Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Kalian punya geng?” tanyaku. Sadarlah aku suaraku terdengar kagum.

Jacob langsung tertawa melihat reaksiku. “Tidak seperti itu. Sumpah, mereka itu seperti pengawas sekolah yang melenceng dari tugasnya. Mereka tidak suka bikin ulah, melainkan menjaga ketenteraman.” Jacob mendengus. “Pernah, suatu kali ada pemuda dari daerah Makah rez sana, badannya juga besar, pokoknya penampilannya sangar. Well, menurut kabar burung, pemuda itu menjual sabu ke anak-anak, dan Sam Uley serta para muridnya mengusir pemuda itu dari tanah kami. Mereka selalu saja mendengung-dengungkan soal tanah kami dan harga diri suku… konyol juga lama-lama. Parahnya lagi, dewan suku menganggap serius mereka. Kata Embry, dewan suku benar-benar bertemu Sam secara teratur.” Jacob menggeleng-gelengkan kepala, wajahnya menunjukkan mimik tidak suka. “Embry juga pernah mendengar dari Leah Clearwater bahwa geng itu menyebut diri mereka ‘pelindung’ atau semacam itulah.”

Tangan Jacob mengepal, sepertinya gatal ingin meninju sesuatu. Belum pernah aku melihatnya seperti itu.

Kaget juga aku mendengar nama Sam Uley disebut-sebut. Aku tidak ingin nama itu membawa kembali ingatan tentang mimpi burukku, jadi aku buru-buru menyampaikan hasil pengamatan sekilasku untuk mengalihkan perhatian. “Kau tidak terlalu menyukai mereka.”

“Kelihatan, ya?” tanyanya sarkastis.

“Well. Kedengarannya mereka tidak melakukan hal yang tidak baik” Aku berusaha menenangkan Jacob, membuatnya riang kembali. “Hanya saja sikap mereka memang agak terlalu sok alim untuk anak geng.”

“Yeah. Sok alim itu istilah yang tepat. Mereka selalu ingin pamer—seperti terjun tebing itu. Mereka bertingkah seperti… seperti, entahlah. Seperti cowok-cowok macho. Dulu pernah, waktu nongkrong di toko bersama Embry dan Quil, semester lalu, Sam datang bersama kronikroninya, Jared dan Paul. Quil mengatakan sesuatu, kau kan tahu dia suka omong besar dan omongannya membuat Paul jengkel. Matanya langsung berubah gelap, dan dia seperti tersenyum—bukan, dia memamer kan giginya rapi tidak tersenyum—dan sepertinya dia marah sekali sampai-sampai sekujur tubuhnya bergetar atau bagaimana. Tapi Sam meletakkan tangannya di dada Paul dan menggeleng. Paul memandanginya sebentar dan kemudian tenang kembali. Terus terang, seolah-olah Sam-lah yang bisa menenangkannya—seakan-akan Paul bakal mencabik-cabik kami kalau tidak dihentikan Sam.” Jacob mengerang. “Seperti film western kacangan. Kau tahu kan, Sam itu besar sekali, umurnya saja sudah dua puluh. Tapi Paul juga masih enam belas, lebih pendek daripada aku dan tidak segempal Quil. Kurasa, salah satu dari kami bisa saja mengalahkannya.”

Cowok macho? aku sependapat. Aku bisa melihatnya dalam benakku ketika Jacob menggambarkannya, dan itu mengingatkanku pada sesuatu… tiga cowok jangkung berkulit gelap berdiri diam dan saling merapat di ruang tamu rumah ayahku. Gambarnya miring ke satu sisi, karena kepalaku terbaring di sofa sementara dr. Gerandy dan Charlie membungkuk di atasku… Apakah mereka itu geng Sam?

Aku cepat-cepat berbicara lagi untuk mengalihkan perhatianku dari kenangan itu. “Apakah Sam tidak sedikit terlalu tua untuk hal semacam ini?”

“Yeah. Seharusnya dia kuliah, tapi dia tetap tinggal di sini. Sudah begitu, tidak ada yang mempermasalahkannya pula. Padahal, dewan suku marah besar waktu kakak perempuanku menolak tawaran beasiswa parsial dan lebih memilih menikah. Tapi, oh tidak, Sam Uley tidak mungkin melakukan kesalahan.”

Wajah Jacob mengeras oleh amarah—amarah dan perasaan lain yang awalnya tidak kukenali.

“Kedengarannya sangat menjengkelkan dan… aneh. Tapi aku tidak mengerti mengapa kau memasukkannya ke hati.” Kulirik wajahnya, berharap aku tidak membuatnya tersinggung. Jacob mendadak tenang, memandang ke luar jendela.

