Baca Novel Online

The Twilight Saga: New Moon – Stephenie Meyer

“Aku—aku tetap tidak bisa datang,” kataku terbata-bata, gelagapan mencari alasan. “Aku, Well belum sempat nonton Romeo and Juliet untuk kelas bahasa Inggris.”

Alice mendengus. “Ah, kau sudah hafal Romeo and Juliet!’

“Tapi kata Mr. Berty, kami harus melihat sandiwara itu dilakonkan untuk bisa sepenuhnya menghargainya—karena begitulah yang diinginkan Shakespeare.”

Edward memutar bola matanya.

“Kau kan sudah nonton filmnya,” tuduh Alice.

“Tapi versi yang 1960-an belum. Kata Mr. Berty, versi itulah yang terbaik.”

Akhirnya, Alice menghapus senyum kemenangan itu dari wajahnya dan memelototiku. “Ini bisa mudah, atau bisa juga sulit, Bella, tapi pokoknya— ”

Edward memotong ancamannya. “Rileks, Alice. Kalau Bella ingin nonton film. dia boleh nonton film. Ini kan hari ulang tahunnya.”

“Nah, kan,” imbuhku.

“Aku akan membawanya ke sana sekitar jam tujuh,” sambung Edward. “Kau punya banyak waktu untuk menyiapkan semuanya.”

Tawa Alice kembali berderai. “Kedengarannya asyik. Sampai nanti malam, Bella! Bakalan asyik, lihat saja nanti” Ia nyengir—senyum lebarnya menampakkan sederet giginya yang sempurna dan mengilat—lalu mengecup pipiku dan berlari menuju kelas pertamanya sebelum aku sempat merespons.

“Edward, please—” aku mulai memohon, tapi Edward menempelkan jarinya yang dingin ke bibirku.

“Nanti saja kita diskusikan. Kita bisa terlambat masuk kelas.”

Tidak ada yang repot-repot memandangi kami saat kami sepera biasa mengambil tempat di bagian belakang kelas (sekarang hampir semua kelas kami sama—luar biasa bagaimana Edward bisa membuat para pegawai tata usaha yang wanita mau membantunya). Edward dan aku sudah bersama-sama cukup lama sehingga tak lagi menjadi sasaran gosip. Bahkan Mike Newton sudah tak lagi melayangkan pandangan muram yang dulu sempat membuatku merasa sedikit bersalah. Sekarang ia malah tersenyum, dan aku senang karena sepertinya ia bisa menerima bahwa kami hanya bisa berteman. Mike banyak berubah selama liburan musim panas kemarin—wajahnya kini tidak lagi bulat tembam, membuat tulang pipinya tampak semakin menonjol, dan rambut pirang pucatnya pun dipotong model baru; kini rambutnya tidak jabrik lagi, melainkan sedikit lebih panjang dan di-gel hati-hati untuk menimbulkan kesan agak berantakan. Mudah saja mengetahui dari mana ia mendapatkan inspirasi model rambut itu—tapi penampilan Edward bukan sesuatu yang bisa diperoleh dengan cara meniru.

Seiring dengan berjalannya hari, aku mempertimbangkan beberapa cara untuk mangkir dari entah acara apa yang akan dilangsungkan di rumah keluarga Cullen malam ini. Pasti menyebalkan jika harus mengikuti perayaan padahal suasana hatiku justru sedang ingin berduka. Tapi, yang lebih parah lagi, pasti akan ada perhatian dan hadiah-hadiah di sana.

Perhatian bukan sesuatu yang diinginkan orang kikuk yang gampang cedera seperti aku. Tak ada yang ingin menjadi sorotan bila besar kemungkinan kau bakal jatuh terjerembab.

Dan aku sudah terang-terangan meminta—Well, memerintahkan, lebih tepatnya—agar tidak ada yang memberiku kado tahun ini. Kelihatannya bukan hanya Charlie dan Renee yang memutuskan untuk tidak menggubrisnya.

