Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Ingat bagaimana caranya memasukkan gigi satu?’ tanyanya.

“Ya.”

“Well, lakukanlah.”

“Oke”

Jacob menunggu beberapa detik. “Kaki kiri,” desaknya.

“Aku sudah tahu,” sergahku, menarik napas dalam-dalam

“Yakin kau mau melakukannya?” tanya Jacob. “Kelihatannya kau takut.”

“Aku baik-baik saja,” bentakku. Kupelankan gas sedikit.

“Bagus sekali,” Jacob memujiku. “Sekarang, pelan-pelan sekali lepaskan kopling.”

Jacob mundur selangkah menjauhi motor.

“Kau mau aku melepaskan granat?” tanyaku tak percaya. Pantas saja ia mundur.

“Begitulah caramu menjalankan motor, Bella. Tapi lakukan sedikit demi sedikit.”

Saat mulai melonggarkan cengkeraman, aku shock bukan main saat mendengar suara yang bukan milik cowok yang berdiri di sampingku.

“Ini ceroboh, kekanak-kanakan, dan idiot, Bella,” suara selembut sutra itu menegur.

“Oh!” aku terkesiap, dan tanganku terlepas dari kopling.

Sepeda motor itu memberontak di bawahku, menyentakku maju dan ambruk ke tanah, separo bodinya menindihku. Suara mesinnya terbatukbatuk lalu mati.

“Bella?” Jacob menyentakkan sepeda motor berat itu dengan enteng. “Kau terluka?”

Tapi aku tidak mendengarkan.

“Sudah kubilang,” suara sempurna itu berbisik, sebening kristal.

“Aku tidak apa-apa,” gumamku, linglung.

Lebih dari itu. Suara di kepalaku telah kembali. Masih terngiang-ngiang di telingaku—gaung yang lembut dan sehalus beledu.

Pikiranku berputar cepat memikirkan berbagai kemungkinan. Tidak ada yang familier di sini—di jalanan yang tidak pernah kulihat, melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya—tidak ada deja vu. Jadi halusinasi itu pasti dipicu hal lain… aku merasa adrenalin menderas kembali di pembuluh darahku, dan kurasa aku tahu jawabannya. Kombinasi adrenalin dan bahaya, atau mungkin hanya ketololan.

Jacob menarikku berdiri.

“Kepalamu terbentur?” tanyanya.

“Kelihatannya tidak,” Aku menganggukkan kepala ke depan dan ke belakang, mengecek. “Motornya tidak rusak, kan?” Pikiran itu membuatku waswas. Aku sangat ingin mencoba lagi, segera. Bertindak ceroboh ternyata lebih berhasil daripada yang kukira. Tidak harus melakukan kecurangan. Mungkin aku sudah menemukan cara untuk memunculkan halusinasi— itu jauh lebih penting.

“Tidak. Mesinnya hanya mati,” jawab Jacob, menyela spekulasi kilatku. “Kau terlalu cepat melepas kopling.”

Aku mengangguk. “Ayo kita coba lagi”

“Kau yakin?” tanya Jacob.

“Positif.”

Kali ini aku mencoba mengengkol sendiri. Sulit sekali; aku harus meloncat sedikit agar bisa menginjak pedal sekuat tenaga, dan setiap kali melakukannya, sepeda motor itu seperti mencoba menjatuhkanku. Tangan Jacob menggelayut di atas setang, siap menangkapku kalau aku membutuhkannya.

Setelah beberapa kali mencoba dengan benar, bahkan ditambah dengan beberapa kali percobaan yang kurang tepat, baru mesinnya menyala dan meraung hidup di bawahku. Ingat bahwa ibaratnya aku sedang memegang granat, aku bereksperimen dengan memutar-mutar handel gas. Mesin langsung menggeram begitu handel gas diputar sedikit saja. Senyumku kini sama lebarnya dengan senyum Jacob.

“Hati-hati melepas koplingnya,” Jacob mengingatkanku. “Kau ingin bunuh diri, kalau begini? Jadi itu ya tujuannya?” suara itu berbicara lagi, nadanya galak.

Aku tersenyum kaku—masih berfungsi ternyata—dan mengabaikan pertanyaan itu. Jacob tidak akan membiarkan hal buruk menimpaku.

“Pulanglah ke Charlie,” suara itu memerintahkan. Keindahannya membuatku terpesona. Aku tak sanggup membiarkan ingatanku kehilangan suara itu, tak peduli berapa pun harga yang harus kubayar.

“Lepaskan pelan-pelan,” Jacob menyemangatiku.

“Baiklah,” jawabku. Aku agak resah waktu menyadari perkataanku itu menjawab pertanyaan mereka berdua.

Suara di kepalaku lagi-lagi menggeram mengatasi raungan mesin motor.

Berusaha fokus kali ini, tidak membiarkan suara itu mengagetkanku lagi, aku melepaskan cengkeramanku sedikit demi sedikit. Tahu-tahu giginya masuk dan motor menyentak maju.

