Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku tahu sebagian alasanku melakukan ini karena mimpi buruk itu; sekarang setelah aku benar-benar terbangun, kehampaan mimpi itu menggerogoti saraf-sarafku, seperti anjing mengkhawatirkan di mana tulangnya dikubur. Ada sesuatu yang harus dicari. Tak bisa diraih dan mustahil, tidak peduli dan tidak perhatian… tapi dia ada di luar sana, di suatu tempat. Aku harus memercayai hal itu.

Sebagian yang lain adalah sensasi pengulangan aneh seperti yang kurasakan di sekolah tadi, tanggal yang kebetulan itu. perasaan bahwa aku memulai dari awal lagi—mungkin akan begitulah hari pertamaku jadinya bila aku sungguh-sungguh menjadi orang yang paling tidak biasa di kafeteria siang itu.

Kata-kata itu memenuhi kepalaku, tanpa nada, seolah-olah aku membaca dan bukan mendengarnya langsung:

Nantinya akan terasa seolah-olah aku tak pernah ada.

Aku membohongi diri sendiri dengan membagi alasan kedatanganku ke sini menjadi hanya dua bagian. Aku tak mau mengakui motivasi terbesar. Karena secara mental itu tidak waras.

Sebenarnya, aku ingin mendengar suaranya lagi, seperti delusi aneh yang kualami Jumat malam lalu. Untuk waktu yang singkat itu, ketika suaranya datang dari bagian lain selain ingatan sadarku, ketika suaranya terdengar sempurna dan semanis madu, bukan gaung lemah seperti yang biasa dimunculkan kenanganku, aku bisa mengingatnya tanpa merasa sedih. Itu tidak bertahan lama; kepedihan itu kembali menyerangku, sesuatu yang aku yakin pasti akan terjadi setelah aku melakukan tindakan ceroboh ini. Tapi momen-momen berharga saat aku bisa mendengarnya lagi bagaikan rayuan yang tak bisa ditolak. Aku harus mencari cara untuk mengulangi pengalaman itu… atau mungkin istilah yang lebih tepat adalah episode.

Aku berharap deja vu adalah kuncinya. Itu sebabnya aku akan pergi ke rumahnya, yang tak pernah kuinjak lagi sejak pesta ulang tahunku yang sial itu, beberapa bulan silam.

Tumbuh-tumbuhan lebat dan nyaris menyerupai hutan belantara merayap lamban di samping jendela trukku, meluncur dan meluncur terus. Kupercepat laju trukku, mulai gelisah. Sudah berapa lama aku menyetir? Bukankah seharusnya aku sudah sampai di rumah itu? Tetumbuhan begitu menyemak hingga jalan yang kulalui tampak asing.

Bagaimana kalau aku tak bisa menemukannya? Aku bergidik. Bagaimana kalau tidak ada bukti nyata sama sekali?

Kemudian kelebatan pepohonan mulai merenggang, persis seperti yang kucari, hanya saja sekarang tidak terlalu kentara. Flora di sini tidak menunggu lama untuk mengklaim kembali tanah yang dibiarkan tak dijaga. Pakis-pakisan tinggi sudah menyusup ke padang rumput di sekeliling rumah, mengimpit batang-batang pohon cedar, bahkan sampai ke teras yang lebar. Seolah-olah halaman dibanjiri—setinggi pinggang—dengan gelombang hijau berombak-ombak.

Dan rumah itu ada di sana, tapi tidak sama. Meski tidak ada yang berubah di bagian luar, namun kekosongan berteriak dari jendelajendelanya yang melompong. Mengerikan. Untuk pertama kali semenjak melihat rumah indah ini, aku merasa ini tempat yang tepat untuk kediaman vampir.

Kuinjak rem dalam-dalam, berpaling. Aku tak berani maju lebih jauh lagi.

Tapi tak ada yang terjadi. Tidak ada suara apaapa dalam benakku.

Aku membiarkan mesin truk tetap menyala dan melompat ke dalam lautan pakis. Mungkin, seperti Jumat malam lalu, kalau aku melangkah maju…

Pelan-pelan aku berjalan menghampiri bagian depan rumah yang sepi dan kosong, mesin trukku menggemuruh menenangkan di belakangku. Aku berhenti sesampainya di tangga teras, karena tidak ada apa-apa di sini. Tidak tersisa sedikit pun kesan bahwa mereka pernah di sini… bahwa ia pernah di sini. Rumah itu memang masih berdiri kokoh, tapi itu tidak banyak berarti. Realita konkretnya tidak akan mengenyahkan kehampaan mimpi burukku.

