Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Kaget juga aku menyadari betapa jauhnya aku mengendarai motorku. Aku nyaris tak bisa melihat Jacob di kejauhan waktu ia akhirnya sampai ke trukku. Ia melemparkan sepeda motor ke bak truk dan berlari ke sisi kemudi.

Aku benar-benar tidak keberatan waktu Jacob memacu trukku hingga suara mesinnya meraung memekakkan telinga. Kepalaku sedikit pusing, perutku mual, tapi lukaku tidak serius. Darah yang keluar dari luka kepala memang cenderung lebih banyak. Jacob sebenarnya tak perlu sepanik itu.

Jacob membiarkan mesin tetap menyala sementara ia berlari mendapatiku, melingkarkan lengannya lagi ke pinggangku.

“Oke, ayo kunaikkan kau ke truk.”

“Sungguh, aku tidak apa-apa,” aku meyakinkan Jacob sementara ia membantuku naik. “Jangan panik begitu. Darahnya hanya sedikit kok.”

“Sedikit bagaimana, ini banyak sekali,” kudengar Jacob menggerutu waktu ia lari mengambil sepeda motorku.

“Sekarang, mari kita pikirkan dulu masalah ini sebentar, kataku setelah Jacob naik lagi ke mobil. “Kalau kau membawaku ke UGD seperti ini, Charlie pasti akan tahu nanti.” Kulirik tanah dan lumpur yang mengering di jinsku.

“Bella, kurasa lukamu perlu dijahit. Aku tidak akan membiarkanmu mati kehabisan darah.”

“Itu, tidak akan terjadi,” aku meyakinkannya. “Kita antar saja dulu motornya, kemudian mampir ke rumahku supaya aku bisa menghilangkan semua bukti dan baru kemudian ke rumah sakit.”

“Bagaimana dengan Charlie?

“”Katanya tadi dia harus kerja.”

“Kau yajin?”

“Percakah padaku. Aku ini gampang berdarah. Ini tidak separah kelihatannya kok.”

Jacob tidak senang mendengarnya—sudut-sudut mulutnya tertekuk ke bawah—tapi ia tidak ingin menyusahkanku. Aku memandang ke luar jendela, menempelkan kaus Jacob yang berlepotan darah ke kepala, sementara ia membawa trukku menuju Forks.

Sepeda motor itu jauh lebih baik daripada yang kubayangkan. Tujuan sesungguhnya tercapai. Aku sudah berbuat curang—melanggar janjiku. Aku melakukan kecerobohan yang tidak perlu. Sekarang aku tak lagi merasa terlalu merana karena kedua pihak sudah sama-sama ingkar janji.

Dan, menemukan kunci ke halusinasi! Setidaknya, begitulah yang kuharapkan. Aku akan menguji teori itu sesegera mungkin. Mungkin mereka bisa menanganiku dengan cepat di UGD, jadi aku bisa mencobanya lagi nanti malam.

Ngebut di jalan seperti tadi rasanya luar biasa. Terpaan angin menampar wajahku, cepatnya motor melaju dan kebebasan yang kurasakan… mengingatkanku pada kehidupan masa laluku, terbang menembus hutan lebat tanpa berjalan, menaiki punggungnya sementara ia berlari – pikiranku berhenti sampai di situ, membiarkan ingatanku terputus begitu saja karena mendadak hatiku miris. Aku meringis.

“Kau masih baik-baik?” tanya Jacob.

“Yeah.” Aku berusaha tetap memperdengarkan nada tegar seperti sebelumnya.

“Omong-omong,” imbuh Jacob. “Aku akan mencopot kabel rem kakimu malam ini.”

Di rumah, yang pertama kulakukan adalah menyempatkan diri melihat keadaanku di cermin; benar-benar mengerikan. Darah mengering dalam bentuk aliran tebal di sepanjang pipi dan leherku, menempel di rambutku yang berlumpur. Kuamati diriku dari sisi klinis, berpura-pura darah itu cat supaya tidak mual. Aku bernapas lewat mulut, dan tidak merasa ingin muntah.

Aku mencuci muka sebisaku. Lalu kusembunyikan pakaian kotorku yang berlepotan darah di bagian bawah keranjang cucian, lalu memakai jins baru dan kemeja (jadi tidak perlu memakainya lewat kepala) sehati-hati mungkin. Aku berhasil melakukannya dengan satu tangan dan menjaga pakaianku tidak terkena noda darah.

“Cepatlah,” seru Jacob.

“Oke, oke,” aku balas berteriak. Setelah memastikan tidak meninggalkan bukti-bukti memberatkan, aku turun ke lantai bawah.

“Bagaimana kelihatannya?” tanyaku.

“Lebih baik,” ia mengakui.

“Tapi apakah aku terlihat seperti tersandung di garasimu dan kepalaku membentur palu?”

