Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Aku mulai kesal pada diriku sendiri. Rasanya seolah-olah aku dimasukkan ke kardus dan dipendam dalam biji-biji Styrofoam selama semester lalu.

Tidak ada yang mendongak waktu aku duduk di sebelah Mike, walaupun kursiku berderit nyaring menggores lantai linoleum waktu aku menariknya.

Aku berusaha mengikuti obrolan.

Mike dan Conner asyik mengobrol tentang olahraga, jadi aku langsung menyerah, tidak bisa mengikuti obrolan mereka.

“Ke mana Ben hari ini?” tanya Lauren pada Angela. Aku tergugah, tertarik. Aku penasaran apakah itu berarti Angela dan Ben masih pacaran.

Aku nyaris tidak mengenali Lauren. Rambut pirangnya yang halus seperti sutra dipotong pendek—sekarang rambutnya model pixic superpendek, sampai-sampai bagian belakangnya dicukur habis kayak cowok. Aneh sekali. Kalau saja aku tahu alasan di baliknya. Mungkin ada permen karet yang menempel di rambutnya? Atau jangan-jangan ia menjual rambutnya? Apakah orang-orang yang biasa diperlakukan tidak baik olehnya memergokinya sendirian di belakang gym dan menggundulinya? Kuputuskan tidak adil menilainya dari pendapatku dulu. Siapa tahu sekarang ia sudah berubah jadi baik.

“Ben kena flu perut,” jawab Angela dengan suara pelan dan kalem. “Mudah-mudahan tidak lama sakitnya. Semalam sakitnya parah sekali.”

Angela juga mengubah model rambutnya. Sekarang layer di rambutnya sudah dipanjangkan.

“Apa saja yang kalian lakukan akhir minggu kemarin?” tanya Jessica. kedengarannya tidak terlalu memedulikan jawabannya. Berani bertaruh, itu pasti hanya pancingan supaya ia bisa menceritakan ceritanya sendiri. Aku penasaran apakah ia akan bercerita tentang Port Angeles sementara aku duduk hanya dua kursi jauhnya dari dia? Apakah aku begitu tidak kasatmata, sehingga tidak ada yang merasa tidak nyaman membicarakan aku padahal aku ada di sini?

“Sebenarnya kami berniat piknik hari Sabtu, tapi… berubah pikiran,” cerita Angela. Ada sedikit ketegangan dalam suaranya yang menarik perhatianku.

Kalau Jess, tetap saja tidak peduli. “Sayang sekali,” katanya, bersiap membeberkan ceritanya sendiri. Tapi ternyata bukan hanya aku yang memerhatikan.

“Apa yang terjadi?” tanya Lauren ingin tahu.

“Well,” jawab Angela, terkesan lebih ragu-ragu daripada biasanya, walaupun ia memang selalu berhati-hati. “Kami naik mobil ke utara, hampir sampai ke sumber air panas—di sana ada tempat yang asyik untuk piknik, kira-kira satu setengah kilometer menyusuri jalan setapak. Tapi baru separo jalan menuju ke sana… kami melihat sesuatu.”

“Melihat sesuatu? Apa?” Alis Lauren yang pucat bertaut. Bahkan Jess sepertinya mendengarkan sekarang.

“Entahlah,” jawab Angela. “Kami pikir itu beruang. Soalnya warnanya hitam, tapi sepertinya… terlalu besar.”

Lauren mendengus. “Oh, masa kau juga!” Sorot matanya berubah mengejek, dan kuputuskan menarik kembali keraguanku barusan. Jelas, kepribadiannya belum banyak berubah, tidak seperti rambutnya. “Tyler juga berusaha meyakinkanku dengan cerita mengenai beruang minggu lalu.”

“Tak mungkin ada beruang berkeliaran sedekat itu dengan pemukiman penduduk,” kata Jessica, berpihak pada Lauren.

“Sungguh,” protes Angela dengan suara rendah, menunduk memandang meja. “Kami benar-benar melihatnya.”

Lauren tertawa meremehkan. Mike masih asyik mengobrol dengan Conner, tidak memerhatikan mereka.

“Tidak, dia benar,” selaku tak sabar. “Hari Sabtu kemarin ada hiker yang mengaku melihat beruang juga, Angela. Katanya, beruang itu besar dan hitam, dan tidak jauh di luar kota. Benar kan, Mike?”

Suasana langsung sunyi. Setiap pasang mata di meja itu berpaling dan menatapku dengan shock. Si cewek baru, Katie, mulutnya ternganga seperti baru saja menyaksikan ledakan. Tidak ada yang bergerak.

