Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Berharap ketemu Quil lagi?” godanya.

“Ketahuan deh.”

Jacob terkekeh. “Kau benar-benar suka menghabiskan waktu bersamaku?” tanyanya, takjub.

“Suka, suka sekali. Dan akan kubuktikan. Aku harus kerja besok, tapi Rabu-nya kita bisa melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan perbengkelan.”

“Seperti apa?”

“Entahlah. Kita bisa pergi ke rumahku supaya kau tidak tergoda untuk menjadi obsesif. Kau bisa membawa tugas sekolahmu—kau pasti banyak ketinggalan pelajaran, karena aku tahu aku pun begitu.”

“Boleh juga bikin PR bareng.” Jacob mengernyit dan aku bertanya-tanya dalam hati berapa banyak PR yang sudah lalai ia kerjakan agar bisa bersamaku.

“Benar,” aku sependapat. “Kita harus mulai menunjukkan sikap bertanggung jawab sesekali, kalau tidak Billy dan Charlie tidak bakal semudah ini memberi izin,” Aku membuat isyarat yang menggambarkan kami sebagai kesatuan. Jacob senang melihatnya—wajahnya berseri-seri.

“Mengerjakan PR sekali seminggu?” usulnya.

“Mungkin lebih baik dua kali,” aku menyarankan, membayangkan setumpuk PR yang baru saja diberikan hari ini.

Jacob mengembuskan napas berat. Lalu ia mengulurkan tangan melewati kotak perkakas, mengambil kantong kertas. Dari dalamnya ia mengeluarkan dua kaleng soda, membuka satu dan menyodorkannya padaku. Lalu dibukanya kaleng kedua dan diangkatnya dengan sikap seperti hendak bersulang.

“Ini untuk tanggung jawab,” katanya. “Dua kali seminggu.”

“Dan kecerobohan pada setiap hari di antaranya,” aku menekankan

Jacob nyengir dan menempelkan kalengnya ke kalengku.

Aku sampai di rumah lebih malam daripada yang kurencanakan, dan mendapati Charlie sudah memesan pizza dan bukannya menungguku pulang. Ia tidak menerima permintaan maafku.

“Tidak apa-apa,” ia meyakinkan aku. “Sesekali kau pantas mendapat istirahat dari tugas memasak.”

Aku tahu Charlie hanya merasa lega karena aku masih bersikap layaknya manusia normal, dan tidak ingin merusak suasana.

Aku mengecek e-mail dulu sebelum mulai mengerjakan PR. Ternyata ada balasan dari Renee. Ia bersemangat sekali mengomentari setiap hal yang kutulis kemarin, jadi aku pun membalasnya dengan penjelasan panjang-lebar tentang kegiatanku hari ini. Semua kecuali tentang sepeda motor. Bahkan Renee yang periang itu bakal jantungan kalau kuceritakan.

Suasana sekolah hari Selasa lumayan menyenangkan – Angela dan Mike sepertinya siap menyambutku kembali dengan tangan terbuka— dengan berbaik hati melupakan sikapku yang menyimpang beberapa bulan terakhir ini. Sementara Jess masih menolak. Aku jadi penasaran jangan-jangan ia membutuhkan surat permintaan maaf resmi atas insiden di Port Angeles tempo hari.

Mike riang dan cerewet sekali saat bekerja. Seolah-olah selama ini ia menyimpan bahan obrolan selama satu semester dan menumpahkan semuanya sekarang. Aku mendapati diriku bisa tersenyum dan tertawa bersamanya, meski tidak semudah bila aku bersama Jacob. Kelihatannya tidak ada maksud apa-apa di baliknya, sampai tiba waktunya untuk pulang.

Mike memasang tanda “TUTUP” di etalase sementara aku melipat rompiku dan menjejalkannya di bawah konter.

“Menyenangkan sekali malam ini,” kata Mike senang.

“Yeah,” aku sependapat, meski lebih suka menghabiskan soreku di garasi.

“Sayang kau harus keluar sebelum filmnya selesai minggu lalu.”

Aku agak bingung mengikuti jalan pikirannya. Kuangkat bahuku. “Kurasa aku memang penakut.”

“Maksudku, seharusnya kau nonton film yang lebih bagus, yang kau suka,” ia menjelaskan.

“Oh,” gumamku, masih bingung.

“Seperti misalnya Jumat ini. Bersamaku. Kita bisa pergi nonton film yang tidak seram sama sekali.”

Kugigit bibirku.

