Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Halo?” jawabku terengah-engah.

“Bella.” kata Jacob, nadanya aneh dan formal.

“Hai, Jake”

“Aku yakin kita… ada kencan hari ini,” katanya, nadanya sarat makna terselubung.

Butuh waktu sedetik bagiku untuk mencernanya. “Sudah selesai? Aku tidak percaya!” Waktunya benar-benar tepat. Aku membutuhkan sesuatu yang bisa mengalihkan pikiranku dari mimpi buruk dan kehampaan.

“Yeah, dua-duanya sudah berfungsi lagi.”

“Jacob, kau ini benar-benar, tidak diragukan lagi, orang paling berbakat dan hebat yang pernah kukenal. Usiamu bertambah sepuluh tahun karena ini.”

“Keren! Jadi sekarang aku sudah separo baya.”

Aku tertawa. “Aku akan segera ke sana!”

Kulempar semua peralatan bersih-bersihku ke bawah konter kamar mandi, lalu kusambar jaketku.

“Mau ke rumah Jake,” kata Charlie waktu aku berlari melewatinya. Itu bukan pertanyaan.

“Yep,” sahutku sambil meloncat ke truk.

“Aku nanti akan ke kantor,” Charlie berseru padaku.

“Oke,” aku balas berteriak, memutar kunci.

Charlie mengatakan sesuatu, tapi aku tak bisa mendengarnya dengan jelas karena terhalang raungan mesin truk. Ke dengarannya seperti, “Buru-buru amat?”

Kuparkir trukku di sisi rumah keluarga Black, dekat pepohonan, supaya kami bisa lebih mudah menyelundupkan sepeda-sepeda motor itu keluar. Waktu aku turun, secercah warna berkelebat menarik perhatianku—dua motor mengilap, satu merah, satu hitam, tersembunyi di balik semak, tidak tampak dari rumah. Jacob sudah siap.

Sepotong pita biru diikat membentuk pita kecil di setiap setang motor. Aku tertawa melihatnya sewaktu Jacob menghambur keluar rumah.

“Siap?” tanyanya pelan, matanya berbinar-binar.

Aku menengok ke belakang bahunya, tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran Billy.

“Yeah,” jawabku, tapi tidak merasa terlalu bersemangat seperti sebelumnya; aku mencoba membayangkan diriku benar-benar menunggangi sepeda motor itu.

Dengan enteng Jacob menaikkan sepeda-sepeda motor itu ke bak belakang trukku, membaringkannya dengan hati-hati agar tidak terlihat.

“Ayo,” ajaknya, suaranya lebih tinggi daripada biasanya karena bersemangat. “Aku tahu tempat yang aman—tidak ada yang akan memergoki kita di sana.”

Kami ke luar kota menuju selatan. Jalan tanah berkelok-kelok keluar-masuk hutan—terkadang tidak tampak pemandangan lain selain pepohonan, dan sejurus kemudian tiba-tiba tampak pemandangan indah Samudera Pasifik membentang luas, jauh hingga ke batas cakrawala, abu-abu gelap di bawah awan-awan. Kami berada di atas pantai, di puncak tebing-tebing yang membatasi pantai di sini, dan pemandangannya seakan membentang luas hingga ke ujung bumi.

Aku mengendarai trukku pelan-pelan, supaya bisa dengan aman memandangi samudra luas sesekali, sementara jalan berkelok-kelok semakin dekat ke tebing-tebing laut. Jacob bercerita tentang keberhasilannya memperbaiki kedua sepeda motor itu, tapi penjelasannya mulai mengarah ke hal-hal teknis, jadi aku tidak begitu memerhatikan.

Saat itulah aku melihat empat orang berdiri di tubir batu, terlalu dekat ke pinggir tebing. Dari jauh aku tidak bisa menebak usia mereka, tapi asumsiku mereka lelaki dewasa. Meski hari ini dingin, kelihatannya mereka hanya mengenakan celana pendek.

Kulihat lelaki yang tubuhnya paling tinggi maju semakin dekat ke pinggir tebing. Otomatis aku memperlambat laju truk, kakiku ragu-ragu di pedal rem.

Dan detik berikutnya, lelaki itu menjatuhkan dirinya dari pinggir tebing.

“Tidak!” teriakku, menginjak rem dalam-dalam.

“Ada apa?” Jacob balas berteriak, kaget.