“Ya, kurasa begitu.”

“Baiklah kalau begitu, kita berangkat.”

Jacob bergegas menggiringku keluar, dan bersikeras menyetir lagi. Kami sudah setengah jalan menuju rumah sakit waktu aku sadar ia masih tidak memakai baju.

Aku mengurutkan kening dengan perasaan bersalah. “Seharusnya tadi kita mengambil jaket untukmu.”

“Nanti sandiwara kita terbongkar dong,” goda Jacob. “Lagi pula, udara tidak dingin kok.”

“Kau bercanda, ya?” Aku gemetar, tanganku terulur untuk menyalakan pemanas.

Kupandangi Jacob untuk melihat apakah ia sengaja berlagak gagah supaya aku tidak khawatir, tapi kelihatannya ia cukup nyaman. Sebelah tangannya bertengger di bagian belakang kursiku, sementara aku justru meringkuk supaya tetap hangat.

Jacob benar-benar terlihat lebih tua daripada enam belas tahun—bukan empat puluh, tapi mungkin lebih tua dariku. Quil saja masih kalah berotot dibandingkan dia, padahal Jacob menganggap dirinya kurus seperti tengkorak. Ototototnya panjang dan liat, tapi jelas kelihatan di balik kulitnya yang mulus. Warna kulitnya cantik sekali, membuatku iri saja.

Jacob sadar sedang diamati.

“Apa?” tanyanya, mendadak canggung.

“Tidak apa-apa. Hanya saja aku tidak menyadarinya sebelum ini. Tahukah kau bahwa kau lumayan tampan?”

Begitu kata-kata itu terlontar, aku khawatir ia akan salah menerima observasi impulsifku itu.

Tapi Jacob hanya memutar bola matanya. “Kepalamu terbentur keras sekali, ya?”

“Aku serius.”

“Well, kalau begitu, trims. Kayaknya.”

Aku nyengir. “Sama-sama. Kayaknya.”

Aku mendapat tujuh jahitan untuk menutup luka di keningku. Setelah merasa perih karena mendapat anestesi lokal, prosedurnya sendiri tidak sakit. Jacob memegangi tanganku sementara dr. Snow menjahit, dan aku berusaha untuk tidak memikirkan betapa ironisnya itu.

Kami lama sekali di rumah sakit. Setelah selesai, aku harus mengantar Jacob ke rumahnya dan buru-buru pulang untuk memasak makan malam untuk Charlie. Charlie sepertinya memercayai ceritaku bahwa aku jatuh di garasi Jacob. Bagaimanapun, bukan baru kali ini aku pergi sendiri ke UGD.

Malam itu tidak seburuk malam pertama itu, setelah aku mendengar suaranya yang sempurna di Port Angeles. Lubang itu kembali menganga, seperti yang selalu terjadi setiap kali aku jauh dari Jacob, tapi bagian pinggirnya tak lagi berdenyutdenyut nyeri. Aku selalu menyusun rencana ke depan, menanti-nanti datangnya delusi lagi, dan itu mengalihkan perhatianku. Juga, aku tahu perasaanku akan lebih enak besok, saat bertemu lagi dengan Jacob. Itu membuat lubang hampa dan kepedihan yang familier itu lebih mudah ditanggung; sebentar lagi kelegaan akan kudapat. Mimpi buruk juga kehilangan sedikit potensinya.

Aku takut pada kehampaan, seperti yang selalu terjadi, tapi anehnya, aku juga tidak sabar menunggu saat-saat yang akan membuatku menjerit dan kemudian tersadar. Aku tahu mimpi buruk itu pasti berakhir.

Hari Rabu berikutnya, sebelum aku sampai di rumah dan UGD, dr. Gerandy menelepon ayahku untuk mengingatkan kemungkinan aku mengalami gegar otak dan menyarankannya untuk membangunkan aku setiap dua jam sekali sepanjang malam untuk memastikan itu tidak serius. Mata Charlie menyipit curiga mendengar penjelasan lemahku yang lagi-lagi mengatakan aku tersandung.

“Mungkin sebaiknya kau jangan lagi nongkrong di garasi, Bella,” Charlie menyarankan saat makan malam.

Aku panik, khawatir Charlie bakal mengeluarkan semacam dekrit yang melarangku pergi ke La Push, dan akibatnya aku tidak akan bisa mengendarai motorku lagi. Tapi aku tak mau menyerah—hari ini aku mengalami halusinasi paling menakjubkan. Delusiku yang bersuara sehalus beledu itu berteriak-teriak padaku selama hampir lima menit sebelum akhirnya aku menginjak rem kelewat mendadak dan tubuhku terlempar membentur pohon. Untuk itu aku rela merasakan sakit yang akan kualami malam ini tanpa mengeluh.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.