Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Aku bukannya tersandung di garasi,” aku buruburu memprotes. “Kami sedang hiking, dan aku tersandung batu.”

“Sejak kapan kau suka hiking?” Charlie bertanya skeptis. “Kerja di Newton’s membuatku ketularan demam berpetualang,” dalihku. “Setiap hari menjual berbagai perlengkapan hiking, lama-lama penasaran juga.”

Charlie menatapku tajam, tidak percaya.

“Aku akan lebih berhati-hati,” janjiku, diamdiam menyilangkan jari-jariku di bawah meja.

“Aku tidak keberatan kau hiking di sekitar La Push, tapi jangan jauh-jauh dari kota, oke?”

“Kenapa?’

“Well, belakangan ini aku sering mendapat laporan tentang kemunculan hewan-hewan liar. Petugas dari departemen kehutanan akan mengecek laporan-laporan itu, tapi untuk sementara waktu…”

“Oh, soal beruang besar itu,” kataku, mendadak paham. “Yeah, beberapa hiker yang datang ke Newton’s juga mengaku melihatnya. Dad yakin ada beruang grizzly raksasa yang bermutasi di luar sana?”

Kening ayahku berkerut. “Pokoknya ada sesuatu. Jangan jauh-jauh dari kota. oke?”

“Tentu, tentu,” aku buru-buru menyahut. Kelihatannya Charlie tidak begitu puas.

“Charlie mulai curiga,” keluhku pada Jacob waktu aku menjemputnya sepulang sekolah pada hari Jumat.

“Mungkin untuk sementara kita jangan naik motor dulu.” Jacob melihat ekspresi penolakan di wajahku dan menambahkan, “Setidaknya untuk satu-dua minggu ini. Kau bisa kan menjauhi rumah sakit selama satu minggu?”

“Lantas, kita ngapain dong?” omelku.

Jacob tersenyum riang. “Terserah kau.”

Aku memikirkannya sebentar—tentang apa yang kuinginkan.

Aku tidak suka membayangkan bakal kehilangan kedekatanku dengan kenangan tak menyakitkan itu, meski hanya beberapa detik— kenangan yang datang sendiri, tanpa aku perlu memikirkannya secara sadar. Kalau aku tidak bisa naik motor, berarti aku harus mencari jalan lain untuk melakukan hal yang berbahaya dan memicu adrenalin, dan untuk itu diperlukan pemikiran yang serius serta kreativitas. Tidak melakukan apa-apa untuk sementara sepertinya tidak menarik. Bagaimana kalau aku depresi lagi, bahkan walaupun sudah bersama Jake? Aku harus tetap menyibukkan diri.

Mungkin ada jalan lain, resep lain… tempat lain.

Keliru besar mendatangi rumahnya, jelas. Tapi kehadiranmu pasti terpatri di suatu tempat, di tempat lain selain dalam diriku. Pasti ada tempat di mana kehadirannya terasa lebih nyata di antara lokasi-lokasi penting yang sarat kenangan manusia-manusia lain.

Ada satu tempat yang terlintas dalam benakku. Satu tempat yang akan selalu menjadi miliknya, bukan milik orang lain. Tempat yang magis penuh cahaya. Padang rumput indah yang hanya pernah kulihat sekali dalam hidupku, benderang oleh sinar matahari dan kulitnya yang berpendar-pendar gemerlap.

Ide itu berpotensi besar menjadi senjata makan tuan—bisa jadi itu malah akan sangat menyakitkan. Bahkan memikirkannya saja sudah membuat dadaku nyeri oleh kehampaan. Sulit rasanya menahan perasaan tetap tenang, agar tidak ketahuan. Tapi jelas, di sanalah tempatku pasti bisa mendengar suaranya. Lagi pula. aku sudah telanjur mengatakan pada Charlie bahwa aku pernah hiking…

“Apa yang kaupikirkan sampai serius begitu?” tanya Jacob.

“Well…” Aku mulai lambat-lambat. “Dulu aku pernah menemukan tempat di dalam hutan—aku menemukannya waktu aku sedang, eh, hiking. Padang rumput kecil, pokoknya indah sekali. Entah apakah aku bisa menemukannya lagi sendiri. Mungkin bisa kalau mencoba beberapa kali…”

“Kita bisa memakai kompas dan peta,” kata Jacob penuh percaya diri. “Kau tahu dari mana memulainya?”

“Ya, tepat dari ujung jalan setapak di ujung jalan satu sepuluh berakhir. Arah selatan, kalau tidak salah.”