Aku tidak ingin merusak hubunganku dengan Mike, tidak bila dialah salah satu dari sedikit orang yang siap memaafkanku atas sikap gilaku. Tapi ini, lagi-lagi, terasa sangat familier. Seakan-akan peristiwa tahun lalu tak pernah terjadi. Kalau saja kali ini aku bisa memakai Jess sebagai alasan.

“Maksudmu berkencan?” tanyaku. Bersikap jujur mungkin langkah terbaik yang bisa diambil saat ini. Langsung ke pokok masalah.

Mike mencerna nada suaraku. “Kalau kau mau. Tapi tidak perlu begitu juga.”

“Aku tidak mau berkencan,” jawabku lambatlambat, menyadari betapa benar hal itu. Seisi dunia terasa sangat jauh denganku sekarang.

“Hanya sebagai teman?” Mike mengusulkan. Bola matanya yang biru jernih sekarang tidak tampak terlalu bersemangat. Kuharap ia bersungguh-sungguh waktu mengatakan kami bisa jadi teman saja.

“Pasti asyik. Tapi sayangnya aku sudah punya acara Jumat nanti, jadi bagaimana kalau minggu depan?”

“Kau mau ngapain?” tanyanya, lebih ingin tahu daripada yang kurasa ingin ia tunjukkan.

“Bikin PR. Aku sudah… janji akan belajar bersama teman.”

“Oh. Oke. Mungkin minggu depan.”

Mike mengantarku ke trukku, sikapnya tidak seceria tadi. Aku jadi teringat bulan-bulan pertamaku di Forks. Lingkaran kehidupanku seolah kembali ke titik awal, dan sekarang semuanya terasa bagaikan gema—gema yang kosong, tanpa ketertarikan seperti dulu.

Esok malamnya Charlie tidak kelihatan kaget sedikit pun melihat Jacob dan aku berselonjor di lantai ruang tamu dengan buku pelajaran bertebaran di mana-mana, jadi kurasa ia dan Billy diam-diam membicarakan kegiatan kami.

“Hai, Anak-anak,” sapanya, matanya mengarah ke dapur. Aroma lasagna yang kubuat sesorean tadi—sementara Jacob menonton dan sesekali mencicipi—menguar ke ruang depan; aku sengaja berbuat baik, berusaha menebus dosa gara-gara membiarkan Charlie memesan pizza terus.

Jacob ikut makan malam bersama kami, lalu pulang sambil membawa sepiring makanan untuk Billy. Dengan enggan ia menambahkan satu tahun lagi ke umurku yang masih bisa dinegosiasikan karena kepiawaianku memasak.

Hari Jumat kami nongkrong di garasi, dan Sabtu-nya, usai bekerja di Newtons, kami bikin PR lagi. Charlie merasa cukup yakin aku sudah kembali waras sehingga mau pergi memancing bersama Harry. Waktu ia pulang, kami sudah selesai mengerjakan PR—merasa sangat bertanggung jawab dan dewasa—dan sedang menonton Monster Garage di Discovery Channel.

“Mungkin sebaiknya aku pulang,” Jacob mendesah. “Ternyata sudah malam sekali.”

“Oke, baiklah,” gerutuku. “Kuantar kau pulang.”

Jacob tertawa melihat ekspresiku yang keberatan—sepertinya itu membuatnya senang.

“Besok kembali bekerja,” kataku begitu kami sudah aman di dalam truk. “Jam berapa kau mau aku datang?”

Ada kesan riang yang tak bisa dijelaskan terpancar dari senyumnya. “Kutelepon kau dulu, oke?”

“Tentu.” Keningku berkerut, bertanya-tanya ada apa. Senyum Jacob semakin lebar.

Aku membersihkan rumah keesokan paginya— sambil menunggu Jacob menelepon sekaligus berusaha mengenyahkan mimpi burukku yang terakhir. Pemandangannya berubah. Semalam aku berkelana di tengah lautan pakis yang diselingi pohon hemlock raksasa di sana-sini. Tidak ada apa-apa lagi di sana, dan aku tersesat, menggelandang tanpa tujuan dan sen dirian, tidak mencari apa-apa. Ingin rasanya kumarahi diriku sendiri karena pergi ke sana minggu lalu. Kutepiskan mimpi itu dari pikiran sadarku, berharap mimpi tersebut akan terkunci rapat di suatu tempat dan tidak muncul lagi.

Charlie sedang mencuci mobil patrolinya di luar, jadi ketika telepon berdering, aku langsung menjatuhkan sikat WC dan lari ke bawah untuk mengangkatnya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.