“Mike?” gumamku, malu. “Ingat, tidak, orang yang bercerita soal beruang itu?”

“T-tentu,” jawab Mike terbata-bata sedetik kemudian. Entah mengapa ia memandangku seaneh itu. Aku bicara dengannya di tempat kerja, kan? Benar, kan? Kalau tidak salah sih begitu…

Mike pulih dari kagetnya. “Yeah, tempo hari ada orang bilang dia melihat beruang hitam besar di ujung jalan setapak lebih besar daripada grizzly.”

“Hmph.” Lauren berpaling pada Jessica, bahunya mengejap lalu langsung mengubah topik.

“Sudah dapat kabar dari USC?” tanyanya.

Semua ikut berpaling, kecuali Mike dan Angela. Angela tersenyum ragu-ragu padaku, dan aku buru-buru membalas senyumnya.

“Omong-omong, apa saja kegiatanmu akhir pekan kemarin, Bella?” tanya Mike ingin tahu, tapi anehnya waswas.

Semua kecuali Lauren menoleh, menunggu jawabanku.

“Jumat malam Jessica dan aku nonton film di Port Angeles, Sabtu siang dan hampir sepanjang hari Minggu kuhabiskan di La Push.”

Beberapa pasang mata menatapku dan Jessica berganti-ganti. Jessica tampak kesal. Aku jadi bertanya-tanya dalam hati apakah itu karena ia tak ingin orang lain tahu ia pergi bersamaku, atau karena ingin ia yang bercerita.

“Kalian nonton film apa?” tanya Mike, mulai tersenyum.

“Dead End—yang ada zombie-nya itu lho.” Aku nyengir memberi semangat. Mungkin sebagian kerusakan yang kubuat selama bulan-bulan zombie-ku kemarin masih bisa diperbaiki.

“Dengar-dengar, filmnya seram ya. Menurutmu begitu?” Mike bersemangat meneruskan obrolan.

“Bella bahkan keluar di akhir film, saking ketakutannya,” sela Jessica sambil tersenyum licik.

Aku mengangguk, berusaha menunjukkan wajah malu. “Seram abis.”

Mike tak henti-hentinya menanyaiku sampai makan siang berakhir. Berangsur-angsur, yang lain-lain bisa memulai obrolan lain, meski masih sering memandangiku. Angela lebih sering mengobrol dengan Mike dan aku, dan, waktu aku berdiri untuk membuang sisa-sisa makanan dari nampan, ia mengikuti.

“Trims ya,” katanya pelan setelah kami jauh dari meja.

“Untuk apa?”

“Untuk berbicara, membelaku tadi.”

“Bukan masalah.”

Angela menatapku prihatin, tapi bukan karena ia mengira aku sudah sinting. “Kau baik-baik saja?”

Inilah sebabnya aku lebih memilih Jessica daripada Angela—walaupun aku lebih menyukai Angela—untuk menemaniku jalan bareng. Karena Angela terlalu cepat mengerti.

“Tidak sepenuhnya,” aku mengakui. “Tapi sudah sedikit lebih baik.”

“Aku senang,” ucapnya. “Aku kehilangan kau selama ini.”

Saat itulah Lauren dan Jessica melenggang melewati kami, dan aku mendengar Lauren berbisik keras, “Aduh senangnya. Bella sudah kembali.”

Angela memutar bola matanya pada mereka, dan tersenyum padaku dengan sikap menyemangati.

Aku mendesah. Rasanya seperti memulai dari awal lagi.

“Hari ini tanggal berapa?” tanyaku tiba-tiba.

“Sembilan belas Januari.”

“Hmm.”

“Memangnya kenapa?” tanya Angela.

“Kemarin tepat satu tahun aku memulai hari pertamaku di sini,” kenangku.

“Tidak banyak yang berubah,” gumam Angela, memandang Lauren dan Jessica.

“Memang,” sahutku sependapat. “Aku juga berpikir begitu.

 

7. PENGULANGAN

ENTAH apa yang kulakukan di sini.

Apakah aku berusaha mendorong diriku kembali ke keadaan seperti zombie? Apakah aku sudah berubah menjadi masokis—senang disiksa? Seharusnya aku langsung ke La Push. Aku merasa jauh. jauh lebih sehat bila bersama Jacob, Ini bukan hal yang sehat untuk dilakukan.

Tapi aku terus saja mengendarai trukku pelanpelan menembus jalan yang ditumbuhi semaksemak liar di kiri-kanan-nya, meliuk-liuk menerobos pepohonan yang melengkung di atas kepala bagai terowongan hijau yang hidup. Kedua tanganku gemetar, dan aku mempererat cengkeramanku pada setir.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.