“Bagus, Ayo kita cari.” Seperti biasa, Jacob selalu bersemangat menerima ajakanku. Tidak peduli betapa pun anehnya ajakanku itu.

Maka, Sabtu siang aku mengikat sepatu bot hiking baruku—dibeli paginya dengan memanfaatkan diskon dua puluh persen khusus karyawan yang kupakai untuk pertama kali— menyambar peta topografi Semenanjung Olympic, lalu melaju ke La Push.

Kami tidak langsung mulai; pertama-tama, Jacob tengkurap di lantai ruang tamu—panjang badannya mengisi seluruh ruangan—dan, selama dua puluh menit penuh, menggambar jaring-jaring rumit di bagian-bagian tertentu pada peta sementara aku bertengger di kursi dapur mengobrol dengan Billy. Sepertinya Billy sama sekali tidak khawatir mendengar rencana kami pergi hiking. Aku terkejut juga karena Jacob menceritakan padanya tentang rencana kami, padahal orang-orang banyak meributkan soal beruang itu. Aku ingin meminta Billy untuk tidak bercerita pada Charlie, tapi takut permintaan itu justru mendorongnya berbuat sebaliknya.

“Mungkin kita akan bertemu beruang super itu,” canda Jacob, matanya tertuju pada desainnya.

Aku cepat-cepat melirik Billy, takut ia bakal bereaksi seperti Charlie.

Tapi Billy hanya tertawa mendengar perkataan anaknya. “Mungkin sebaiknya kaubawa saja satu stoples madu, untuk jaga-jaga.”

Jacob terkekeh. “Mudah-mudahan sepatu bot barumu bisa berlari cepat, Bella. Satu stoples madu tidak cukup untuk menahan beruang yang kelaparan.”

“Aku hanya perlu berlari lebih cepat darimu.”

“Selamat deh kalau begitu!” seru Jacob, memutar bola matanya sambil melipat peta. “Ayo kita pergi.”

“Selamat bersenang-senang,” kata Billy sambil menggelinding menuju lemari es.

Charlie bukan tipe orang yang sulit, tapi sepertinya Billy jauh lebih longgar ketimbang dia.

Aku mengemudikan trukku sampai ke ujung jalan tanah, berhenti dekat papan petunjuk yang menandai awal jalan setapak. Sudah lama sekah aku tak pernah lagi ke sini, dan perutku bereaksi dengan gugup. Bisa jadi ini sangat gawat. Tapi akan setimpal dengan hasilnya kalau aku bisa mendengarnya.

“Aku turun dan memandangi belukar hijau yang rapat.

“Aku pergi ke arah ini,” gumamku, menuding lurus ke depan.

“Hmmm,” gumam Jake.

“Apa?”

Ia melihat ke arah yang kutunjuk, lalu ke jalan setapak yang sudah ditandai dengan jelas, dan kembali lagi.

“Aku pasti mengira kau cewek penjelajah sejati.”

“Enak saja.” Aku tersenyum lemah. “Aku ini pemberontak.”

Jacob tertawa, kemudian mengeluarkan peta kami.

“Tunggu sebentar.” Ia memegang kompas dengan sikap ahli, memutar peta hingga mengarah ke tempat yang ia inginkan.

“Oke—garis pertama pada peta. Ayo cabut.”

Kentara sekali Jacob harus memperlambat langkah demi aku, tapi ia tidak mengeluh. Aku berusaha untuk tidak memikirkan perjalanan terakhirku ke bagian hutan ini, ditemani seseorang yang sama sekali berbeda. Kenangan-kenangan normal masih tetap berbahaya. Kalau kubiarkan diriku tergelincir, aku akan mendapati diriku mencengkeram dada untuk menahannya tetap utuh, megap-megap kehabisan udara, dan bagaimana aku menjelaskan itu pada Jacob?

Ternyata tetap memfokuskan diri pada masa sekarang tidak sesulit yang kuduga. Hutan ini sangat mirip dengan bagian lain semenanjung, dan kehadiran Jacob membuat suasana hatiku sangat jauh berbeda.

Jacob bersiul-siul riang, lagunya tidak kukenal, sambil mengayun-ayunkan kedua lengan dan berjalan ringan menembus semak belukar yang kasar. Bayang-bayang tak tampak segelap biasa. Tidak dengan ditemani matahari pribadiku.

Sesekali Jacob mengecek kompas, memastikan kami tetap di jalur yang benar. Kelihatannya ia benar-benar paham apa yang dilakukannya. Aku ingin memujinya, tapi lalu mengurungkan niat. Tak diragukan lagi ia bakal menambahkan beberapa tahun ke usianya yang sudah menggelembung.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.