Aku tidak berjalan lebih dekat lagi. Aku tidak ingin melongok ke dalam jendela. Entah mana yang lebih berat dilihat. Bila ruangan-ruangan di dalamnya melompong, bergaung kosong dari lantai ke langit-langit, itu pasti akan sangat menyakitkan. Seperti waktu nenekku meninggal, saat ibuku berkeras menyuruhku tetap di luar sebelum Beliau dimakamkan. Alasannya, aku tidak perlu melihat Gran seperti itu, mengingatnya seperti itu, lebih baik mengingatnya seperti waktu ia masih hidup.

Tapi apakah tidak lebih buruk bila semuanya tetap sama? Bila sofa-sofa itu masih berada di tempat aku terakhir kali melihatnya, lukisanlukisan masih terpajang di dinding—dan lebih parah lagi, piano itu masih bertengger di panggungnya yang rendah? Itu hanya bisa ditandingi dengan rumah ini lenyap tanpa bekas, melihat benda-benda itu teronggok begitu saja.

Bahwa semua masih sama, tak disentuh dan dilupakan, ditinggalkan pemiliknya.

Sama seperti aku.

Aku berbalik memunggungi kekosongan yang menyayat hati itu dan bergegas kembali ke truk. Hampir saja aku berlari. Aku ingin secepatnya pergi dari sini, kembali ke dunia manusia. Aku merasa diriku hampa, dan aku ingin bertemu Jacob. Mungkin ada penyakit lain yang berkembang dalam diriku, kecanduan lain, seperti kekebasan yang kurasakan sebelumnya. Aku tak peduli. Kuinjak pedal gas dalam-dalam, memacu trukku secepat mungkin, menggelinding menuju “obat” yang dapat memuaskan kecanduanku.

Jacob sudah menungguku. Dadaku seakan merileks begitu melihatnya, membuatku mudah bernapas.

“Hai, Bella,” serunya.

Aku tersenyum lega. “Hai, Jacob” Kulambaikan tangan pada Billy yang memandang ke luar jendela.

“Ayo kita segera bekerja,” kata Jacob dengan suara pelan namun bersemangat.

Entah bagaimana aku bisa tertawa. “Kau benarbenar belum muak padaku, ya?” aku penasaran. Ia sendiri pasti mulai bertanya-tanya, sebegitu putus asanya aku ingin punya teman.

Jacob berjalan menduluiku mengitari rumah untuk menuju garasi.

“Nggak. Belum.”

“Tolong beritahu aku kapan aku mulai membuatmu kesal. Aku tidak mau menjadi pengganggu.”

“Oke.” Jacob tertawa, suaranya sengau. “Tapi kalau aku jadi kau, aku tidak bakal terlalu berharap.”

Saat melangkah memasuki garasi, aku shock melihat motor merah itu sudah berdiri, tampak lebih mirip motor daripada onggokan besi tua.

“Jake, hebat benar kau,” desahku.

Lagi-lagi Jake tertawa. “Aku jadi obsesif bila sedang mengerjakan proyek.” Ia mengangkat bahu. “Kalau pintar sih, seharusnya aku berlama-lama mengerjakannya.”

“Kenapa?”

Jacob menunduk, berdiam diri lama sekali hingga aku sempat bertanya-tanya apakah ia mendengar pertanyaanku. Akhirnya, ia bertanya padaku, “Bella, seandainya aku berkata tidak bisa membetulkan sepeda-sepeda motor itu, apa yang akan kaukatakan?”

Aku juga tidak langsung menjawab, dan Jacob mendongak untuk mengecek ekspresiku.

“Aku akan berkata… sayang sekali, tapi berani taruhan, kita pasti bisa mencari kegiatan lain untuk dilakukan. Kalau kepepet sih, kita bahkan bisa mengerjakan PR bersama.”

Jacob tersenyum, dan bahunya kembali rileks. Ia duduk di sebelah motor dan memungut obeng.

“Menurutmu kau masih akan datang ke sini kalau aku sudah selesai memperbaikinya, begitu?”

“Jadi maksudmu itu ya?” Aku menggeleng. “Kurasa aku memang sengaja memanfaatkan keahlian mekanikmu yang kelewat murah itu. Tapi selama kau masih mengizinkan aku datang ke sini, aku pasti datang.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.