Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Kupandangi Jacob, menggigit bibir dengan cemas—ia benar-benar ketakutan. Tapi Jacob tidak balas menatapku. Ia memandangi kakinya yang menendang-nendang karet ban. Temponya makin lama makin cepat.

“Lalu minggu ini, tak ada hujan tak ada angin, Embry mulai bergabung dengan Sam dan temantemannya yang lain. Dia tadi juga ada di tebing.” Suaranya rendah dan tegang.

Akhirnya Jacob menatapku juga. “Bella, dulu mereka lebih sering mengganggu Embry daripada aku. Embry bahkan tidak mau berurusan dengan mereka. Tapi sekarang dia membuntuti Sam ke mana-mana seolah-olah dia sudah bergabung dalam sebuah sekte.

“Dan hal yang sama juga terjadi pada Paul. Persis sama. Dia bukan teman Sam. Lalu tahutahu dia tidak masuk sekolah beberapa minggu, dan ketika kembali, mendadak Sam seperti memiliki dia. Entah apa maksudnya. Aku tidak mengerti, dan aku merasa harus mencari tahu, karena Paul temanku dan… Sam menatapku dengan sikap aneh… dan…” suara Jacob menghilang.

“Kau sudah membicarakan ini dengan Billy?” tanyaku. Ketakutannya mulai menular. Bulu kuduk di sekujur tubuhku meremang.

Kini wajahnya tersaput amarah. “Sudah,” dengusnya. “Benar-benar membantu.”

“Apa kata ayahmu?”

Ekspresi Jacob sinis, dan saat berbicara, ia menirukan suara ayahnya yang berat. “Tidak ada yang perlu kaukhawatirkan sekarang, Jacob. Beberapa tahun lagi, kalau kau tidak… Well, akan kujelaskan nanti.” Dan kemudian suaranya biasa lagi. “Bagaimana penjelasan seperti itu bisa membuatku mengerti? Apakah ayahku berusaha menjelaskan bahwa ini disebabkan oleh pubertas tolol, usia akil balig dan sebangsanya? Ini soal lain. Ada yang tidak beres.”

Jacob menggigit-gigit bibir bawahnya dan meremas kedua tangannya. Kelihatannya ia seperti mau menangis.

Instingku langsung menyuruhku merangkulnya, memeluk pinggangnya dan menempelkan wajahku ke dadanya. Ia besar sekali, aku merasa seperti anak kecil yang memeluk orang dewasa.

“Oh, Jake, semua pasti beres!” aku meyakinkannya. “Kalau keadaan bertambah parah, kau bisa tinggal bersamaku dan Charlie. Jangan takut, akan kita cari jalan keluarnya!”

Jacob membeku sedetik, kemudian kedua lengannya yang panjang merangkulku ragu-ragu. “Trims, Bella.” Suaranya lebih serak daripada biasa.

Sesaat kami berdiri diam sambil berpelukan, dan itu tidak membuatku kalut; malah, aku merasa nyaman bisa bersentuhan dengannya. Berbeda sama sekali dengan saat terakhir kali seseorang memelukku seperti ini. Ini pelukan persahabatan. Dan Jacob orangnya sangat hangat.

Aneh juga bagiku, bisa sedekat ini—lebih secara emosional daripada fisik, meski kedekatan fisik juga merupakan hal yang aneh bagiku—dengan sesama manusia. Itu bukan gayaku yang biasa. Normalnya, tidak mudah bagiku berhubungan dengan manusia, dalam tahapan yang sangat mendasar.

Tidak dengan manusia.

“Kalau tahu begini reaksimu, aku akan lebih sering panik.” Suara Jacob ringan, terdengar normal lagi, dan tawanya menggemuruh di telingaku. Jari-jemarinya menyentuh rambutku, lembut dan hati-hati.

Well, bagiku ini persahabatan.

Aku cepat-cepat melepaskan diri, tertawa bersamanya, tapi dalam hati bertekad untuk mengembalikan keadaan ke perspektif semula.

“Sulit dipercaya aku dua tahun lebih tua darimu,” tukasku, memberi penekanan pada kata “lebih tua”. “Kau membuatku merasa seperti orang kerdil.” Berdiri sedekat ini dengannya, aku benarbenar harus mendongak tinggi-tinggi untuk bisa melihat wajahnya.

“Kau selalu saja lupa umurku sudah empat puluhan.”

“Oh, benar.”

Jacob menepuk-nepuk kepalaku. “Kau seperti boneka kecil,” godanya. “Boneka porselen.”

Aku memutar bola mataku, mundur lagi selangkah. “Sudahlah, jangan mulai lagi dengan ejekanmu soal albino itu.”