Aku tidak pernah punya banyak uang, tapi itu bukan masalah bagiku. Renee membesarkan aku dengan gaji guru TK. Pekerjaan Charlie juga tidak memberinya gaji besar—dia kepala polisi di sini, di Forks yang hanya kota kecil. Satu-satunya pendapatan pribadiku hanya didapat dari hasil bekerja tiga kali seminggu di toko perlengkapan olahraga setempat. Di kota sekecil ini, bisa mendapat pekerjaan saja sudah untung. Setiap sen yang kuhasilkan langsung masuk ke tabungan untuk biaya kuliah nanti. (Kuliah itu Rencana B. Aku masih berharap bisa menjalankan Rencana A, tapi Edward ngotot ingin tetap mempertahankan aku sebagai manusia…)

Edward punya banyak uang—aku bahkan tidak ingin membayangkan jumlahnya. Uang hampir tak ada artinya bagi Edward atau anggota keluarga Cullen lainnya. Itu hanya sesuatu yang semakin bertambah karena mereka memiliki waktu tak terbatas dan saudara perempuan dengan kemampuan ajaib memprediksi tren pasar modal. Edward sepertinya tidak mengerti mengapa aku tidak ingin ia menghabiskan uangnya untukku— mengapa aku justru merasa tidak enak bila diajak makan di restoran mahal di Seattle, mengapa ia tidak diizinkan membelikan aku mobil yang bisa melaju di atas kecepatan 88 kilometer per jam, atau mengapa aku tidak membiarkan ia membayar uang kuliahku (konyolnya, ia sangat antusias terhadap Rencana B). Edward menganggapku senang bersikap sulit padahal sebenarnya tidak perlu.

Tapi bagaimana aku bisa membiarkannya memberiku banyak hal sementara aku tidak bisa membalasnya? Ia, entah untuk alasan apa, ingin bersamaku. Jika ia memberiku hal lain lagi, itu hanya akan membuat kami makin tidak seimbang.

Waktu terus berjalan, baik Edward maupun Alice tak lagi mengungkit masalah hari ulang tahunku, jadi aku mulai merasa sedikit rileks.

Kami duduk di meja kami yang biasa saat makan siang.

Ada semacam gencatan senjata aneh di meja kami. Kami bertiga—Edward, Alice, dan aku— duduk di sisi meja paling selatan. Karena sekarang anggota keluarga Cullen lain yang “lebih tua” dan lebih mengerikan (dalam kasus Emmett, jelas) sudah lulus, Alice dan Edward tidak terlihat terlalu mengancam, jadi bukan hanya kami yang duduk di meja ini. Teman-temanku yang lain, Mike dan Jessica (yang sedang dalam fase canggung sehabis putus), Angela dan Ben (yang hubungannya berhasil melewati musim panas dengan selamat), Eric, Conner, Tyler, dan Lauren (walaupun yang terakhir itu tidak termasuk kategori teman) semua duduk di meja yang sama, di seberang garis pemisah yang tak kasatmata. Garis itu lenyap di hari-hari cerah saat Edward dan Alice bolos sekolah, dan pada hari seperti itu, obrolan bisa berlangsung sangat lancar dan melibatkan aku.

Edward dan Alice tidak menganggap sikap teman-temanku yang agak mengasingkan mereka itu aneh atau menyinggung perasaan, seperti yang pasti bakal kurasakan kalau itu terjadi padaku. Mereka nyaris tidak memerhatikannya. Orang-orang selalu merasa agak canggung berdekatan dengan keluarga Cullen, malah bisa dibilang nyaris takut, untuk alasan yang mereka sendiri tak bisa jelaskan. Aku pengecualian yang jarang dalam hal itu. Terkadang justru Edward yang merasa terganggu melihat betapa nyaman aku di dekatnya. Menurutnya itu berbahaya bagi kesehatanku— pendapat yang selalu kutolak mentah-mentah setiap kali ia mengutarakannya.

Siang berlalu dengan cepat. Sekolah usai, dan seperti biasa, Edward mengantarku ke truk. Tapi kali ini, ia membukakan pintu penumpang. Alice pasti membawa mobilnya pulang supaya Edward bisa memastikan aku tidak kabur.

Aku bersedekap dan tidak menunjukkan tandatanda bakal segera berteduh dari hujan yang menderas. “Sekarang kan hari ulang tahunku, jadi boleh dong aku yang menyetir?”

“Aku berpura-pura hari ini bukan hari ulang tahunmu, seperti yang kauinginkan.”

“Kalau ini bukan hari ulang tahunku, berarti aku tidak harus pergi ke rumahmu malam ini…”

“Baiklah,” Edward menutup pintu dan berjalan melewatiku untuk membuka pintu pengemudi. “Selamat ulang tahun.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: February 29, 2016 04:16

    Kratos

    Gwe kagum liat situs anda New Moon saja butuh 114 halaman belum novel lainnya apa dayaku yang hanya seorang Blogger : V
    • Posted: February 29, 2016 04:18

      Kratos

      difikirsecara logic butuh berapa bulan :V
  • Posted: May 3, 2016 12:51

    fabina lovers

    Makasih udah sharing novel keren ini:-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.