Dan aku pun terbang.

Terpaan angin kencang yang tadi tidak ada meniup kulitku hingga melekat erat di tengkorak dan menerbangkan rambutku ke belakang dengan kekuatan sangat besar, seolah-olah ada yang menjambaknya. Perasaan mulas yang kurasakan tadi sebelum melaju lenyap sudah; adrenalin menderas di sekujur tubuh, menggelitik urat-urat nadiku. Pohon-pohon lewat cepat di sebelahku, kabur menjadi dinding hijau.

Tapi ini baru gigi satu. Kakiku beringsut-ingsut maju mendekati gigi sementara tanganku memutar setang untuk menambah gas.

“Tidak, Bella!” suara semanis madu itu memerintahkan dengan nada marah, tepat di telingaku. “Hati-hati!”

Pikiranku sempat teralih sejenak dari kecepatan untuk menyadari bahwa jalanan ternyata mulai menikung pelan ke kiri, tapi aku masih tetap melaju lurus. Jacob belum mengajariku caranya membelok.

“Rem, rem,” aku bergumam sendiri, dan secara naluri menginjak rem keras-keras dengan kaki kanan, seperti yang biasa kulakukan saat menyetir mobil.

Motor mendadak goyah di bawahku, pertama bergetar ke satu sisi dan baru kemudian ke sisi lain. Motor itu menyeretku ke arah dinding hijau, padahal kecepatanku kelewat tinggi. Aku berusaha membelokkan setang ke arah berlawanan, dan mendadak bobotku mendorong motor ke tanah, masih terus tergelincir ke arah pepohonan.

Sepeda motor itu kembali mendarat di atas tubuhku, meraung nyaring, menarikku melintasi pasir basah hingga membentur sesuatu yang tidak bergerak. Aku tak bisa melihat. Wajahku tersungkur ke dalam lumut. Aku mencoba mengangkat kepala, tapi sesuatu menghalangiku.

Aku pusing dan bingung. Kedengarannya ada tiga hal yang menggeram—motor di atasku, suara di kepalaku, dan sesuatu yang lain…

“Bella!” Jacob berteriak, dan aku mendengar geraman motor lain berhenti

Motor itu tak lagi mengimpitku ke tanah, dan aku berguling untuk bernapas. Semua geraman itu diam.

“Wow,” gumamku. Aku merasa sangat bergairah. Beginilah pasti resep jitu untuk halusinasiadrenalin ditambah bahaya ditambah perbuatan tolol. Sesuatu yang mendekati itu, paling tidak.

“Bella!” Jacob membungkuk cemas di atasku. Bella, kau masih hidup?”

“Aku baik-baik saja!” seruku antusias. Aku meregangkan otot-otot lengan dan kakiku. Kelihatannya semua masih berfungsi dengan baik. Ayo kita lakukan lagi.”

“Kurasa jangan.” Jacob masih terdengar waswas. “Kurasa sebaiknya kuantar kau ke rumah sakit dulu.”

“Aku baik-baik saja.”

“Ehm, Bella? Di dahimu ada luka robek yang besar sekali, dan darahmu mengucur deras.” Jacob memberitahuku.

Aku meletakkan tangan di kepala. Benar saja, tanganku jadi basah dan lengket. Aku tidak mencium bau apa-apa kecuali lumut lembab di wajahku, dan itu mencegah datangnya mual.

“Oh, maafkan aku, Jacob.” Kutekan luka itu kuat-kuat, seolah-olah dengan begitu aku bisa memaksa darah masuk kembali ke kepalaku.

“Untuk apa kau meminta maaf karena berdarah?” tanya Jacob sambil memeluk pinggangku dan membantuku berdiri. “Ayo kita pergi. Aku yang menyetir.” Ia mengulurkan tangan, meminta kunci.

“Sepeda-sepeda motornya bagaimana?” tanyaku sambil menyerahkan kunci.

Jacob berpikir sebentar. “Tunggu di sini. Dan ambil ini.” Jacob membuka kausnya yang sudah ternoda darah, lalu melemparnya ke arahku. Kubuat kaus itu menjadi buntalan dan kutempelkan ke dahiku. Aku mulai mencium baru darah; aku menarik napas dalam-dalam lewat mulut dan mencoba berkonsentrasi pada hal lain.

Jacob melompat kembali menaiki sepeda motor hitam, menyalakan mesinnya dengan hanya sekali mengengkol, lalu langsung ngebut, menghamburkan pasir dan kerikil-kerikil kecil di belakangnya. Ia tampak atletis dan profesional saat membungkuk ke depan di atas setang, kepala merunduk, wajah maju, rambut mengilat berkibarkibar menerpa kulit punggungnya yang cokelat kemerahan. Mataku menyipit iri. Aku yakin tidak terlihat seperti itu saat mengendarai motor.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.