Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

Jacob mendengus. “Kurasa Ragu belum ada selama itu.”

Di dalam rumah penuh orang. Ada Harry Clearwater bersama keluarganya—istrinya, Sue, yang samar-samar masih kuingat dari liburan musim panas di Forks waktu aku masih kecil dulu, dan kedua anaknya. Leah murid senior seperti aku, tapi usianya setahun lebih tua. Kecantikannya eksotis—kulit tembaga indah, rambut hitam mengilat, bulu mata tebal seperti bulu ayam—dan ia sibuk sendiri. Sejak kami datang, ia terus asyik mengobrol di telepon rumah Billy, dan tidak kunjung berhenti. Seth berumur empat belas tahun; ia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Jacob dengan sorot mata mengidolakan.

Karena tidak semua orang bisa ditampung di meja dapur, Charlie dan Harry mengeluarkan kursi-kursi ke halaman, dan kami makan spageti dari piring yang diletakkan di pangkuan, di keremangan cahaya lampu yang menyorot dari balik pintu rumah Charlie yang terbuka. Kaum lelaki mengobrolkan pertandingan, lalu Harry dan Charlie menyusun rencana untuk memancing bersama-sama. Sue menyindir suaminya tentang kolesterolnya dan berusaha, meski gagal, membuatnya malu dan makan sesuatu yang berdaun dan berwarna hijau. Jacob mengobrol denganku dan Seth, yang sesekali menyela dengan penuh semangat setiap kali Jacob terlihat seperti mau melupakannya. Charlie menatapku, berusaha agar tidak kentara, dengan sorot mata senang namun waspada.

Berisik dan terkadang membingungkan rasanya saat semua orang berlomba-lomba mengungguli yang lain dalam bercerita, dan tawa dari satu lelucon diinterupsi dengan cerita tentang lelucon lain. Aku tak perlu sering-sering bicara, tapi aku banyak tersenyum, dan itu hanya karena aku merasa ingin. Rasanya aku tak ingin pulang.

Tapi, ini Washington, dan akhirnya hujan membubarkan pertemuan kami; ruang tamu Billy kelewat sempit untuk melanjutkan acara kumpulkumpul kami. Charlie tadi naik mobil Harry, jadi kami pulang naik trukku. Charlie bertanya tentang kegiatanku hari ini, dan sebagian besar yang kuceritakan benar—bahwa aku pergi dengan Jacob mencari onderdil kemudian menontonnya bekerja di garasi.

“Menurutmu, kau akan mengunjunginya lagi nanti?” tanya Charlie, berusaha menunjukkan sikap biasa-biasa saja.

“Besok sepulang sekolah,” aku mengakui. “Aku akan membawa PR-ku, jangan khawatir.”

“Pastikan kau melakukannya,” perintah Charlie, berusaha menutupi perasaan puasnya.

Aku merasa gelisah sesampai di rumah. Aku tidak ingin naik ke lantai atas. Hangatnya kehadiran Jacob berangsur-angsur lenyap, dan sebagai gantinya, perasaan resah semakin menjadijadi. Aku yakin aku tak mungkin tidur tenang dua malam berturut-turut.

Untuk menunda tidur aku mengecek e-mail; ada pesan baru dari Renee.

Ia menulis tentang kegiatannya hari itu, tentang klub buku yang mengisi waktu luang karena ia keluar dari kelas meditasi, tentang pengalamannya minggu ini menjadi guru pengganti di kelas dua, membuatnya merindukan murid-murid TK-nya. Ia juga menulis tentang Phil yang menikmati pekerjaan barunya sebagai pelatih, dan bahwa mereka berencana berbulan madu kedua ke Disney World.

Dan aku membaca semuanya seperti membaca buku harian, bukan surat yang ditujukan untuk orang lain. Hatiku dilanda perasaan menyesal, membuat perasaanku tertusuk. Aku ini bukan anak baik.

Aku membalas e-mail-nya dengan cepat, mengomentari setiap bagian suratnya, dan menceritakan aktivitasku juga—kuceritakan tentang pesta spageti di rumah Billy dan apa yang kurasakan saat menonton Jacob membuat sesuatu yang berguna dari potongan-potongan kecil logam—kagum dan sedikit iri. Aku sama sekali tidak mengungkit tentang perubahan nyata dalam surat ini dibandingkan surat-surat lain yang diterima ibuku dalam beberapa bulan terakhir. Aku bahkan nyaris tak ingat apa yang kutulis seminggu yang lalu, tapi aku yakin isinya pasti sangat tidak responsif. Semakin dipikir, semakin aku merasa bersalah; aku pasti benar-benar membuat ibuku khawatir.

