat aku berlari sekuat tenaga, tergesa-gesa, dan putus asa, untuk menemukan vampir sadis yang ingin menyiksaku sampai mati. James, menunggu di ruang cermin bersama ibuku sebagai sandera— atau aku menyangka begitu. Aku tidak tahu itu hanya tipuan. Sama halnya James juga tidak tahu saat itu Edward sedang lari untuk menyelamatkan aku; Edward tiba tepat waktu, meski nyaris terlambat. Tanpa berpikir, jari-jariku meraba bekas luka berbentuk bulan sabit di tanganku yang suhunya selalu beberapa derajat lebih rendah daripada bagian kulitku yang lain.

Aku menggeleng—seolah ingin menepis kenangan buruk itu jauh-jauh—dan berusaha mencerna maksud Edward. Perutku melilit. “Rencana cadangan?” ulangku.

“Well, aku tidak mau hidup tanpa kau,” Edward memutar bola matanya, seolah-olah jawaban itu sudah sangat jelas, tak perlu ditanyakan lagi. “Tapi aku tak tahu bagaimana melakukannya—aku tahu Emmett dan Jasper tidak akan mau membantu… jadi kupikir mungkin aku akan pergi ke Italia dan melakukan sesuatu untuk memprovokasi Volturi.”

Aku tidak ingin percaya bahwa Edward serius, tapi matanya terlihat muram, terfokus pada sesuatu di kejauhan saat ia mempertimbangkan berbagai cara untuk menghabisi nyawanya sendiri. Seketika aku marah.

“Apa itu Volturi?” tuntutku.

“Volturi itu nama sebuah keluarga,” Edward menjelaskan, matanya masih tampak muram. “Keluarga sejenis kami, sangat tua dan berkuasa.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.