“Belokannya terlewat,” katanya datar.

Aku membuat putaran berbentuk huruf U yang lebar sekali; sampai nyaris menabrak pohon saat lingkaran yang kubuat membuat trukku terseok hingga ke setengah badan jalan.

“Terima kasih peringatannya,” gerutuku sambil mulai menyusuri jalan kecil.

“Maaf, tadi aku sedang tidak memerhatikan jalan.” Sejenak tidak ada yang bicara.

“Kau bisa berhenti di mana saja di sepanjang jalan ini,” kata Jacob lirih.

Aku menepikan truk dan mematikan mesin. Telingaku berdenging oleh kesunyian yang mendadak. Kami turun, lalu Jacob berjalan ke belakang untuk menurunkan sepeda motor. Aku mencoba membaca ekspresinya. Ada hal lain yang membuatnya gundah. Pertanyaanku tadi tepat mengenai sasaran.

Jacob tersenyum setengah hati sambil mendorong motor merah itu ke sisiku. “Selamat ulang tahun yang terlambat. Kau siap?”

“Rasanya sudah.” Tiba-tiba saja motor itu tampak mengancam, menakutkan, waktu aku sadar sebentar lagi aku akan mengendarainya.

“Kita akan pelan-pelan saja,” Jacob berjanji. Hati-hati kusandarkan motor itu ke bemper truk sementara Jacob menurunkan motornya.

“Jake…” Aku ragu-ragu sejenak waktu ia kembali mengitari truk.

“Yeah?”

“Apa sebenarnya yang membuatmu merasa terganggu? Mengenai Sam. maksudku? Apakah ada masalah lain?” Ku, pandangi wajahnya, tapi ia tidak marah. Ia menatap tanah dan menendangkan sepatunya ke roda depan sepeda motornya berkalikali. seperti mengulur-ulur waktu.

Jacob mendesah. “Hanya… cara mereka memperlakukan aku. Membuatku takut.” Katakata itu mulai berhamburan keluar dari mulutnya. “Kau tahu, dewan suku terdiri atas para anggota yang kedudukannya setara, tapi kalaupun ada pemimpin, pemimpinnya adalah ayahku. Aku tidak pernah bisa mengerti mengapa orang-orang memperlakukan dia seperti itu. Mengapa opininya yang paling didengar. Pasti ada hubungannya dengan ayahnya dan ayah dari ayahnya. Kakek buyutku, Ephraim Black, bisa dibilang kepala suku kami yang terakhir, dan mereka masih mendengarkan perkataan Billy, mungkin karena itu.

“Tapi aku sama saja seperti orang-orang lain. Tidak ada yang memperlakukan aku secara istimewa… sampai sekarang.”

Aku terperangah mendengarnya. “Sam memperlakukan mu secara istimewa?”

“Yeah,” jawab Jacob, mendongak dan memandangku dengan sorot galau. “Dia memandangiku seperti menunggu sesuatu… seperti berharap aku akan bergabung dengan geng tololnya itu suatu saat nanti. Dia lebih memerhatikan aku daripada pemuda-pemuda lain. Aku tidak suka.”

“Kau tidak perlu bergabung dengan geng apa pun.” Suaraku marah. Ini benar-benar meresahkan hati Jacob, dan itu membuatku marah. Memangnya para “pelindung” ini pikir siapa mereka?

“Yeah.” Kaki Jacob masih terus menendangnendang roda.

“Apa?” Aku tahu pasti masih ada lagi.

Jacob mengerutkan kening, alisnya bertaut seperti kalau ia tampak sedih dan khawatir, bukannya marah. “Ini tentang Embry. Dia selalu menghindariku belakangan ini”

Pikiran itu sepertinya tidak ada hubungannya dengan masalah tadi, tapi aku ingin tahu apakah masalah yang dihadapinya dengan sahabatnya itu gara-gara aku. “Kau kan bersamaku terus akhirakhir ini,” aku mengingatkan dia, merasa egois. Ternyata selama ini aku memonopoli dia.

“Tidak, bukan gara-gara itu. Bukan hanya aku yang merasa begitu—Quil juga, dan orang-orang lain. Embry tidak sekolah selama satu minggu, tapi tidak pernah ada di rumah bila kami mencoba menemuinya. Dan waktu dia kembali, dia tampak… dia tampak kalut. Ketakutan. Quil dan aku berusaha membujuknya untuk menceritakan masalah yang dihadapinya, tapi dia tidak mau bicara pada kami berdua.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.