“Serius nih, Bella, kau yakin kau bukan albino?” Jacob mendekatkan tangannya yang kemerahan itu ke tanganku, perbedaannya sangat mencolok. “Aku belum pernah melihat orang yang lebih pucat daripada kau… Well. Kecuali–” Jacob tidak meneruskan kata-katanya, dan aku membuang muka berusaha tidak memahami apa yang hendak ia katakan.

“Bagaimana, jadi naik motor atau tidak?”

“Ayolah,” ajakku, lebih antusias daripada setengah menit sebelumnya. Kalimat Jacob yang tidak selesai tadi mengingatkanku pada alasan mengapa aku datang ke sini.

 

8. ADRENALIN

“OKE, yang mana kopling?”

Aku menuding tuas di setang kiriku. Salah besar melepaskan pegangan. Sepeda motor yang berat itu goyah di bawahku, terancam jatuh ke samping. Cepat-cepat kusambar lagi setangnya, berusaha menegakkannya.

“Jacob, motornya tidak mau berdiri tegak,” keluhku, “Nanti akan stabil kalau sudah jalan,” janjinya. “Sekarang, mana rem?”

“Di belakang kaki kananku.”

“Salah.”

Jacob menyambar tangan kananku dan menekukkan jari-jariku ke tuas di belakang setang gas.

“Tapi tadi kaubilang—”

“Ini rem yang harus kaugunakan. Jangan pakai rem belakang dulu, itu untuk nanti, kalau kau sudah bisa mengendarainya dengan benar.”

“Kedengarannya kok tidak benar,” tukasku curiga. “Bukan kali kedua rem itu sama pentingnya?”

“Lupakan saja rem belakang, oke? Ini—”Jacob menumpang, kan telapak tangannya ke telapak tanganku dan menggerakkannya untuk meremas tuas. “Begini caranya mengerem. Jangan lupa.” Ia meremas tanganku sekali lagi.

“Baiklah.” aku setuju.

“Gas?”

Kuputar setang kanan.

“Gigi?”

Aku menyenggolnya dengan tungkai kaki kiriku.

“Bagus sekali. Kurasa kau sudah hafal nama-nama bagiannya. Sekarang tinggal menjalankannya.”

“He-eh,” gumamku, tidak berani mengatakan apa-apa lagi. Perutku melilit aneh dan rasanya suaraku mau pecah. Aku takut sekali. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa ketakutanku itu tak beralasan. Aku toh sudah pernah melewati hal terburuk yang mungkin terjadi. Dibandingkan dengan itu, mengapa hal lain bisa membuatku takut? Seharusnya aku bisa menghadapi maut dengan enteng dan berani.

Tapi perutku tidak percaya.

Kutatap jalan tanah yang membentang panjang di hadapanku, diapit di sisi kiri dan kanannya dengan tetumbuhan hijau rimbun berkabut. Jalanannya berpasir dan lembab. Lebih bagus daripada lumpur.

“Sekarang, tekan koplingnya,” Jacob memerintahkan.

Kuremas kopling dengan jari-jari tanganku.

“Sekarang ini penting, Bella,” Jacob menekankan. “Jangan lepas kopling itu, oke? Aku ingin kau menganggapnya granat aktif. Pinnya sudah dilepas dan sekarang kau menahan pemicunya.”

Aku meremasnya semakin kuat.

“Bagus. Kira-kira bisa tidak kau menyalakan mesin dengan mengengkol pedal kakinya?”

“Kalau aku memindahkan kakiku, aku bisa jatuh,” kataku dengan rahang terkatup rapat, jarijariku mencengkeram erat granat aktifku.

“Oke, biar aku saja. Jangan lepaskan koplingnya.”

Jacob mundur selangkah, kemudian tiba-tiba mengengkol pedal keras-keras. Terdengar raungan pendek, dan sepeda motor tersentak ke depan saking kerasnya Jacob mengengkol. Aku mulai goyah ke samping, tapi Jacob buru-buru memegangi sepeda motor sebelum benda itu jatuh bersamaku ke tanah.

“Tahan,” ia menyemangati. “Koplingnya masih kaupegang?”

“Ya,” jawabku.

“Jejakkan kakimu—akan kucoba lagi.” Jacob menumpukan tangannya ke sadel belakang, untuk berjaga-jaga.

Empat kali mengengkol baru mesinnya menyala. Bisa kurasakan motor itu bergetar di bawahku seperti binatang yang marah. Kucengkeram kopling kuat-kuat sampai jari-jariku sakit.

“Cobalah menggas,” Jacob menyarankan. “Pelanpelan. Dan jangan lepaskan koplingnya.”

Ragu-ragu, kuputar setang kanan. Meski hanya sedikit, namun sepeda motor menggeram di bawahku. Kedengarannya marah dan lapar sekarang. Jacob tersenyum puas.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.