“Orang itu—dia baru saja melompat dari pinggir tebing! Mengapa mereka tidak mencegahnya? Kita harus menelepon ambulans!” Kubentangkan pintu truk lebar-lebar dan melompat keluar, tindakan yang sama sekali tak masuk akal. Jalan tercepat ke pesawat telepon adalah kembali ke rumah Billy Tapi aku tidak memercayai apa yang baru saja kulihat. Mungkin di alam bawah sadarku, aku berharap akan melihat sesuatu yang berbeda bila tidak dihalangi kaca depan trukku.

Jacob tertawa, dan aku berbalik menatapnya dengan panik. Apakah ia begitu tidak punya perasaan, begitu tega?

“Mereka hanya terjun dari tebing, Bella. Rekreasi. Di La Push kan tidak ada mal,” Jacob menggoda, meski ada secercah nada kesal dalam suaranya.

“Terjun dari tebing?” ulangku, bingung. Tak percaya rasanya melihat sosok kedua melangkah ke pinggir tebing, diam sejenak, kemudian dengan sangat anggun melompat ke udara. Ia melayang untuk waktu yang rasanya seperti berabad-abad bagiku, sebelum akhirnya membelah ombak kelabu gelap dengan mulus, jauh di bawah sana.

“Wow. Tinggi sekali.” Aku masuk kembali ke truk, sambil terus memandangi kedua penerjun yang tersisa. “Tingginya tidak mungkin kurang dari tiga puluh meter.”

“Well, yeah, kebanyakan dari kami terjun dari posisi yang agak lebih ke bawah, dari batu yang menjorok ke luar tebing itu.” Jacob menuding ke luar jendela. Tempat yang ditunjukkannya memang tampak jauh lebih masuk akal. “Orang-orang itu sinting. Mungkin hanya ingin pamer. Maksudku, yang benar saja, hari ini kan dingin sekali. Airnya pasti sangat dingin.” Jacob mengernyit tak setuju, seolah-olah adegan berbahaya tadi menyinggungnya secara pribadi. Aku agak terkejut juga melihatnya. Kukira Jacob hampir tak pernah marah.

“Kau pernah terjun dari tebing?” Kata “kami” yang diucapkannya tadi tak luput dari pendengaranku.

“Tentu, tentu,” Ia mengangkat bahu dan nyengir. “Asyik kok. Agak ngeri, memacu adrenalin.”

Aku menoleh kembali memandangi tebing-tebing itu, dan melihat sosok ketiga mondar-mandir di pinggir tebing. Belum pernah aku menyaksikan sesuatu yang senekat itu seumur hidupku. Mataku membelalak, dan aku tersenyum. “Jake, kau harus mengajakku terjun dari tebing kapan-kapan.

Jacob menatapku dengan kening berkerut, wajahnya tidak setuju. “Bella, baru saja kau mau memanggilkan ambulans untuk Sam,” ia mengingatkanku. Kaget juga aku, ia bisa mengenali siapa orang tadi dari kejauhan.

“Aku ingin mencoba,” aku berkeras, bergerak untuk turun lagi dari truk.

Jacoh menyambar pergelangan tanganku. “Jangan hari ini ok?: Bisakah kira menunggu setidaknya sampai cuaca menghangat?”

“Oke, baik.” aku setuju. Dengan pintu terbuka,angin sedingin es membuat bulu kudukku meremang. “Tapi aku ingin melakukannya dalam waktu dekat.”

“Dalam waktu dekat.” Jacob memutar bola matanya. “Terkadang kau sedikit aneh, Bella. Kau tahu itu?”

Aku mendesah. “Ya.”

“Dan kita tidak akan terjun dari puncak.” Aku menonton, takjub, saat pemuda ketiga memulai terjunnya dengan berlari lebih dulu dan melontarkan diri lebih jauh ke udara kosong daripada kedua temannya yang lain. Pemuda itu meliuk dan berputar-putar di angkasa saat terjun bebas, seperti penerjun payung. Ia tampak benarbenar bebas—tanpa beban dan bersikap sesuka hati.

“Baiklah.” aku setuju. “Setidaknya untuk pertama kali.”

Sekarang giliran Jacob yang mendesah. “Jadi, tidak, kita menjajal motor kita?” tuntut Jacob.

“Oke, oke,” jawabku, mengalihkan mata dari orang terakhir yang menunggu di tebing. Kukenakan lagi sabuk pengamanku dan menutup pintu. Mesin masih menyala, meraung keras bila tidak dijalankan. Kami kembali melaju.

“Jadi siapa mereka—orang-orang gila itu?” tanyaku.

Jacob mengeluarkan suara seperti kesal dari tenggorokannya. “Mereka geng La Push.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.