Aku masih bertahan sampai jauh malam sesudah itu, menyelesaikan PR lebih banyak daripada yang seharusnya kukerjakan. Tapi meski kurang tidur dan sudah menghabiskan hampir seharian bersama Jacob—merasa nyaris bahagia— ternyata itu tetap tak bisa menjauhkan mimpi buruk dari tidurku selama dua malam berturutturut.

Saat bangun aku gemetaran, teriakanku teredam bantal. Ketika cahaya pagi yang samar masuk melalui jendelaku, aku diam tak bergerak di tempat tidur dan mencoba mengenyahkan mimpi buruk itu. Tapi ada sedikit perbedaan dalam mimpi tadi malam, dan aku berkonsentrasi mengingatnya.

Semalam aku tidak sendirian di hutan. Sam Uley—lelaki yang menemukanku di hutan pada malam yang tidak sanggup kupikirkan dalam keadaan sadar itu—ada di sana. Perubahan yang aneh dan tak terduga-duga. Yang mengejutkan, mata gelapnya memancarkan sorot tidak ramah, sarat rahasia yang sepertinya tak ingin ia bagikan padaku. Kupandangi dia sesering yang bisa dilakukan mataku yang jelalatan mencari-cari; aku jadi gelisah, selain perasaan panik yang biasa, karena ia ada di sana. Mungkin itu karena, bila aku tidak sedang menatap langsung ke arahnya, bentuk badannya seolah menggeletar dan berubah dalam tatapanku. Tapi ia tidak melakukan apa-apa kecuali berdiri dan memandangiku. Tidak seperti waktu kami bertemu di dunia nyata, ia tidak menawarkan bantuan.

Charlie memandangiku selama sarapan, dan aku berusaha mengabaikannya. Kurasa aku pantas menerimanya. Aku tak bisa berharap ayahku tidak mengkhawatirkan aku. Mungkin butuh bermingguminggu baru ia akan berhenti memandangiku seolah-olah menunggu aksi zombie-ku muncul kembali, jadi aku harus berusaha untuk tidak membiarkan itu menggangguku. Bagaimanapun, aku sendiri juga akan mengawasi kemunculan lagi si zombie itu. Dua hari belum cukup untuk menganggap diriku sudah benar-benar sembuh.

Sekolah justru sebaliknya. Sekarang setelah aku memerhatikan, kentara sekali tak ada yang memerhatikanku.

Aku ingat hari pertama aku datang ke Forks High School—betapa aku sangat berharap bisa berubah warna menjadi abu-abu dan menghilang ke balik beton trotoar yang basah seperti bunglon raksasa. Tampaknya permohonanku terkabul, satu tahun terlambat.

Rasanya seolah-olah aku tidak di sana. Bahkan mata guru-guru melewati kursiku seolah-olah kursi itu kosong.

Aku mendengar segalanya sepanjang pagi, sekali lagi mendengar suara-suara orang di sekelilingku. Aku berusaha mengetahui apa yang terjadi, tapi obrolan mereka terpotong-potong jadi akhirnya aku menyerah.

Jessica tidak mendongak waktu aku duduk di sebelahnya di kelas Kalkulus.

“Hai, Jess,” sapaku sok biasa-biasa saja. “Bagaimana sisa akhir minggumu kemarin?”

Jessica menengadah dengan sorot mata curiga. Mungkinkah ia masih marah? Atau hanya tidak sabar menghadapi orang gila?

“Super,” jawabnya, mengalihkan perhatian kembali ke bukunya.

“Bagus,” gumamku.

Istilah “menganggap sepi” sangat tepat menggambarkan sikap Jessica saat itu. Aku bisa merasakan udara hangat berhembus dari kisi-kisi di lantai, tapi tetap saja aku kedinginan.

Kuambil jaket yang tadi kusampirkan ke punggung kursi, lalu memakainya lagi.

Pelajaran keempatku berakhir terlambat, jadi meja tempatku biasa makan siang sudah penuh waktu aku sampai di sana. Mike sudah ada di sana, begitu juga Jessica dan Angela, Conner, Tyler, Eric, dan Lauren. Katie Marshall, murid junior berambut merah yang rumahnya dekat dengan rumahku, duduk bersama Eric, dan Austin Marks—kakak cowok yang memberiku motor— duduk di sebelahnya. Aku bertanya-tanya dalam hati sejak kapan mereka duduk di sini, tidak ingat apakah ini yang pertama kali atau sudah menjadi kebiasaan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.